Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab VIII Cemburu


__ADS_3

Sidiq yang polos, tidak merasakan kecemburuan yang sedang melanda Elah. Setelah normal kembali Sidiq bekerja di salah satu toko pak Anwar.


****


Sore menjelang, Sidiq pulang dari toko merasakan penat. Hari ini cuaca sangat terik, panas sekali. Setelah membersihkan badan Sidiq rebahan menatap dinding kamar yang kini sudah terpampang foto pernikahannya.


Elah begitu cantik, namun hampir tertutupi dengan rambut kribonya.


"Siapa Jelita, dia cantik yah? dia seksi yah? dia pacar mu?, Kenapa kalau punya pacar malah menikah sama aku?" Sidiq terperanjat kaget, tidak menyadari Elah susah berada di sampingnya.


"Oooh Jelita, ia dia cantik, aku suka memandangnya berjam-jam, bahkan terkadang aku tidur di dekatnya". Sidiq tidak memperdulikan muka merah pada Elah. "Terus" ketus Elah. "Sayang dia enggak bisa ngomong, kami hanya saling bertatapan, matanya juga indah, bulu-bulu nya halus dan lembut, berlari-lari kadang-kadang ku mengejarnya, Jelita bukannya mendekat malah menjauh, kalau udah begitu aku diam saja, nanti juga Jelita mendekatiku lagi. Pipinya yang halus ku sentuh.....". "Kamu juga tidur bersama dia" Elah mulai terbakar cemburu, "Iya, kadang aku tidur di samping bulu-bulu indahnya, tapi kadang aku kembali ke kamar ini setelah Jelita tertidur pulas, nanti ku tinggalkan, bertemu lagi pagi atau sore, setiap hari aku menemuinya, Jelita pasti menyambutku dengan senang hati, memamerkan keanggunannya. Daaaaaan........"Cukup", belum selesai Sidiq berbicara Elah sudah menahan mulut Sidiq dengan kedua tangannya, Elah sudah tidak kuat lagi, mendengar penjelasan Sidiq suami kribo nya tentang Jelita.


"Jelita, Jelita, Jelita daaan Jelita, kau agungkan dia, kau bangga-banggakan dia, aku ini istrimu yang baru seminggu kamu nikahi". Nada Elah keras, sambil meremas tangannya.


"Memang nya kenapa" Sidiq biasa saja, datar menjawab kekesalan Elah.


"Apa....! Kamu bilang emang kenapa?, Enak banget jawab!, Kalau tahu kamu sudah punya si Jelita itu kenapa jauh-jauh ke rumahku, ke kampungku, apa maksudmu?!".


"Iya mang Ujang tukang bakso itu saudara dari ibu ku, yaa aku main ke sana, eeeh... Malah ketemu gadis secantik kamu, pake numpahin bakso segala, hehehehe".


"Iiiih dasar laki-laki!, Elah bertambah emosi. "Emang aku laki-laki. Laki-laki yang beruntung dapat gadis secantik kamu". "Rayuan gombal". Bantal mulai mendarat di pipi Sidiq, tangkisan Sidiq tidak bisa membendung bantal. Akhirnya bantalpun mendarat manis di pipi Sidiq.

__ADS_1


"Aku tahu banyak laki-laki yang tergila-gila sama kamu". "Iya," Elah menjawab. "Aku beruntung dong". Sidiq mencoba menyentuh pipi Elah.


"Eiiiittt.... Eitt... No... No...jangan harap yah! Heh! Dasar laki-laki tukang gombal". "Tapi kamu suka kan?". Sidiq masih saja berusaha menggoda Elah. "Ooh... Iya, aku mau tahu apa yang kamu bicarakan sama Abah malam itu, sampai mau menerima lamaran kamu?"... "Ooooh... Kalau itu rahasia. Rahasia antara Abah dan aku".


"Kamu enggak tertarik dengan Jelita" goda Sidiq. "Nanti sore yah aku ajak kamu ke rumah Jelita, akan aku perkenalkan, aku tahu kamu cemburu". Senyuman tersungging di mulut Sidiq.


*****


Sore tiba. "Ayo, ke rumah Jelita". Ajak Sidiq. "Sebentar, aku harus dandan cantik dulu, masa nanti aku kalah cantik sama si Jelita, nanti akan aku perkenalkan ' saya Elah istrinya Sidiq, yang di cintai dan di sayangi melebihi siapapun",. Memoles bedak tipis dan memakai gincu warna pink pada bibir mungilnya.


Lewat belakang, mengitari kebun yang luas. Ada sebuah sarang yang bersih dan bagus. Sangat di perhatikan keberadaannya, terlihat dari kebersihan dan beberapa bunga melati merayap dengan indah di sekitar kandang.


Sidiq menggenggam tangan Elah, lalu melepaskan ya setelah di depan kandang yang di cat coklat tua.


Lalu, keluarlah burung merak dan serta merta memarkan kecantikan dan keanggunan ekornya yang berwarna-warni. Bulu-bulunya bermekaran seolah-olah ingin di tunjukkan kepada Elah bahwa memang ia cantik.


Elah bengong, terheran-heran ternyata burung merak yang ada di hadapannya mahluk cantik yang ia cemburui.


Merasa malu dan salah tingkah Elah hanya tersenyum manis menatap Sidiq.


Sidiq membalas tatapan Elah dengan melemparkan senyuman.

__ADS_1


"Ini Jelita, hewan peliharaanku". "Jelita ini Elah istriku yang cantik, tapi awas hati-hati dia suka marah dan ternyata pencemburu, meski dia seperti tidak suka sama aku, ternyata jauh di lubuk hatinya ia mencintaiku". Sidiq berbisik di telinga Jelita. Jelita nampak manja dan sayang kepada Sidiq. Jelita sekali lagi melebarkan ekornya dan menatap Elah.


***


"Coba dari awal kami cerita, aku enggak bakalan secemburu ini",. "eih... cewek jutek dan galak kayak kamu ternyata bisa juga cemburu... cie... cei..". Canda Siqit menambah rasa keki Elah.


"koq aku bisa cemburu yah, sama si kribo celana cutbray ini". Elah tidak menyadari cinta dalan dirinya mulai tumbuh. Tumbuh dengan sendirinya, mungkin cinta yang di rasakan Elah karena kekaguman kepada Sidiq dengan kepribadian dan keluarganya yang sederhana meski hidup serba berkecukupan.


"Cemburu kok sama burung merak, hehehe".. masih saja Sodiq menggoda Elah.


Rasa cemburu yang timbul dalam diri Elah, meyakinkan kepada Sidiq bahwa Elah mulai mencintai nya dengan perlahan namun pasti. "Ooooo ..... Tuhan, terimakasih telah mendatangkan bidadari dalam kehidupannya, tanpa melihat status dan kekayaannya". Sebelum mengenal dan menikahi Elah, Sidiq berusaha mencari pasangan yang bisa menerima dirinya bukan harta kekayaan bapaknya, namun tidak di temukan. Semua perempuan yang mau dekat sama Sidiq tidak tulus.


Setelah tahu keadaan Sidiq yang sebenarnya mereka menjadi gila harta, Mirna contohnya, teman sekelasnya waktu SMA. " "Sidiq kaya berati nanti hidupku akan bergelimpangan harta". Mirna mengatakannya kepada Linda sahabatnya, kata-kata itu terdengar saat Sidiq lewat melintasi kantin sekolah.


"Adddduuuuh....." teriak Elah.


"Ada apa? kenapa?"... Sidiq terbangun dari tidurnya dan melihat Elah sudah terjatuh di bawah, di lantai.


"Maaf tadi aku mimpi main sepak bola, terus nendang bola ke gawang, maaf... maaf... Elah. Sini aku bantu yah?". Sidiq memapah Elah dan mendudukkan Elah sembari menyuruhnya tidur lagi.


Tarik selimut, lalu tertidur dengan pulas. Hujan mengguyur membawa suasana begitu syahdu. Elah sudah menerima kenyataan si kribo dan celana cutbray adalah suami yang sudah di tentukan. Bukan sebuah kebetulan semata.

__ADS_1


****


Elah merasakan kebahagiaan yang dalam, mempunyai suami yang baik dan mertua yang baik pula. "Kamu sudah ayah dan ibu anggap seperti anak sendiri, jadi jangan ragu dan bimbang, kita semua saudara". "Iya, ayah terimakasih banyak, Elah sudah di perlakukan baik dan si terima dengan baik di sini". Elah memeluk ibu Hamdanah yang sudah menjadi ibunya, bukan lagi ibu mertua.


__ADS_2