
Seseorang memegang pundak Aruna dari arah belakang. Aruna mendongakkan kepalanya.
"Alandra...." lirih Aruna.
Aruna langsung berbalik dan melihat pria yang kini sedang berdiri memandangnya.
"Pak Alvin..." ucap Aruna menatap kecewa pria yang sekarang berdiri dihadapannya bukanlah suaminya.
Alvin terlihat khawatir saat melihat wajah Aruna dipenuhi air mata. Ia langsung menangkup wajah Aruna dan menatap dalam manik matanya.
"Aruna.. kamu kenapa menangis? Dan sedang apa kamu malam-malam berdiri disini sendirian?" tanya Alvin.
Aruna mencoba tersenyum dan menurunkan tangan Alvin dari wajahnya. Kemudian ia menyeka air matanya.
"Tidak ada apa-apa pak. Tadi ada angin jadi saya kelilipan" bohong Aruna.
"Lalu kamu ngapain sendirian disini?" tanya Alvin lagi sambil melihat sekelilingnya yang memang sangat sepi.
"Mobil saya mogok disana pak" tunjuk Aruna ke arah mobilnya. Alvin pun mengikuti arah pandang Aruna melihat supir dan mobil Aruna disebrang sana.
Alvin kembali menatap kembali wajah Aruna. Ia bisa melihat dari wajah Aruna, sepertinya gadis itu sedang ada masalah.
"Saya antar kamu pulang ya? Ini sudah malam Run, saya takut terjadi apa-apa sama kamu" ajak Alvin
Aruna menatap Alvin sebentar lalu ia menganggukkan kepalanya. Ia tidak mungkin menunggu sampai mobilnya menyala kembali, ia takut orang tuanya khawatir dirumah. Apalagi ia juga lupa tidak membawa ponselnya untuk memberikan kabar.
Mereka pun berjalan ke arah mobil Aruna untuk pamit pada supir Aruna. Kemudian mereka berjalan menuju mobil Alvin dan menaikinya. Selama didalam perjalanan, Aruna nampak terdiam dan memandang keluar jendela kaca mobil. Alvin pun terus memperhatikan wajah gadis itu yang terus murung. Ia ingin sekali bertanya tapi sepertinya Aruna sedang tidak dalam mood baik dan tidak ingin bercerita tentang masalahnya.
Aruna memberi tau Alvin alamat rumah orang tuanya dan menyuruhnya mengantarkan kesana. Alvin semakin yakin jika sepertinya Aruna sedang ada masalah dengan suaminya. Tapi ia tidak berani menanyakannya langsung dan menuruti arahan gadis itu mengantarkannya kesana.
Ditempat lain, Alan mengantarkan Nadia pulang kerumahnya. Saat ini mereka sudah turun dari dalam mobil dan sedang berdiri didepan rumah Nadia.
"Apa kamu tidak ingin masuk dulu? Atau kamu juga bisa kok menginap disini" ucap Nadia sambil mengusap dada bidang Alan dari balik bajunya.
Alan menurunkan tangan Nadia dari dadanya dengan sedikit kasar.
"Jangan menyentuhku! Dan aku peringatkan, kamu tidak perlu datang ke kantorku setiap hari! Aku pasti akan bertanggung jawab jika itu benar-benar adalah anakku!!" kesal Alan lalu berjalan kembali ke arah mobilnya dan menaikinya.
Mobil Alan melaju meninggalkan area rumah Nadia. Nadia melipatkan tangannya didada sambil melihat ke arah mobil Alan yang semakin menjauh.
"Kita lihat saja nanti Alandra... kamu pasti akan menjadi milikku seutuhnya" ucap Nadia dengan senyum simpul diwajahnya.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
Didalam perjalanan pulang, Alan kembali teringat ucapan Reno jika Aruna sedang sakit. Ia pun kembali khawatir dan melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Aruna. Ia ingin melihat keadaan istrinya itu.
Alan menepikan mobilnya saat dari jauh ia melihat sebuah mobil berhenti didepan pagar rumah itu. Ia melihat dan mengamati dari jauh sambil bertanya-tanya dalam hatinya siapa yang berada didalam mobil itu.
Sementara itu di dalam mobil Alvin
"Terimakasih pak karena sudah mengantar saya pulang. Kalau begitu saya turun dulu, permisi" ucap Aruna saat mobil sudah berhenti didepan pagar rumahnya.
"Tunggu Run..." cegah Alvin menahan lengan Aruna.
"Ada apa lagi pak?" tanya Aruna
"Apa kamu sedang ada masalah dengan suami kamu Run?" tanya Alvin penasaran.
Aruna menoleh dan menatap mata Alvin dengan sorot tajam.
"Maaf pak. Saya tidak suka terbuka tentang urusan rumah tangga saya. Sekali lagi terimakasih karena sudah mengantarkan saya pulang" ucap Aruna
Aruna membuka pintu mobil dan turun. Alvin bergegas ikut turun dan mengejar gadis itu sebelum gadis itu membuka pintu pagar rumahnya.
Aruna yang sudah hampir membuka pintu pagar kembali menoleh ke arah Alvin.
"Maaf Run saya tidak bermaksud ikut campur urusan rumah tangga kamu. Tapi boleh saya besok mengantar kamu pergi kekantor?" tanya Reno yang tidak ingin memperburuk suasana hati gadis itu.
Aruna terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Maaf pak, bapak tidak perlu...." ucap Aruna terhenti saat Alvin meraih wajahnya dan memberikan ciuman dibibir gadis itu.
Entah mengapa Alvin tidak bisa menahan dirinya untuk memberikan ciuman saat melihat kesedihan diwajah Aruna sejak tadi. ia juga tidak ingin mendengar penolakan gadis itu lagi.
Aruna mendorong tubuh Alvin dengan kuat hingga ciumannya terlepas.
"Apa yang bapak lakukan!!!" seru Aruna kesal
Belum sempat Alvin menjawab, seseorang menarik bajunya dari belakang
Bughhhh!!!
"Berani sekali kamu mencium istriku!!" seru Alan dengan nada marah.
__ADS_1
Alan kembali menarik baju Alvin dan bersiap memberikan pukulan diwajahnya lagi namun Aruna menahannya.
"Alandra lepaskan dia!" seru Aruna sambil memegangi tangan Alan yang mengepal kuat.
Mendengar suara Aruna, perlahan Alan menurunkan tangannya kembali tanpa melepaskan pandangannya dari Alvin.
Alvin menatap sinis pada Alan. "Kalau kamu tidak bisa menjaga Aruna dengan baik, sebaiknya kamu lepaskan saja dia!"
Alan semakin marah dengan ucapan Alvin. Ia hendak mengangkat tangannya lagi untuk memberikan pukulan pada Alvin, tapi Aruna memegangi tangannya dengan kuat.
"Pak Alvin! sebaiknya bapak pergi dari sini!" perintah Aruna
Alvin melihat ke arah Aruna yang berdiri disamping Alan. Kemudian ia melepaskan tangan Alan dengan kasar dari bajunya. Ia pun kembali menatap tajam ke arah Alan sebelum akhirnya berjalan pergi menaiki mobilnya kembali.
Mobil Alvin melaju pergi. Aruna menoleh ke arah Alan. Selama ini ia tidak pernah melihat Alan semarah itu sebelumnya. Aruna melepaskan tangan Alan dan berbalik. ia melangkahkan kakinya ke arah pagar rumahnya. Alan mengejarnya dan menahan pergelangan tangan istrinya itu.
"Run.... " ucap Alan.
"Ada apa lagi? untuk apa kamu datang? untuk mengatakan kalau kamu sudah mendaftarkan gugatan cerai?" tanya Aruna tanpa membalikkan badannya.
Alan berjalan mendekat dan berdiri tepat dihadapan gadis itu agar gadis itu mau menatapnya. Namun Aruna masih tidak mau manatap wajah Alan. Alan menatap dalam wajah istrinya itu.
"Kamu pukul aku, maki aku Run, agar kamu puas. Aku tau aku pantas mendapatkannya" ucap Alan.
Alan bisa melihat kesedihan yang tergambar diwajah istrinya. Hatinya terasa sakit melihat Aruna yang biasanya ceria dan selalu berdebat dengannya kini jadi gadis pemurung. Sebenarnya ia ingin melepaskan gadis itu agar tidak terus terluka karenanya, namun ia sangat marah dan cemburu saat melihat Aruna dicium oleh Alvin tadi. Jika saja tadi Aruna tidak menahannya, mungkin Alan sudah memukul Alvin habis-habisan karena berani mencium Aruna.
"Aku belum mendaftarkan gugatan cerai kita" ucap Alan membuat Aruna mengangkat wajahnya dan menatapnya.
"Nadia sedang mengandung anakmu bukan? Semakin cepat kita bercerai bukankah semakin bagus? Agar kamu bisa menikah dengan Nadia dan bertanggung jawab atas kehamilannya?" ucap Aruna sambil menahan air matanya agar tidak menetes.
"Aku tau aku egois, tapi aku tidak ingin kehilangan kamu Run. Aku sangat mencintai kamu. Aku cemburu melihat pria tadi menciummu" ucap Alan menatap serius wajah Aruna.
Aruna bisa melihat ketulusan Alan padanya. Ia juga senang karena Alan merasa cemburu padanya dan Alvin tadi. Namun Aruna mencoba menahan perasaannya, ia juga sangat mencintai suaminya itu. Tapi sekarang mungkin Nadia lebih membutuhkan Alan.
"Aku tau, aku juga sangat mencintaimu. Tapi Nadia lebih membutuhkanmu. Beberapa hari ini aku sudah memikirkannya, mungkin hubungan kita memang cukup sampai disini saja" ucap Aruna dengan air mata yang menetes diwajahnya.
Mendengar ucapan Aruna, Alan langsung memeluk erat tubuh istrinya itu hingga membuat gadis itu kembali menangis dalam pelukannya. Walaupun ia tau tidak mungkin mempertahankan Aruna dengan kehadiran Nadia yang sedang mengandung anaknya sekarang.
"Aku tidak sanggup kehilangan kamu Aruna. Secepatnya aku harus mencari tau tentang Nadia. Apakah malam itu kami benar-benar melakukan hubungan terlarang itu atau tidak. Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali?" batin Alan sambil mempererat pelukannya.
πππ
__ADS_1