
Elah Merasakan mual, bau rambut kribo sidiq sungguh mengganggunya, Elah setiap hari menggerutu. "Potong rambutmu, aku enggak kuat, bau".. Elah menutup rapat hidungnya.
"Aku sudah mandi, setiap hari keramas memakai shampoo yang banyak, sampai badanku menggigil kedinginan". Handuk masih menempel di rambut sidiq.
"Pokoknya potong rambut, kalau enggak aku pulang ke rumah Abah dan ibu". "Wadduh, jangan berat sekali, rambut ini warisan keluarga, semua keluargaku berambut kribo dan tidak ada yang berani memotong rambut, ibu ku juga tidak berani menyuruh ayah memotong rambutnya, please.... Jangan marah dan jangan pulang". Sidiq mengiba memohon atas permintaan Elah sangb istri tercinta.
Elah diam membisu, hanya tangan yang mengisyaratkan tangan ke arah rambut.
Sidiq kelimpungan dengan permintaan Elah, bagaimana aku bisa menghilangkan rambut kribo warisan keluarga. Ayah pernah berpesan "rambut adalah identitas, tidak boleh di potong, warisan keluarga". Begitu pesan ayah, ayah juga mendapat pesan tersebut dari ayahnya, berati dari kakek Sidiq.
*****
Semakin hari Elah merasakan sesak di dada dan perutnya, ketika melihat Sidiq, apalagi rambut kribo yang menempel di kepalanya.
Sidiq yang tahu tentang keinginan istrinya, terus saja membujuk dan merayunya. Tawaran yang fantastis. Tas maha, sepatu bermerk, baju yang harganya mahal, atau apa saja yang diinginkan oleh Elah , asal jangan rambutnya.
Elah tidak mau semuanya, hanya ingin Sidiq botak dan tidak kribo "TITIK enggak pake koma". Elah beringsut menuju kebun di belakang.
"Botak, mana mungkin!.". Bagaimana ini?". Sidiq kebingungan. Dengan langkah gontai sidiq menuju ke kamar ibunya yang sedang beristirahat. "Bu, gimana ini". "Gimana apanya?" Ibu heran. "Elah meminta aku supaya rambut kribonya di potong terus botak". "Hah, pasti ayahmu tidak mengizinkan". "Maka dari itu Bu". "Apa alasannya, sampai Elah pengen kamu botak?". " Katanya rambut aku bau Bu....., Padahal setiap hari keramas memakai sampo nya juga banyak, abis gitu Elah suka muntah-muntah"... "Oooooh, jangan-jangan itu ...... ".. " jangan-jangan apa Bu?". " Makanya dengarkan dulu, ibu belum selesai udah di potong, mungkin Elah sedang mengidam, Elah pasti sedang mengidam dan mengandung calon anak kamu, Diq".
Tanpa permisi lagi Sidiq keluar dari kamar ibu, langsung menuju kamar dan akan mengatakan apa yang tadi ibu bicarakan.
"Sayang, aku akan menjadi ayah". Elah yang sedang memandang keluar bengong mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
" Ngidam dari mana?, katanya kalau ngidam itu gejalanya enggak mau makan, masih bau terus maunya makan rujak, minta yang aneh-aneh. aku normal-normal saja, enggak ada yang aneh kan?" Elah mosi tidak percaya jika ia sedang mengidam.
"Sana, jangan dekat-dekat, bau, bau... " sambil menutup hidung Elah gelagapan. "Awas, kalau besok enggak potong rambut menjadi botak, aku pulang ke rumah Abah dan ibu.
Elah tidak menyadari kalau dirinya sedang mengidam, permintaan maha beratnya untuk Sidiq dan keluarga untuk di penuhi.
"Okey". sambil memegang rambut kribo Sidiq memandang dirinya dari cermin meja rias.
Ayah yang kaget dengan keputusan Sidiq sempat marah dan terbakar emosi, hampir saja ucapan Ayah berkata tidak senonoh... "tidak menghargai keturunan dan lain sebagainya". ibu sebagai penenang jiwa mengatakan yang sebenarnya, dan ayah pun menerima Sidiq berkepala botak. "Tapi.... ingat setelah istrimu melahirkan, rambutmu harus kembali seperti semula". Ayah mengingatkan.
"Iya ayah". Sidiq berjanji.
"Demi calon cucuku" ujar pak Anwar.
Elah sumringah menyambut kedatangan Sidiq dari salon.
Dengan manja menggelayuti bahu Sidiq dan mengelus-elus kepala botak suaminya. " naaaahhh.... ini baru wangi dan harum". "Tapi aneh, seperti hendak melayang kepalaku, ringan sekali, bahkan seperti ada yang hilang".
Elah, Sidiq, ayah, ibu, saudara, dan seisi rumah pak Anwar turut menjaga kehamilan Elah. Mereka kompak dan harmonis.
...****************...
Sembilan bulan Elah mengandung, tanpa ada halangan. Elah mengalami kehamilan yang sehat di perkirakan hari ini akan melahirkan.
__ADS_1
Persiapan dan segala kebutuhan sudah sidiq persiapkan. Ayah, ibu, Abah, ibu sudah menunggu kehadiran bayi mungil yang akan menambah kegaduhan rumah besar pak Anwar. Pak Anwar memang suka dengan anak kecil, apalagi bayi "harum dan menggemaskan" ungkap nya. "Bertambah cucu bagi pak Anwar dan Bu Hamidah, tetapi cucu pertama bagi Abah dan ibu.
Ibu dan Abah dari kampung sudah tiba sehari sebelumnya, dengan jemputan pribadi. Tanpa pikir panjang lagi, Abah dan Ibu meninggalkan rumah, untungnya ada bi iyoh dan Mayang yang membereskan semua rumah setelah di tinggalkan Abah dan ibu.
Di dalam mobil ibu mengalami hal yang aneh seperti orang yang mau melahirkan, sakit perut, mau buang air besar dan baung air kecil. Tidak karuan rasanya. Abah yang melihat tingkah laku ibu,"Kenapa Bu", "Abah...,. ibu seperti mau melahirkan". "hussss... hussttt ada-ada aja, melahirkan dari mana, hamil juga enggak". Abah menjadi kelimpungan dengan sikap ibu.
Setengah perjalan dilalui mobil yang di kendarai Abah dan ibu. Abah yang biasanya tertidur pulas di mobil karena terpaan air conditioner (AC), tidak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun.
Mulut ibu yang komat-kamit membaca doa keselamatan dan kelancaran supaya Elah nanti melahirkan secara normal dan selamat untuk Elah dan bayinya.
Tak lama kemudian, tiba juga mobil di depan rumah pak Anwar, ibu langsung turun dari mobil dan melupakan sendalnya di dalam mobil. Abah turut dari belakang ibu dan lupa juga dengan alas kaki tertinggal di dalam mobil.
Pintu rumah di buka bi Inah dan langsung mempersilahkan keduanya untuk terus ke kamar Elah. Kamar yang di tuju sudah ada di hadapan tetapi sudah tidak bisa masuk, hanya menunggu di luar bersama yang lainnya.
Di dalam kamar hanya ibu dan Sidiq, bidan Desy dan satu perawat. Sebelum ada pembukaan enam Sidiq tidak bisa duduk dengan tenang, melihat Elah yang sudah lelah dan merasakan kesakitan Sidiq merasa sedih dan kasihan sambil mengelus perut Elah.
Keringat mulai bercucuran, sidiq tidak jauh dari Elah, selalu mendampingi dari awal kontraksi dan pembukaan. Pembukaan satu,dua,tiga, empat, lima, enam, tujuh dan delapan mulai terdengar suara tangisan bayi.
Eeaaaaaa.... Eaaaa... tangisan bayi memecahkan keheningan. bayi mungil itu
masih berlumuran darah, semua merasakan lega dengan menarik nafas panjang. "Selamat yah, anaknya perempuan". Bidan Desy memberi kabar yang baik di telinga, semua mengucap syukur.
Berlian Sidqia nama yang di sematkan oleh Sidiq kepada buah hatinya. "cantik seperti ibunya". Sidiq mencium hangat bayi yang sudah ia tunggu-tunggu kehadirannya di dunia.
__ADS_1
Abah dan ibu ikut terharu melihat cucu perempuan nya. "Abah... akhirnya kita jadi kakek dan nenek". "Abah mengucapkan doa dan harapan untuk cucunya tercinta.