
Ibu yang baru pertama kali naik tangga jalannya bergetar apalagi ketika di tawari naik lift oleh Bi Inah. "Jangan naik itu bi, ibu takut keluar lagi makanan di perut ibu, ibu takut". Bi Inah tersenyum. "Baiklah, mari lewat tangga saja kalau begitu, kamar tamu ada dilantai atas".
Pelayan di rumah sidiq sudah terbiasa menerima tamu, memperlakukan tamu dengan hormat. Apalagi ibu dan Abah adalah mertua majikannya.
Di lain kamar, sidiq mengajak Elah untuk jalan menuju lorong kamarnya. Jauh dari keramaian ruang tamu dan ruang keluarga. Elah terpaksa mengikuti sidiq dan mau ikut ke kamar sidiq.
"Tapi, ingat jangan tidur bersamaku". " Iya, tenang saja, aku bisa tidur di sofa". Elah tak berhenti memuji keindahan rumah dan isi rumah. Nuansa cat putih pada dinding dan cat cokelat tua pada pintu-pintu kamar.
Pintu kamar di buka, kamar yang luas, ranjang yang lebar kasur yang empuk, sofa yang lembut semua tertata dengan baik. Harum semerbak. "Berbeda dengan kamarku" . "Apa, kamu ngomong apa" ujar sidiq yang hampir mendengar ucapan Elah. "Enggak, bukan apa-apa, berati aku tidurnya di sini tangan Elah menunjuk ke arah kasur dan kamu tidur di sofa sebelah sana telunjuk Elah lurus ke arah sofa.
"Iya, aman. Tenang saja, mari kita istirahat, sebelumnya silahkan membersihkan diri dulu, aku mau keluar, mau bertemu Jelita, lama enggak ketemu".
"Jelita". Deg, hati Elah berhenti seketika atau dua detik, "kok, baru menikah sudah menyebut nama perempuan lain 'Jelita'. Siapa dia?.
Tidak memperdulikan Elah, Sidiq berlalu keluar dan mencari Jelita.
Setelah membersihkan badan, dan berganti pakaian yang sudah di sediakan oleh ibu mertuanya, Elah mengusap rambut dan mukanya yang masih basah.
"Sidiq ke mana yah?, Lama amat, aku juga udah beres mandi, jangan-jangan dia sedang bermanja-manja sama si Jelita, perempuan yang dia sebut tadi". Elah menyimpan handuk dan mulai menyisir rambutnya.
Sidiq belum juga datang. Elah tertidur pulas tanpa di temani Sidiq. Rupanya Sidiq tertidur di tempat Jelita, siapakah Jelita.? Jelita ternyata seekor burung merak yang ia pelihara sejak kecil.
Pantas, namanya Jelita. Burung merak memang jelita dengan kecantikan ekornya.
*****
__ADS_1
Pagi pun tiba, Elah terbangun dan mencari Sidiq. Tapi tidak ada.
*****
Di ruang makan sudah berkumpul untuk sarapan bersama, bi Inah sibuk mempersiapkan semuanya.
Bi Inah punya jabatan yang penting di rumah keluarga Sidiq, sebagai ketua para asisten rumah tangga, tukang kebun, dan supir. Kalau dalam dunia intelenjen kepala devisi....hehehehe
"Bi, tolong panggil Abah, ibu, Elah,Siqid". Yang lain sudah berkumpul di meja makan yang panjang.
"Ya,... Ini baru mau" ucap Bi Inah lantas beranjak menuju kamar tamu di lantai atas dan menemui Abah ibu.
Tok... Tokk... Pintu perlahan di ketuk. Abah membuka pintu dalan keadaan sudah rapi.
Akhirnya tiba juga Abah dan ibu mendarat di lantai bawah langsung menuju ruang makan. Pak Anwar dan keluarga sudah duduk di kursi masing-masing dengan nama tertera di belakang kursi. Bayangkan dua belas kursi terisi penuh. Di tambah Abah,ibu dan Elah, lima belas kursi.
Seru, ramai, sendok, garpu beradu. Tapi, Abah dan ibu tidak memakai sendok, garpu. Dengan tangan, susah kalau daging ayam pake sendok, kata Abah dan ibu. Sarapan pagi itu nasi goreng, ayam goreng, kerupuk dan sambal. Sarapan di sambi dengan obrolan santai.
***
"Abah, kapan kita pulang". Ibu mau pulang.
"Iya, Abah juga, tiga hari rasanya cukup kita di sini".
"Iya, kita pulang yuk bah". Ibu merengek, "ibu kangen rumah". "Iya, iya... Nanti kita pamit sama besan, kita mau pulang dulu. Sudah jangan cemberut, kalau ibu cemberut tambah cantik". Abah menggoda ibu dengan jurus anak muda.
__ADS_1
"Bu, Abah" suara Elah di depan pintu kamar, kemudian masuk kamar, langsung menggelayut manja di pangkuan ibu.
"Abah sama ibu mau pulang dulu, nanti kalau ada waktu ke sini lagi". "Elah juga mau ikut pulang sama Abah dan ibu". "Jangan, tidak baik. Nanti sama Sidiq".
Elah diam. Sedang dalam bathinnya ia ingin bercerita tentang sidiq dan Jelita.
Pak Anwar sempet tidak mengizinkan Abah dan ibu pulang, tetapi tidak bisa memaksakan. Akhirnya memperbolehkan besannya pulang dengan membawa segudang oleh-oleh.
Mobil yang membawa Abah,ibu pulang kampung berisi oleh-oleh yang sudah disediakan pak Anwar. Pakaian, sarung, Koko, sendal, makanan, kue ringan dan lainnya. "Nanti Abah bisa bagikan ke tetangga atau saudara". Ucap pak Anwar sebelum Abah dan ibu memasuki mobil.
Sempat merasa malu, karena Abah dan ibu ketika bertandang ke rumah pak Anwar tidak membawa apapun. Namun, pulangnya membawa oleh-oleh yang banyak.
Bahagia rasanya Abah dan ibu memiliki besan yang baik, kaya raya dan tidak sombong. Tidak di sangka akan begini, kehidupan ayah yang sederhana tidak di pandang sebelah mata oleh pak Anwar. Malah sebaliknya perlakuan pak Anwar dan Bu Hamidah begitu baik.
Perjalan pun di mulai. Abah dan ibu pamit, dan menitipkan Elah kepada pak Anwar dan Bu Hamidah, Sidiq hanya sebentar saja menemui mertuanya sebelum pulang kampung, lalu pergi lagi menemui Jelita.
Ayah, ibu, Abah dan ibu tidak mengetahui kalau semalam Sidiq tidur di tempat Jelita, dan meninggalkan Elah sendirian di kamar.
"Hati-hati Abah, ibu. Salam untuk Puti dan Mayang yah Bu,titip Puti". Selama di tinggalkan Puti bersama Mayang. Mayang rumahnya tidak jauh dari rumah Elah, hanya berselang tiga rumah.
Mayang tidak merasa keberatan di titipkan Puti, karena Puti kucing yang baik dan kucing rumahan. Tidak pernah jauh meninggalkan rumah. Puti di beri tanda pada lehernya, sebuah kalung berliontin love milik Elah. "Biar kalau hilang mudah di kenalin". Begitu kata Elah kepada Mayang.
*****
Elah duduk di sofa kamar sambil menunggu Sidiq. Hanya sebentar lalu pergi kembali. Bi Inah menemui Elah dan menawarkan jika ada sesuatu yang di inginkan. "Nanti aja bi, kalau mau nanti Elah ke dapur saja, bibi enggak usah repot-repot". setelah mendengar itu bi Inah kembali ke dapur. Dan meninggalkan Elah sendirian di kamar.
__ADS_1