Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
BAb XXXIII. Terlambat Menyadari


__ADS_3

"Belum pernah merasakan apa yang ku rasakan, jangan suka menghukum seseorang sebelum merasakan sendiri," ujar Rahmi. Pejuang rupiah ini menyolot saat dirinya di hina dan di sakiti, ia yang seharusnya menjadi tulang rusuk, kini menjadi tulang punggung untuk keluarganya.


Rahmi, saudara yang kini menjadi bangkrut, tidak lagi kaya dan tidak lagi angkuh dan sombong, mengakui Elah kini saudaranya.


Rahmi adalah saudara sepupu Elah, karena harta dan kekayaannya dulu ia lupa dan melupakan Elah sebagai saudara. Dan tidak mengganggap Abah (alm) adalah kakak tertua bapaknya.


"Menjadi miskin itu tidak enak, menjadi miskin itu menderita, tidak punya uang itu menyiksa".


Berkeluh kesah, Rahmi sakit jiwanya, setelah ia di ceraikan suaminya. Dengan tiba-tiba, bagai petir menyambar di siang bolong, tidak ada hujan tidak ada angin.


"Aku talak kau, Rahmi!". Di jam dua belas lewat delapan belas menit.


"Apa salahku? Apa dosaku?" Ucap Rahmi.


"Ini bukan tentang dosa dan salah, ini tentang ketidakrelaanku menjadikanmu istriku!".


"Mengapa kamu tega, mas!. Aku tidak mau di ceraikan, aku tidak menerima talak yang kau jatuhkan kepadaku!". Rahmi bersikeras dan tidak mau menerima keputusan Andiano.


"Mas, kamu kenapa? Tidak kau lihat anak-anakmu?".


"Biarkan mereka hidup denganku dan istri baruku". "Apa....! Kamu sudah menikah!... Mas, kamu tega mas, kamu begitu jahat. Aku tidak sudi di perlakukan begini".


"Sudi atau tidak sudi, suka atau tidak suka, keputusanku sudah bulat, mulai detik ini tinggalkan rumah ini. Jangan ambil apapaun, anakmu jika mau kau bawa, bawa saja, jika tidak biarkan mereka di sini".


Sosok gadis cantik nan rupawan keluar dari mobil Andiano, perutnya sudah membuncit, mungkin di kehamilan yang menginjak usia delapan bulan.


"Siapa dia mas...?"


"Ia Dahlia, istriku yang sudah ku nikahi beberapa bulan yang lalu, ia cantik seperti namanya. Dahlia, ia sedang hamil anak ku, anak yang sedang kami nantikan". Andiano menggandeng mesra tangan Dahlia, Dahlia menyambut hangat tangan yang kini telah menjadi suaminya.


"Ia tersenyum, bahagia, senang, seperti pahlawan yang sedang merayakan kemenangan dalam peperangan.


"Mas... Mas... Maaaas, kamu bohong!!!!!!".


"Tidak, mba Rahmi. Saya sudah syah menjadi istri mas Andiano sembilan bulan yang lalu kami sudah menikah di saksikan oleh penghulu dan beberapa saksi dari keluargaku, mba... Aku mencintai suami mba, sangat teramata mencintai suami mba. Maaf kan aku mba Rahmi".

__ADS_1


"Apa! Dengan mudahnya ia mengucapkan kata maaf,ooooh... Tidaaakkkk... Tuhan, mimpikah ini? Nyatakah semua ini? Apa yang harus aku lakukan?".


"Mba bisa tinggal disini kok mas Andi..."ucap Dahlia


"Jangan, nanti kita terganggu, sayang.. aku hanya ingin selalu dekat dengan mu setiap waktu". Kecupan mendarat di kening Dahlia.


"Enggak apa-apa mas, nanti kita tidak usah mencari asisten rumah tangga kaaan, bisa semua di lakukan oleh mba Rahmi, sebentar lagi aku melahirkan, mba Rahmi pasti bisa membantuku mengurus dan mengasuh bayi kita mas,".


"Oooh, begitu... Boleh". Andiano sudah kehilangan akal, ia menjadi gila. Kurang waras dan tidak normal.


"Tidak sudi". Desis Rahmi.


Ia tidak berfikir panjang lagi, ia bawa anaknya Nandar, Chika dan Basalamah.


Rahmi mengambil beberapa helai baju dan pakaian anaknya, dan tidak lupa menyisipkan uang jajan yang selalu ia simpan rapih tanpa sepengetahuan Andiano. "Cukup buat bekal untuk beberapa bulan ke depan, sebelum mendapatkan pekerjaan, meski aku terlihat bodoh dan sombong aku perempuan pintar". Gumam Rahmi.


Emas dan beberapa perhiasan yang di miliki Rahmi tidak luput di bawa, "untung lelaki gila itu tidak mengikutiku, ia sibuk dengan istri barunya, aku yakin ia bukan gadis baik-baik". Sambil membereskan segalanya Rahmi celingukan khawatir Andiano mengikutinya dan mengambil barang yang sudah ia kemas dengan rapih.


"Mas, ingat satu hal. Kelak pembalasan ini akan lebih sadis dari ini, camkan mas!.


"Dahlia, tak secantik namamu kaan?".


"Sudah, sudah, cepat keluar dari kamar, kami ingin di sini!". Rahmi hampir saja terjerembab jatuh ke lantai.


"Begitu kasarnya, mas Andiano, mahluk macam apa yang telah memasuki jiwa raganya?". Rahmi berusaha tegar dan melangkah keluar rumah, dengan ke tiga anaknya.


Entah kemana harus melangkah, jalan yang di tapaki seakan-akan tak terinjak, kaki Rahmi seolah-olah melayang tak menyentuh jalanan yang sedang di tapakinya.


"Bu, mau kemana kita?"


Suara lirih chika membuyarkan lamunan Rahmi.


Tak lama, "bu... Aku haus dan lapar". Ucap Nandar.


Tepat di sebuah warung nasi sederhana mereka berhenti.

__ADS_1


Basalamah, menangis karena kegerahan. Ia tidak terbiasa dengan panasnya jalanan, ia terbiasa dengan mengendarai mobil. "Baru kali ini mereka berjalan seperti ini". Rahmi meneteskan air mata.


Sambil menikmati makanan yang baru pertama kali juga nikmati di warung nasi yang teramat sederhana, Rahmi meregangkan otot kaki dan tangannya, leleh menggendong Basalamah dan membawa tas pakaian.


Berhenti dan menahan nafas panjang, berfikir meski tidak tahu apa yang harus di fikirkan.


*****


Allah pengatur segalanya, tanpa di sengaja Elah melewati warung nasi sederhana dan ada panggilan yang cukup lumayan keras, dan menghentikan langkahnya. "Elaaaaah......, Elaaah,.." Elah mencari sumber suara, dan melihat ke dalam warung nasi.


Rahmi keluar dengan anak-anaknya, bajunya sudaj lusuh dan keringat membasahi sekujur tubuhnya.


"Rahmi,...?!!!".


Seolah-olah tidak percaya, dengan apa yang telah ia lihat, tepat di depan matanya.


"Ya, aku ... Rahmi, saudara sepupumu"...


"Iya, aku ingat, tetapi... Sedang apa kamu di sini?". " Ayo, kerumahku. Kita istirahat dulu". Elah tetap berjiwa besar dan tidak ada dendam sedikitpun di hatinya.


Meski Rahmi pernah memperlakukannya dengan tidak baik, ia dan abah (alm) pernah di usir dari rumahnya yang mewah, "karena biasanya orang miskin itu suka minta-minta".


Elah mengajak saudara sepupunya yang dulu gila hormat dan gila harta itu, masuk ke mobilnya. "Ayo.. pak, kita pulang". "Siap bu".


Rahmi malu, setelah sekian tahun baru ia terfikirkan bahwa kekayaan yang ia banggakan tidak selamanya abadi.


Rahmi terlambat menyadari dengan segala kesalahannya dan penyesalanpun kini menghinggapi relung kalbunya.


Elah mempersilahkan Rahmi dan anak-anaknya masuk, dan memperkenalkan kepada bu Hamdanah, siapakah Rahmi yang tiba-tiba ia temui di sebuah warung nasi sederhana.


"suruh istirahat dulu, di kamar atas". Ucap bu Hamdanah. Elah mengikuti saran bu Hamdanah, "ayoo kita ke atas, istirahat dulu yah, nanti kalau perlu apa-apa minta tolong bi Iyum saja".


"Rumahmu bagus sekali, El... Maafkan aku yah, aku dulu sombong dan angkuh".


"yang sudah-sudah jangan di ungkit-ungkit lagi, itu sudah lama sekali, kasihan anak-anakmu.. Mereka kelihatan lelah dan cape, lagian ini rumah mertua aku". Tegas Elah.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, "silahkan istirahat dan tidur yah.." anak-anak Rahmi, di peluk dengan dekapan halus.


__ADS_2