
Masa-masa SMA masa-masa yang paling indah, begitulah salah satu lirik lagu yang populer dan menjadi soundtrack perjalanan kisah kasih anak-anak remaja.
Bermula dari tatapan mati terus turun ke hati, lama-lama timbul simpati. Naaah, rasa simpati ini awalnya cinta bisa tumbuh dan bersemi pada insan yang sedang di landa mabuk asmara. Masa remaja harus banyak pantauan keluarga, "suka dengan lawan jenis itu kodrat" ucap Elah, "namun hati-hati jangan berlebihan, mending kayak ayah ketemu sekali langsung menikah". Sidiq menimpali yangb sedang duduk di kursi sudut taman rumah, sore di hari sabtu biasanya keluarga pak Anwar minum teh bersama.
"Kapan mau mengajak dan mengenalkan pacar barumu?, bukan cinta monyetkan?. Cinta monyetnya Berlian tuu.....h waktu taman kanak-kanak namanya Fikri kalau tidak salah". "Iih mamah, masih inget aja, Fikri... Tetapi Fikar maah...". "Oooh, salah ternyata". Elah menutup mulutnya sambil menahan tawa.
"Nanti hari minggu pacqr Berlian mau kesini, kakek sama nenek enggak bakalan marah kan?". Karena baru pertama kalinya Berlian memperkenalkan pacarnya terhadap keluarga besar pak Anwar. "Enggak, malah kakek dan nenek lebih suka cucu-cucunya memperkenalkan teman dekatnya atau pacarnya, meski bukan hal yang sifatnya serius". "Maksudnya?"cegah Berlian. "Yaa, meski nanti bukan jodoh atau suaminya bukan yang sekarang di perkenalkan, tetapi kalau semua keluarga tahu, jadi enggak main sembunyi-sembunyi, janjian lewat handphone, janjian di mall atau di mana saja, itu lebih menghawatirkan". Elah membelai halus rambut anaknya.
"Mempunyai anak remaja harus seperti main layang-layang, jangan terlalu di tarik jangan juga terlalu di lepaskan, nanti akan terbang dan terlepas bebas". Gumam Elah. "Terus menurut yang mamah baca di buku parenting ibu dan anak juga, anak remaja itu sulit di atur, dan sedang mencari jati diri, keluarga terdekat, ibu, ayah, nenek, kakek dan saudara dekatnya harus selalu menemani dan membantu setiap permasalahan yang terjadi, jangan di biarkan sendiri, mencari solusi dan menemukannya bersama-sama, itulah fungsi keluarga". Elah mengutarakan apa yang ia baca, supaya Berlian fahan dan mengerti, bahwa setiap ibu ingin membantu dan menolong setiap problematika yang sedang di alami anak remajanya, baik itu laki-laki maupun perempuan.
"Orang tua menjadi kawan dalan bertukar fikiran. Jangan menghakimi setiap tingkah laku anak menurut versi orang tua, orang tua seharusnya membimbing.". Begitu katanya.
__ADS_1
"Iya, mamah. Berlian mendengarkan dan akan selalu patuh terhadap mamah, dan ayah." "Syiiip... Begitu dooong, baru itu anak ayah, anak bapak Sidiq tuh hebat-hebat semua". " Iya, karena memiliki mamah yang hebag juga". Sidiq membalas ucapan Elah, ternyata Sidiq dari tadi mendengarkan pembicaraan istri dan anak sulungnya.
"Tidak sia-sia, memilih dan memiliki istri sebaik kamu". "Enggak juga, itu juga karena kamu sebagai suami yang baik juga". Elah membalas pujian suaminya.
"Hmmm, ehmmm,ehmmm... Iya, iya, aku yang beruntung punya ayah dan mamah yang baik". Berlian memeluk hangat keduanya.
*****
Hari minggu yang di nanti pun tiba, pukul sepuluh di depan gerabang rumah ada sebuah mobil berwarna putih, dan di persilahkan masuk oleh pak Herman. Sebelumnya pak Herman sudah di beritahukan akan ada tamu Berlian yang akan datang pada hari ini.
Tak berselang lama bi Iyum mengetuk pintu, "non, ditunggu tamu di bawah, pesan ayah dan ibu nona Berlian di tunggu secepatnya, tapi... Enggak boleh dandan yang menor-menor". Bi Iyum berbisik-bisik di telinga Berlian. "Pasti ayah yang ngomong begitu, iyaaa kaan bii?". "Iya ... Non, permisi yah, bi Iyum mau kembali bekerja". "Okeh, terimakasih bi". "Apaan ayah, orang baru pacaran udah kayak mau di lamar aja anak perempuannya, katanya mau kenal, katanya di suruh maik ke rumah?, Malah kayak serius amat yah, padahal aku baru kelas tiga SMA, kuliah belum, kerja apalagi, masih lama kan? ". Kepada adik-adiknya Berlian berbicara.
__ADS_1
"itu tanda ayah sama mamah sayang kak". Ujar Muhammad membalas ucapan kakaknya. "iya deehh... Ayoo, mau pada ke bawah enggak, kita turun bareng-bareng, biar kenal sama pacar kakak, jadi nanti kalau di jalan atau di mana saha melihat pacar kakak tegur aja". "siiiaaapp. Ayoo kita turun". Sebelas adik-adiknya ikut turun menuju ruang tamu.
"Rangga pamungkas, nama yang bagus, nama anak sekarang". Ucap Sidiq. "Sekelas dengan Berlian?. "Enggak bu, kami berbeda kelas". Nampak suasana kaku dan tegang. Adik-adik berlian berkerumun di tengah-tengah Rangga. Elah yang melihat keadaan tegang mempersilahkan Rangga meminum air teh manis yang di buatkan oleh bi Iyum.
Seteguk demi seteguk air teh manis habis, gelas Rangga kosong tak berisi lagi. "haus yah" ucap Elah.. "iya bu... Maaf saya habiskan minumannya, teh manisnya enak sekali, pas. Manis enggak pahit enggak". Rangga memuji teh manisnya, padahal hatinya dag-dg-dug tak menentu.
"boleh di coba cemilannya juga". "enak lhoo.." Sidiq mencari pembahasan pembicaraan. "iya.. Pak, terimakasih banyak". Berlian hanya diam dan tersenyum-senyum melihat tingkah laku Rangga yang salah tingkah dan tidak berkutik di hadapan ayah dan mamahnya.
"kenalkan nama saya Mawar, hehehehe... Adik kakak Berlian yang paling cantik". "iiih... Kok bisa paling cantik, yaaah aku lah. Putri. Iya kan mah?". Putri tidak mau kalah dengan Mawar kakaknya. Setelah Mawar memperkenalkan diri, adik-adik Berlian yang lainnya pun ikut berkenalan dengan Rangga. Rangga punya kesan yang baik meski baru pertama kali bertemu dan bertandang ke rumah keluarga Berlian.
"Keluarga yang bersahaja, keluarga yang terbilang kelas elit. Tetapi kompak dan harmonis". Berbeda dengan ku. Fikir Rangga dalam benaknya. "ayah dan ibuku lebih memilih hidup di luar negeri, denfan segudang pekerjaan, tetapi menelantarkannya dengan asisten rumah tangganya. "disini lengkap, kakek,nenek, dan keluarga besar bersama". "iya nak Rangga, kakek kami yang selalu memberikan contoh tentang indahnya kebersamaan bersama keluarga". "Hari ini kakek dan nenek Berlian sedang menengok toko, jadi enggak ada di rumah".
__ADS_1
"iya bu.. Tidak apa-apa, sampaikan salan dan hormat saya buat kake....k". "kakek Anwar namanya". Berlian bersuara akhirnya. "oooh... Kakek Anwar". "yaaa.. Kakek tercinta bagi kami semua cucu-cucunya". Senja menimpali dan memberikan jempolnya kepada Rangga, tepat di hidung nya, "aitssss.... Jangan dekat-dekat doong". Berlian menarik tangan Senja. "oke.." senja menarik tangannya.
...****************...