Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab XXIII. Buah Delima Untuk Ibu


__ADS_3

Ibu Hamidah sukses menjadi ibu sambung bagi anak-anak pak anwar, setelah wafat istri pertamanya bu Hamidah bisa memposisikan dirinya sebagai ibu sambung yang baik layaknya ibu kandung.


Pak anwar menikahi bu Hamidah dalam keadaan masih perawan berusia dua puluh delapan tahun, pak anwar memiliki enam anak. Tiga perempuan dan tiga anak laki-laki.


Bu Hamidah tidak hanya berusaha menjadi ibu bagi ke enam anak pak anwar, tetapi karena anak pak anwar, anak yang baik dan sholeh/sholehah, jadi tidak susah bagi ibu Hamidah untuk memposisikan diri di keluarga pak anwar. Anak tertua pak anwar namanya Fadillah usianya tidak jauh, rentang satu tahun dengan bu Hamidah. Jadi seperti adik kakak.


Fadillah menjadi ibu setelah pak anwar dan bu Hamidah menikah selama tiga tahun, awalnya Fadilah tidak mau menikah, ia fokus pada kerja. Namun, karena bimbingan dan bujukan bu hamidah akhirnya fadillah mau menikah dengan Rifki. Anak dari salah satu kolega pak anwar. Rifki juga keturunan orang mampu, namun. Fadillah tidak mau berpisah dengan ayahnya, Rifki setuju tinggal bersama pak anwar, tetapi mereka mempunyai aparteman mewah yang sesekali mereka isi.


Setelah Fadillah menikah Rahma, Hanafi, Fatimah, Fikri, Fikar menikah, yang terakhir Sidiq. Sidiq buah cinta bu Halimah dan pak Anwar. Sebagai anak dari berbeda ibu dan satu ayah, Fadillah dan yang lainnya mengganggap Sidiq seperti adik mereka pribadi, tidak ada bedanya. Fikar, hanafi, dsn fikri sering mengajak bermain sidiq, dari kecil Sidiq dalam buaian kasih sayang kakak-kakak sambungnya.


Keadaan seperti itu menambah harmonis keluarga pak anwar, rezeqi pun terus mengalir seiring dengan menikah nya semua anak-anak pak anwar. Meski tetap tinggal satu rumah dengan pak Anwar, mereka di perbolehkan mempunyai rumah yang lainnya, apartemen, atau perumahan Elit di kawasan ibukota. Selain itu juga mereka memiliki villa di kota Bandung, Bogor dan Subang. Jadi di kala weekend, liburan sekolah atau libur lainnya mereka akan mengisi waktunya di sana.

__ADS_1


Suatu hari bu Halimah mengungkapkan keinginannya kepada Fatimah, ia ingin sekali memakan buah delima yang langsung dari pohonnya. Jangan beli di supermarket atau di toko lainnya. "Fat, ibu ingin makan buah delima yang segar, baru di petik dari pohonnya langsung, wuiiih pasti enak, warna buah delima bagus, merah bercampur maroon dan agak ke merah-merah mudaan gitu". Ibu Halimah seolah-olah sedang memakan buah delima, dan membayangkan betapa nikmatnya memakan buah delima.


Ada satu kisah yang tidak bisa bu Halimah lupakan tentang buah delima. Dulu sekali, sewaktu bu Halimah masih kecil dan kedua orangtuanya masih ada dan tinggal di sebuah perkampungan yang jauh dari keramaian kota, listrik di kampungnya belum ada, jalan belum di aspal. Tepat di samping rumahnya ada sebuah pohon delima, buahnya lebat dan rasanya manis. "Kalau sekarang merahnya seperti buah ruby, waktu itu mana tahu ibu buah ruby".


Di bawah pohon delima ibu halimah pernah membuat satu permintaan yang belum layak, memgingat usianya saat itu masih kecil sekitar lima tahun. Permintaannya ialah "nanti punya suami yang baik dan kaya". Begitu kira-kira. Dan permintaan itu terwujud, ia di nikahi oleh pak anwar yang kaya tajir melintir.


Di bawah pohon delima juga tertanam kaki sebelah kanan bu Halimah, satu jarinya putus tergilas rante sepeda motor, sehingga ia mengalami cacat, saat kejadian usia bu halimah berusia enam tahun. mungkin jari kaki sebelah kanan bu Halimah kini sudah menyatu dengan alam. Sekarang pohon delima tersebut sudah tidak ada.


"Ya, nanti kita cari bu. tetapi lumayan sulit kalau harus dari pohonnya langsung, mungkin di supermarket yang biasa kita belanja ada bu?". "iya, pasti ada.. Tetapi ibu ingin yang langsung dari pohonnya, semoga nanti pas liburan ke Bandung atau Bogor dan Subang ada, masih lama yaaah....?!".


"weekend kali ini aja bu, kita ke sana. Atau tanya dulu ke mang Wawan kali aja di dekat villa kita yang di bogor ada pohon delimanya?". Fatimah langsung menelpon mang wawan, tetapi nihil jawaban yang di terima. "Dimana yah ada pohon delima" Ujar Fatimah kepada Hasan suaminya.

__ADS_1


Elah mendengar pembicaraan antara Kak Fatimah dan Ibu Halimah, langsung mengontek sahabatnya Mayang, siapa tahu di depan rumah abah pohon delima berbuah, atau di deket daerah rumah Mayang. "Yaaa... Ntar aku lihat yah, El?". Jawaban yang di terima Elah dari telpon gennggamnya.


Mayang segera melangkah menuju rumah abah dan ibu, mencari pohon delima yang sudah berbuah matang di pohonnya, sesuai dengan keinginan ibu Halimah. Kabar selanjutnya Mayang menelpon balik Elah dan buah yang diinginkan oleh Ibu Halimah ada di depan rumah ibu, "baru satu kayaknya yang matang di pohon". Sebelum Mayang menutup telepon selulernya.


"Kak Fatimah, maaf Elah tadi mendengar pembicaraan ibu dengan kak Fatimah di dapur, aku langsung telpon Mayang, katanya pohon delima di rumah abah berbuah dan sudah matang di pohonnya, hanya satu yang baru matang, kira-kira bagaimana kita ambil, atau suruh pak supir, atau kita ajak ibu kesana?". "iya... Jauh siiih... Tapi demi ibu nanti kakak Fatimah yang menyampaikan, keputusannya bagaimana ibu saja". Obrolan pun berakhir Fatimah dan Elah berpisah.


"Bu... Buah delima ada tapi.... Di rumah abah Elah, Bagaimana ibu mau kesana atau bagaimana?". "Syukurlah kalau ada, tetapi ibu pengen memetik langsung dari pohonnya, dan makan di sana". " kalau begitu telpon ayah dulu bu, kalau ibu tetap mau kesana?". jawaban dari pak anwar lewat telpon gengganmnya, "ayah ikut, tunggu dulu. Mungkin sekitar lima belas menit yaaah?". Ayah menutup telpon mengambik kunci motor lalu keluar dari tokonya.


Ibu Hamidah, Fatimah, Elah dan ayah berangkat menuju kampung, ke rumah abah dan ibu. Elah tidak lupa mengabarkan kepada Mayang bahwa Elah, kakak iparnya dan mertuanya mau kesitu. "kamu standbye yah, aku enggak sama anak-anak". laksana mendapatkan komando dari atasannya Mayang pun manut, dan bersiap-siap menunggu kedatangan Elah dan rombongan.


Pak anwar, ayah dan suami yang baik, meski tidak lagi muda dan pasangan yang baru menikah, pak Anwar tetap menjadikan skala prioritas segala keinginan bu Halimah. Pak anwar begitu menyayangi dan mencintai bu Halimah dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Hatinya tulus dalam mencinta sehingga mendapatkan balasan yang sama dari bu Halimah, anak- mantunya, dan semua cucunya yang sudah lebih dari enam lusin. Keluarga besar yang harmonis idaman semua keluarga, terutama keluarga masa kini yang mendambakan kejujuran dan ketulusan hati. Dan Menjadikan pernikahan adalah pintu menuju Syurga Ilahi.


__ADS_2