Suami Perjaka Milik Aruna

Suami Perjaka Milik Aruna
Bab 10 : SPMA. Menyangkal Perasaan.


__ADS_3

Sore itu, Alan melajukan mobilnya dengan cepat menuju kantor Reno. Ia tidak mau Aruna menunggunya seperti kemarin. Walaupun Aruna cukup menyebalkan tapi Alan tetap mengkhawatirkannya. Apalagi ia sudah mencoba menelfon Aruna berapa kali tapi Aruna tidak mengangkat panggilan darinya dan malah mematikan ponselnya.


Sesampainya didepan kantor Reno, Alan tidak mendapati Aruna disana. Alan pikir mungkin Aruna masih berada di lantai atas dan ia akan menyusulnya kesana. Setelah memarkirkan mobilnya, Alan bergegas masuk ke dalam gedung kantor itu. Ia menekan tombol lift dan menunggu pintu lift itu terbuka. Tak berselang lama pintu lift terbuka dan Reno berada didalam sana, tapi Alan tidak melihat Aruna.


Reno keluar dari dalam lift dan berjalan menghampiri Alan.


"Dimana Aruna?" tanya Alan.


"Aruna sudah turun dari 15 menit yang lalu. Memang kamu tidak melihatnya didepan?" tanya Reno dan Alan menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Dia bahkan tidak mengangkat telefonku dan mematikan ponselnya" ujar Alan.


Reno langsung paham, Aruna pasti masih merasa kesal dengan kejadian tadi siang di restoran. Reno berjalan mendekat dan berdiri disamping Alan. ia menaruh tangan kanannya di pundak Alan dan mulai berbisik.


"Kamu peka gak sih sebenarnya?" tanya Reno yang membuat Alan menoleh ke arahnya.


"Kenapa memangnya?" tanya Alan masih tidak paham.


Reno menggelengkan kepalanya karena sahabatnya itu masih tidak paham juga jika Aruna cemburu padanya dan Jessica.


"Aruna itu cemburu melihat kedekatanmu dengan Jessica" ucap Reno, namun Alan tidak langsung percaya begitu saja. Mengingat sikap Aruna yang cuek dan sedikit kasar padanya. Apalagi Aruna sudah mengecapnya sebagai pria yang sudah tidak perjaka lagi. Jadi tidak mungkin jika Aruna cemburu padanya.


Alan terkekeh menanggapi ucapan Reno.


"Jangan bercanda. Kamu tau sendiri bagaimana hubunganku dan Aruna, kami selalu saja berdebat dan berbeda pendapat. Lagi pula kami hanya menikah kontrak, setelah kontrak ini selesai maka kami tidak punya hubungan apapun lagi" jawab Alan mengingat tidak pernah ada keromantisan diantara ia dan Aruna.


"Aku sudah mengingatkan, jangan salahkan aku kalau nanti Aruna diambil orang" ujar Reno mengingatkan.


Alan terdiam dan tidak menjawab lagi. ia memang belum memiliki perasaan pada Aruna. Tapi jika Aruna pergi apa ia akan merasakan kehilangan. Ia mulai terbiasa mengantar jemput Aruna kerja, memasak untuk Aruna. Itu adalah hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya pada seorang wanita.


Sementara itu Aruna tengah duduk didalam mobil bersama seorang pria.


"Bagaimana kalau kita makan malam dulu sebelum aku mengantarkanmu pulang?" ajak Alvin yang duduk dikursi pengemudi.


Aruna menoleh ke arah Alvin. Hari juga sudah mulai petang dan sedang gerimis. Jalanan juga cukup macet.

__ADS_1


"hhhmmmm.. baiklah" Aruna mengangguk setuju.


Alvin tersenyum senang karena Aruna menerima ajakannya untuk makan malam, setidaknya ia jadi punya banyak waktu dengan gadis itu.


Alvin tadi memang sengaja lewat di depan kantor Reno berharap bisa melihat Aruna disana. Dan benar saja, ia melihat Aruna yang hendak menyetop taxi. Alvin tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk turun dari mobil dan menawarkan untuk mengantarkan Aruna pulang. Beruntung Aruna menerima tawarannya walaupun awalnya Aruna seperti nampak ragu.


"Stop disini pak!" seru Aruna membuat Alvin mengerem mendadak mobilnya.


"Ada apa Run?" tanya Alvin menoleh khawatir.


"Kita makan disana saja pak" tunjuk Aruna pada kedai bakso diseberang sana.


Alvin mengikuti arah pandang Aruna. "Kamu yakin? Apa kita tidak sebaiknya makan di restoran saja? Disana banyak makanan yang lebih enak"


Aruna menggelengkan kepalanya. "Saya ingin makan bakso itu pak. Tapi kalau bapak keberatan, tidak apa-apa kita makan di restoran saja"


"Tidak, saya tidak keberatan. Ayo kita makan disana" Jawab Alvin lalu kembali menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya.


Mobil pun terparkir di halaman kedai bakso. Aruna turun dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam kedai. Ia langsung memesan 2 mangkuk bakso untuk mereka lalu mencari tempat yang masih kosong untuk duduk. Sementara Alvin hanya mengikuti Aruna saja.


Alvin terus memandang wajah Aruna yang sedang menyantap baksonya dengan lahap. Aruna terlihat seperti sangat kelaparan dan seharian tidak makan.


Sementara Aruna asyik dengan baksonya, ia merasa sangat lapar karena belum makan dari siang. Tadi siang ia memang tidak sempat makan siang karena melihat Alan dan Jessica yang membuat nafsu makannya hilang.


Aruna yang merasa sedang diperhatikan pun melihat ke arah Alvin yang duduk didepannya.


"Bapak kenapa ngeliatin saya terus? Bapak tidak lapar" tanya Aruna melihat mangkuk bakso Alvin masih utuh dan belum disentuh.


"Ah tidak... hanya saja kamu terlihat sangat cantik saat sedang makan" puji Alvin namun Aruna nampak biasa saja dengan pujiannya.


"Sudah biasa bukan jika seorang pria akan memuji seorang wanita dengan mengatakan kamu cantik. Tapi maaf pak, saya tidak akan baper hanya dengan sanjungan seperti itu" ujar Aruna yang langsung melahap baksonya kembali.


Alvin tersenyum mendengar jawaban dari Aruna. Aruna memang berbeda dari gadis lainnya, itulah kenapa Alvin semakin penasaran dan ingin mendekati Aruna terus.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Alan sudah sampai didalam ruangan apartementnya dan tidak mendapati Aruna disana. Harusnya Aruna sudah sampai lebih dulu. Alan jadi sangat khawatir takut Aruna kenapa-kenapa di jalan, walaupun ia yakin tidak akan ada yang berani mendekati Aruna mengingat sikap kasar dan galak Aruna. Tapi Alan tetap memilih keluar lagi dari gedung apartementnya dan menaiki mobilnya kembali yang terparkir di basement.


Hampir 1 jam Alan mencari Aruna di jalanan kota malam itu, tapi ia tidak menemukan sosok istri kontraknya itu. Ia berfikir untuk mencari Aruna kerumah orang tua Aruna, mungkin saja Aruna disana. Tapi nanti satu RT bisa geger kalau ternyata Aruna tidak disana. Alan mengacak-acak rambutnya karena bingung harus mencari Aruna kemana lagi.


Hampir pukul 10 malam, akhirnya Alan memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Siapa tau Aruna sudah pulang. Alan masuk ke dalam ruangan apartementnya dan menutup kembali pintunya. Ia melihat sepatu kerja Aruna yang sudah berada di rak sepatu, itu artinya Aruna sudah berada didalam sana. Alan melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Terlihat Aruna berdiri disana sudah dengan baju tidurnya dan terlihat baik-baik saja. Alan pun bisa bernafas lega.


"Dari mana saja jam segini baru pulang? Apa ada meeting lagi? Atau habis mengantarkan sekertarismu itu?" sindir Aruna dengan wajah tanpa dosa.


Alan mengambil nafas berat dan terlihat kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Aruna padanya. Harusnya ia yang bertanya Aruna dari mana saja.


"Kenapa tidak menungguku di depan kantor? Aku sudah menjemputmu lebih awal tadi!" ujar Alan kesal.


"Oh... Aku pikir kamu akan sibuk dengan sekertarismu itu. Jadi aku memilih pulang sendiri saja" jawab Aruna cuek, membuat Alan semakin kesal.


Alan menatap tajam ke arah Aruna.


"Apa kamu tau? Aku baru pulang karena mencarimu dan mengkhawatirkanmu!!" ucap Alan dengan nada meninggi.


"Aku tidak menyuruhmu untuk mencariku! Aku bisa pulang sendiri, jadi kamu tidak perlu lagi menjemputku lagi mulai sekarang!" ujar Aruna yang mulai ikut kesal.


Aruna berbalik dan masuk lagi kedalam kamar.


Braakkk!!!!


Aruna menutup pintu itu dengan kasar dan menyenderkan tubuhnya di balik pintu sambil memegangi dadanya.


"Sebenarnya aku ini kenapa? Apa aku benar-benar cemburu melihat dia dan sekertarisnya itu? tidak.. tidak... kamu pasti sudah gila Aruna kalau kamu benar-benar jatuh cinta pada pria itu! Sepertinya aku harus pergi ke dokter untuk memeriksakan diriku dan memastikan kalau hatiku ini baik-baik saja dan aku tidak sedang jatuh cinta padanya" ucap Aruna pada dirinya sendiri mencoba menyangkal perasaannya.


Sementara Alan masih berdiri kesal disana. Ia mengingat ucapan Reno tadi sore jika Aruna cemburu padanya dan Jessica. Alan coba menyangkal itu, tapi apakah benar Aruna cemburu padanya? Kali ini pikiran Alan yang dipenuhi tentang pertanyaan-pertanyaan seputar tentang Aruna.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Silahkan masukan favorit dan jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan bintang 5 nya. terimakasih πŸ™


__ADS_1


__ADS_2