
Elah akhirnya menyetujui ke rumah Sidiq setelah seminggu pernikahan.
Hari ini seminggu sudah pernikahan antara Elah sidiq. Pukul delapan lewat lima menit mobil online yang sudah di pesan oleh sidiq tiba di depan rumah. Mobil berwarna hitam, masih bagus.
Pukul delapan lewat tujuh menit mobil berangkat dengan penumpang sidiq duduk di sebelah pak sopir, Abah, Ibu dan Elah duduk di jok belakang.
Tidak ada yang di bawa dari rumah Elah sebagai buah tangan, padahal ibu sudah mempersiapkan beras, ikan emas yang di ambil dari Balong belakang rumah, ayam jago berukuran besar, kacang panjang hasil tanam bi Iyoh, cabe yang di petik dari pekarangan rumah di biarkan begitu saja.
"Jangan bawa apa-apa Bu, Abah. Ayah sama ibu tidak mengharapkan apa-apa, cukup ibu, Abah dan Elah saja". Kata sidiq dengan nada bicara yang sopan, halus dan tertunduk malu. Rambut kribo nya mulai menurun se bawah dahi.
"Tapi, Abah sama ibu malu. Masa ke rumah besan enggak bawa apa-apa, lagian kalau dari kampung sudah terbiasa membawa buah tangan sebagai pembuka pintu".
"Sidiq mohon bu. Enggak usaha bawa apa-apa yah, yang sudah ibu sediakan untuk di bawa simpan lagi aja, mari kita berangkat, mobil sudah menunggu", tidak cukup juga kalau semua barang yang sudah ibu persiapkan di bawa, sidiq pesan mobilnya yang kecil, hanya cukup untuk kita dan pak supir". Sidiq menjelaskan kepada ibu.
Akhirnya Abah dan ibu manut kepada perintah Sidiq, lenggang keluar menaiki mobil. Elah menggunakan setelan berwarna coklat pastel dengan tas selempang kecil berwarna hitam, manpak casual, sendal selop warna hitam yang ia punya. Rambutnya yang hitam cukup di ikat dengan satu ikatan.
BI Iyoh selain tetangga juga saudara dari ibu melepas kepergian Abah, ibu, Sidiq dan Elah. Melambaikan tangan "Dada....aaaah ibu. Hati-hati di jalan, semoga selamat yah". Dari balik kaca mobil ibu melambaikan tangan dengan tidak lupa mengulum senyum bahagia. "Naik mobil bagus, empuk kursinya, wangi aroma parfumnya". Desis ibu kepada Abah.
Akhirnya mobil melaju dengan perlahan, lalu menambah kecepatan sedang, kemudian kecepatan bertambah kencang melaju di atas jalan tol. Ibukota mulai nampak, bangunan tinggi menjulang. Ibu di dalam hatinya bersorak Sorai, biasanya hanya rumput, ilalang dan sawah yang ibu lihat, tapi hari ini semua pemandangannya berbeda. "Persis seperti yang ada di televisi". Gumam ibu.
Di dalam mobil, semua penumpang diam. Tidak ada pembicaraan sedikitpun, hanya terkadang ada sedikit tatapan antara Elah dan Sidiq dari kaca depan. Pak supir tidak sengaja melihat sekilas kejadian itu, tersenyum.
Berbeda dengan Elah yang bertanya-tanya dalam hati, rumah Sidiq jauh dari rumahnya kenapa hari itu ada di bakso mang Ujang dan menumpahkan mangkok baksonya. "Nanti akan aku tanyakan pada si kribo itu. Jauh sekali mainnya". Fikir Elah dalam benaknya timbul pertanyaan.
__ADS_1
"Dan katanya mobil ini di pesan secara online lantas kenapa seperti bukan Supir online yang sibuk dengan google map, sibuk mencari alamat.
Seolah-olah pak supir sudah hafal dan tahu betul di mana nanti posisi berhenti. Dalam benak Elah timbul banyak pertanyaan.
Abah di dalam mobil malah tidur, saking nyamannya Abah tidak sadar rumah Sidiq hampir di depan mata.
Tak berselang lama, mobil yang di tumpangi mereka berhenti di depan sebuah rumah. Pagar rumah mulai terbuka dengan sendiri. Pagar berwarna keemasan membentengi rumah dengan tiga lantai, dan berukuran besar, halamah luas, rumput hijau tertata dengan rapih dan terawat, bunga-bunga tertanam dengan apik.
Pintu mobil bagian depan di buka, Sidiq keluar lalu membukakan pintu mobil sebalah kanan, lalu berlari menuju sebelah kiri, Elah ternyata tidak keluar dari sebelah kiri, ia ikut dengan Abah dan ibu keluar dari pintu sebelah kanan.
Tapi sidiq tidak marah, ia menutup pintu mobilnya kembali. Dan mengajak kedua mertua dan istrinya ke depan pintu rumah.
"Memangnya belum di bayar? Mobilnya kok masih di situ?," Elah akhirnya buka suara.
"Sidiq.... Ini rumah kamu". Ibu baru tersadar di hadapan nya beridir dengan kokoh rumah bak istana.
"Bukan, ini rumah ayah sama ibu, saya belum punya rumah". Sidiq mulai memegang pintu dan mendorongnya lalu terbukalah.
Ternyata di dalam rumah, ayah, ibu, saudara sidiq sudah membuat sambutan yang meriah. Berkumpul menyambut besan.
Ibu hampir saja melepas sendal di kakinya, namun sidiq langsung mencegah dan mempersilahkan masuk.
"Selamat datang di rumah kami, pasti besan lelah, setelah perjalanan jauh, mari duduk. Minum-minum sebentar terus kita makan bersama". Ibu sidiq menyambut besannya dengan ramah.
__ADS_1
Ayah dan Abah berjabat tangan, Elah mencium tangan kedua mertuanya.
"Pantas saja Sidiq ngebet betul pengen nikahin kamu, kamu cantik, baik dan sopan, kata sidiq kalau main ke rumah kamu, di perlakukan dengan baik, Sidiq begitu orangnya, nanti juga kamu bakal tahu, tapi yang pasti kamu tidak akan menyesal punya suami kayak sidiq".
"Kapan aku memperlakukan dengan baik". Elah bertanya lagi dalam benaknya. "Cerita apa lagi si kribo itu sama ibunya".
Tak lama kemudian, makan bersama di gelar, ramai sekali. Tawa canda menghiasi acara penyambutan besan.
"Habis ini Abah sama ibu istirahat dulu, nanti di bantu sama Bi Inah". Ibu menunjukkan yang mana yang namanya Bi Inah kepada ibu dan Abah.
Abah dan ibu manggut-manggut tanda setuju. Perjalanan jauh membutuhkan istirahat.
"Jangan mikirin pulang, nanti saja pulang nya, mau seminggu, sebulan, setahun juga boleh ... Atau mau menetap di sini juga enggak apa-apa". Ayah begitu senang dengan kehadiran besan barunya.
Sidiq ternyata anak tunggal, dari pasangan Bapak Nurahman dengan Ibu Hamdanah, saudara tirinya yang banyak dari pernikahan pertamanya bapak Nurahman dengan istri pertamanya, Ibu Maskah (almarhumah).
Ibu Maskah meninggal karena penyakit jantung. Setelah Ibu Maskah tutup usia, baru lah bapak Nurahman menikah dengan Ibu Hamdanah.
Dalam asuhan dan buaian ibu Hamdanah tujuh anak bapak Nurahman di asuh, di didik seperti anak sendiri. Setelah tiga tahun pernikannya, akhirnya sidiq terlahir ke dunia. Bapak Nurahman masih keturunan Arab. Pengusaha kain yang sukses. Kekayaan nya berlimpah ruah.
Setelah Abah dan ibu mengikuti bi Inah, Sidiq mengajak Elah menuju kamarnya, kamarnya jauh memasuki lorong-lorong ruang, jarak antara kamar Sidiq dengan ruang tamu dan ruang makan jauh sekali.
Elah manut dan menikmati ketakjuban bangunan rumah yang mewah, cat tembok di dominasi warna putih tulang dengan hiasan kaligrafi dan beberapa foto keluarga tertempel dengan rapih.
__ADS_1