Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab X. Berlian Sidqia


__ADS_3

Kehadiran Berlian di rumah keluarga pak Anwar menambah ramai, dalam asuhan keluarga besar Berlian tumbuh menjadi anak yang sehat.


Ciri khas keluarga pak Anwar juga menetes pada rambut Berlian. Gen Sidiq lebih besar ternyata, sehingga tidak bisa merubah rambut kribo. Bakal kribo pada rambut Berlian di awali dengan rambut ikal dan menggumpal. Meski masih kecil sudah nampak kekriboan Berlian.


Sidiq pun sudah mulai sibuk dengan Berlian.


Bayi mungil itu kini telah beranjak besar, hari berganti menjadi bulan lalu menjadi tahun.


****


Lima tahun sudah Berlian menjadi bagian dari hidup Sidiq, Elah pada khususnya dan umumnya untuk keluarga pak Anwar dan Abah di kampung.


Elah senang mengajak Berlian ke pantai, bermain ombak dan pasir, badannya yang gempal dan rambut kribonya nampak lucu terlihat dalam bayangan, pantulan matahari yang panas memperlihatkan seluet badan Berlian.


Setiap weekend tradisi liburan keluarga di gelar, kadang ke pantai, ke mall, menyewa villa di Bandung atau Bogor. Atau hanya sekedar makan di restoran. Pak Anwar memang sosok ayah dan kakek yang penyayang terhadap keluarga.


"Berlian sini, kakek punya nih". Pak Anwar memperlihatkan sebuah bungkusan kado dengan sampul kado berwarna pink.


Belian mendatangi pak Anwar dan meraih bungkusannya. "Apa ini kek?.. "coba di buka". Pak Anwar menyerahkan bungkusan hadiahnya.


"Asiiik, terimakasih kakek, Berlian sayang kakek".


Perlahan Berlian membuka kertas kado di bantu oleh Elah. Kado terbuka dan ternyata sebuah gaun ulang tahun berwarna pink dengan motif bunga-bunga. Tidak seperti gaun ulangtahun pada umumnya polos, hanya dengan variasi pita pada lingkar perutnya, gaun yang di belikan kakek Anwar begitu manis, motif bunga dan hiasan pita di dada.

__ADS_1


"Besok kan Berlian ulang tahun yang ke lima, kakek belikan bajunya, nanti pake yah". "Iya kakek," manja Berlian duduk di pangkuan pak Anwar.


"Sini, mamah bantu yah....". Elah menemani Berlian membuka hadiah dari pak Anwar dengan senang hati. Berlian manggut-manggut tanda setuju.


Pagi di hari Minggu yang cerah perayaan ulangtahun Berlian sederhana saja, kue ulang tahun tanpa lilin, dengan gambar hello Kitty dan hiasan bunga Ros berwarna pink menjadi pilihan Elah dan Sidiq.


Ruang tamu di sulap menjadi taman balon berwarna-warni... Sedikit bunga-bunga sebagai pemanis dan teman untuk balon.


"Biar di fotonya nanti cantik, kalau background nya bagus". Elah menyulap nya menjadi indah meski sederhana.


Tidak lupa Abah dan ibu di jemput dan ikut merayakan ulangtahun Berlian yang ke lima. "Tidak usah tepung terigu dan telor busuk untuk merayakan ulang tahunmu, naaak.....". Ucap Sidiq sambil tersenyum dan mencium kedua pipi Berlian.


Elah tertawa lepas mendengar ucapan Sidiq, "Emangnya anak aku bakwan, pake tepung terigu segala, dasar!... Ada-ada saja ide gilamu itu". Elah mencubit tangan Sidiq. "Dari mana Sidiq punya ide seperti itu, aneh". Desis Elah.


Tidak ada kado istimewa dari Sidiq dan Elah, hanya doa dan harapan semoga Berlian sehat, menjadi anak yang Sholeh, dan selalu menjadi anak yang menyenangkan untuk keluarga.


Di akhir acara Sodiq mengumumkan Elah hamil anak kedua. Sambutan yang hangat dan bahagia dari semua keluarga.


"Jangan lupa, foto dan abadikan moment hari ini" ibu Hamidah yang selalu rajin menyimpan setiap lembar kenangan, memilih dan mencetak, di berikan figura dan beberapa keterangan kecil, lalu menempelnya pada dinding rumahnya.


Tips momentnya unik dengan rambut kribo yang mereka miliki...


******

__ADS_1


Elah hamil lagi, ngidam kali ini hanya cukup membuat Sidiq kelimpungan. Hari ini pengen nasi goreng, tidak lama mau martabak telor, rujak, bakso, kue putu Mayang, martabak telor enggak pake daun dan sambelnya tidak usah pake bawang.


Bawaan ngidam Elah kali ini juga bukan pada siang hari saja, terkadang malam hari bahkan dini hari. Pernah satu malam telah berlalu Elah pengen nasi Padang belinya jauh dari rumahnya, bayangkan jam dua dini hari. Demi anak Sidiq mengeluarkan mobil dan mencari nasi Padang sesuai keinginan Elah.


Dua bulan masa ngidam Elah berganti. Ia tidak suka nasi, katanya bau. Kecuali nasi Padang langganan nya selama mengidam.


Kehamilan Elah mulai normal setelah enam bulan. Di masa itu Sidiq tidak perlu susah-susah memenuhi keinginan Elah. Hanya saja Elah berganti hobi nya. Memegang bulu kaki Sidiq setiap mau tidur.


"Kalau bukan karena anak, aku sudah tidak tahan". Sidiq ungkapkan kepada Elah. "Kalau bukan demi bayi yang ku kandung tidak akan aku melakukan itu". Elah pun merasa serba salah dengan kehamilan kedua kali ini.


"Bagaimana kalau anaknya delapan atau sepuluh?". Elah menghela nafas dalam. " Mungkin anak selanjutnya akan normal seperti Berlian". Sidiq menenangkan Elah.


"Jadi mau punya anak berapa" Fikir Elah paling lima atau paling banyak enam, "dua belas!" Sidiq menjawab dengan tegas dan Langtang.


"Hah... dua belas, yang benar saja!, melebihi kesebelasan dong". "iya yang satunya bisa jadi pemain cadangan kalau salah satu anakku jatuh atau sakit saat bermain". Elah tidak menyangka akan mempunyai anak sebanyak itu, sedangkan Abah dan ibunya hanya punya anak satu. Elah anak tunggal Abah dan ibu primadona desa.


Elah menyanggupi dengan beberapa rekomendasi yang sudah di sepakati oleh Sidiq, salah satunya adalah Elah harus menjadi permaisuri dalam kehidupannya, Sidiq harus menjadi nahkoda yang kuat meski keadaan sesulit apapun.


Sidiq senang dengan kesholehahan yang di miliki Elah, anak rumahan yang patuh terhadap kedua orang tuanya. "kelak anak-anak ku juga akan sebaik ibunya. Karena dari ibu yang baik, anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula". sesuai dengan pesan pak Anwar ketika Sidiq mulai dewasa dan mencari calon istri.


"Contohlah ayah dan ibu. kenapa ayah masih bisa berdiri tegak dan sukses dalam usaha, karena punya istri sebaik dan Sholehah kayak ibumu, bukan berarti istri ayah yang pertama tidak baik, tetapi karena ibumu sudah menjadi ibu sambung yang baik untuk kakak-kakak sambungmu". Kala sore sebelum Sidiq melamar Elah.


Sidiq merasa waktunya sangat terkuras, bekerja di toko, bermain dengan Berlian terus memenuhi segala keinginan Elah karena sedang ngidam. Ada mitos katanya kalau ibu nya lagi ngidam terus keinginannya enggak tercapai nanti anaknya ngeces terus, Sidiq selalu ingat dan ada perasaan takut kalau-kalau nanti anaknya ngeces sampai besar. "Iih takut". Ucap Sidiq.

__ADS_1


Kesibukan Sidiq melupakan Jelita. Sudah tidak pernah ke kandangnya bahkan melihat ekornya yang cantik. Ekor jelita dari hari ke hari mulai berguguran.


__ADS_2