
Hati bagaikan tersayat sembilu, pilu dan lara rasanya. Belum genap satu bulan hubungan dalam peraduan cinta telah kandas.
"Sakit"
"Bukan karena semuanya begitu cepat berlalu, akan tetapi karena begitu mudahnya kepercayaan ini di hempaskan begitu saja".
"Aku tidak berdaya, tiada ada upaya".
"Bukan karena itu, rupa-rupanya, hanga dendam yang membara dalam hatimu".
"Sungguh engkau tega".
"Ya, karena sakit hati, orang tuamu dulu menghinaku".
"Tapi, apa salahku, mas".
"Salahmu, karena kau adalah darah dagingnya, darah daging ibu mu yang sombong dan angkuh".
"Kenapa baru sekarang? Setelah aku begitu mencintaimu, dalam rahimku ada anakmu, mas.. bagaimana ketika nanti aku melahirkan, ayahnya tidak ada. Nanti anakmu akan menanyakan siapa bapaknya".
"Katakan saja, aku sudah meninggal di telan bumi".
"Mas... Sadar mas, itu tidak baik".
"Apa perdulimu, kemana saja waktu ibumu menghinaku kau hanya diam membisu".
"Tapi, itu sudah puluhan tahun yang lalu, ibu ku sudah tiada, sudah meninggalkan kita jauh sebelum kita menikah, kita belum lama menikah mas, mas... Ku mohon jangan lakukan ini semua kepadaku.".
"Jangan harap, aku akan berubah fikiran karena kamu mengiba".
"tega kau mas, kepadaku?".
"sudah lah... Enyahlah kau dari sini, jangan pernah mempertanyakan hal ini lagi!, jangan menjadi perempuan cengeng!".
"pergi yang jauh, jangan pernah lagi menampakkan batang hidungmu di hadapanku, aku muak".
"mas... Mas... Mas... Kau kejam, tega, jahat dan tidak beradab".
"sudah ku bilang jangan lagi merengek, tangisanmu tidak berarti bagiku, meskipun kau mengeluarkan air mata darah".
"betapa kau tidak punya hati nurani, mas".
"pergi, sebelum kesabaranku hilang, dan ....."
Tak berselang lama, ia sudah membawa senjata tajam dalam genggamannya.
Sulaeha tunggang langgang lari terbirit-birit. "aku tidak mau hidup sia-sia". Gumam Sulaeha.
__ADS_1
Tanpa alas kaki, ia berjalan. Semalaman ia terjaga. Tak tidur sekejap pun. Jalanan menjadi saksi bisu. duduk termenung di sebuah pilar jalanan meratapi nasib. Nasib yang tidak di sangka, di sangka hanya dalan sebuah naskah skenario sinetron atau film.
Sulaeha hanya salah satu dari sekian permasalahan dalam rumah tangga. Masih banyak polemik dan dinamika dalam hubungan suami istri.
*****
Bak teriris pisau.. Tersayat-sayat. sakitnya melebihi apapun. Dalam kebisuan dan tak menentu arah.
Curahan hati seorang istri akhir zaman, di sebuah persimpangan jalan. Mayang tidak tega melihat perempuan tersebut tersakiti hatinya, apalagi oleh perlakuan suaminya. Karena dendam sang suami terhadap ibu mertuanya. Hati anaknya mendurja lara.
Mayang merasa miris sekali dengan kisah tragis ibu muda yang ia temui sedang berkeluh kesah kepada sahabatnya, mencurahkan isi hatinya untuk melapangkan beban derita yang sedang di tanggungnya seorang diri.
Perempuan itu namanya Sulaeha, Mayang tidak bermaksud mendengarkan atau memguping pembicaraan Sulaeha dengan temannya itu, tetapi begitu jelas terdengar di telinga Mayang.
Mayang tidak sengaja melewati Sulaeha yang sudah bersimbah air mata. Matanya lebam, "sepertinya Sulaeha menangis semalaman".
Dengan cekatan pula sahabat Sulaeha yang ikut merasakan nasin yang di alami Sulaeha menyuguhkan makan dan minum dari warung nasinya.
"aku tidak mempunyai uang, tidak ada uang sepeserpun dalam sakuku".
"sudah, jangan kau fikirkan itu, Sul...".
"memang dari semenjak ku meninggalkan rumah perutku belum terisi nasi sedikitpun, cacing-cacing dalam perutku sudah memberontak ingin di isi".
"yaa... Makanlah, isi perutmu. Jangan sampai kamu sakit, setelah ini kamu boleh bantu aku di warung nasiku".
"terimakasih Fitri... Kamu memang sahabatku"
"kamu belum hamilkan?".
"sudah, kayaknya aku sedang mengidam".
"tokcer sekali, laki-laki itu".
"iya, aku juga tidak menyangka secepat ini".
"belum sebulan, ????".
"iya, baru tiga minggu usia pernikahanku dan kehamilanku pun baru seusia itu".
"Sul,.... Kamu harus sehat, demi bayimu. Besarkan ia, kelak kita asuh bersama".
"Fitri... Betapa mulya hatimu, sesuai namamu 'suci'".
"makan yang banyak, setelah itu istirahat. Kalau sudah merasa sudah kuat, nanti boleh bantu aku,".
"iya, sekali lagi terimakasih, Fit.. kebaikanmu semoga di balas oleh Sang Maha Pencipta".
__ADS_1
"amiin, semoga kita sehat selalu, dan kita berdoa semoga mantan suamimu yang biadab itu insyaf dan menyesali semua perbuatannya". Geram rasanya yang di rasakan Fitri "laki-laki super tega, egois dan tak punya hati nurani".
*****
Mayang hanya membeli sepuluh biji telor asin kesukaannya dengan Ridho. warung nasi di pinggir persimpangan pasar, ia tinggalkan dengan cerita yang pilu.
Tiba di rumah, Mayang menceritakan apa yang baru saja ia dengar dan lihat kepada ibunya. Ibu mendengarkan dan tidak sengaja meneteskan air mata, ibu menjadi teringat kisahnya.
Rupanya ibunya Mayang mengalami hal yang hampir persis sama dengan apa yang di alami oleh Sulaeha.
"kenapa ibu menangis?" Mayang kaget dengan reaksi ibunya.
"tidak apa-apa".
"bu..... Kenapa bu?". Mayang menjadi penasaran, timbul dalam bathinnya pertanyaan.
"ibu hanya sedih saja, ternyata masih banyak perempuan yang harus menderita, di siksa bathinnya karena keeogoisan laki-laki".
"benar bu, Mayang takut bu".
"insyaallah tidak dengan Ridho, semoga ia tidak sekejam dan sejahat itu".
"bu... Kenapa ibu berkata seperti itu?".
"laki-laki kelak akan mengalami pubertas kedua di usianya yang ke empat puluh dan ke enam puluh, riak-riak dalam rumah tangga pada setiap hubungan akan mengalami pasang surut".
"tapi... Ibu akan selalu bersamaku kaaan?".
"iya.. Pasti nak, ada masanya. Namun pasrahkan semuanya kepada Allah".
Mayang lantas memakan telor asin yang ia beli tadi di pasar. Tak lupa pula anak kembarnya ia suapi. Telor asin baik untuk kesehatan.
Ibu menjadi teringat dengan masa lalunya, ia tidak tahan dan mengalah untuk kebahagiaan suaminya, hanya Mayang harta yang ia bawa, tidak ada yang ia bawa, meski rumah tangga yang ia bangun dengan suaminya berawal dari nol, dari awal bersama bahu membahu.
namun terpaan dan godaan tiba-tiba datang menghantam, ibu hanya pasrah dan meninggalkan rumah yang sudah ia bangun bersama. Mayang kalau itu masih berusia bulanan, belum tahu dan mengerti apa yang terjadi antara ayah dan ibunya.
Sekian lama, ibu tidak tahu kabar yang pernah menjadi suaminya, ia memilih memensiunkan diri menyandang status istri bapak Nugraha Pamungkas, pengusaha tekstil.
"hhhmmmmmm...... "
"bu?"
"ya...."
"ibu sedang memikirkan apa? Seolah-olah ada yang sedang ibu fikirkan?".
"masih merasakan apa yang di rasakan Sulaeha". tukas ibu.
__ADS_1
Ibu belum membuka lukanya, luka yang selama ini ia pendam, rapat dan rahasia. "cukup aku yang tahu". Desis ibu dalam kalbunya.
Meski terkadang masih ada sejumput rindu untuk Nugraha.