Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab XXXI. Menua Bersama Sampai Akhir Hayat


__ADS_3

Pak Anwar kini sudah berusia enam puluh tujuh empat tahun. Usia yang sudah cukup lumayan tua. Namun, karena selalu berbahagia dan membahagiakan pak Anwar di berikan kesehatan yang baik. Cinta nya yang utuh untuk keluarga telah menjadi imun yang hebat, membawa energi yang positif dan bersinergi.


Jarak usia antara pak Anwar dengan bu Hamdanah lima tahun, meski lebih muda usia bu Hamdanah, tetapi mampu mengikuti pola pikir pak Anwar sebagai kepala rumah tangga. Sehingga terjalin harmonisasi yang baik, solid dan bersahaja.


"Nenek, masih tetap kelihatan cantik yaaah," Deasy menggoda neneknya yang sedang menyirami bunga-bunga kesayangannya di taman. Zahra, sore itu juga menemani bu Hamdanah menyirami bunga. "Ooh... Bisa aja, nenek udah tua, yang cantik itu kamu". Hidung Deasy di sentuh dengan manja oleh bu Hamdanah, "pantes saja, kakek begitu sayang sama nenek". "Cantik itu bukan paras wajah yang cantik saja, tetapi harus cantik pula budi pekertinya, cantik bukanlah jaminan. Kecantikan juga sebuah nikmat dan bisa menjadi musibah". "Koq bisa?" Senandung tiba-tiba muncul dan ikut mendengarkan pembicaraan nenek dengan Deasy.


"Iya, kecantikan paras wajah memang sebuah anugerah yang teramat istimewa dari Allah kepada hambaNya, meski yang tidak cantik rupa juga bukan bearti bukan sebuah anugerah lhooo...., Tetapi terkadang manusia mengejar kecantikan ragawi tanpa memikirkan kecantikan rohani. Makanya banyak perempuan-perempuan cantik yang salah mempergunakan kecantikannya ke arah yang tidak baik atau tidak terpuji" "contohnya apa nek?" kata Deasy. Banyak sekali sayang... Di luar sana banyak perempuan cantik rupa tetapi terjerat ke dalam dunia hitam, terjebak dalam pergaulan bebas juga ada". "Sebaiknya bagaimana nek?". " Sebaik-baiknya kita bisa menjaga diri dari perbuatan tercela dan bergaul dengan orang-orang yang baik, karena pergaulan yang tidak baik, bisa mengakibatkan manusia berubah, menjadi tidak baik".


Penanaman akhlak yang baik kepada cucu-cucunya baik laki-laki maupun perempuan selalu di fahamkan oleh bu Hamdanah dan pak Anwar. "Sebagai bekal dan tuntunan dalam kehidupan". Kata-kata ini menjadi penguat karakter di setiap lini kehidupan. Ucap pak Anwar. Mendidik anak laki-laki juga berbeda dengan anak perempuan. Anak laki-laki di didik dengan lebih mandiri, bertanggung jawab dan keras. Terbukti anak-anaknya kini sudah menikmati pola ajar dan pola pendidikan di keluarga pak Anwar.

__ADS_1


Janji suci yang tidak ternodai, membuat mahligai rumah tangga pak Anwar dan Bu Hamdanah harmonis, tetapi bukan tanpa ujian. Namun keduanya mampu melewati riak-riak dalam rumah tangga.


Rumah tangga umpama tangga yang meski di tapaki satu persatu dari bawah, dari nol. Dari satu, dua, tiga, empat sampai pada fase berikutnya.


"Bukan hal yang mudah". Ucap bu Hamdanah, mempertahanankan sebuah rumah tangga, suami di uji dengan kejujuran dan kesetiaan, pun sebaliknya istri di uji dengan kesabaran dan ketabahan, siklusnya sama untuk menggapai pernikahan yang sakinah mawaddah wa rohmah dan kembali bersama di syurga." Kalau memiliki perasaan cemburu boleh bu?". Ucap Fatimah. "Boleh, namun jangan berlebihan yaah, yang namanya berlebihan tidak baik, cemburu bumbu dalam rumah tangga, cemburu adalah rasa cinta". "Ibu pernah cemburu?" "Ya... Tentu, apalagi ayah orang nya baik, supel dan tidak pelit ke semua orang, sifat ayah pernah di salah artikan oleh salah satu karyawannya, kalau tidak salah namanya Ratnasari, ampe ibu kelimpungan dengan janda satu itu, hehehehe... Namun, karena ibu berusaha tetap sabar dan terus menerus menunjukkan harmonis di seleuruh karyawan ayah, akhirnya Ratnasari malu sendiri, dan mengundurkan diri dari toko ayah, padahal sempat juga ibu mau menyerah. Tetapi, rupanya cinta ayah juga cukup lumayan besar buat ibu, sehingga bisa terhindar dari perbuatan yang tidak baik". " Kenapa ibu baru cerita sekarang?". Yaaaa.... Ibu menjaga rahasia ini, supaya kalian tetap baik-baik saja, karena tidak baik juga kalian tahu". Ibu Hamdanah menundukkan kepala mengenang peristiwa yang membuat hatinya sakit.


"Tidak salah ayah memilih ibu, sebagai pendamping hidupnya, ibu wanita terhormat dan terpuji dengan akhlaknya, baik dan patuh terhadap suami, kami begitu menyayangi ibu.... ". "Terimakasih Fatimah, dan anak-anakku yang lainnya, sejatinya hidup di antara panggilan adzan". Bu Hamdanah meletakkan buku dalam genggamannya lalu meminum teh manis yang sudah di siapkan oleh Fatimah.


Adzan dhuhur terdengar dari mesjid al-Mubarokah, "Fat, ibu masuk dulu yaah, ayoo kita siap-siap sholat dhuhur, sebentar lagi anak-anak juga pulang sekolah". Fatimah mengiringi langkah bu Hamdanah.

__ADS_1


Begitu besar cinta dan kasih sayang seorang ibu, tidak akan bisa tergantikan. Sosok ibu menjadi pijar yang mampu menyulutkan bara api semangat yang membara. "berbahagialah perempuan-perempuan yang bergelar ibu. kisah kasihnya sepanjang hayat". Ibu Hamdanah meski ibu sambung tetapi mampu menjadi ibu yang baik.


Fatimah dan anak-anak yang lainnya, bersyukur dan berterimakasih telah memiliki ibu sebaik bu Hamdanah,. Tidak silau dengan harta, tak jumawa dengan kemewahan. Pribadi yang baik dan bersahaja.


"bu, ayooo kita sholat berjama'ah". pak Anwar siang ini ada di rumah, hanya setengah hari di toko. "iya pak.. ,mari... Ajak yang lainnya, supaya sholat berjama'ah di mushola rumah kita". Putra dan putri ikut juga, sebagai pembiasaan dari kecil, pengenalan tentang sholat berjama'ah di keluarga pak Anwar juga di tanamakan semenjak dini.


Antusias mereka ikut mempersiapkan diri, dengan sejadah dan mukenaa masing- masing. Zahra ikut berdiri di samping Fatimah ibunya. Sedang yang lainnya masih di sekolah, di toko dengan aktifitas masing-masing. Cucu-cucu pak Anwar semua sekolah di sekolah berbasis agama, tentu setiap sholat dhuhur di laksanakan bersama di sekolah.


Setelah sholat dhuhur, mereka menuju meja makan untuk makan siang, menu istimewa sesuai pesanan bu Hamdanah dan Pak Anwar, sayur asem, sambel, lalap petay dan mentimun, ikan bentong, sambal terasi, tidak lupa kerupuk dan ikan asin. Berselera dengan menu yang satu ini, di hidangkan dengan keadaan masih panas.

__ADS_1


"alhamdulillah, nikmat". Pak Anwar mengucap rasa syukur, "kalau menu kayak begini tidak usah memakai garpu dan sendok, cukup dengan tangan, nambah terasa nikmat". Kalau anak-anak menu makanannya sama tetapi sayur dan nasi di satukan, hanya tidak makan ikan asin. Ikannya di ganti dengan ikan laut.


__ADS_2