
Perempuan cenderung mampu mengobati sakit hatinya dengan sendirinya, sakit obatnya diri sendiri, begitulah kira kira. Mahluk yang di cap lemah dan tidak berdaya, tetapi mampu berdiri tegak di atas kedua kakinya.
Sakit bukan segala-galanya untuk meeuntuhkan jiwa raganya, insan yang tak bersayap, namun mampu menyelesaikan semua masalah tanpa menghadirkan masalah baru.
Rasmi teman sekampung dan sepermainan Mayang memilih menikah di usianya yang masih teramat muda, dengan bekal pendidikan sekolah menengah pertama, ia mengamini ajakan Rosid untuk menikah dan menerima pinangannya. Orang tuanya meski kurang merestui namun karena begitu kuatnya hasrat Rasmi untuk menikah dengan Rosid, orangtuapun luluh dan mengizinkan dengan setengah hati.
"Kamu yakin, mau menikah di usia kamu masih lima belas tahun?, Ijazah saja belum bapak dan ibu terima dari sekolah, kamu malah mau menikah". Ucap ibunya kala itu. " Iya bu, Rasmi cinta sama Rosid bu,". Rasmi menjawab pertanyaan ibunya dengan tegas. Ya... Atas nama cinta, cinta yang masih belia.
Akad nikah dilaksanakan di hari minggu, acaranya yang sangat sederhana, tanpa make-up pengantin, tanpa panggung pernikahan, atau musik pengiring untuk meramaikan suasana khidmat pernikahan mereka. Dengan mahar dua ratus ribu, Rasmi syah menjadi istri Rosid. Setelah akad semua kembali normal, sepi hanya segelintir orang yang sibuk membereskan piring sisa-sisa kue sebagai sajian tamu.
*****
Tahun berlalu, setelah beranak pinak lima gelagat Rosid tidak baik, menjadi pengangguran kelas atas dengan gaya elit selangit tanpa melihat jagat dan alam raya, sombong dan banyak membual. Rasmi banyak menerima laporan tentang perilaku Rosid di luar rumahnya, bahkan ada yang menagih hutang datang ke rumahnya.
Rasmi sedih, merundung pilu. Hatinya sedih bak tersayat sembilu. Ia, kini merasakan penyesalan yang teramat dalam, setelah status janda ia sandang dengan perlakuan Rosid yang sadis. Kini ia terbuang sedang ke dua orangtuanya kini telah tiada, "kemanakah aku akan mengadu? Kepada siapakah aku akan mengeluh?". Menangis tersedu sedan, meratapi nasih yang sudah menjadi bubur.
__ADS_1
"Sakit hati ini, kenapa nasib ku begini?, Belum jua ku nikmati bahagianya mahligai sebuah pernikahan,". Hanya anak yang menjadi penyemangat hidup, bahwa hidup mesti terus berjalan meskipun rasa sakit teramat dalam sedang di alami. "Kita harus terus hidup baik, agar yang mendzolimi dan menyakiti hati kita malu karena perbuatannya". Rasmi menguatkan hatinya dan hati buah hatinya yang kini tidak menerima buaian kasih sayang ayahnya.
"Kalian sayang ibu kan?". "Sayang bu,... Sangat sayang". "Alhamdulillah, semoga kalian sukses, bahagia dan mengejar cita-cita dan mimpi kalian". Dalam pijar lampu lima watt mereka berenam berpelukan. Saling menguatkan dan memberikan limpahan kasih sayang.
Nuri, Lidya, Widya, Hendra, Dimas. Anak-anak Rasmi, mereka saling menggenggam tangan dan meyakinkan bahwa mereka bisa hidup tanpa kasih sayang ayah.
****
Broken heart bukan pada remaja saja, namun di alami oleh Rasmi, karena Ia telah kehilangan masa remajanya setelah menikah, dan pernikahannya harus hancur di terjang badai yang tinggi.
Mayang melihat Rasmi merasa terkagum-kagum dengan sifat kebaikan yang di tunjukkan oleh salah satu sahabatnya, dalam pelukan Mayang, Rasmi berucap "bukan ku tak mampu melakukan hal yang di lakukan oleh Rasid, sama -sama mencari laki-laki lain dan menjadikanku wanita dalam bayangannya dan menggantikan posisiku sebagai istri syahnya dengan wanita lain dalam kehidupannya, namun. Aku hanya mencoba menjaga perasaan, meski mereka tidak memiliki perasaan dan berperasaan kepadaku". Mayang ikut terisak, kalimat yang terlontar dari mulut Rasmi begitu bijaksana. "Kamu memang wanita hebat dan kuat, aku salut kepadamu Ras,". "Terimakasih banyak May, mau apalagi, mau berbuat apa lagi? toh semua sudah terjadi, meski aku kalah dalam arena perjuangan ini, tetapi ada anak-anakku yang kelak akan membahagiakanku, mereka akan ku didik dengan baik dan tulus, agar mereka sukses dan bisa menggapai kebahagiaan bersama meski harus merasakan sakit terlebih dahulu.
"Sabarmu memang sangat luar biasa" Rasmi menghela nafas panjang dan memberikan senyuman, senyuman getir yang di rasakan. Namun masih ada asa yang harus di gapai.
Rasmi berdiri mengayuh biduknya yang hampir terjerembab jatuh. Tertatih-tatih ia mengais rezeki, mencari rezeki yang halal dan baik untuk biaya sekolah dan biaya hidup.
__ADS_1
Rosid yang telah pergi berlalu tidak meninggalkan sepeserpuan uang, malah menyisakan hutang yang harus di bayar oleh Rasmi. Meski berat namun harus di terima dan di jalani.
Banting tulang Rasmi mencari nafkah, meski hanya menjadi buruh paruh waktu, Rasmi selalu tawakkal, sehingga jiwanya tetap tenang. Di kala malam Rasmi terlelap tidur, lelah dan melupakan bahagianya. Keadaan ini membuat anak-anaknya selalu berbagi tugas, menghilangkan sejenak kelelahan yang di rasakan ibu nya.
Terutama Nuri Rahmayanti, sebagai anak pertama, selalu memberikan contoh yang baik untuk adik-adiknya. Nuri mampu menjadi ibu yang kedua bagi adik-adiknya. Selepas sekolah Nuri akan mencari pekerjaan membantu tetangganya yang membutuhkan tenaganya. Menyetrika atau menjaga anak tetangganya yang di tinggal ayah ibu nya kerja di pabrik. Gaji atau layaknya upah di terima setiap hari untuk menambah membeli kebutuhan di dapur.
Lidya Nurcahyani anak kedua menjaga toko setelah pulang sekolah. Toko bu Mawar. Tetangga depan rumahnya. Memudahkan Lidya melihat adik kecilnya atau sebentar melihat keadaan rumah. Semua anak Rasmi begitu rajin, ulet dan penuh dengan semangat bekerja, akhirnya banyak tetangga yang simpati.
Bu Gendis, selalu memberikan uang jajan untuk Widya... Widya Nurmalasari anak ketiga Rasmi, berparas cantik, dan mampu memikat hati bu Gendis, sehingga bu Gendis selalu ingat dengan Widya. Bukan karena parasnya yang cantik saja, Widya tidak menjadi anak yang manja dan berpangku tangan.
Terkadang oleh-oleh spesial di sediakan bu Gendis jika ia ada pekerjaan ke luar kota. "ibu pergi ke kota Semarang lima hari, nanti Widya tolong bantu sapu rumah yaaah, selama ibu di luar kota". "iya bu". "kunci rumah ibu titip yah, nanti beres-beres saja". Pesan bu Gendis sebelum berangkat pergi.
Dimas anak yang paling kecil, berusia delapan tahun. Ia juga mempunyai sifat yang baik, perihatin dan tidak menjadi anak yang manja di usianya, mungkin karena ikatan bathin antara mereka kuat, sehingga saling memberitahukan lewat telepati hati.
*****
__ADS_1
Bertahun-tahun lamanya, kesedihan yang perih telah terlewati, kini Rasmi sedang menikmati kebahagiaan setelah kelima anak-anaknya menjulang kesuksesan, berkat kesabaran dan ketabahan Rasmi.