
Pada kelahiran keduanya Elah tidak begitu mengalami kesusahan, lancar. Pembukaan enam dan tidak lama melahirkan. Mungkin karena fase ngidamnya yang rumit, fase melahirkannya tidak rumit. Meski sakitnya sama, namun bayi kedua lancar tidak lama lahir ke dunia.
Meski begitu keluarga pak Anwar selalu antusias untuk kelahiran anak kedua Elah dan Sidiq. Pak Anwar berkeyakinan banyak anak banyak rezeki. "Termasuk cucu, banyak cucu banyak yang di rindukan." Ujar pak Anwar.
Abah dan ibu menemani kelahiran anak Elah yang kedua ini tidak telat seperti saat lahirnya Berlian.
Ibu, ibu Hamidah, Sidiq, bidan Desy dan satu perawat menemani Elah lahiran di dalam kamar, memberikan semangat di samping Elah.
Tidak berselang lama lahirlah anak kedua Sidiq berjenis kelamin laki-laki. Suara tangisan bayi terdengar keras terdengar, sanak saudara yang menunggu di luar kamar merasakan kelegaan dan menghela nafas secara serempak.
Reaksi Abah apalagi, langsung terperanjat berdiri dan mengucap syukur atas kelahiran cucu keduanya. "Cucuku laki-laki". Abah senang mendengarnya ketika masuk ke kamar dan melihat keadaan Elah.
Muhammad Sidiq anak kedua anak Sidiq. "Seperti nabi panutan kita". Ucap Sidiq. Abah sangat setuju dengan nama yang di sematkan oleh Sidiq kepada cucu laki-lakinya.
******
Setelah anak kedua lahir, lalu ke-tiga, ke-empat, ke-lima, ke-enam, ke-tujuh, ke-delapan,ke-sembilan, ke-sepuluh, ke-sebalas dan yang terakhir ke ke-dua belas.
Jarak antara anak Elah dan Sidiq hanya berselang 3 tahun. Anak ke tiga dan ke empat merupakan anak kembar laki-laki, dan anak ke sebalas dan dua belas kembar perempuan dan laki-laki.
__ADS_1
Rumah pak Anwar ramai setiap hari, ruang tamu dkursinya di tambah, begitu juga dengan kursi di meja makan. Dua belas tambah dua belas menjadi dua puluh empat kursi bertengger di meja makan keluarga pak Anwar.
Sendok dan garpu bagaikan iringan musik, riang gembira sahut menyahut di kala sarapan, makan siang, dan makan malam.
Bi Inah setiap hari membuat menu yang lezat, belanja bulanan bi Inah bertambah terutama untuk kebutuhan dapur.
Bu Hamdanah selaku pengelola keuangan keluarga begitu memperhatikan seluruh kebutuhan keluarga "tidak boleh ada yang kurang". Ucap Bu Hamdanah saat belanja bulanan kebutuhan keluarga selama sebulan. Bi Inah setia menemani Bu hamdanah belanja.
Terkadang belanja bulanan di sambi dengan liburan keluarga besar pak Anwar. Lima iring-iringan mobil keluarga pak Anwar konvoi berjalan di jalanan ibu kota yang padat dan macet. Mobil bertambah satu khusus untuk membawa belanjaan dan lainnya.
Bertroli-troli belanjaan berjejer di depan kasir, menunggu untuk di hitung.
Bu Hamdanah suka membeli bunga, yang di jajakan di pinggir jalan. Bu Hamdanah, bi Inah dan pak Anwar menjadi pengisi mobil ke enam. Tidak supir untuk mobil ke enam. Pak Anwar lah yang menjadi supir untuk istrinya tercinta.
"Iya, pak. Ibu lihat tadi di jalan sebelum kita belanja ada, anggreknya warna ungu terus ada putih-putih gitu pak, cantik deh". Senyum-senyum Bu Hamdanah menatap pak Anwar, yang tahu betul hobinya. Memelihara dan merawat bunga sambil mengasuh cucu-cucunya di kebun di samping rumah.
Rumah yang begitu besar menjadi tempat ternyaman bagi pengisi rumahnya. Hijau dengan rumput yang di pelihara dan tanaman bunga-bunga menambah ketentraman rumah pak Anwar.
Dalam menjaga dan merawat kebun keluarga Bu Hamdanah mempercayakan mang Ijah, "mang Ijah ulet dan telaten". Ujar Bu Hamdanah kepada bi Inah.
__ADS_1
*****
"Cucu kita bertambah, kebutuhan juga bertambah" obrolan santai di dalam mobil di awali Bu Hamdanah. "Iya, ayah malah senang menjadi bertambah semangat mencari uangnya". ayah malah menjawab seperti itu, tidak menjadi beban dalam hidupnya.
Sebagian anaknya sudah sukses menjadi pengusaha, namun tetap sebagai ayah pak Anwar tidak membedakan. semua kebutuhan di penuhi meski anak dan menantunya membeli kebutuhannya masingmasing.
bi Inah yang tahu betul karakter pak Anwar bertambah kagum saja pada karakter dan kepribadian pak Anwar. Rumahnya setiap tahun di tambah dan di tambah ke depan ke samping asal semua anak-anak ku kumpul dalam satu rumah, itu sudah kisah terbahagia dalam hidup.
"Malah kalau ada yang pergi nanti aku kehilangan dan kesepian". ujar pak Anwar sebelum berhenti di tempat toko bunga yang di tunjukkan oleh Bu Hamdanah.
Bu Hamdanah membuka pintu mobil, di susul bi Inah dan pak Anwar. Pak Anwar setia menemani Bu Hamdanah memilih bunga anggrek, dan memberikan pandangan dan pilihan mana anggrek yang bagus dan cocoknya nanti di mana pas sampai di rumah.
Sebagai pedagang yang baru di kunjungi Bu Hamdanah dan pak Anwar memuji pak Anwar sebagai suami yang baik dan perhatian, sayang terhadap istri.
"Jangan lupa kado buat si kecil, si kembar putra dan putri". BI Inaha yang ingat dengan hal itu manggut-manggut" Sudah pak, tadi ibu sudah beli sekalian belanja keperluan dan kebutuhan kita dalam sebulan ini".
"ok...siip. kan si kembar belum bisa makan atau bermain di taman nemenin ibu di kebon sama mang Ijah, jadi harus di beliin kado juga".. "iiih apaan siih, ayah ada-ada aja, nanti kalau si kembar udah gede pasti ibu ajak bermain di taman, di kebun suruh nemenin ibu menanam bunga dan merawatnya". ibu Hamdanah tersenyum
"iyalaahh... semua cucu-cucu ku senang bermain tamah Sampai kotor baju dan badannya, rambutnya yang kribo setiap hari harus keramas karena tanah menempel di kepalanya".. pak Anwar tertawa mengingat tingkah laku cucu-cucunya kalau sedang bermain di kebun bersama Bu Hamdanah.
__ADS_1
Bi Inah menjadi pendengar setia kakek dan nenek yang selalu nampak harmonis, dan bahagia di kelilingi cucunya. "anak-anak kita sudah menikah Bu,kita sudah tua". "terus, masa mau muda lagi" ibu tertawa tipis. "bukan itu maksud ayah, ayah cuma mau bilang terimakasih sudah menjadi istri yang baik, ibu yang baik dan nenek yang baik juga".. "duuuhhhh ayah, ibu yang berterimakasih sudah baik sama ibu, sudah memperlakukan ibu sebagai istri yang terhormat". ibu mencium tangan pak Anwar meski tangan kiri, karena tangan kanannya sedang menyetir mobil. jadi susah kalau pake tangan kanan. "ya... sama-sama, kita menua bersama dan masuk surga pun kelak kita bersama lagi kumpul lagi dengan anak cucu-cucu kita". ayah mengakhiri pembicaraan setelah melihat ibu tertidur pulas, karena lelah berbelanja seharian.
"lihat bi, ibu malah tidur pulas". "iya tuan, mungkin ibu kecapean". ucap bi Inah.