
*****
Ridho, yang menganggap mertuanya seperti ibunya, tidak segan dan malu lagi menggoda Mayang istrinya di depan mertuanya. Mayang kini sudah hamil, hamil nya yang ketiga kali. Yang pertama kehamilan Mayang tidak terselamatkan di usia baru dua puluh delapan hari. Anak keduanya lahir berjenis kelamin laki-laki, hanya waktunya tidak lama. Anak Mayang dan Ridho hanya menghirup udara segar dunia empat jam saja.
Sebabnya karena pecah air ketuban sebelum lahir sang jabang bayi, Mayang dan Ridho harus ikhlas dan menerima taqdir Ilahi yang telah di goreskan untuknya.
Di kehamilan ketiga ini Ridho sangat protektif malah cenderung over protektif, banyak yang harus di patuhi Mayang.
"Satu, tidak boleh mengendarai motor baik dekat apalagi jaraknya jauh, kedua jangan membawa beban yang berat, apapun bentuknya".. "aku enggak bawa batu satu karung atau kayu, atau apa pun... " Mayang protes. " Ini demi kebaikan anak kita May,.. aku mohon, setelah semuanya ini boleh, kamu kan istriku yang kuat dan hebat". Ridho menyentuh dagu istrinya.
"Delapan bulan, sebentar lagi sembilan bulan, punya bayi. Mana bisa bawa motor sendiri, dasar aneh... ". Mayang tidak sepakat dengan Ridho keguguran anaknya yang pertama bukan karena beban atau bekerja terlalu berat, karena hidup Mayang tidak begitu sulit di jalani, sebagai anak satu-satunya, apapun pekerjaan selalu di bantu oleh ibunya. "Tidak ada yang berat ". Fikir Mayang. "Tapi, buat jaga-jaga May, bener itu kata suami kamu". Ibu menyetujui sifat protektif menantu satu-satunya itu.
"Ibu aja setuju". "Iya, ibu kepengen lihat cucu ibu terlahir kedunia, panjang usianya, selamat bayi dan ibunya, biar rumah menjadi seru, ramai kalau ada anak-anak". " Nanti kayak Elah, dua belas anaknya". " Kalau ibu sepakat, karena hanya dari kamu Mayang ibu mempunyai cucu". "Oooh... Ibu... Jangan, itu banyak, dua belas lhoo.... Bu". Mayang menghitung jari-jari tangannya sepuluh dan di tambah jari kakinya dua.
__ADS_1
"Setuju bu". Ridho sangat antusias. "Kamu pasang setuju, setuju saja, enggak tahu bagaimana rasanya melahirkan". Bantal kursi tamu menghampiri pipi Ridho. "Elah saja bisa, kenapa kamu enggak bisa". "Ini bukan masalah bisa atau enggak bisa. Ini persoalan siap atau tidak siap.. Rid". Mayang mencoba diplomatis dengan keinginan suaminya.
"Satu bulan lagi, aku akan menjadi ayah". " Ya... Laki-laki maupun perempuan tidak menjadi masalah, yang penting sehat keduanya". Ibu mengingatkan jenis kelamin anak tidak menjadi persoalan penting.
"Ibu doakan semoga lancar di persalinanmu, May. Kamu harus menjaga kesehatan". "Iya bu, terimakasih banyak bu atas doanya".
Melahirkan adalah proses yang panjang dan harus di lalui oleh seorang perempuan yang sedang hamil. "Normal atau operasi caesar sama saja sakitnya yah bu". "Zamannya ibu tidak mengenal operasi caesar, semua ibu-ibu di sini yang seusia ibu melahirkan secara normal, kayaknya kalau mendengar operasi caesar itu hanya bagi kalangan orang kaya raya, istri artis atau artis itu sendiri, hehehehe... Hanya di temani ibu dukun anak dan ibu, atau saudara dekat". "Ooh... begitu yah bu". "Malah melahirkan masih di rumah masing-masing, enggak mesti ke puskesmas atau rumah sakit, mengenal bidan saja ibu baru zaman sekarang aja.
"Eeh... Iya, bidan Delia siapkan menemani dan membantu proses persalinan kamu?". " Iya bu.. bu bidan Delia cantik dan juga baik, meski masih perawan yah bu, minggu kemaren Aminah lahiran di bantu bidan Delia".
Dalam obrolan santai dengan mertua dan istrinya. Ridho masih mengerjakan beberapa tugas kantornya, "di cicil sebelum cuti nanti, biar cepat kelar". Tangannya menekan tombol-tombol keyboard di laptopnya.
*****
__ADS_1
Hari berganti, satu bulan yang di tunggu-tunggu pun tiba. Mayang merasakan keram pada perutnya, lama kemudian perut nya melilit dan merasakan sakit yang tidak terkira.
Puskesmas Mawar menjadi tujuan. Ambulance desa sudah siap, di temani bidan Delia, ibu, Mayang dan Ridho siap berangkat. Tidak lupa segala kebutuhan selama persalinan di puskesmas di bawa, "sudah di kemas rapih oleh Mayang, bu bid". Ucap ibu kepada bu bidan.
Ini lahiran ketiga kalinya bagi Mayang, Ridho yang berambut kribo, selama di mobil ambulance tidak menentu, melihat Mayang sudah bersimbah keringat dan memegang erat tangan Ridho, seolah-olah ingin berbagi kesakitan yang sedang di alaminya.
Lima menit kemudian tiba di tempat tujuan, bidan dan petugas puskesmas Mawar sigap membantu pasien. Ruang Belimbing nomor dua belas menjadi ruang persalinan.
Puskesmas Mawar memiliki fasilitas yang baik, selama persalinannya masih normal dan tidak membahayakan bagi ibu dan bayi, proses persalinan bisa di lakukan di Puskesmas. Lain cerita kalau proses lahirannya mengalami beberapa hal yang kronis, di rujuk dan di beri tindakan untuk di bawa ke rumah sakit yang besar dengan fasilitas yang lebih lengkap.
Tidak lama setelah air ketuban pecah, di iringi dengan sang bayi. Tangisannya menggaduhkan suasana yang sedang hening dan tegang. Nafas yang tertahan mulai lega. "Syukurlah, bayi nya selamat," bidan Delia membersihakan dan merapihkan semuanya, "Alhamdulillah". Ridho mencium Mayang dan bayi mungil yang baru beberapa saat saja menghirup udara dunia. Demikian dengan ibu.
"Bayi kembar". Perempuan dan laki-laki. Sepasang. Hadiah yang sangat indah di penghujung bulan untuk pasangan Mayang dsn Ridho.. Ibu girang yang sangat tidak terkira, "cucu ku kembar... , ooh cucu-cucu yang lucu dan mungil, semoga panjang umur". Ibu menimang salah satu cucunya yang perempuan.
__ADS_1
Mayang ikut tersenyum, melihat kebahagiaan suami dan ibunya, yang terus melebarkan senyuman dan tawa, meski sakit yang teramat, tetapi setelah melihat bayinya keluar, lega rasanya yang di rasakan oleh Mayang.
Masih berbalut kain, kedua bayi Mayang menangis dan mencari ****** susu ibunya, satu persatu bayi kembarnya di bersihkan oleh bu bidan Delia, bergantian Mayang menyusui bayi kembarnya. "air susu yang baik untuk menjaga kesehatan dan imunitas bayi, penting bagi bayi yang baru lahir. Kata bu Bidan,