
Abah dan ibu tidak tahu kalau Elah,Sidiq dan cucu-cucunya akan datang ke rumahnya. Abah biasa dengan rutinitasnya setelah dari sawah Abah istirahat di belakang rumah dengan kipas di tangannya, ibu memasak goreng pisang teman kopi Abah. Abah menanam pisang, singkong di lahan kosong dekat sawahnya.
Sawah tidak banyak, hanya dua kotak saja. "Abah sudah tua, hanya untuk mengisi waktu saja". Begitu katanya, padahal Sidiq sudah menawarkan "Abah mau membeli sawah lagi?"."Cukup ini juga buat makan Abah sama ibu". Ibu juga mengiyakan dan mufakat dengan ide Abah. Ibu takut dengan imaje orang lain menghindari fitnah "mentang-mentang punya mantu kaya". Ibu khawatir dengan label itu.
Iring-iringan dua mobil berhenti di depan rumah Abah. Rumah Abah tidak berubah, hanya memperbaiki yang bolong di beberapa tempat saja dan mengganti engsel pintu kamar Elah yang dulu sempat hilang satu.
"Bu, lihat ada dua mobil di depan rumah kita, siapa yah?". "Nanti ibu lihat dulu". Ibu bergegas ke depan rumah.
Pintu mobil terbuka, keluarlah Elah, Sidiq dan ke dua belas anaknya. Si kembar yang masih kecil dalam pangkuan Sidiq dan Elah.
"Abah, Elah sama mantu dan cucu-cucu kita". Ibu berlari menuju dapur. "Waduuuh"."kenapa bah....?"." Abah belum hafal nama semua cucu-cucu kita Bu, Abah hanya ingat Berlian, Muhammad, Ahmad dan Senja, Seruni, Iqbal, yang lainnya Abah lupa. Si kembar apalagi Abah enggak tahu, yang bikin Abah heran juga kenapa anak Elah semuanya kribo, enggak ada yang rambutnya kayak Elah". Abah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berjingkat berdiri menuju ke depan untuk menyambut kehadiran anak, mantu dan cucu-cucunya.
"Assalamu'alaikum, Abah , ibu sehat?. Sidiq sebagai mantu yang baik mencium tangan kedua mertuanya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam", Abah dan ibu menjawab salam menantu satu-satunya. Setelah itu Elah dan dua belas anaknya. Yang kecil si kembar pun di ajarkan bersalaman kepada nenek dan kakeknya, sebagai ajaran kepatuhan dan kesopanan sejak dini.
Rumah Abah yang kecil membuat anak-anak Sidiq duduk berdesakan.. malah ada yang langsung menuju belakang rumah, melihat Balong. Ikan emas muncul dari dalam kolam . "Di kasih makan nanti ikan emasnya muncul semua". Ujar ibu dengan girang menyambut kedatangan ke dua belas cucu-cucunya.
Elah menyediakan kopi dan pisang goreng yang tadi di goreng oleh ibu. "Enggak usah repot-repot Bu, anak-anak sudah membawa bekal masing-masing. Sudah Elah siapkan tadi sebelum berangkat ke sini, seadanya aja Bu". Elah tahu keadaan di rumahnya yang jauh dari toko makanan.
"Iya, lagian mana mau anak-anak kamu makan makanan orang kampung, seperti pisang goreng, goreng singkong, atau rengginang, enggak kayak kamu waktu kecil, pisang dan singkong jadi makanan setiap hari, anak-anak kamu enggak kenal makanan itu kan?". "Kita boleh coba Bu, kalau pisang dan singkongnya masih banyak kita goreng saja, siapa tahu anak-anak suka dan mau makan". Elah berusaha menyenangkan hati ibunya.
Roti, Snack, oleh-oleh buat Abah, ibu, bi iyoh bisa dan Mayang sudah Elah persiapkan. Termasuk untuk Puti. Kucing kesayangan Elah. "Puti sudah tua". Kata ibu. Puti rajin menjaga gabah padi yang di simpan di karung dari incaran tikus-tikus nakal, jadi aman dari jangkauan tikus yang mencari mangsa.
Pagi sudah terbangun keramaian pun di mulai, rumah Abah dan ibu yang biasanya sepi menjadi ramai seperti pasar kaget. Ramainya tiba-tiba, hehehehe....
Ibu di dapur memasak air, dan nasi, untuk sarapan ibu menyediakan nasi uduk, dengan oreg tempe, kerupuk dan sambal.
__ADS_1
Ibu membayangkan bagaimana menjadi bi Inah... " Karena sudah terbiasa jadi tidak pusing lagi kali yah". Baru terfikir oleh ibu.. bayangkan cucu ku dua belas belum yang lainnya.
Nasi uduk laris manis, ibu senang nasi udiknya tidak bersisa, habis semua. Putra dan putri sarapan bubur kemasan yang siap saji untuk di makan. Setelah sarapan semua anak-anak mandi dan bersiap-siap kembali pulang. Berlian, Muhammad, Ahmad, seruni sudah mulai bersekolah.. besok sudah hari Senin, Sabtu dan Minggu berlibur di rumah Abah dan ibu. Membuat berkesan bagi anak-anak Elah. Memperkenalkan kampung kelahiran Elah yang nyaman dan asri.
"Kapan kesini lagi". Ibu memakaikan baju Seruni. " Eeeh ... Hampir saja ibu lupa, siapa nama cucu-cucu ibu. Abah dan ibu hanya ingat, Berlian, Muhammad, Ahmad, Senja, seruni daaa..... Putra,putri".. Iqbal, Rafa, Rafi si kembar, Senandung, dan Mawar Bu". Elah menyebutkan ke dua belas anaknya. "Kalau anaknya perempuan belakangnya di beri nama Sidqia, kalau laki-laki nama belakangnya Sidiq, biar enggak salah bapak nya kali Bu". Elah tersenyum manis kepada ibu tercintanya.
"Berarti si kembar kecil ini namanya Putri Sidqia dan putra Sidiq, begitu yah." Ujar ibu sambil menggendong putri. Karena Elah sedang berdandan dan bersiap-siap supaya tidak ada yang tertinggal. Pakaian, botol susu, dan beberapa makanan ringan selama dalam perjalanan pulang.
Puti diam di ujung jendela melihat Elah yang sedang bersolek, dari balik cermin Elah melihat kucing kesayangannya. "eeeeiiitttt... Jangan sedih, ntar aku kesini lagi, temani ayah dan ibu yah, aku titip yah". Elah menciumi Puti dan menggendongnya sebentar.
Elah keluar kamar, semua anak sudah masuk ke mobil dengan posisi masing-masing. Enam di mobil pertama dan enam lagi di mobil kedua. Di mobil pertama Sidiq mendampingi anak anak yang sudah agak besar, di mobil ke dua Elah membersamai anak anaknya yang kecil. Isi mobil tidak hanya penuh dengan anak-anaknya, tetapi bekal yang sudah di siapkan selama perjalanan pulang pergi dan bekal menginap semalam.
Dua supir sudah standby di dalam mobil menunggu tuannya masuk. "Abah, ibu. Elah, Sidiq dan anak-anak pulang dulu, maaf merepotkan. Nanti kami kesini lagi meramaikan rumah Abah dan ibu, maaf Bu rumahnya jadi berantakan.". Elah mencium tangan tangan dan pipi kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Iya, Abah dan ibu selalu menunggu kapan pun, nanti main lagi yah". Melambaikan tangan tanda perpisahan. Senyuman ayah dan ibu menyertai laju mobil.
Di dalam mobil Berlian mulai bercerita tentang keseruannya berlibur di rumah Abah dan ibu, memancing ikan, memberi pakan ayam dan menumpahkan makanan buat Puti kucing kesayangan ibunya. Sidiq mendengarkan celoteh Berlian dari bangku depan.