Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab XI Jelita dan Ekornya yang Berguguran


__ADS_3

Kebahagiaan yang sedang di alami oleh Sidiq jauh berbeda dengan Jelita. Kini ia terlupakan oleh kesibukan Sidiq.


Sebelum nya Sidiq dan Elah selalu membawa Berlian berkunjung dan bermain dengan Jelita. Berlian suka sekali melihat ekor Jelita yang cantik.


Bulu-bulu yang tertancap dengan anggun pada ekornya mengingatkan kita pada film Sri Krisna. Padu padan warna coklat, biru, nampak begitu cantik miliki.


Terkadang bulu-bulu ekornya ada yang rontok, Elah mengambilnya dan menyimpannya di sebuah vas bunga yang cantik, di simpan di meja rias atau di meja teras depan rumahnya. Tidak di buang "sayang" ucap Elah. "Meski tidak di ekor Jelita lagi, bulu-bulunya yang berguguran tetap cantik". Berlian terkadang memintal bulu Jelita di rambutnya, tidak usah khawatir akan terjatuh. Bulu Jelita aman terkendali nyaman pada rambut kribo Berlian.


*****


Di kehamilan ke dua Elah,Sidiq dan Berlian jarang bertandang ke sarang Jelita. Memberi makan atau sekedar menatap kecantikan Jelita yang di milikinya.


Hanya bi Inah yang sekarang rajin menjenguk, memberi makan, dan melihat ekor Jelita. Itupun tidak lama, karena bi Inah sibuk dengan pekerjaan nya sebagai bos asisten rumah tangga pak Anwar. Bi Inah sangat di percaya, hidupnya seratus persen menganbdi untuk keluarga pak Anwar.


Bi Inah tidak menikah, padahal pak Anwar dan Bu Hamidah sudah berusaha menjodohkan dan mengajukan calon suami buat Bi Inah, tapi bi Inah tidak mau. "Nanti kalau menikah saya tidak di sini lagi". Ucap bi Inah. "Tentu tidak bi, silahkan bibi menikah dan bisa tetap tinggal di sini bersama suami bahkan dengan anak-anak nanti kalau bibi melahirkan". Pak Anwar sebagai tuan sangat bijaksana dan baik hati. Peduli dan perhatian kepada setiap orang yang berjasa dalam kehidupannya.

__ADS_1


Bi Inah teruji klinis dengan kesetiaan dan pengabdiannya. Jangan pernah meragukan. Dari istri pertama dan keduanya bi Inah setia kepada pak Anwar.


Kesetiaan bi Inah terbayarkan dengan gajih yang besar, pensangon akhir tahun, hadiah dan deposito akhir hayat. Serta sudah di sediakan sebidang tanah yang luas di kampung halaman bi Inah. "Buat jaga-jaga kalau bi Inah sudah mau istirahat di kampung halaman, sebagai rasa terimakasih saya kepada Bi Inah terhadap dedikasinya waktu dan tenaga untuk keluarga saya, tetapi keinginan saya dan ibu bi Inah tetap disini menemani saya sampai tua dan juga menemani anak-anak saya sampai nanti". Ujar Pak Anwar.


Bi Inah menangis terharu dengan ucapan pak Anwar, "Kebaikan bapak semoga mendapatkan pahala dan setiap kebaikan yang bapak dan ibu berikan untuk saya kelak di gantikan dengan berlipat ganda".


Bi Inah hidup sebatang kara, dari kecil sudah menjadi anak yatim piatu, pak Anwar menemukan bi Inah di persimpangan jalan dan hampir tertabrak mobil di yang di kendarai pak Anwar sepulang dari tokonya.


Setelah tahu tentang keadaan bi Inah di ajak kerumah pak Anwar, dan di tawari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga dan membantu segala kebutuhan ibu Maskah, bahkan ketika sakitpun Bu Maskah ada dalam perawatan bi Inah. Ketelatenan bi Inah membuat pak Anwar senang. "Karena jarang saat ini menemukan orang bisa dipercaya". Begitu dalam benak pak Anwar.


Pilihan bi Inah untuk tetap melajang hingga tua di hormati oleh pak Anwar dan Bu Hamdanah. Keputusan bi Inah awalnya tidak begitu di setujui oleh pak Anwar. Namun, semua di kembalikan kepada bi Inah.


*****


Meski hanya seekor burung merak Jelita memiliki insting yang kuat, karena dari kecil sudah di urus sama Sidiq. Dalam pengasuhan Sidiq Jelita tumbuh menjadi burung Merak yang cantik, sehat dan memukau.

__ADS_1


Teman-temannya waktu SMA yang datang selalu di ajak Sidiq untuk melihat Jelita, Jelita tidak luput dari kamera teman-teman Sidiq. Apalagi ketika ekornya mengembang, kamera Andi yang mahal akan mengabadikan Jelita dengan berbagai pose.


Randi menjadikan Jelita wallpaper di handphonennya, pacarnya Indah cemburu ketika tahu foto layar depan Randi bukan dirinya malah foto Jelita. "ganti". Indah dengan nada ketus. "eeeh... jangan-jangan... ini bagus, aku susah mengambil pose Jelita dengan gaya yang seperti ini". Randi berusaha mengambil handphone nya dari tangan Indah pacar barunya, yang baru dua bulan jadian. " Ini Jelita namanya, Jelita sesuai dengan ekornya yang Jelita". "kita putus kalau wallpaper nya masih itu". Indah berlalu dan pergi meninggalkan kantin sekolah.


"Baru dua bulan saja jadi pacar aku sudah ngatur-ngatur, apalagi nanti" ujar Randi menghabiskan sisa minumannya sebelum masuk kembali ke kelas. "terserah". Randi bergumam dalam hatinya. mungkin kelak akan ada yang tidak mengungkit hal-hal sepele seperti itu.


Raka juga begitu, menyukai kecantikan Jelita, hasil jepretan di kamarenya yang super mahal, di cetak dengan ukuran yang besar alu di pajang di kamar nya. Tepat di hadapannya ketika bangun dari tidur dan sebelum tidur menuju alam mimpinya foto Jelita nampak jelas dalam tatapannya.


Semua teman Sidiq yang sudah melihat Jelita akan terpesona. Rafika perempuan satu-satunya yang pernah bermain ke rumah Sidiq, karena rasa penasarannya akhirnya memberanikan diri meminta Raka dan Randi untuk menemaninya kerumah Sidiq untuk melihat Jelita.


Meski awalnya segan, akhirnya luluh juga Raka dan Randi bersedia menemani Rafika kerumah Sidiq di hari Minggu. hari libur biasanya Sodiq di kandang Jelita, membersihkan kandang, bermain dengan Jelita, memberi makan.


Rafika, Raka dan Randi di persilahkan masuk oleh Bi Inah lalu memanggil tuan mudanya. tuan Sidiq bergegas menemui tamu yang tidak di ketahui nya di ruang tamu. "hey, ada apa". setelah bertemu. "ini katanya Rafika pengen lihat Jelita, dia enggak sengaja lihat wallpaper di handphone ku". ujar Randi. "oooh.... mau lihat Jelitaku?". "iya... bolehkan?, Rafika seolah-olah mengiba takut tidak di perbolehkan melihat secara langsung kecantikan ekor yang di miliki Jelita". "sama itu boleh enggak yaah". "apa lagi" ucap Raka" jangan macem-macem lho". agak sedikit mengancam Raka terhadap Rafika. " Ini kami malu tahu sama pak Anwar bawa perempuan ke rumahnya". sosok pak Anwar memang taat beragama dan patuh terhadap ajaran agama.


"Cuman mau minta bulu ekor Jelita, siapa tahu ada yang rontok". ucap Rafika. "ooh ... boleh, asal yang sudah rontok yah, jangan asal cabut". Hardik Raka. Raka memang terkenal cowok jutek.

__ADS_1


Di kandang belakang rumah, Jelita sendirian meregang nyawa setelah lama tidak lagi di jumpai Sidiq. Jelita sedih bulu-bulu nya yang indah menancap pada ekornya kini berguguran, Jelita jatuh terkulai lunglai dan tak bernafas lagi.


__ADS_2