
****
Pagi buta, embun pagi masih basah, membasahi rumput. Hujan kemarin sore masih menyisakan sisa-sisa airnya untuk dedaunan, tanah, dan bumi.
Seisi rumah mulai menyibukkan diri dengan segudang aktifitas yang berbeda dan tujuan yang berbeda pula. Seiring dengan waktu yang terus berputar dan bergulir, mereka mempersiapkan diri menyongsong hari. Pukul enam setelah sarapan dengan menu nasi goreng, telor dadar, di ceplok, sambal dan kerupuk. Pengisi rumah yang pergi ke sekolah sudah menaiki mobil masing-masing. Pak sopir sudah standbye siap mengantarkan generasi bangsa, penerus pertiwi. "Ayooo... Anak-anak, jangan ada yang tertinggal yah". Ibu Hamdanah mengingatkan sambil mencium cucu-cucunya berangkat sekolah. Sudah terbiasa nenek yang satu ini mengantarkan cucu-cucunya ke dalam mobil, menyalami semuanya dan melambaikan tangannya, tersenyum manis dan terus menatap mobil yang membawa cucu-cucunya hilang dari penglihatannya. Hal ini membuat cucu-cucunya senang, terkadang sepulang sekolah mereka membelikan hadiah kecil yang mereka beli di sekolah, atau di perjalanan pulang. Ibu Hamidah selalu menyimpannya dengan rapih sekecil apapun pemberian cucu-cucunya, meski nilai harganya tidak mahal.
__ADS_1
Beberapa hari yang telah berlalu, Ahmad memberikan sebuah bros kupu-kupu. "Nek, ini untuk Nenek, tadi Ahmad lihat di warung sekolah ibu kantin membawa ini". Sambil menunjukkan dan memberikannya, "Ahmad kira cocok kalau di pakai di kerudung nenek". "Oooh... Bagus sekali, Ahmad nenek suka sekali brosnya, iya... Nanti nenek pakai yah, terimakasih Ahmad". Ahmad siswa kelas lima di sekolah berbasis agama yang ketat dan tentunya dengan biaya sekolahnya yang lumayan besar perbulannya.
Setelah semua cucu-cucunya berangkat, bu Hamdanah menemui pak Anwar di kamarnya, dan mempersiapkan kebutuhannya selama di toko. "Ayah, hari ini kira-kira mau pulang jam berapa?". "Ya... Seperti biasa saja, ada apa bu?". "Enggak, kayaknya ibu hari mau ada sesuatu yang akan membuat ibu bahagia, tetapi ibu juga enggak tahu sesuatu itu apa?". Ibu Hamdanah menghela nafas sambil memasukkan roti panggang dan sebotol air putih ke dalam tas berwarna cokelat yang akan di bawa oleh pak Anwar ke toko. "Ibu mau hadiah?, Hadiah apa? Nanti ayah belikan, atau mau beli sekarang sekalian kita ke toko?". "Enggak... Bukan itu, tetapi ibu seperti mendapat sebuah firasat, hadiah bukan pemberiah ayah atau siapapun, entahlah.. namun, kenapa firasat itu begitu kuat di hati ibu, ibu bisa merasakannua begitu dekat dan hebat, tetapi ibu enggak tahu apa dan siapa atau benda apa yang akan menjadi hadiah bagi ibu". Pak Anwar diam sebentar, "Ayah enggak usah ke toko aja kalau begitu, urusan di toko bisa di hendel sama Samsudin". "Jangan, ayah ke toko aja, nanti kalau ada apa-apa ibu kabarin". "Ooh, begitu yah. Kalau begitu siapkan saja bu, sebentar lagi ayah berangkat". Sepuluh menit waktu yang di butuhkan oleh pak Anwar, setelah membersihkan diri, berganti pakaian, mengecek segalanya. Dan tak lupa kunci mobil yang terbiasa di simpan di dalam kotak kecil berwarna hitam di atas meja rias ibu Hamdanah.
Melaju bersama, melangkah menuju mobil ibu Hamdanah mengiringi kepergian suami tercintanya, entah kenapa hari ini bu Hamdanah mengikuti mobil pak Anwar sampai ke pintu gerbang rumahnya, padahal jaraknya lumayan jauh. Pintu gerbang terbuka, pak Herman membungkukkan kepala dan melebarkan senyuman manisnya untuk kedua juragannya. "Pak Herman, sebentar saya mau keluar, kira-kira bunga di luar masih pada bagus enggak". "Siap bu, mari saya temani". Pak Herman mengikuti langkah bu Hamidah, tak berselang lama bu Hamidah mendengar tangisan bayi. "Pak Herman denger enggak?". "Iya... Bu, tapi dimana yah?". Keduanya celingukan mencari arah suara.
__ADS_1
Elah dan Fatimah yang mendengar suara tangisan bayi dari luar segera beranjak dan mengikuti dari mana suara tangisan bayi tersebut, karena di keluarga pak Anwar saat ini tidak ada yang mempunyai bayi. "eeeh... Eeh... Bayi siapa itu pak Herman? Kok ada di sini?". "ibu tadi ke depan maksudnya mau mengecek kondisi bunga di luar pagar di pot itu, tidak lama ibu berdiri ada tangisan bayi, tolong yah bi Iyum mandiin bayinya, terus bikin susu". "susu bayi enggak ada bu".. "oooo iya, nanti sekalian pak Herman beli susunya ke gang depan dekat rumah pak RW," Fatimah ikut membantu bi Iyum memandikan bayi dan mempersiapkan baju bekas anaknya yang masih tersimpan rapih di dalam lemari. Fatimah menyimpan beberapa baju anaknya, sewaktu masih bayi. "untuk kenang-kenangan". Ucap Fatimah. Hanya beberapa helai saja yang ia simpan, biasanya pakaian yang memiliki kesan baginya.
Bu Hamdanah berlari cepat menuju pos satpam "pak Herman, ini uang untuk beli susu formula untuk bayi yah? Di gang depan rumah pak RW kan ada warung, nanti setelah laporan ke pak RW langsung beli kesitu. Pokoknya jangan lupa.". Pak Herman langsung tancap gas, berangkat mengendarai sepeda motor, meskipun gang depan, karena di kawasan rumah elit gang depan itu jauh juga kalau menggunakan kaki saja, terus dalam keadaan terburu-buru, ada nyawa yang harus di selamatkan.
Bi iyum agak bergetar juga memandikan bayi yang entah dari mana datangnya, "bi, hati-hati tali pusarnya masih ada, nanti bidan Desy dalam perjalanan, tadi sudah ibu hubungi lewat telpon". "iya bu". " siapa yang tega membuang bayi masih merah ini?" Desis bi Iyum. "bu... Ayah sudah di hubungi belum?". Ujar Elah, di tangannya sudah ada bedak bayi dan minyak telon dan pewangi bayi. "maasyaallah hampir ibu lupa". Bu hamdanah menelpon pak Anwar dan memberitahukan apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Belum tiba di toko pak Anwar putar arah, dan mengabarkan kepada Samsudin tentang apa yang telah terjadi. "iya pak, siap". Dari ujung telepon seluler pak Samsudin menjawab perintah pak Anwar. Putra dan putri ikut bengong, kenapa di rumahnya ada suara bayi?. sedangkan pak Anwar masih dalam keadaan bingung, kok ada bayi di depan agaf rumahnya?. "apa ini yang di maksud hadiah, yang di ucapkan istrinya sebelum berangkat kerja.