Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik

Suami Ku Anak Konglomerat Tapi Udik
Bab XXVII. Permainan yang Menggaduhkan Suasana Keluarga


__ADS_3

****


Elah sedang asik menatap layar televisi yang berukuran besar, berbentuk flat/tipis berwaran hitam. Di ruang keluarga tempat berkumpul keluarga, hanya sekedar mengobrol santai, minum kopi/teh, cemilan. Di sore hari atau di malam hari sebelum pergi menuju kamar masing-masing untuk beristirahat, tidur dan mengejar mimpi-mimpi malamnya.


"Permainan viral dan kekinian, apa yah?". Ucap Elah. Permainannya namanya lato-lato, berbentuk bulat, dengan warna yang variatif. "Waaaaw, ada yang matic juga, sudah seperti motor saja". Fikir nya. Lato-lato yang terbuat dari bahan plastik yang di padatkan, di bulat-bulat, lalu di pasangkan talinya. Ada yang memiliki warna yang sama ada juga berbeda yang satu dengan yang lainnya. "Supaya lebih menarik pembeli dan peminatnya mungkin".


Suaranya terbilang bising, dan mengaganngu pendengaran, tetapi justru sebaliknya bagi Elah, ia mempunyai ide, weekend kali ini tidak usah pergi keluar rumah. "Kita akan mengadakan lomba lato-lato. Tempatnya di taman saja". Ide Elah bersambut, semua sepakat. Dua belas anaknya, dan dari kakak-kakak iparnya setuju juga.


Sebagai ketua panitia di tunjuk dan hasil musyawarah bersama, Desy.. cucu tertua,.. sekaligus yang membeli semua kebutuhan alat-alat lomba.


Pak Anwar dan ibu Hamdanah setuju dan cenderung menyenangi ide Elah. "Boleh sekali-sekali kita ikutan mainan viral juga". "Kakek mau di belikan lato-lato juga?". "Iya, biar seru, masa kakek hanya menjadi penonton, jangan lupa hadiahnya juga di persiapkan yaah". Ucap pak Anwar. "Okey... " Jawab Desy.


Untuk mempererat tali ikatan antara keluarga di rumah pak Anwar selalu di usahakan. "Kelak jika ayah telah tiada, kebersamaan antara kalian terus terjalin, karena keluarga adalah segalanya, uang bisa di cari, meski susah payah, siang malam, siang di jadikan malam, malam di jadikan siang demi mendapatkan uang, tetapi akan sia-sia jika keluarga menjadi berantakan, orang tua tidsk di hormati karena masa kecil anak-anaknya tidak di perdulikan, jangan salahkan anak, jika di masa tuanya tidak di perdulikan oleh anak-anaknya, keluarga adalah titipan yang harus di jaga keutuhannya, setelah semua kehancuran keluarga terjadi, lantas siapa yang harus di salahkan?". Pak Anwar tidak sengaja meneteskan air matanya. "Hari terus berganti, waktu terus bergulir, entah besok atau lusa kematian akan menjemput, bapak ingin selalu ada keluarga di samping bapak". Pesan yang selalu disampaikan pak Anwar di setiap waktu, "keluarga adalah harta". "harta yang tidak ternilai harganya". Begitu di aminkan oleh ibu Hamdanah.


Cerminan keluarga elit yang sederhana dan mementingkan segalanya demi keutuhan, keharmonisan keluarga, tawa, canda, menghiasi keluarga pak Anwar.


Keberhasilan dalam membangun keluarga yang harmonis di ciptakan, di bentuk dan di tanamkan kepada seluruh anggota keluarga. Terutama zaman sekarang. Keluarga adalah pondasi awal dalam membangun karakter anak.


*****

__ADS_1


Hari minggu pukul sembilan pagi, lomba di mulai. Anak-anak mulai berkumpul di taman keluarga, di dekat kandang Jelita. "ayooo... Semua kumpul". Dengan menggunakan alat pengeras suara Deasy mengintruksikan kepada seluruh anak-anak kumpul.


Berlian, Mawar, Senja ikut membantu Deasy terlibat dalam kepanitiaan keluarga. "hadiahnya, di tata di meja yah, itu sebelah kanan". "yang rapi, enggak apa-apa sederhana juga yang penting buat seru-seruan". Deasy sibuk mempersiapkan yang lainnya.


orangtua menjadi penonton dan membantu anak-anak, sebagai pendamping. Elah membantu putra dan putri sebagai peserta cilik. Pak Anwar dan Bu Hamdanah menjadi juri kehormatan sebagai kakek dan nenek yang budiman dan sumber suri tauladan. Daaan.... Yang penting pak Anwar sebagai father founding tertinggi demi terselenggaranya kegiatan lomba lato-lato.


Berjejer dengan tertib sesuai dengan usia.


Senandung, Mawar, Senja, Ahmad, Muhammad, Iqbal, Rafa, Rafi, Fika, Denis, Tatu, Purnama, Keysa, Fatimah, Zahra, Aisyah, Nurul, Nadia. lato-lato sudah ada di tangan masing-masing. Cucu-cucu pak Anwar ini berkisar usianya sepuluh, delapan, tujuh, enam, dan lima tahun.


Putra, Putri, Rahma, Viko, Tapasya, Dinah, Dimas, Nafis. Menjadi pemain ronde kedua, rentang usinya. Empat, tiga tahun. Tentu ini harus di dampingi oleh ibunya dan ayahnya. Elah mendampingi Putri dan Sidiq mendampingi putra.


Syarat kemenangan adalah-....



Peserta terlama


Lato-lato tidak jatuh

__ADS_1


Jangan saling mengganggu


Durasi kurang lebih sepuluh menit



"priiiiiit....priiittt...priiiitttt". Peluit di tiup, tanda siap di mulai.


Peserta lomba terlihat ceria, meski suasana menjadi gaduh dan ramai, tetapi semua begitu antusias. Tawa, riang melihat peserta lomba.


Perlombaan sudah berlangsung sepuluh menit, dan pemenangnya adalah Purnama, permainan lato-latonya bagus dan durasi nya sesuai dengan syarat perlombaan. Ada yang membuat tertawa terpingkal-pingkal ketika Iqbal dan Muhammad, baru saja permainan empat menit, lato-lato di tangan keduanya lepas, terbang ke atas. Mungkin maksudnya supaya permainannya bagus, eeeh... Malah salah teknik, karena terlalu cepat memutar lato-latonya dan terlepas dari genggaman. Hentakan yang keras dan tiba-tiba membuat tekniknya di luar prediksi.


Memang beberapa hari sebelum perlombaan lato-lato, kedua adik kakak ini rajin melihat tutorial permainan lato-lato di media sosial. "yaaah, kita kalah" dengan lemas Muhammad duduk dan keluar dari barisan perlombaan. "iya... " ucap Iqbal.


Session kedua. Usia anak-anak.. Ini yang lebih seru, pesertanya unyu-unyu.. Jangankan teknik, memegangnya aja masih agak kerepotan. Elah sibuk membimbing Putri. Putri nampaknya ada bakat seperti Elah, bisa memainkan lato-lato dengan baik. Naik-turun saling berbalas-balasan. Putri senang sekali dengan permainan ini. "menguji konsentrasi" ucap Elah, "bermain sambil belajar". Dari suara mikropon Berlian memotivasi peserta kedua ini.


Ibu Hamdanah tidak lepas dari tawa melihay cucu-cucunya, ada yang jatuh ada juga yang menangis. Karena tidak bisa memainkannya. "Untuk anak-anak durasi waktunya secukupnya aja, hehehehe... " Deasy memberikan kelonggaran waktu. "harus berbeda yah, untuk adek-adek kita". Berlian menambahkan.


libur yang sederhana tetapi berkesan, semuanya menjadi larut dalam permainan viral dan sedang di gandrungi anak-anak saat ini. Meski agak sedikit berbahaya tetapi permainan ini mengasyikkan.

__ADS_1


"perlombaan selesai,. Sebelum pembagian hadiah kita istirahat yaah". selaku ketua panitia Deasy juga memberikan saran menu makanan. es kelapa muda dengan gula merah dan kue cemilan dengan aneka ragam, di sesuaikan dengan selera. Ada kue basah dan ada kue kering. Bi Iyum sebagai koordinator konsumsi mempersiapkan semuanya dengan sempurna.


__ADS_2