
Rumah kediaman pak Anwar dari pagi sampai malam selalu ramai, rumah yang besar sesuai dengan pengisinya. Bangunan yang kokoh dengan perabotan sederhana namun tetap berkesan elit dan estetis.
Pak Herman menelpon dari pos jaga, langsung di terima Bi Faridah. " Di depan ada tamu laki-laki katanya mau bertemu dengan bi Inah". " Ya, nanti di sampaikan". Bi Faridah mencari bi Inah dan memberitahukan ada tamu di depan rumah.
"Siapa yah". Dalam hatinya bi Inah bertanya-tanya, baru kali ini ada yang mencari dirinya. Karena ada rasa penasaran dalam diri bi Inah, ia bergegas ke depan, dan meminta pak Herman membukakan pintu gerbang.
BI Inah masih di Landa penasaran, dan mempersilahkan tamu nya duduk. "Bagaimana kabarnya?". "Baik,.." masih menerawang siapakah gerangan sosok laki-laki di hadapannya. "Sudah lama tidak bertemu, masih ingat sama saya?". Bi Inah menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak tahu sama sekali siapakah gerangan dia?.
"Hampir empat puluh tahun kita tidak pernah bertemu". Ungkapan tadi semakin membuat bi Inah berfikir keras. "Maaf pak, saya sama sekali tidak ingat, mohon maaf mungkin bapak salah orang atau salah alamat, ini bukan rumah saya, saya hanya asisten rumah tangga". "Inah Sulaeha kan ?". Deg, hati bi Inah berdegup kencang. "Iya benar, tapi sekali lagi saya mohon maaf, benar-benar tidak ingat siapakah sebenarnya tuan atau bapak atau saudara". "Ismet Ismail". "Is... Ismet Ismail? "Huuuffff.... Mana mungkin laki-laki itu Ismet teman bermain kelereng nya dulu, Ismet pernah menggendongnya karena kalah main petak umpet". Bi Inah terkenang masa kecilnya dulu, sambil mengulum senyuman. "Susah ingat?". "Ya, ingat, maaf yah, saya takut salah orang".
Bu Halimah muncul dan duduk di samping Bi Inah, bertanya siapa dan apa tujuannya?. "Ini Bu, namanya Ismet Ismail, teman waktu kecil saya di kampung, lebih dari empat puluh tahun tidak pernah bertemu kembali, kalau maksud dan tujuannya saya enggak tahu Bu,... Ismet baru beberapa menit saja di sini". "Ooh... Pantes saja, belum ada suguhan minum buat pak Ismet". " Tidak usah Bu, saya minta maaf datang kesini tidak memberitahu kan sebelumnya, seperti yang sudah Inah tadi jelaskan nama saya Ismet adapun tujuannya.... Bermaksud untuk.... Melamar Inah". "Bi Inah hampir saja menjatuhkan gelas yang akan di berikan kepada Ismet.
Muka bi Inah merah, Antara malu, segan dan kaget bercampur menjadi satu. "Kalau saya pribadi bagaimana bi Inah saja, nanti saya bicarakan juga dengan suami saya, kebetulan masih dalam perjalanan pulang dari toko, sebentar lagi datang mungkin sekitar lima atau sepuluh menit lagi. Silahkan di minum dulu". Bu Halimah pergi dan mempersilakan keduanya mengobrol barang beberapa saat, sebelum pak Anwar tiba di rumah.
__ADS_1
Sepuluh menit pun tiba pak Anwar sudah di depan kursi dan sudah mengetahui tamu bi Inah, Bu Halimah menginformasikannya lewat handphone.
"Tanpa basa-basi lagi, Inah dan Ismet sudah dewasa dan lebih dari dewasa, saya dan ibu memasrahkan keputusan apapun yang di ambil Inah,. Inah sudah saya anggap sebagai anak sendiri, tidak ada pemaksaan dari fihak mana saja, jawaban kamu apa In?". Dalam diam bi Inah berusah tegar, jawaban bi Inah tetap tidak mau menikah.
Ismet Ismail menerima keputusan Inah meski dengan perasaan yang berat.
Hampa rasanya yang di rasakan Ismet Ismail. Namun jiwa ksatrianya tumbuh, jiwanya tunduk kepada keputusan Inah.
Bi Inah tidak pernah terlintas menikah dengan siapapun.
Hari berikutnya ada tamu ke dua untuk bi Inah. lelaki yang tidak di kenali. Bi Inah meminta tolong Bu Hamdanah yang menemui, ibu Hamdanah setuju asalkan di temani Bi Faridah dan Elah. Takut terjadi fitnah, dan hal-hal yang tidak di inginkan. Elah dan Bi Faridah menyanggupi keinginan ibu. sedang di Inah duduk di balik ruang sebelah.
"Saya Ahmad Suherman, teman sewaktu di sekolah dasar, kami berpisah karena saya ikut dengan orangtua pindah ke luar kota, seminggu yang lalu saya pergi ke kampung dulu saya bertemu dengan Inah, tetapi keberadaan Inah tidak ada yang tahu, persis tiga hari yang lalu, saya melihat bi Inah melintas di depan rumah yang saya kontrak di belakang rumah ibu, beberapa bulan yang lalu". semua menyimak " singkat cerita, saya masih lajang, tua lapuk yang tidak laku. sempat dulu mau menikah, tetapi ternyata calon istri saya matre, menganggap uang di atas segalanya, akhirnya saya putuskan dan membatalkan hubungan, kandas sudah niatan saya untuk memiliki istri, karena trauma saya tidak begitu peduli dengan pendapat orang lain.
__ADS_1
Tiga malam berturut-turut saya memimpikan sosok Inah, setelah mimpi-mimpi itu melintas Inah dalam pandangan mata," Elah memotong pembicaraan "maksudnya mau melamar bi Inah?". "Iya, tapi setelah melihat keadaan dan Inah tidak di antara ibu, kemungkinan niatan baik saya tidak akan terkabul, saya tahu betul karakter Inah, suka atau tidak suka bisa tertebak". "Terus bapak sudah menyerah?". kata ibu. " di bilang menyerah sih tidak Bu, namun sepertinya gelagat di tolak sudah ada di depan mata, namun yang pasti niat saya tulus dan mengerti kalau Inah banyak menderita di masa kecil dan remajanya".
Ahmad menghela nafas panjang. "sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih, atas semuanya, ibu sebagai tuan rumah yang baik, saya mohon maaf bila lancang dan telah mengganggu aktifitas ibu semua, saya pamit".
"Tunggu," suara dari balik ruangan terdengar nyaring. Ahmad yang sudah siap melangkahkan kaki kembali berbalik arah dan menatap ke arah suara, ternyata Inah telah menampakkan wajahnya.
"Kamu bisa duduk kembali". "Bu, mohon izin". Inah meminta izin untuk memperbolehkan Ahmad kembali duduk di tempat semula. dengan satu anggukan saja ibu Hamidah menyetujui keinginan Inah.
"Bu, kalau boleh saya mengutarakan isi hati saya, setelah mendengar pembicaraan tadi, saya ..... mau menerima lamaran Ahmad!". "Naaahhhh... gitu doooong". ketiga perempuan itu kompak. " nanti ibu yang bicara sama bapak". " baik Bu, terimakasih banyak Bu".
Ahmad yang senang dengan pinangannya yang di terima oleh Inah, seperti perjaka muda yang berusia dua puluh tahun, jiwanya membara dan berbunga-bunga. Inah tentu saja merasakan hal yang sama. Ternyata Ahmad bisa merubah pendiriannya yang kuat.
Pak Anwar sangat setuju dengan apa yang di putuskan oleh Inah, "kasihan Bu kalau nanti tua Inah tidak ada yang mendampingi, suami tidak punya apalagi anak, kelak yang akan mengurusnya siapa?, bapak bukan tidak ingin Inah tinggal dan mengurus kita sampai tua nanti, tapi setelah bapak fikir kasihan kalau memilih untuk tidak menikah". "Iya pak, bi Imah memilih keputusan yang tepat, Ahmad tahu betul dengan sifat Inah. Sore yang indah, lembayung senja menemani langit.
__ADS_1