Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab XVII Hadiah Pernikahan Yang Spektakuler


__ADS_3

Tahun ini adalah tahun ke delapan belas tahun pernikahan Elah dan Sidiq. Usaha Sidiq semakin maju, tokonya bertambah lagi. Dua kios di kota yang berbeda.


Begitu juga dengan usaha pak Anwar dan anaknya yang lain. Kakak-kakak Sidiq semua sukses di bidang perdagangan. Ada satu yang berniaga di bidang emas. Kak Hasan namanya. Ia mempunyai toko emas empat kios.


Semua usaha yang di geluti anak-anak pak Anwar mendapat dukungan penuh dari pak Anwar. Beliau membimbing dan membina semuanya sehingga kesuksesan dapat di raih, meski pernah mengalami kegagalan, namun pak Anwar selalu mampu memberikan jalan terbaik untuk semua permasalahan yang di alami, sehingga kesulitan bisa di lewati.


"Tidak ada usaha yang tidak mendapat halangan, kiatnya adalah kejujuran, ulet, ketekunan, tahan banting, jangan mudah putus asa" ujar pak Anwar.


****


Sebagai hadiah ulang tahun pernikahan yang ke delapan belas tahun Sidiq berniat ingin memberikan supprised untuk Elah, istri yang Sholehah, baik, dan sudah delapan belas tahun setia menemani bahtera rumah tangga dengan sidiq, meski pernah mengalami riak-riak rumah tangga, tetapi semuanya bisa di lewati.

__ADS_1


Dua belas anaknya gegap gempita menyambut ide bapaknya, "kalian harus kompak, Berlian yang pertama memberikan bunga mawar merah, terus Muhammad, Ahmad dan selanjutnya berjejer satu persatu yah kasih ke ibu". Dua belas anaknya patuh dan mendengarkan secara seksama apa yang di ucapkan bapaknya. "Tepat jam dua belas nanti malam bi Inah, nanti membantu kalian bangun dan langsung ke kamar bapak dan ibu yah". Bi Inah turut di libatkan, tentu tidak hanya bi Inah saja, asisten rumah tangga yang lain pun turut serta.


Ayah dan ibu sarta semua keluarga seisi rumah megah nan menawan itu tahu rencana Sidiq, hanya Elah saja yang tidak mengetahui rencana Sidiq. Dua belas tangkai mawar merah sudah tersedia, mang Ijah menyimpannya dengan rapih di dekat kamarnya, di simpan di dalam ember yang berukuran sedang dan ada airnya setengah tangkai mawar merah terkena air, "supaya tidak layu" Ujar Sidiq kepada mang Ijah. "Hhmmmm wangi" mang Ijah menghirup bunga mawar merah, hidungnya kembang kempis mencium aroma wangi mawar merah.


Jam dua belas tepat, lonceng jam dinding berbunyi. Jam berukuran besar bertengger di dinding rumah dengan warna keemasan, di samping jam dinding terdapat kaligrafi dengan lafadz ayat kursi di sebelah kanan, dan di sebelah kiri foto pak Anwar dan Bu Hamdanah, sebagai tuan dan nyonya pemilik rumah.


Sidiq yang terjaga langsung terbangun dan membuka pintu kamar, mindik-mindik turun dari ranjang, jangan sampai bersuara, supaya Elah tidak ikut terbangun. Satu persatu anaknya masuk kamar, Berlian, Muhammad, Ahmad, Iqbal, Seruni, Senja, Senandung, Mawar, Rafa, Rafi, putra dan putri. Berjejer rapih di samping ranjang. Elah masih tertidur pulas, malah sedang bermimpi tentang Abah dan ibu. "Abah ibu".. Elah mengigau tidak menyadari ke dua belas anaknya sudah berada di sisinya. Ibu... Ibu... Ibu... Ibu... Ibu.. ibu... Dua belas kali panggilan. Elah terbangun, perlahan matanya terbuka. Duduk dan melihat ke seluruh kamar. "Selamat hari pernikahan ibu". Berlian mendatangi Elah lalu mencium pipi kanan di lanjut dengan adik-adiknya, yang lucu putra dan putri yang baru bisa melangkah satu atau dua langkah saja. Di bantu Bi Inah dan Sidiq mendekati Elah. Yang menjadi takjub juga putri dan putra antusias dengan acara ulangtahun pernikahan ibu dan bapaknya.


Sidiq diam merasa tidak di sebutkan namanya. "Eeeh... Ada yang hampir ketinggalan, ku ucapkan terimakasih yang tidak terkira untuk suami dari ayah anak-anakku, pokonya suami dan bapak yang super, is the best". Sambil mengacungkan jempol Elah mendekati Sidiq dan mencium tangan Sidiq dengan ta'dzim.


Belum usai sampai disitu, ayah dan ibu membawakan kue yang yang tinggi dan besar. Warna putih dengan ornamen coklat di sekitarnya.

__ADS_1


Elah menangis terharu, begitu banyak yang menyayangi dan mengasihinya. Tangan kedua mertuanya ia cium lalu mengucapkan rasa terimakasih yang teramat dalam.


Kue mulai di potong bersama. Tangan Sidiq dan Elah bersama-sama memegang erat pisau yang besar, di sesuaikan dengan kue nya yang berukuran besar pula. Potongan pertama sidiq dan Elah sepakat diberikan kepada pak Anwar dan ibu Hamidah. sebagai orangtua panutan dan tauladan.


Tidak sampai disitu saja, hadiah bertubi-tubi datang dari anaknya, dua belas kado yang berbeda terkumpul rapi di atas sofa. Semua kado beraneka ragam sesuai dengan hobi Elah, sebenarnya yang belanja Sidiq tetapi ia sengaja anak-anaknya yang memberikan. Isi kado Berlian lipstik, Muhammad buku menu makanan, Ahmad Bros kupu-kupu, Senandung jilbab, Senja pensil alis, Mawar minyak wangi, Iqbal pulpen, Rafa buku diary, Rafi kaos kaki, putra gelas bergambar Elah dan Sidiq, putri piring melamin dengan gambar bunga mawar merah pada setiap sisinya.


Elah sangat bahagia, bahagia dengan semua pemberian Tuhan kepadanya, semua karena ridho Abah, doa orang tua diatas segala-galanya. "Terimakasih Abah, ibu". Dalam hati Elah mengingat kedua orangtuanya. Elah terfikirkan keduanya sudah tua, hanya berdua, paling di temani si Puti. Sempat mengajak Abah dan ibu pindah ke rumah ayah dan ibu, dan itupun sangat di setujui oleh pak Anwar, "kalau Abah dan ibu tidak mau serumah bisa nanti ayah bikinkan rumah di sebelah sana, tanah masih luas". Penawaran itu pernah di sampaikan kepada Abah dan ibu. Namun keduanya tidak mau meninggalkan kampung halaman. "Terimakasih pak besan tetapi kami betah tinggal di kampung".


"Hadiah yang terakhir adalah tiket bulan madu, hehehe". "Bulan madu!". Elah terhenyak. "Anak susah dua belas kok bulan madu". "Iya, karena aku belum pernah mengajak kamu berbulan madu, maaf yah". Sidiq mendekati Elah dan memberikan tiket. "Hanya dua tiket?". Elah membuka. "Iya, masa bulan madu serakyat, ya berdua saja dong". Sidiq menjawab pertanyaan Elah.


"Praha selama seminggu, tanpa ke-dua belas anak, rasanya berat, tapi.... Sayang kalau enggak di pakai". Dua hari lagi perjalanan bulan madu yang tertunda selama delapan belas tahun. "Jangan punya anak lagi yah!. Ucap Elah di telinga Sidiq. "Kalau itu harus, hehehe!". "Oooh... No! Mau nambah berapa lagi?. " Empat lagi". " Hadduuuuuuh, Elah menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sidiq menyeringai tanda senang dan akan idenya, ide yang luar biasa. Semua yang mendengar ikut tertawa dan tersenyum atas reaksi Elah.


__ADS_2