
****
Gubrak.... Tas pinggang di lemparkan Berlian ke atas ranjangnya. "Berat sekali, rasanya punggungku hampir patah". Lalu ia duduk dan menghela nafas panjang, mengaturnya perlahan-lahan. "Tugas Matematika sudah ia selesaikan sebagian". Gumamnya, istirahat tadi Berlian tidak jajan ke kantin sekolah, ia membawa jajanan dan minuman dari rumah, "kamu bawa bekal". Intan teman sebangkunya melihat jajanan di meja sudah tersedia, "iya,.. mau menyelesaikan tugas matematika, jadi di rumah nanti tinggal sebagian lagi". "Tumben, ada apa ?". Desak Intan, tabiat Berlian akhir-akhir ini cenderung pemurung. Kayak bukan Berlian seperti biasanya yang ceria dan selalu bergembira. "Enggak lagi malas aja". Ucap Berlian membalas pertanyaan Intan. "Kamu mau ke kantin?". Berlian mengajukan pertanyaan. "Kalau ada makanan begini jangan di sia-siakan dooong". Intan tersenyum. "Ya... Kalau begitu yuk kita kerjakan soal nomor delapan kayaknya aku kurang mengerti". "Okeeey... Siap. ". Intan cerdas di bidang mata pelajaran Matematika, "tidak sia-sia sebangku sama kamu". Ujar Berlian.
****
"Tidur siang dulu, nanti ke bawah, mau istirahat dulu". Bergumam dalam hatinya, Berlian berganti pakaian dan membersihkan diri. Elah yang menyadari anak gadisnya belum ada di meja makan, untuk makan siang, celingukan mencari-cari. "Bi, tadi Berlian sudah pulang kan dari sekolah?". Bi Iyum menjawab dan memberikan botol susu untuk putra yang sedang dalam gendongan Elah.
Elah berniat ke lantai atas, menuju kamar Elah. "Bi, tolong gendong putra dulu yah". Elah mengajak putri menemui Berlian. Tok... Tok... Tokkkkk... Pintu kamar Berlian di ketuk tiga kali, namun dari dalam tidak ada jawaban. Elah mendorong pintu, "untung tidak terkunci" desisnya. Ia melihat Berlian anak cikalnya tertidur dengan lelap. Tas pinggangnya penuh dengan buku-buku. Elah mendekati ranjang Berlian, tidak sengaja tangannya menarik selimut yang sedang Berlian kenakan. Berlian mengusik berbalik arah, namun tetap tidur pulas.
Ukhu... Ukhu.. ukhu... Berlian terbatuk, Elah penasaran dan menyentuh dahi anaknya, "panas sekali, kamu sakit nak?". Berlian membuka kedua matanya, "iya Ma...h, aku meriang. Kepalaku pusing rasanya, aku tidur dulu, nanti juga sembuh". "Kita berobat saja, mamah antar yaah..., periksa takut tambah parah nantinya". "Enggak usah, istirahat sebentar nanti juga sembuh, hanya meriang saja Mah". Berlian menolak ajakan Elah untuk di periksa kesehatannya.
__ADS_1
"Kalau begitu, makan dulu yah, nanti Mamah ambilin obat penurun panas, kayaknya masih ada di kotak obat". "Tapi, aku belum mau makan, mau istirahat, cape sekali hari ini". Elah tidak membiarkan Berlian tertidur tanpa penanganan pertama. Ia turun dan membawakan nasi, serta lauk pauknya. Tak lupa pula obat penurun panas dan tensi penurun panas yang selalu tersedia di kotak obat. Untuk persediaan dan berjaga-jaga, selama sakitnya masih bisa di tangani di dalam rumah, tidak mesti di bawa ke rumah sakit.
Setelah makan dan meminum obat, Berlian tidur kembali. Elah tidak meninggalkan Berlian sendirian di dalam kamarnya, malah semua adik-adiknya juga ada di kamar Berlian.
****
Esoknya Berlian sudah merasakan tubuhnya sehat. "Kamu sudah sembuh?". Kata Elah membawakan sarapan untuk Berlian. "Sudah Mah". " Alhamdulillah, hari ini istirahat yang cukup, jangan dulu pergi ke sekolah". "Iya...". Berlian menikmati sarapan yang di bawakan Elah. "Terimakasih Mamah, sudah membawakan sarapan buat Berlian". "Sama-sama sayang, lekas sembuh, mamah mau ke bawah lagi, adik-adik kamu mau berangkat sekolah, putra dan putri tadi masih tidur, semalam ikut bergadang, tidurnya malam, jadi hari ini belum bangun". "jadi ngerepotin yah, gara-gara aku sakit". "ssssssttttt... Enggak boleh ngomong begitu na...k. sakit siapa yang mau sakit, tetapi katanya sakit itu bisa menjadi obat penggugur dosa-dosa kita, asal kita ikhlas dan ridho dan sabar menerimanya, Allah akan menghapus dosa-dosa kita". Elah mengelus halus rambut anak cikal nya".
Elah dan bu Hamdanah beranjak dari kamar Berlian, menuju aktifitasnya masing-masing, Elah menuju kamarnya dan bu Hamdanah lurus berjalan menuju teras rumahnya, melihat tanaman bunga-bunganya. "kayaknya harus beli pot yang baru". Gumam bu Hamdanah. Jauh di relung kalbunya yang dalam ia sedang merindu kepada Fajar yang Dinanti.
"Nanti hari minggu mau jenguk Fajar", bu Hamdanah berencana mengajak pak Anwar dan yang lainnya. "semoga kamu sehat selalu, dalam perawatan yang baik, kira-kira sekarang sudah bisa apa yah?". Fikiran bu Hamdanah melayang, ia teringat ketika menemukan Fajar di waktu fajar kala itu.
__ADS_1
"pasti ia cantik". "siapa bu yang cantik?". Suara Fatimah mengagetkan bu Hamdanah, "itu.... Fajar, ibu koq tiba-tiba teringat sama dia, kira-kira kalau hari minggu besok kita ke sana yuk, ke panti asuhan. Lihat keadaan Fajar". "boleh bu, aku juga mau, mungkin yang lain juga mau bu...". "iya.. Kitw ajak main Fajar keluar, biar refreshing enggak di dalam ruangan saja". "kalau ibu ada rencana seperti itu, telpon dulu ibu Komariah, izin dari sekarang, kayaknya itu lebih baik". "ide yang bagus itu, "
Bu Hamdanah kemudian menuju ke kamarnya, hendak mengambil telepon genggamnya, dan mengabarkan tentang rencananya berkunjung ke panti asuhan dan mengajak Berlian main keluar, mungkin untuk berenang atau bermain di tempat permainan anak-anak. Rencana itu di sampaikan "baik bu, boleh." dari ujung telpon suara bu Komariah mengiyakan.
****
Liontin emas terukir indah nama Elah bersanding dengan tanda cinta yang utuh dan penuh, tidak terbelah ataupun terbagi. Sidiq memberikan hadiah untuk Elah, istri yang teramat ia sayangi.
"Cantik sekali, hadiah apa ini?. Elah berucap dan menggenggam kalung dengan liontin di tangannya. "Kamu suka?" Sidiq menyematkan kalung di leher Elah. "Iya, lebih dari suka, bagus dan cantik, terimakasih yaaah". Elah mencium tangan Sidiq dengan ta'dziem.
"Tadi pulang dari toko, aku mampir ke toko emas".
__ADS_1