Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab XVIII Kerudung Merah Muda Pemberian Ibu


__ADS_3

Ibu yang selalu mendoakan Elah di setiap waktu, helaan nafasnya adalah untaian doa yang tertasbih untuk anak perempuan satu-satunya. Elah yang tumbuh dari anak kampung menjadi istri anak konglomerat tidak merubah apapun, sikapnya yang baik dan manis selalu di ingat keluarga, sahabat dan tetangga.


Doa-doa yang teruntai termanifestasikan dalam kehidupan Elah sehari-hari. Di perlakukan baik oleh ayah ibu mertuanya, suaminya, anak-anaknya, saudara dari suaminya atau kakak-kakak iparnya, asisten rumah tangganya, tukang kebun, pak satpam dan supir, semuanya tulus menyayangi Elah. Pantas saja ada pepatah yang mengatakan "kebaikan akan kembali pada diri kita, begitupun dengan keburukan akan kembali jua pada diri kita".


Di rumah pak Anwar sebulan sekali mengadakan pengajian keluarga, biasanya memanggil ustadz atau ustadzah. Durasi tausiyahnya tidak lama sekitar satu jam dengan termin tanya jawab antara anggota keluarga dengan penceramah. Suasana yang terbangun akrab dan harmonis.


****


"Abah, ibu mau ke pasar dulu". "Heuhmmmm...".. "bukanya menjawab dengan benar cuma itu saja". "Iya Bu"."ibu pergi yah". "Ibu... Mau kemana?". "Dasar aki-aki, tadi ibu udah bilang mau ke pasar, jawabnya cuma heuhmmmm... Giliran ibu udah siap baru nanya, mau kemana?"." Tadi Abah sedang mengorek kuping, rasanya gatal Bu". "Dengarin nih,". "Ibu mau kepasar, mau beli kerudung buat Elah, kayaknya ini tahun ke delapan belas pernikahan Elah sama Sidiq, ibu mau memberikan hadiah, biar sederhana juga, buat kenang-kenangan, begitu Abah". " Ibu pergi sama siapa?, Abah antar yah, ke pasarnya? ". Enggak usah, Abah di rumah kasihan si Puti sendirian, ibu mau ke rumah Mayang dulu, kalau Mayang enggak ada ibu mau mengajak bu Halimah saja, biar sekalian beli bumbu dapur". "Kalau itu Abah setuju Bu, asal jangan sendirian, takut ibu pulangnya nyasar, Abah susah nanti mencari nya kemana.". "Bukan masalah nyasar enggak bisa pulang lagi, yang ibu takutin nanti ibu enggak ada yang bawain belanjaan ibu". "Ibu mau borong?". "Iya, borong bawang merah sekilo". "Haddduuuh si ibu, marah yah di bilangin nyasar". Kumis Abah agak naik sedikit, giginya masih terawat dengan baik, putih bersih memberikan tawa sebelum ibu pamit pergi ke pasar.


Di rumah Mayang. Mayang sedang berbincang-bincang dengan ibu tentang rencana Ridho pindah kerja, katanya di perusahaan yang baru Ridho bisa menjadi editor, dan langsung bisa mengajukan kontrak kerja, tidak menjadi wartawan freelance atau paruh waktu. Alasannya, karena sekarang sudah punya istri, jadi harus mencari pekerjaan yang tetap.

__ADS_1


Kerja paruh waktu terkadang membawa Ridho pergi mengejar berita hingga ke luar kota berhari-hari.


"May, anterin ibu ke pasar yuk". " Aih... Ada ibu, boleh Bu. Nanti Mayang ganti baju dulu, maklum daster Mayang udah pada bolong, hehehehe. "Nambah adem yah daster bolong-bolong" candaan ibu terdengar di telinga Mayang, "bettttul banget Bu, di buang sayang Bu, selama masih bisa di pakai, makin bolong makin assiik Bu,". Mayang membalas candaan ibu lalu bergegas ke kamar berganti pakaian. Daster adalah baju ternyaman sedunia bagi ibu-ibu, tidak mesti ibu yang sudah tua atau berusia, ibu-ibu muda masa kini juga memakai daster sebagai baju istimewa.


Tiba di pasar, ibu hanya membeli membeli beberapa bumbu dapur yang hampir habis, bawang merah, bawang putih, dan ketumbar. Kalau tomat, cabe, daun salam, daun sereh, kunyit, jahe, ada di kebun samping dapur ibu. Ikan laut segar menjadi pilihan selanjutnya.


"May, tolong pilihin kerudung berwarna merah muda untuk Elah, mana yang kira-kira cocok dan Elah bakal suka" "Elah mau pulang Bu? Kapan?". "Belum tahu, nanti kalau Elah datang kalau sudah ada kan... Tinggal di kasihkan, enggak usah repot-repot lagi ibu ke pasar, sekalian yah bantu ibu bungkus kerudungnya, beli kertas kadonya yang cantik juga".


Berjalan gontai melangkah menuju arah pulang setelah berbelanja secukupnya. Martabak isi ketan hitam dan kacang tanah buat Abah, ikan teri buat Puti, dan ini ikan, satu kilo ikan bentong buat ibu Halimah, ibu nya Mayang. Tiga kantong plastik belanjaan ibu. Dua di bawa oleh Mayang satu lagi oleh ibu.


Setibanya di rumah, ibu membuka martabak kesukaan Abah, lalu muncul Mayang yang akan membungkus hadiah kerudung buat Elah.

__ADS_1


Abah menikmati martabak yang ibu belikan di temani kopi pahit panas, "Nikmat sekali". Ibu yang membuat dua gelas teh manis, satu untuk ibu, satu lagi untuk Mayang.


Mayang senang teh manis buatan ibu. katanya teh manis ibu enak rasanya, "entah pujian atau merasa keenakan di buatkan teh manis acapkali ke rumah ibu". Padahal teh dan gula putih saja, sama dengan teh orang-orang layaknya membuat teh manis. Tapi, entahlah "beda aja kalau ibu yang membuat teh manis". ucap Mayang sambil menyeruput teh manis dengan perlahan, dan tidak lupa mengambil martabak yang ada di hadapan Abah.


"Tuuuh kaaaan, jatah Abah jadi berkurang, kalau udah ada Mayang". Abah sering sekali menggoda Mayang, Mayang sudah di anggap anak sendiri oleh Abah dan ibu. kehadiran Mayang terkadang bisa mengobati rindu Abah dan ibu terhadap Elah.


"Tenang bah, cuman satu saja, tapi kalau masih ada sisa, boleeeh". Mayang melengos ke depan dan siap-siap membungkus hadiah untuk Elah.


****


Hadiah untuk Elah, ibu simpan rapih di dalam lemari rak bagian atas. Baju ibu tidak banyak, jadi masih leluasa menyimpan.

__ADS_1


__ADS_2