Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab XV. Tamu Tak di Undang


__ADS_3

Hari ini Sidiq tidak pergi ke toko. Alasannya hanya ingin bermain dengan anak-anak, terutama si bungsu kembar. Elah senang karena Sidiq bisa meluangkan waktunya sehari meski bukan di weekend.


Karena kalau weekend, jelas seluruh keluarga pak Anwar refreshing, semua ikut tidak boleh tidak hukumnya wajib. Kiat inilah yang membuat keluarga pak Anwar dan Bu Hamidah selalu kompak, perhatian dan mendukung antar keluarga.


Asisten rumah tangga semua ikut, terkecuali pak satpam. Pos satpam di dalam rumah harus berjaga-jaga, di khawatirkan ada hal-hal yang di inginkan,eeeeh... Salah yang tidak di inginkan. Kerajaan yang di bangun dalam istana pak Anwar selaku raja menjunjung tinggi solidaritas kekeluargaan, patuh terhadap orang tua dan memperlakukan asisten rumah tangga sebagai saudara, bukan sebagai pembantu yang tidak punya nilai sosial, di suruh dan di perintah sesuka hati, "harus menggunakan tata Krama yang baik, sopan dan berakhlak". Itu yang di tanamkan dalam benak anak, menantu dan cucu-cucunya. Sehingga terjalin harmonisasi yang membangun tidak menjatuhkan.


Di depan pintu pagar rumah pak Anwar di datangi tamu perempuan, masih muda usia di perkirakan tiga puluh delapan-an, nampak masih segar bugar dan berpakaian rapih dan sopan.


Pak satpam selalu penguasa garda terdepan menanyakan maksud dan tujuan kedatangan wanita cantik tersebut. Pos satpam di rumah pak Anwar di jaga ketat oleh dua satpam. Bapak Tanjung dan bapak Herman. Hari ini yang bertugas jaga bapak Herman, shift malam nanti bapak Tanjung. Namun, dikala istirahatnya telah cukup biasanya mereka berjaga bersama, meski yang satu tidak memakai seragam resmi.


"Ya, Bu... Maaf mau bertemu dengan siapa? Sudah janjian belum? Atau ada yang bisa saya bantu?". Herman dengan sopan meminta keterangan yang pasti sepasti pastinya itikad apa gerangan sehingga wanita muda itu ada di depan rumah bos besarnya yang Budiman.

__ADS_1


"Ya, pak saya mencari pak Sidiq, apa benar ini rumah bapak Sidiq".


"Iya benar, di sini ada yang namanya bapak Sidiq, ngomong-ngomong ibu ada keperluan apa yang mencari tuan muda Sidiq?". Herman terus mencari informasi yang lengkap dari perempuan tersebut.


"Pokoknya saya mau ketemu bapak Sidiq sekarang, saya sudah capek-capek ke tokonya, beberapa kali ke tokonya selalu enggak ketemu, kata pegawainya hari ini pak Sidiq tidak ke toko, mana saya berjalan kaki dari ujung pangkalan Sampai disini, kaki saya rasanya mau copot". Wanita muda itu memperlihat kakinya yang memerah karena lecet, bekas gesekan sendal yang di pakainya.


"Nanti saya hubungi orang rumah dulu, ibu belum bisa masuk, maaf yah Bu, demi keamanan dan kebaikan kita bersama". Lantas Herman menuju teras rumah.


Belum sampai ke depan teras, Elah sudah ada di hadapan pak Herman "siapa pak Herman di sana? Sepertinya suara perempuan?. "Iya Bu, katanya mencari bapak Sidiq, sudah beberapa kali ke tokonya tetapi tidak bertemu, tadi katanya ke toko lagi, terus kata pegawai toko bapak tidak ke toko". Herman sebenarnya ada rasa takut, jikalau Elah marah dan mengusir tamu perempuan muda tersebut.


"Tunggu di sini pak, biar saya yang panggilkan pak Sidiq. Bapak kembali ke pos satpam, sampaikan kepada perempuan itu suruh menunggu istrinya sedang memanggilnya". Pak Herman tidak banyak bicara hanya memanggutkan kepala lantas pergi menuju pintu gerbang dan menyampaikan apa yang tadi di ucapkan oleh Elah.

__ADS_1


Elah bergegas menuju arena permainan keluarga, di sebelah kanan ruang tamu. Di ruang permainan keluarga banyak sekali mainan, trampolin, rumah-rumahan, boneka, tenda yang berjejer, mandi bola, mobil-mobilan, skuter, Vespa atau motor-motor yang bisa di kendarai tapi tidak membahayakan bagi anak kecil dan lain sebagainya. "Yang, sayang..." Meski dalam hati panas dan geram ternyata suaminya main hati di luar sana, sampai-sampai perempuan itu berani datang ke rumahnya. "Ya, aku di sini sama putra, putri tidur di kamarnya setelah minum susu". Jawaban Sidiq biasa saja. "Kamu punya pacar, ngomong aja, jangan main belakang sembunyi-sembunyi, ujung-ujungnya ketahuan juga, sepandai-pandainya menyimpan bangkai nanti tercium juga. Inget anak dua belas tuuuuh". Sidiq langsung berdiri dan meraih tangan Elah meraihnya dengan perlahan. "Apa maksud mu, aku enggak ngerti!?.. demi ayah dan ibuku yang aku cintai sampai mati, tidak ada perempuan lain selain kamu, ibu dari anak-anakku"."terus siapa perempuan yang nyari kamu di depan pagar rumah, katanya sudah berkali-kali ke toko, tapi enggak pernah ketemu lagi sama kamu, eeeehhhh.... Malah sekarang berani muncul menampakkan batang hidungnya di depanku". Elah menahan emosi.


"Siapa? Aku enggak tahu El... Bagiku siapa saja yang datang ke toko itu sebagai raja, pembeli yang harus di layani". Pertengkaran bertambah panas. "Kalau memang tidak ada apa-apa kenapa dia sampai datang kesini mencari alamat dan menanyakan langsung ke pegawai di toko". "Ya aku tidak tahu, kalau begitu ayo kita ke depan suruh tamu kita masuk, tanya baik-baik, apa maksud dan tujuannya ke sini. Tapi perlu kamu ingat aku tidak pernah melakukan apa yang kamu kira".


Kalau memang benar perkiraanku, tujuh ratus malaikat pelindungku tidak akan rela, mungkin mulut, kaki dan tanganmu hari ini bisa berbohong, tapi kelak di hari semua amal di buktikan kamu tidak akan bisa bohong!. " Ya, aku berani bersumpah, mungkin perempuan di luar sana salah alamat, dan di dunia ini nama Sidiq tidak hanya aku saja!. Keduanya lalu keluar menemui tamu tak di undang yang sedari tadi menunggu tuan yang di tuju.


Setelah bertemu, Sidiq menyuruh pak Herman membukakan pintu pagar dan mempersilakan tamu wanita itu masuk ke dalam rumah.


Keduanya hanya bertatapan, bengong. Sidiq terutamanya yang tidak mengenal siapa gerangan wanita yang ada di hadapannya.


"Saya Sidiq, ibu mencari saya? Ada apa yah?". "Betul ini bapak Sidiq?". "Kok ... Malah balik bertanya". Elah sewot. "Eeehhh... Maaf pak, saya takut salah, soalnya saya sudah dua kali ke toko bapak tapi enggak pernah ketemu, ini yang ke tiga kalinya. Bukan saya enggak percaya sama pegawai bapak, tetapi saya ingin bertemu langsung dengan bapak selaku tuan dari barang yang saya temukan di jalan beberapa Minggu yang lalu, saya rasa barang ini teramat berharga untuk bapak". Sambil menyerahkan sebuah dompet berwarna coklat dari dalam tasnya.

__ADS_1


Sambil menepuk jidat Sidiq baru sadar dompetnya hilang. "Aduh,.. maaf terimakasih banyak Bu, maaf telah membuat lama menunggu, soalnya saya kaget baru kali ini ada perempuan yang nyari-nyari saya.


Roman Elah berubah menjadi pasi, malu dan diam tertunduk.


__ADS_2