
Tut... Tuttt.. tuttt... Handphone Sidiq berdering, dalam panggilan Video Call Mayang muncul dan menampilkan rumah Abah dan ibu.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam," Sidiq menjawab salam Mayang. Elah menampakkan diri dan tersenyum kepada Mayang.
"Hay, May, gimana kabarmu? Kamu sedang di rumah Abah dan ibu?, Mana Abah dan ibu". Video beralih ke tempat tidur Abah dan ibu. Keduanya tersenyum dan berusaha bangkit untuk berbicara kepada Elah, namun sudah tidak tahan. Ada bidan desa di samping ke duanya sedang memeriksa kesehatan ibu dan Abah. "Abah, ibu.... Sakit apa? Kenapa baru memberitahu ku, Elah pulang yah?". "Enggak usah, ibu sama Abah hanya sakit biasa saja, nanti kalau sudah di periksa Bu bidan sembuh, ibu hanya ingin melihat kamu, mantu dan cucu-cucu". "Tunggu Elah, Sidiq dan anak-anak yah Bu".
*****
Tidak ke toko dan tidak ke sekolah, anak-anak semua di bawa untuk melihat kakek dan neneknya di kampung. Perizinan di sampaikan kepada kepala sekolah dan guru bahwa tidak bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya.
Siap, pamit lalu berangkat, dengan persiapan seadanya. Namun bekal harus optimal, persediaan di lemari pendingin di bawa. Semua anaknya memiliki makanan dan cemilan masing-masing sesuai selera, "nanti kalau ada yang kurang bisa di cari lagi". Nanti ada Mayang dan Ridho yang bisa membantu. Dalam fikiran Elah.
Dua mobil bergerak menuju rumah Abah dan ibu. Awalnya Abah yang sakit, setelah empat hari kemudian ibu ikut tumbang sakit. Abah dan ibu bagaikan dua mata sisi uang yang tidak bisa di pisahkan, selalu bersama. Abah begitu menyayangi dan mencintai ibu sebagai belahan jiwa.
__ADS_1
Tidak seperti pasangan suami isteri pada umumnya, Abah tidak pernah mengucapkan perkataan yang kasar dan menyakiti perasaan ibu, bahkan suara kentut Abah pun ibu belum pernah mendengar,
Biasanya perempuan cenderung lebih kuat menahan sakit di banding laki-laki. BI iyoh, Bu Halimah, Mayang dan ridho tetangga yang lainnya bergiliran menjenguk Abah dan ibu, memasakkan nasi, lauk pauknya, sayur dan memasak air, air untuk di minum atau air untuk keperluan mandi atau berwudhu. Ridho rajin membelikan bubur ayam untuk Abah dan ibu.
Elah, Sidiq, dan dua belas anaknya tiba. "Ibu, Abah maafkan Elah". Elah menciumi keduanya. Meneteskan air mata. Air mata Elah tidak terbendung lagi. Mayang pun menangis melihat Elah menangis.
"Mana mantu dan cucu-cucu". Abah sedikit menyenderkan punggung lalu di tahan dengan beberapa bantal. Semua mendekati Abah dan ibu, mencium dan memeluk keduanya.
"May, tolong ambilkan hadiah buat Elah di dalam lemari rak atas". Mayang mengambil hadiah yang di maksud ibu. "ini hadiah dari ibu, hadiah pernikahan ke delapan belas, selamat yaaah.. maaf hanya hadiah sederhana, semoga kamu suka". Elah menerimanya dengan kedua belah tangan lalu membuka dengan penuh rasa haru. "Terimakasih Bu, ibu repot-repot membuat hadiah buat Elah". setelah terbuka, Elah merasa senang dengan kerudung pilihan ibu, warnanya kalem, indah, halus, lembut dan manis. kerudung langsung di coba sebagai tanda terima kasih dan senang dengan pemberitahuan ibu.
"Abah dan ibu istirahat dulu yah, kan habis minum obat. Elah menyelimuti Abah dan ibu, lalu pergi keluar melihat suami dan anak-anaknya. Elah hirup udara segar perkampungan yang telah membesarkannya. "hhhhmmm segar dan menyehatkan,". terasa berat di dada, Elah melihat Abah dan ibu yang kini terbaring, oksigen yang di hirup masih bersih belum bercampur dengan aroma pabrik dan limbah di mana-mana.
"ibu tidur? sidiq memijit-mijit halus pundak Istrinya. "iya, biar istirahat dulu, obat yang tadi di kasih Bu bidan supaya cepat bereaksi, kalau tidak ada perubahan kita bawa Abah dan ibu yah? kita rawat dan di periksa di rumah sakit". Elah menatap mata suaminya dalam-dalam.
"iya, aku sangat setuju," Sidiq menyetujui ide Elah. Sidiq bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Elah. "Terimakasih yah". Sidiq memanggutkan kepalanya tanda persetujuan. Elah hanya anak satu-satunya Abah dan ibu, siapa lagi kalau bukan Elah yang merawat keduanya. Meski ada kekhawatiran dari Sidiq kedua mertuanya tidak mau ikut, dan tetap mau tinggal di kampung halaman.
__ADS_1
Anak- anak bermain dengan ceria, semua menghibur Abah dan ibu sebagai nenek da. kakek yang mereka sayangi, jarang mereka berteman dengan kakek neneknya di kampung, karena sudah mulai sekolah, dan jarak tempuh diantaranya cukup jauh.
Mayang tidak meninggalkan Elah dan keluarga, membantu dan menemani Elah. "anak-anak kamu lucu El,... Iqbal tuuuh bikin gemes, katanya aku cantik, tapi item..., anak kecil itu jujur nya sampai ke ulu hati, hehehe". " iya, memang Iqbal kelebihan genetik Sidiq kali yaaah, cenderung cuek dan kalau ngomong suka ceplas-ceplos tapi ngena banget, maaf yah". " enggak apa-apa emang bener cantiknya , tapi itemnya jangan di bawa-bawa, hahaha". "itu masih untung ada cantiknya!" Elah tersenyum.
Elah melihat keadaan ibu dan Abah, kondisinya sepertinya sudah payah, terlihat rautnya yang sudah pucat pasi. Ibu yang menyadari kehadiran Elah memberi kode agar Elah duduk di sampingnya, Elah manut dan duduk di antara Abah dan ibu.
"Elah, maafin ibu yah, Abah juga". suara ibu sudah pelan, sehingga Elah harus mendekatkan telinganya ke arah mulut ibu. "Elah Bu yang minta maaf," air mata Elang menetes tidak tahan dengan kata maaf ibu. Abah tidak bersuara, hanya melihat Elah dengan mata yang sayu.
"Nanti.... kaaa... lau ibu dan Abah pergi. Elah jenguk ibu dan Abah yah". " ibu....jangan bicara apa-apa dulu, kalau istirahat ibu dan Abah sudah cukup, Elah mau ajak ibu, kita periksa di rumah sakit yang fasilitas nya sudah lengkap, Elah juga sudah izin sama Sidiq, ia sangat setuju dengan ide Elah".
"Ibu dan Abah, mau di sini saja, ada Mayang, bi Iyoh, dan yang lainnya ada, kamu enggak usah mengkhawatirkan Abah dan ibu, ibu titip cucu-cucu, ajari dan didik mereka, dengan kesederhanaan dan mandiri". "iya Bu... ". Elah tidak kuat menahan air matanya, tidak terbendung lagi. Setelah itu Abah dan ibu tidak bersuara.
Hening bagai keheningan malam, Elah menangis sejadi-jadinya, Abah dan ibu nya telah tiada pergi selamanya
...----------------...
__ADS_1