Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab XXIX. Cinta dan Anugerah


__ADS_3

Bayi itu masih menangis kencang, bidan Desy memotong tali pusar bayi, sebelum di pakaikan baju oleh Fatimah. "Susu nys sudah ada bu". Ucap Elah. Ia sangat iba melihat bayi yang baru di lahirkan sudah di telantarkan begitu saja,"hewan juga enggak begitu-begitu banget sama anak-anaknya, manusia katanya mahluk yang berakal kenapa begitu sadis perilakunya melebihi binatang, Astaghfirullahal'adzim". Merinding bulu kuduk Elah. " Memang enggak sakit yah melahirkannya?". "Biasanya mendengar cerita dan kisah dari orang-orang, bayi yang di lahirkan dari hubungan yang tidak syah biasanya terlahir begitu mudah, rasa sakitnya sudah diambil". Ibu Hamdanah menjelaskan apa yang ia dengar dari hikayat tentang bahayanya berbuat zina.


Mandi sudah, susu formula untuk bayi juga sudah. Bayi mungil itu kini terbaring dengan nyenyak, " harum sekali, mulutnya wangi, aku suka aroma bau mulut bayi". Ungkap Elah. Mencium kedua pipi bayi yang kini telah bersih. Bayi berjenin kelamin perempuan, bobot badannya empat kilo gram, tinggi badan 44 centimeter, pemaparan bidan Desy.


Pak Anwar tiba di susul kemudian oleh bapak RT, pak Somad, bapak RW sebagai penguasa lingkungan bapak Syahruddin. "Istri saya menemukan bayi itu tadi pagi". Pak Anwar menjelaskan kronologis bagaimana bayi itu sekarang ada di rumahnya. "Untuk di ketahui bersama, lingkungan sekitar juga faham dan mengerti cerita yang sebenarnya, saya selaku yang punya rumah, meminta pendapat bapak RT dan bapak RW di sini". Panjang lebar pak Anwar memaparkan. "Ya, pak, kami sebagai aparatur akan membantu sekemapuan kami, lalu bagaimana keputusan ibu dan bapak anwar dan juga keluarga, tentang kehadiran bayi ini?". "Kalau saya terus terang mau mengurus bayi itu, saya anggap sebagai hadiah cinta dan anugerah untuk keluarga kami". Ibu Hamdanah menanggapi. "Tetapi, saya sebagai istri memasrahkan keputusan akhirnya kepada suami saya, karena bayi ini makhluk suci yang tidak berdosa, yang berdosa adalah kedua orang tuanya". Ibu Hamdanah meneteskan air mata. "Bagaimana anak-anak juga, ayah enggak mau kehadiran bayi ini hanga keinginan ibu saja, kalau semua keluarga sepakat untuk mengurusnya dan tinggal di sini, nanti kita akan mendidiknya dengan baik, meski bukan darah daging kita, ia kelak akan menjadi bagian keluarga kita". Begitu pendapat pak Anwar, meminta pendapat dan persetujuan seluruh anggota keluarganya.


"Kalau menurut kamu bagaimana?. Ibu meminta pendapat Elah. "Kalau melihat bayi ini sedih, terharu dan tragis, kasihan juga kalau tidak terurus, kalau di simpan di panti asuhan bagaimana, tetapi nanti kita lihat dulu kesehatan bayi ini?" Elah mengungkapkan pendapatnya dengan alasan belum tahu asal usul kejelasan bayi tersebut.

__ADS_1


Sambil menunggu kedatangan anak-anak yang lainnya, pak Anwar mempersilahkan pak RT dan pak RW untuk kembali ke rumah masing-masing. "Terimakasih atas waktu dan kesediannya untuk datang ke rumah saya, maaf mengganggu". Pak Anwar mempersilahkan kedua tamunya pulang dan mengantar sampai pintu rumahnya. Begitupun dengan bidan Desy, pamit setelah beres mengurus bayi.


"Bayi nya masih tidur?" Pak Anwar melihat keadaan bayi perempuan itu. "Ia tamu kita, tamu dari Allah". Ucap Fatimah. "Nanti kita musyawarahkan bersama, setelah yang lainnya kumpul, sementara ini kita urus bersama bayi nya". Pak Anwar mengajak bu Hamdanah menuju kamarnya.


"Cantik, dan lucu bayi nya, yuuks kita bikin sayembara nama buat bayi". Ucap Elah. "Boleh banget, setuju. Bi iyum dan yang lainnya juga boleh berpartisipasi kok, nanti yang lainnya menyusul saja". "Okey...". "Kak Fatimah punya calon nama apa?, Elah memperhatikan Fatimah yang sedang berfikir dan menggendong Zahra.


Sore pun tiba, semua beekumpul di ruang keluarga membahas mengenai bayi perempuan tersebut. "Seperti yang sudah di ketahui bersama, kita berkumpul disini membahas keberadaan bayi yang tadi pagi ibu kalian temukan". Pak Anwar mengawali pembicaraan. "Silahkan semuanya boleh berpendapat dan memberikan alasan yang tepat". Sidiq yang pertama mengungkapkan pendapatnya. " Bagaimana kalau kita rawat sampai besar, kan ibu sudah lama enggak mengasuh bayi". Berbeda dengan Ahmad, "kita serahkan ke panti asuhan saja, karena itu lebih baik, bukan tidak mau memberikan uang atau biaya, tetapi kita tidak tahu siapa ayah ibunya, sebagai generasi yang berbeda, takut nantinya tidak sesuai dengan harapan kita". Jauh Ahmad memikirkan hal itu, itu pun hampir sama pemikirannya dengan Elah.

__ADS_1


"ibu boleh berpendapat yah?". "iya.... Bu, boleh banget, apalagi ibu yang pertama kali menemukan". Fatimah mempersilahkan ibu sambungnya tersebut mengungkapkan unek-uneknya. "Kenapa perasaan ibu ingin sekali mengasuh, merawat dan mendidik bayi tersebut yaah... , tapi... Itu pun kalau di setujui sama ayah terutama dan kalian anak-anak dan cucu-cucu ibu yang sudah besar". "nenek udah merasa sayang yah". Berlian mengucapkan hal itu sambil menatap mata neneknya. dengan satu anggukan ibu Hamdanah merespon ucapan Berlian.


"kalau kita melihat bayi pasti kita semua suka,. Apalagi kasusnya seperti ini, terenyuh rasanya,". dengan lugas Fatimah mengatakannya, "tetapi Fatimah menghawatirkan kelak bayi ini setelah tahu asal usulnya menjadi tidak baik untuk keluarga kita, bukan masalah materi, namun hanya menjaga-jaga demi kebaikan masa depan keluarga kita". "terus, adakah solusinya?, Ayah tahu semua anak-anak ayah pasti akan perduli". "boleh satu minggu saja ibu mengurus bayi tersebut, dan memberikan nama untuknya?". "mengenai nama tadi juga kak Fatimah dan Elah sudah memberikan saran, malah mau bikin sayembara awalnya, tetapi jika ibu sudah punya nama buat bayi tersebut, enggak jadi masalah". Ujar Elah.


"oooh... Sangat luar biasa, tetapi ibu punya nama buatnya, yaitu Fajar Dinanti, semoga kalian setuju dan sepakat dengan nama tersebut". "satu minggu, or one weeks". " setelah itu?"." setelah itu boleh kita titip di panti asuhan dengan catatan seluruh biaya hidup dan pendidikannya kita tanggung bersama, khawatir kedua orangtuanya sudah benar-benar tidak peduli, dia hidupnya terlunta-lunta, dilahirkan saja dia sudah tidak di pedulikan kehadirannya, apalagi jika ia hidup menderita, ibu mohon kepada ayah dan semuanya, selamatkan Fajar". Ibu Hamdanah menangis berurai airmata, besar keinginannya untuk mengasuh, merawat dan mendidiknya secara utuh, tetapi karena memang kenyataannya banyak yang harus di fikirkan, "yang penting kelak Fajar menjadi anak yang sukses meski tidak dalam buaiannya". Gumam ibu Hamidah dalam lubuk hatinya.


"okey... Satu minggu yah bu?", maafkan kami tidak bisa mewujudkan keinginan ibu seutuhnya, tetapi nanti kita mencari panti asuhan yang benar-benar, tidak fiktif, baik dan mempunyai pengasuhan yang baik pula". pak Anwar memberikan suntikan semangat kepada bu Hamdanah, bahwa masih bisa kita berbuat baik, meski tidak hidup dalan satu atap rumah.

__ADS_1


__ADS_2