
Pagi ini Maya selesai berkemas setelah semalam sibuk memilah-milah bajunya. Lesan sudah menyetujui kepergiannya jadi hari ini ia resmi pindah. Saat selesai menutup koper baju miliknya, tiba-tiba ponsel Maya berdering. Pukul enam pagi adiknya tumben menelepon, begitulah batin Maya.
" Halo Yo, apa kabar? Tumben kamu telpon mbak pagi-pagi sekali," ucap Maya setelah mengangkat teleponnya.
" Heheheh aku baik mbak. Bagaimana kabar mbak sendiri? Betah kan di apartemen Lesan?" Tyo adik Maya sudah tahu kalau kakaknya tinggal seatap dengan sahabatnya. Hal itu tidak membuatnya keberatan karena Tyo tahu jika Lesan adalah orang yang baik.
" Mbak betah kok tinggal di sini, tapi hari ini rencananya mbak mau pindah. Enggak enak kalau mbak numpang lebih lama tinggal di apartemen Lesan. Yang ada nanti mbak merepotkannya terus,"
" Yah jangan begitu dong mbak. Lesan itu baik kok orangnya, dia pasti enggak merasa direpotkan. Mbak enggak boleh pergi ya dari apartemen Lesan " Tyo melarang kakaknya untuk pindah.
" Tyo, kamu gimana sih? Mbak sama Lesan kan beda gender, apa kata orang nanti kalau mbak tinggal satu atap sama laki-laki yang bukan siapa - siapa mbak"
" Aku sama Lesan sudah saling anggap saudara mbak. Jadi pasti Lesan menganggap mbak juga seperti kakak perempuannya. Mbak lupa kalau Lesan pernah menolong mbak waktu digodain pemuda nakal? Itu sudah jadi bukti kalau Lesan bisa menjaga mbak sebagai kakak perempuannya," dalam hati Maya berdecak. Tidak tahu saja jika Lesan memiliki perasaan kepadanya. Bukannya Maya sombong, tapi untuk membalas perasaan Lesan rasanya Maya masih belum bisa.
" Iya Yo mbak tahu. Tapi tetap aja hari ini mbak mau pindah,"
" Daripada mbak pindah terus cari kontrakan enggak jelas di sana lebih baik mbak pulang kampung aja. Tinggal di rumah paman itu lebih aman,"
" Kok jadi pulang kampung sih Yo?"
" Lusa mbak sidang keputusan hak asuh anak. Setelah dua bulan ini ternyata Pandu ingin mempercepat proses perceraian. Tadinya kan dia mau menggunakan jalur perceraian biasa karena pengen yang murah tapi sepertinya dia sekarang berubah pikiran mbak. Aku tidak tahu apa rencananya mbak, yang pasti pengacara handal siap membantu Mbak Maya "
__ADS_1
" Jadi besok siang perceraian aku ya Yo? Setelah itu aku akan benar-benar resmi menjanda," Maya tidak pernah menyangka jika kepulangannya setelah bekerja keras di luar negeri akan jadi seperti ini. Beberapa bulan lalu ia sempat berharap akan hidup bersama keluarga kecilnya tetapi semua itu sirna karena itu bukanlah kenyataannya.
Pandu menceraikan Maya dan memilih Asti istri mudanya. Tadinya Maya tidak serius ingin meminta cerai, namun Pandu lebih dulu menalaknya. Sepertinya mantan suami Maya itu memang sudah tidak mencintai Maya lagi. Kepulangan Maya dari luar negeri bukan menjadi hal yang membahagiakan Pandu namun justru sebaliknya.
" Jangan nangis mbak. Di sini Mbak Maya tidak bersalah. Pandu yang menceraikan mbak, jadi mbak tidak perlu menangisi laki-laki bejat seperti itu "
" Yo apa kamu paman dan bibi nanti tidak malu? Mbak jadi janda di usia yang masih muda,"
" Janda hanya status mbak. Aku yakin suatu saat pasti ada laki-laki pengganti yang siap mencintai Mbak Maya dengan Bayu sekalipun,"
" Hm ya sudah dulu ya Yo. Mbak mau siap-siap. Hari ini juga mbak mau beli tiket bis ke kampung,"
" Tapi,-"
" Jangan membantah mbak. Lesan sudah ijin sama kampusnya, jadi Mbak Maya jangan menolak "
*********
Proses perceraian sempat berlangsung berbelit-belit. Keputusan awal Maya hampir kehilangan hak asuh Bayu sepenuhnya. Di pengadilan Maya menangis keras akan hal itu. Ia tidak menyangka Pandu tega membuatnya seperti ini.
Di pengadilan Maya ditemani Tyo, bibi dan pamannya. Bibi dan paman Maya senantiasa memberikan ketenangan disaat guncangan datang dari pengadilan yang mengatakan bahwa Maya bukanlah ibu yang baik. Pandu membuat laporan jika Maya adalah ibu yang sudah meninggalkan anaknya sejak bayi. Maya dianggap tidak pernah merawat Bayu sejak kecil.
__ADS_1
Di sini Maya juga terkejut, Pandu mengatakan lagi jika Maya adalah ibu yang tidak baik dicontoh. Sidang perceraian belum usai tetapi Maya sudah berani tinggal dengan laki-laki lain begitulah isi laporan Pandu. Tidak main-main Pandu bahkan menyewa pengacara handal untuk memperkuat laporannya. Maya melemas karena minimnya uang, ia jadi tidak bisa berbuat lebih. Tyo pun sudah berusaha membantu namun itu gagal, Maya tahu adiknya sudah sangat bekerja keras dalam hal ini.
" Hakim, tolong tapi semua tuduhan itu tidak benar. Saya sangat menyayangi putra saya," ucap Maya saat diberi kesempatan berbicara oleh hakim.
" Apa anda memiliki bukti? Pengacara dari pihak saudara Pandu sudah menjelaskan semuanya. Anda diresmikan kalah dalam sidang keputusan hak asuh anak ini,"
" Tapi saya meninggalkan Bayu dengan alasan bekerja. Dulu ekonomi keluarga kami sangat kurang," jelas Maya.
" Bukti yang ditunjukkan pengacara pihak saudara Pandu mengatakan jika anda pergi atas kemauan anda sendiri. Di dalam rekaman video, saudara Pandu sudah melarang anda untuk pergi bekerja" Maya menahan perasaan marahnya kepada Pandu.
Bisa-bisanya laki-laki itu menggunakan video kenangan mereka dulu saat terakhir jalan-jalan di taman. Di dalam video itu Maya memang bersikeras untuk tetap pergi, namun alasannya sudah jelas jika Pandu memang tidak mampu membiayai kehidupan keluarga kecilnya sendiri. Sejujurnya video itu memang Maya yang memintanya, Maya hanya ingin mengabadikan momen terakhirnya sebelum ia berangkat jadi TKW. Tidak tahu saja jika video itu sekarang dijadikan Boomerang untuk memisahkan Maya dengan Bayu.
Di saat Maya putus asa dengan keputusan hakim, ada Pandu yang tertawa senang dalam hati. Tidak memungkiri usahanya untuk mempertahankan Bayu tidaklah sia-sia. Ia berhasil mendapatkan hak asuh Bayu mengalahkan Maya yang sekarang sudah menjadi mantan istrinya.
Dari pihak Pandu hanya ada Asti yang menemaninya. Untuk Pak Rusdi dan Bu Desi tidak terlihat apalagi Fahmi kakaknya. Sedangkan Bayu si kecil pun juga tidak ikut hadir. Alasan Pandu tidak mengajaknya jelas, ia hanya tidak ingin Bayu melihat konflik yang terjadi di antara orang tuanya.
" Maya, bibi yakin kamu adalah wanita yang hebat nak. Bibi yakin pasti ada jalan untuk menemukan jalan keluar dari masalah ini," ucap Bibi Ranti menenangkan Maya.
" Aku harus apa coba Bi? Aku bukan ibu yang baik. Aku tidak bisa mendapatkan hak asuh Bayu. Aku sangat merindukannya bi," ratapan tangisan pilu Maya tidak membuat orang yang berada di pengadilan terharu kecuali paman dan bibinya.
Maya menangis hingga hati terasa sesak. Ia tidak menyangka sampai kapanpun hidupnya tidak akan bisa lagi bersama Bayu. Putra kecilnya sudah tidak bisa ia gapai. Semua harapannya lenyap karena ulah mantan suaminya.
__ADS_1