Suami Perjaka Milik Aruna

Suami Perjaka Milik Aruna
Bab 24 : SPMA. Ayo kita bercerai


__ADS_3

Alan tengah mengemudikan mobilnya. Sesekali ia melirik ke arah Aruna yang duduk terdiam disampingnya. Sudah 2 hari ini Aruna mendiamkannya sejak kejadian lingerie malam itu. Sudah 2 malam ini juga Alan tidur di sofa depan karena Aruna melarangnya tidur didalam kamar.


Seeettttt....


Mobil pun berhenti di halaman kantor Reno. Aruna langsung bergegas turun tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Brakkk!!


Pintu mobil kembali tertutup. Alan yang melihatnya langsung ikut turun dan mengejar Aruna. Diraihnya lengan gadis itu dan ditariknya agar menghadap ke arahnya. Aruna menatap Alan dengan malas. Ia menurunkan pandangannya dan mengarahkannya ke arah lain.


"Aruna sayang.. sudah jangan marah lagi dong.. aku minta maaf ya sayang" ucap Alan dengan nada lembut mencoba membujuk istrinya itu.


Semalam Alan sudah menelfon Reno dan berguru padanya bagaimana cara membujuk wanita saat sedang marah. Dan Reno menyarankan untuk membujuk dengan kata-kata lembut dan penuh kasih sayang.


Aruna menatap Alan dan menyipitkan matanya. Tidak biasanya Alan memanggilnya sayang.


"Tidak perlu bersikap lembut padaku! Nanti aku tidak akan pulang ke apartement. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku, jadi kamu tidak perlu datang menjemputku. Aku akan pulang naik taxi saja" ujar Aruna masih dengan wajah kesal.


"Run.. jangan seperti ini Run... Nanti kalau orang tua kamu nanyain gimana? Mereka pasti mikir kita lagi ada masalah" ucap Alan


"Memangnya kamu tidak sadar apa kalau kita memang sedang ada masalah!!" Aruna semakin kesal karena Alan masih tidak menyadari kesalahannya.


"Masa cuma gara-gara baju doang kamu marah sih Run? Nanti kita pergi belanja ya? kita beli semua baju yang kamu suka" ucap Alan.


"Alandra!!!!!"


Kesabaran Aruna benar-benar habis karena Alan masih tidak peka juga. Ini bukan perkara soal baju, tapi karena Alan yang tidak tergoda walaupun Aruna sudah memakai pakaian seksi sehingga Aruna berfikir jika Alan tidak benar-benar tulus mencintainya.


Aruna melepaskan tangannya dengan kasar dan berjalan masuk ke dalam kantor. Sementara Alan hanya bisa memandangi kepergian Aruna. Ia sudah tidak tau lagi bagaimana harus membujuk istrinya itu agar tidak marah lagi.


Siangnya di kantor Alan....


Tok..tok..tok...


Jessica membuka pintu ruangan kerja Alan.


"Permisi pak, ada yang ingin bertemu dengan bapak. Katanya teman spesial bapak" ucap Jessica dari arah pintu.

__ADS_1


"Teman spesial?" gumam Alan nampak berfikir karena seingatnya ia hanya dekat dengan Reno selama ini.


"Ini aku..." Seru seseorang sambil berjalan menerobos masuk ke dalam ruangan kerja Alan.


Alan nampak kaget melihat wanita yang kini berdiri disana. Ia bangun dari duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari wanita itu. Jessica pun kembali menutup pintu dan meninggalkan Alan berdua dengan wanita itu.


Wanita itu berjalan mendekat ke arah meja kerja Alan.


"Alandra... Kamu pasti masih mengingatku bukan? Kita pernah menghabiskan malam bersama malam itu di kamar hotel" ucap wanita itu yang ternyata adalah Nadia


"Cukup!! Malam itu aku sudah membayarmu. Jadi kita sudah tidak ada hubungan apapun. Harusnya kamu tidak perlu datang untuk mencariku!" kesal Alan yang tidak ingin mengingat lagi kejadian malam itu.


Nadia tersenyum simpul dan menatap Alan dengan sorot mata tajam. Ia mengambil amplop coklat kecil yang berisi uang dan melemparnya kemeja kerja Alan.


"Aku tidak butuh uangmu! Aku bukan wanita malam seperti yang kamu pikirkan. Aku kemari untuk meminta pertanggung jawabanmu karena aku sedang mengandung anakmu!" tegas Nadia dengan mata berkaca-kaca.


Alan menggelengkan kepalanya tak percaya dengan ucapan Nadia barusan. Tidak mungkin Nadia hamil anaknya. Mereka hanya pernah melakukannya sekali. Lagi pula Alan juga tidak tau apakah ia memang satu-satunya pria yang pernah tidur dengan Nadia.


"Siapa yang percaya jika anak yang kamu kandung itu adalah anakku? wanita sepertimu pasti sudah sering tidur dengan banyak pria!" Alan masih tidak percaya dengan ucapan Nadia.


Plakkkk


"Aku bukanlah seorang wanita malam! Aku hanya pernah melakukannya denganmu! Kamu harus bertanggung jawab!! Kamu harus menikahiku dan bertanggung jawab atas anak ini Alandra!!" seru Nadia dengan air mata yang sudah menetes di wajahnya.


Alan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak menyangka jika hubungan satu malamnya dengan Nadia akan berakhir dengan kehamilan Nadia. Sementara ia sendiri sudah menikah dan sangat mencintai Aruna. Haruskah ia melepaskan Aruna demi bertanggung jawab pada Nadia atas kehamilannya.


Nadia berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan kerja Alan. Sementara Alan kembali mengusap wajahnya dan terduduk lemas dikursi kerjanya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Alan frustasi sambil memijat-mijat pelipisnya.


🌺🌺🌺


Sorenya, Aruna tidak benar-benar pulang ke rumah orang tuanya. Ia hanya ingin menggertak Alan saja tadi pagi dan ingin tau respon suaminya itu. Walaupun Aruna tetap pulang dengan naik taksi dan tidak menunggu Alan lebih dulu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi Alan belum kunjung pulang. Aruna mulai merasa khawatir dan mencemaskannya. Aruna meraih ponselnya diatas meja dan tidak mendapati panggilan atau chat dari Alan seharian ini.


"Ada apa? Kenapa dia tidak menelfonku? Apa tadi dia tidak datang untuk menjemputku?" Aruna jadi merasa bersalah karena ia telah mendiamkan Alan selama 2 hari ini.

__ADS_1


Aruna mencoba melakukan panggilan pada nomor Alan. Panggilan pun tersambung namun tidak diangkat oleh Alan. Aruna semakin khawatir, ia takut jika terjadi sesuatu pada Alan di jalan saat perjalanan pulang.


Karena tidak ada respon dari Alan, Aruna akhirnya memilih keluar dari dalam apartement dan mencari taksi untuk menyusul Alan kekantornya. Selama di dalam taxi, Aruna tetap mencoba menelfon Alan namun tetap tidak ada jawaban.


"Kenapa kamu tidak mengangkat telefonnya? Jangan membuatku khawatir" batin Aruna khawatir.


20 menit kemudian taxi itu sampai didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Aruna memang belum pernah datang atau masuk ke dalam sana. Tapi Alan pernah memberi taukan alamat kantornya. Aruna bergegas turun dari dalam taxi dan berjalan ke arah halaman kantor yang sudah nampak sepi itu. Bersamaan dengan itu seseorang keluar dari dalam gedung itu. Wajahnya nampak lesu dan tidak bersemangat.


Alan menghentikan langkahnya saat melihat Aruna tengah berdiri didepan sana sambil menatap ke arahnya dengan wajah cemas. Aruna yang melihat Alan pun merasa sangat lega karena suaminya itu baik-baik saja. Ia tersenyum dan berlari ke arahnya. Aruna langsung berhambur kepelukan Alan.


"Kenapa tidak mengangkat telefonku? Kamu membuatku sangat khawatir" ucap Aruna semakin mempererat pelukannya.


Alan hanya terdiam dan tidak bergeming. Aruna yang merasa Alan terus terdiam dan tidak membalas pelukannya pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah pria itu.


Mata Alan terlihat sayu dan sembab, ia seperti habis menangis.


"Ada apa? Kenapa kamu diam saja? Apa kamu marah padaku?" tanya Aruna sambil menjelajahi mata Alan.


Alan menatap dalam mata Aruna dengan mata berkaca-kaca. Tangannya menyentuh wajah gadis itu dan mengusapnya dengan lembut.


"Aruna...." ucap Alan terhenti dan semakin dalam menatap mata gadis itu.


"Ayo kita bercerai..." lanjut Alan dengan air mata yang menetes di pipinya.


Deggg!!


Jantung Aruna seakan berhenti berdetak. ia kembali menjelajahi mata pria itu dan berharap pria itu sedang berbohong padanya.


"Apa yang kamu katakan? Kamu sedang bercanda kan?" ucap Aruna dengan nada gemetar.


"Aku tidak bercanda Aruna. Kamu pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku" ucap Alan.


Duuuaarrrr⚡⚡⚡


Disaat itu juga terdengar suara petir dan hujan yang mulai turun membasahi bumi. Air mata Aruna mulai menetes membasahi wajah cantiknya. Tubuh Aruna seakan lemas tak bertenaga. Dalam hatinya mulai bertanya-tanya apakah memang Alan tidak pernah mencintainya dengan tulus. Lalu apa yang pria itu katakan sebelumnya apakah hanya sebuah kebohongan? Kenapa sekarang pria itu malah meminta bercerai darinya?


💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2