
Malam merambat ke pagi. Pagi ini Alan mengajak Aruna mengunjungi rumah papinya, Ardian Fernando.
Seorang pembantu membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Alan terus menggenggam tangan Aruna. Mereka pun berjalan masuk. Seorang gadis berusia 17 tahunan melihat dari lantai dua dan berteriak.
"Kak Alan..!!" teriak gadis itu.
Gadis itu berlari menuruni tangga dan berlari ke arah Alan dan Aruna.
Grep
Gadis itu langsung berhambur kepelukan Alan hingga Alan melepaskan tangan Aruna dari genggamannya. Aruna pun langsung membulatkan matanya melihat gadis itu memeluk suaminya.
"Aku sangat merindukanmu kak" seru gadis itu dengan sangat senang.
Gadis itu menoleh ke arah Aruna dan melepaskan pelukannya.
"Dia pasti kak Aruna ya?" tanya gadis itu yang dijawab anggukan oleh Alan.
"Iya dia Aruna" ucap Alan kemudian menoleh ke arah Aruna. "Sayang, dia adik tiriku. Namanya Kiara, panggil saja dia Ara".
Aruna dan Ara pun saling berkenalan dan berjabat tangan.
"Kak Alan!!" panggil seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahunan dari arah sana.
Anak itu berlari ke arah mereka dan kini sudah berdiri didepan mereka.
"Jadi dia istri kakak?" tanya anak laki-laki itu menunjuk pada Aruna.
"Iya, dia Aruna. Istri kakak" jawab Alan
Anak itu melihat ke arah Aruna dan mengulurkan tangannya.
"Hei kak, Namaku Aditya. Kakak bisa memanggilku Adit" ucap Adit memperkenalkan diri.
Aruna pun menyambut uluran tangan Adit dan tersenyum padanya. "Aku Aruna"
Ardian pun datang bersama istrinya, Allysa. Mereka menghampiri ke arah empat orang disana. Alan langsung memperkenalkan Aruna pada papinya dan mama tirinya. Ardian pun mengajak mereka untuk duduk dan mengobrol di ruang tengah. Saat sedang asyik mengobrol, seseorang datang bertamu.
Ting Tong
Seorang pembantu kembali membukakan pintu dan menyuruh tamu itu masuk.
"Ara ada bi?" tanya tamu wanita itu.
"Ada non, sedang diruang tengah bersama bapak dan ibu. Mas Alan juga ada disana bersama istrinya" ucap pembantu itu.
Wanita itu melangkahkan kakinya ke ruang tengah dan melihat keluarga itu sedang asyik mengobrol.
"Pagi om, tante..." sapa wanita itu dengan senyum cantiknya.
Mereka langsung menoleh ke arah sumber suara itu.
"Eh ada Fiona, sini ikut duduk" ucap Allysa dan Fiona langsung duduk disofa yang masih kosong. Allysa pun memperkenalkan Fiona pada Aruna.
Aruna menoleh ke arah Alan yang duduk disampingnya. Alan pun melihat ke arah istrinya itu, ia tau Aruna pasti tidak suka melihat kedatangan Fiona disitu.
"Oya Run, mama mau masak. Bantuin yuk?" Ucap Allysa membuat Aruna membulatkan matanya.
"Apa? Me... memasak?" tanya Aruna memastikan.
Alan pun tersenyum geli melihat ekspresi wajah istrinya itu.
__ADS_1
"Aruna pasti capek tante, biar Fio aja yang bantu tante yuk?" ucap Fiona menawarkan diri.
Aruna menatap kesal ke arah Fiona dan mulai membatin."Dia pasti mau cari perhatian. Awas saja kalau berani menggoda suamiku"
"Ehhhh, Aruna juga mau ikut bantu kok ma" ucap Aruna membuat Alan menoleh ke arahnya.
Alan memegang tangan Aruna dan menatap mata istrinya itu.
"Kamu yakin?" tanya Alan merasa tidak yakin pada Aruna.
Aruna mengangguk cepat sambil tersenyum manis.
"Tentu saja aku sangat yakin sayang" jawab Aruna sambil melirik ke arah Fiona.
Ketiga wanita itu pun beranjak bangun dan pergi ke arah dapur, sementara Alan kembali mengobrol bersama papinya dan adik-adik sambungannya.
Ara terus memperhatikan wajah Alan yang nampak gelisah dan beberapa kali melihat ke arah dapur, ia pun seperti paham kegelisahan kakak sambungnya itu. Ara pun pamit dengan alasan ingin membantu memasak didapur.
Ara melangkahkan kakinya ke arah dapur, ia melihat kekesalan di wajah Aruna karena Fiona seperti memegang kendali didapur. Sementara Aruna hanya diam sambil melihat saja.
"Kak Aruna, ikut Ara yuk? ajak Ara
Ara melihat ke arah mamanya. "Ma, Ara ajak kak Aruna ya?, mama udah ada kak Fio yang bantu ini"
"Ya sudah tidak apa-apa, kamu ajak saja kak Aruna" jawab Allysa.
Ara berjalan mendekat ke arah Aruna dan menarik tangannya. Ia membawanya keluar meninggalkan dapur. Fiona melihat ke arah kepergian mereka dan terlihat tidak senang karena Ara begitu mudah akrab dengan Aruna.
Ara mengajak Aruna ke samping rumah, disana ada taman bunga dan banyak sekali bunga-bunga yang tumbuh.
"Kak, bantu Ara menanam bunga yuk?" ajak Ara yang dijawab anggukan oleh Aruna.
"Aruna sangat cantik ya?" ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Alan.
Alan menoleh sebentar ke arah Fiona lalu kembali melihat ke bawah sana.
"Iya, sangat cantik" jawab Alan.
Sementara dibawah sana, Aruna tak sengaja melihat ke atas dan melihat Alan dan Fiona tengah asyik mengobrol. Wajah Aruna seketika menjadi suram.
"Bisa-bisanya, dia mengobrol dengan wanita itu didepanku!" batin Aruna merasa kesal.
Ara melihat Aruna yang nampak terdiam dan kesal, kemudian ia mengarahkan pandangannya ke atas balkon dan melihat Alan dan Fiona tengah mengobrol dan nampak sangat akrab. Ara langsung paham jika Aruna pasti sedang cemburu. Ara berlari ke arah Adit yang sedang bermain bola basket disebelah sana dan membisikkan sesuatu pada adiknya itu. Adit pun manggut-manggut mengerti. Kemudian Ara kembali ke arah Aruna yang disusul oleh Adit dibelakangnya.
"Kak Aruna!" teriak Adit
Aruna membalikkan badannya menghadap ke arah sumber suara itu.
Buukkkkkk
Adit melemparkan bola basketnya tepat dikepala Aruna hingga Aruna jatuh terduduk.
"Auuuwww" Aruna memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Alan dan Fiona pun menoleh ke arah mereka. Alan terlihat panik melihat Aruna terjatuh dan bergegas turun meninggalkan Fiona sendirian. Fiona pun merasa kesal karena Alan mengabaikannya dan sangat memperdulikan istrinya.
Sesampainya dibawah, Alan langsung menghampiri ke arah Aruna dan berjongkok disampingnya.
__ADS_1
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Alan khawatir.
Aruna hanya menggeleng pelan sambil terus memegangi kepalanya yang terasa sakit. Alan bergegas mengangkat tubuh istrinya itu dan membopongnya masuk ke dalam rumah.
Adit berlari kecil ke arah Ara dan mereka saling tersenyum dan mulai tos. Sementara diatas sana Fiona terlihat kesal melihat kemesraan Alan dan Aruna.
πΊπΊπΊ
Malamnya didalam kamar hotel, Aruna masih tampak marah pada Alan karena melihat Alan dan Fiona ngobrol di balkon. Aruna tidur menjauh dari Alan. Alan pun masih tidak mengerti dengan sikap istrinya yang terus mendiamkannya sejak di jalan pulang tadi.
"Sayang kamu kenapa sih?" tanya Alan, ia tau Aruna hanya pura-pura tidur.
"Dasar tidak peka! Aku itu masih kesal karena wanita itu mendekatimu tadi!" batin Aruna.
π΅Du...Du...Du...π΅
Alan meraih ponselnya dan mengangkat telefonnya. Aruna pun membuka matanya dan melihat ke arah Alan yang sedang berbicara serius di telefon.
"Ya ada apa Ren?" tanya Alan.
"Gawat Lan, Eza kabur dari penjara. Kamu dan Aruna harus hati-hati" ucap Reno dari balik sambungan telefon.
"Apa kabur???" Alan bergegas bangun dan duduk.
"Iya dia sekarang jadi buronan, takutnya dia mencari kalian dan mencelakai kalian. Kamu harus menjaga Aruna" ucap Reno
Alan menoleh ke arah Aruna yang juga sedang duduk memandang ke arahnya.
"Pasti... Aku pasti akan menjaganya" ucap Alan tanpa melepaskan pandangannya dari istrinya itu.
Panggilan telefon pun terputus dan Alan kembali meletakkan ponselnya dimeja sebelah ranjang.
"Ada apa? Kenapa wajahmu tegang sekali? Apa ada masalah?" tanya Aruna khawatir.
Alan hanya terdiam sambil terus memandangi wajah istrinya itu. Ia tidak ingin menceritakan apa yang dikatakan Reno tadi dan membuat Aruna merasa cemas.
"Tidak ada apa-apa" jawab Alan. "Kenapa kamu mendiamkanku?" lanjutnya
Aruna kembali teringat kalau ia sedang kesal pada suaminya itu. Ia pun mengarahkan pandangannya lurus kedepan dan memanyunkan bibirnya.
Alan tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya itu. Ia duduk mendekat dan dengan cepat membaringkan tubuh istrinya itu. Kini ia pun sudah berada di atasnya.
"Aku tau, kamu cemburu pada Fiona bukan?" tanya Alan lalu membenamkan wajahnya dileher istrinya dan menciuminya disana.
"Wa.. wanita itu.. terus menggoda..mu.." ucap Aruna sambil menahan rasa geli sekaligus nikmat akibat ulah suaminya itu.
"Biarkan saja..." ucap Alan disela-sela ciumannya dileher istrinya itu.
Aruna hanya bisa menekan bahu suaminya dan merasakan sensasi yang luar biasa dalam tubuhnya akibat ulah suaminya.
πΊπΊπΊ
Sementara itu ditempat lain dikota S. Disebuah rumah kosong nampak seorang pria yang tengah berdiri dengan tatapan marah.
Brakkkk
Pria itu menendang sebuah kursi hingga kursi itu terpelanting dan terjungkal.
"Awas kalian! Aku akan buat perhitungan untuk kalian karena kalian telah menjebloskan aku kepenjara!!" ucap Eza dengan mata penuh amarah.
πππ
__ADS_1