Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab XXI Rindu Abah dan Ibu ( satu tahun setelah abah ibu wafat)


__ADS_3

****


Elah masih merasakan kehilangan, meski sudah satu tahun berlalu. Kini anak-anak Elah tumbuh dan berkembang dengan baik.


Senandung Sidqia sedang bercerita di dalam kamarnya sebelum tertidur. "Mamah, Senandung tadi di sekolah bertemu ibu-ibu yang sudah tua, melintas di depan sekolah, ibu-ibu itu berjualan makanan ringan, kerupuk gitu mah, aku beli, tapi minta tolong bapak satpam sekolah, soalnya jauh kan pintu gerbang sekolah?". "Iya, itu bagus, kita harus perduli dengan sesama, kamu beli berapa?". " Iya, mah... Hanya dua, yang satunya aku kasih ke Nanda, mamah ingatkan Nanda? Teman Senandung yang baik hati?". "Iya... Mamah ingat, Nanda anak baik.". "Sudah malam, ayooo tidur, besok masuk sekolah, kalau bangunnya siang, terlambat masuk kelasnya". Elah menarik selimut, dan mematikan lampu tidur di samping ranjang Senandung. Senandung dan Mawar tidur satu kamar. Berlian sendiri karena sudah beranjak remaja.


Elah melihat dan memeriksa semua kamar anak-anaknya, tradisi Elah yang di wariskan oleh Ibu. Ibu dulu begitu, setiap malam sebelum tidur ibu masuk kamar Elah dan memeriksa apakah Elah sudah tertidur atau belum.


"Abah, ibu.... Mengajarkan tentang kesetiaan, ketika ajal menjemputpun abah dan ibu tetap bersama". Elah mengucap lafadz ummul qur'an untuk keduanya. "Semoga kelak kita berkumpul kembali".


Sidiq yang memperhatikan Elah, dan tahu tentang kerinduannya kepada abah ibu, menawarkan untuk pergi ke kampung halaman.


"Iya, sebenarnya sudah lama keinginanaku terpendam, ingin pulang ke rumah ibu dan abah, namun. Aku takut mengganngu kesibukanmu". Elah menarik selimut dan mematikan lampu tidur yang terletak di samping kasurnya.


"Iya, besok kita kesana, sekalian aku juga mau jenguk mang ujang dan keluarga". Setelah itu pun Sidiq mematikan lampu tidur, suasana menjadi sepi. Semua terlelap tidur.


Pukul dua puluh tiga lewat sepuluh menit.

__ADS_1


Putri masuk menyelinap kamar Sidiq dan Elah. Elah sempat kaget.. " Mah, putri tidur di sini yah malam ini saja, tadi putri mimpi, mimpiin nenek dan kakek, hanya sebentar saja, mereka hanya tersenyum sama putri". Elah memeluk putri dan mengajaknya berdoa untuk abah dan ibu, lalu mengajaknya tidur.


Aktifitas di pagi hari di rumah pak Anwar dan bu Hamidah selalu sibuk dengan aneka ragam keramaian. Minggu pagi Sidiq mohon pamit kepada pak Anwar dan bu Hamidah " Ayah, ibu. Sidiq, Elah dan anak-anak mau ke kampung dulu, sore atau malam kami akan pulang lagi". Setelah semua siap, satu persatu masuk ke dalam mobil. Dua mobil berangkat menuju kampung halaman Elah. "Ingat, semua bekal dan persiapan harus dibawa, jangan ada yang lupa". Elah mengingatkan semua anak-anaknya sebelum masuk mobil. Dengan nada koor semua menjawab "ya... Sudah mamah...". "Oke... Good". Acungan jempol Elah naik ke atas sambik tersenyum.


Mobil ke satu di bawa oleh pak supir pribadi, pak Hanafie namanya, lumayan lama kerja di rumah pak Anwar, hampir tiga puluh tahun menjadi supir pribadi keluarga pak Anwar.


Mobil ke dua, di bawa oleh Sidiq.. kenapa harus dua mobil?.. selain anaknya banyak, jajanan dan oleh-oleh untuk Mayang, bi Iyoh, mang ujang dan tetangga yang lainnya sudah tersedia.


Elah biasanya belanja oleh-oleh atau jajanan di perjalanan arah menuju rumah abah dan ibu. oleh-oleh yang di butuhkan, biasanya sudab di masukkan ke dalam kantong plastik. Isinya minyak goreng, sarden kaleng, kecap manis dan saos, teh,dan roti sobek. Semua sama isinya.


Setengah perjalanan, Putri duduk di depan bersama Elah. "Lihat ada mobil besar, mobil tayo. Horrreee..." Putri senang kalau di jalan raya ada mobil besar. Mobil bus dia panggil mobil tayo. Film kartun kesukaan putri yang tayang setiap sore hari di salah satu stasiun televisi.


"Telpon dulu Mayang". Ujar Sidiq. "Iya, nanti aku telpon dia, biasanya jam segini Mayang di deket balong Abah, ngasih makan ikan".


Tuuuut...tuuut... Suara handphone Mayang berbunyi, "Elah,.. "Assalamu'alaikum, May.. aku sam Sidiq dan anak-anak udah di perjalanan arah ke situ, sebentar lagi. Paling sekitar lima belas menit lagi tiba, kamu ada di rumahkan?". "Wa'alaikumussalam, iya. Aku di rumah, ini lagi di balong abah.". Mayang bergegas beranjak dan memberitahukan bi Iyoh dan ibunya, bahwa Elah dan keluarganya sebentar lagi datang.


Mayang, bi iyoh dan ibunya membereskan rumah abah dan ibu. Meski tidak di isi. Rumah abah selalu terawat, bersih dan tidak ada yang berubah.

__ADS_1


Mayang menjaga dan merawat rumah abah dan ibu, terkadang Ridho juga tidur di rumah abah dan ibu. Elah menginginkan rumah itu tetap bersih, Mayang setiap bulan mendapatkan honorarium yang cukup untuk menambah jajan dan belanja dapur. "Untukku pulang kampung," ucap Elah kepada Mayang.


Mayang tentu menerima dengan senang hati, menambah pemasukan uang bulanan, "itung-itung nabung untuk masa depan". Ridho tidak mempermasalahkan hal itu.


Elah pernah meminta Mayang mengisi rumah abah dan ibu. Mayang menolaknya dengan halus.. "kalau aku pindah ke sini, ibu ku sama siapa, tenang saja, rumah ini akan di rawat seperti rumahku sendiri?". Sedangkan sawah abah di garap oleh bi iyoh. Pengahsilan panen di bagi dua, untuk bi iyoh dan untuk zakat, infaq dan shodaqoh yang di peruntukkan kepada abah dan ibu.


Tiba di rumah abah, suasana sepi menjadi ramai. Ke dua belas anak Elah sibuk mencari hobi nya masing-masing. Elah langsung menyapa ibu, Mayang dan bi Iyoh. Iqbal langsung ke belakang rumah abah, melihat balong ikan abah, Berlian duduk di kursi sambil membuka sisa makanan ringan, keripik singkong yang di kemas dengan rapih dan bermerek terkenal hobi Berliana.


Putra dan putri masih tertidur, di dalam mobil. Kaca mobil di buka, dan di parkir di bawah pohon yang rindang di halaman rumah abah.


Kalau tidak salah, pohon itu tempat Sidiq dulu bernaung sebelum di perbolehkan masuk oleh ibu, nyamuk-nyamuk malam menggelayuti rambut kribo Sidiq.


"Semua kenangan indah". Sidiq tersenyum. "Istirahat, makan dan setelah itu kita ke kuburan kakek dan nenek, nanti sekitar jam setengah empat atau setelah melaksanakan sholat ashar". Elah memberikan informasi kepada anak-anaknya.


Sidiq yang lelah setelah menyetir mobil, masuk ke kamar Elah hendak beristirahat, "El.. aku tiduran dulu di kamar, nanti bangunin yah?. Terus setelah dari kuburan abah dan ibu kita berangkat lagi pulang". "Iya,... Aku masih mau mengobrol dengan Mayang". Elah bergegas ke dapur menemui Mayang yang sedang memasak air.


"Biasanya abah duduk di sini, sambil ngopi pagi atau sore selepas sholat ashar pulang dari sawah". Elah menunjukkan sebuah dipan yang ada di dapur dekat tungku perapian. "Iya, abah suka sama martabak, ibu kalau ke pasar pasti beli". Mayang menyapu dipan dengan sapu lidi, lalu keduanya duduk berdampingan.

__ADS_1


__ADS_2