Suami Perjaka Milik Aruna

Suami Perjaka Milik Aruna
Bab 14 : SPMA. Menjaga Aruna.


__ADS_3

Alan membuka pintu kamarnya dan mendapati Aruna yang sudah tidur terlelap di atas ranjang. Dengan pelan Alan melangkah kakinya ke arah ranjang tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Aruna. Alan berjongkok dengan satu kaki dan kini ia bisa melihat dengan jelas wajah Aruna didepannya. Alan menaikan tangannya dan mengusap lembut wajah istrinya itu.


"Aku ingin mengatakannya... Kalau aku mencintaimu. Tapi kamu pasti tidak akan mau menerimaku. Apalagi aku sudah pernah tidur dan melakukannya dengan wanita lain" batin Alan sambil terus mengusap lembut wajah Aruna.


Alan mendekatkan wajahnya dan mencium kening Aruna. Kemudian ia melepaskan ciumannya dan kembali menatap wajah istrinya itu sambil termenung.


Setelah beberapa saat, Alan pun bangun dan ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sekali lagi Alan menoleh ke arah Aruna yang tidur memunggunginya sebelum akhirnya ia ikut terlelap.


Malam merambat ke pagi. Perlahan Aruna membuka matanya dengan pelan. ia bisa merasakan detak jantung seseorang dengan jelas ditelinganya. Aruna langsung membuka lebar matanya dan mendapati dirinya tengah tidur dipelukan Alan.


"Aaaaaaaaaa!!" Aruna menarik dirinya menjauh dari Alan.


Alan yang mendengar teriakkan Aruna pun langsung membuka matanya. Samar-samar ia melihat wajah Aruna yang terlihat kaget dan nampak syok. Aruna sudah duduk disampingnya dengan melihat ke arahnya.


"Kenapa pagi-pagi sudah berteriak? Aku tidak tuli" ujar Alan ikut bangun dan duduk.


"Kamu pasti sengaja kan mengambil kesempatan dalam kesempitan?" tanya Aruna sambil mencari-cari bantal guling pemisah untuk mereka.


Ternyata bantal guling itu jatuh dibawah Aruna. Mungkin semalam Aruna tidur sambil memeluk bantal itu dan tidak sengaja ia menjatuhkannya tanpa sadar.


"Kamu yang datang mendekat ke arahku bukan?" sindir Alan kerena memang Aruna yang telah melewati batas yang ia buat sendiri.


Aruna pun mulai gelagapan.


"A.. aku tidak sadar.. harusnya kamu mendorongku!" ujar Aruna nampak malu dan gugup.


"Kamu memelukku begitu erat, bagaimana aku bisa mendorongmu" ujar Alan beralasan, padahal sebenarnya ia senang karena Aruna tidur sambil memeluknya.


Wajah Aruna pun merona merah karena malu, lalu ia menoleh ke arah kamar mandi.


"Aku akan mandi lebih dulu" ujar Aruna lalu bergegas bangun dan berjalan dengan cepat ke arah kamar mandi.


Alan hanya tersenyum melihat tingkah Aruna yang terlihat begitu menggemaskan saat sedang malu dan gugup.


Kini mereka sudah siap dan sedang berada didalam mobil. Seperti biasa, Alan mengantarkan Aruna lebih dulu ke kantor Reno. Sesampainya disana, Alan memakirkan mobilnya. Aruna langsung turun dari dalam mobil tanpa banyak kata. Ia masih malu karena kejadian tadi pagi saat ia tidur sambil memeluk Alan.


Alan ikut turun dari dalam mobil dan membuat Aruna bingung karena biasanya Alan akan langsung melajukan mobilnya kembali saat Aruna sudah turun dari dalam mobil. Alan berjalan ke arah Aruna.


"Ada apa? Kenapa ikut turun?" tanya Aruna saat Alan sudah berdiri didepannya.


"Aku ada urusan pekerjaan dengan Reno. Jadi aku akan ikut masuk dan naik ke atas" ujar Alan beralasan, padahal ia takut jika Alvin datang lagi dan menemui Aruna. Jadi ia memutuskan untuk menjaga Aruna.


Aruna menatap curiga ke arah Alan, tidak biasanya Alan ada urusan pekerjaan dengan bos nya. Kecuali jika ada urusan pribadi.


Alan segera berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Ia tau Aruna seperti tidak percaya dengan alasan yang ia buat. Aruna yang masih menatap curiga pun akhirnya ikut melangkah dibelakang Alan.

__ADS_1


Sesampainya di lantai atas, Aruna langsung duduk di kursi kerjanya dan Alan pun masuk ke dalam ruangan Reno dan menunggu Reno disana sampai Reno datang.


Waktu berlalu dan sekarang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Alan masih tetap berada di ruangan Reno. Ini sudah kedua kalinya Aruna mengantarkan kopi ke ruang kerja bos nya itu.


Aruna meletakan kopi untuk Alan dan Reno di atas meja. Sementara Alan dan Reno tengah duduk di sofa sambil melihat ke arah Aruna.


"Memangnya kamu tidak ada pekerjaan lain apa selain duduk-duduk santai disini?" tanya sekaligus sindir Aruna pada Alan.


"Tidak. Ada pekerjaan yang lebih penting disini" jawab Alan santai.


Aruna mendengus kesal mendengar jawaban dari Alan. Masalahnya ia jadi tidak fokus kerja dengan keberadaan Alan disitu, ia jadi terus memikirkan Alan. Aruna berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Reno. Sementara Alan tersenyum melihatnya dan Reno hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabat dan sekertarisnya itu.


Aruna tengah duduk di kursi kerjanya dengan pekerjaan yang menumpuk di atas mejanya. Hari ini ia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya gara-gara kehadiran Alan disana.


"Dia benar-benar ingin membuatku dipecat dari pekerjaanku" gumam Aruna.


🎵Du...Du..Du...🎵


Ponsel Aruna berbunyi dan Aruna meraihnya dari atas meja. Ada panggilan masuk dari Alvin disana.


"Pak Alvin..." gumam Aruna lalu ia menggeser tombol hijau.


Aruna tersentak kaget ketika seseorang mengambil ponsel dari tangannya. Ia mengangkat wajahnya dan melihat Alan sudah berdiri di depan meja kerjanya.


Alan yang melihat ada panggilan masuk dari Alvin di ponsel Aruna pun langsung mematikan panggilan telefon itu.


"Kembalikan ponselku!" seru Aruna kesal.


"Ini jam kerja, jadi kamu tidak bisa menggunakan ponselmu!" ucap Alan tanpa memberikan ponsel Aruna.


Aruna bergegas keluar dari meja kerjanya dan berjalan mendekat ke Alan.


"Cepat berikan!" Aruna mengangkat tangan kanannya meminta ponselnya.


"Tidak!!" Alan menaruh tangannya dibelakang badannya.


Karena Alan tidak mau memberikannya, Aruna mencoba mengambil sendiri ponsel itu. Namun Alan terus menghalanginya dengan tubuhnya, hingga kini tubuh dan wajah mereka saling berdekatan. Mereka pun mulai menyadari dan saling bertatapan.


Deg.. deg.. deg...


Jantung mereka terpompa begitu cepat. Alan menatap dalam mata Aruna, begitu pun dengan Aruna. Bibir mereka seakan terkunci dan tidak bisa berkata-kata. Tatapan mata mereka seolah sudah mewakili hati dan perasaan mereka.


"Eehheemm..." Reno datang dan membuyarkan lamunan mereka.


Aruna langsung menjauhkan tubuhnya dari Alan dan mereka terlihat begitu gugup.

__ADS_1


"Run, aku dan Alan akan makan siang. Kamu ikut sekalian ya?" ajak Reno


Aruna sedikit melirik ke arah Alan, kemudian ia menganggukkan kepalanya.


Mereka pun turun ke lantai bawah dan keluar dari pintu utama. Tampak dari jauh, Jessica datang dan berjalan ke arah mereka.


"Pak Alan. Saya terpaksa datang kemari karena bapak tadi pagi bilang sedang berada disini. Saya coba menelfon lagi ke ponsel bapak, tapi sepertinya ponsel bapak tidak aktif jadi saya datang kemari saja. Saya ingin memberi tau kan kalau nanti jam dua, pak Aaron dari Maxim group akan datang untuk menemui bapak" ujar Jessica.


Alan memang sengaja mematikan ponselnya setelah ia tadi menelfon ke Jessica kalau ia ada urusan di kantor Reno.


Karena Jessica sudah ada disana, akhirnya mau tidak mau Alan mengajaknya sekalian untuk makan siang.


Alan bisa melihat kekesalan di wajah Aruna saat melihat Jessica. Alan mulai menyadari jika Aruna memang cemburu melihat kedekatannya dengan Jessica.


Kini mereka sudah berada di sebuah restoran dan sudah memesan makanan. Tak lama makanan pun datang dan mereka mulai menyantapnya. Situasi terasa begitu canggung apalagi Aruna tidak berbicara sepatah katapun dan terus terdiam sejak kedatangan Jessica.


Jessica menyadari jika Alan yang duduk disebelahnya terus memperhatikan Aruna yang duduk didepan Jessica. Jessica merasa cemburu dan tidak suka melihatnya. Ia pun meminta ijin pergi ke toilet. Jessica bangun dari duduknya lalu ia memegangi kepalanya dan berpura-pura pusing. Jessica menjatuhkan dirinya di pangkuan Alan sambil memegangi kepalanya.


Alan pun terlihat kaget karena tiba-tiba Jessica jatuh di pangkuannya.


"Maaf pak, saya tidak sengaja. Kepala saya tiba-tiba pusing sekali" bohong Jessica.


Hati dan jantung Aruna seperti meledak-ledak melihat pemandangan didepannya itu. Ia pun langsung menggeser kursi dan berdiri. Aruna menoleh ke arah Reno.


"Saya akan menunggu bapak di parkiran mobil" ucap Aruna pada Reno lalu menatap kembali ke arah Alan yang juga sedang menatapnya.


Aruna melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari dalam restoran. Alan yang melihat kepergian Aruna langsung mendorong tubuh Jessica untuk bangun dari pangkuannya dan hendak menyusul Aruna.


Aruna terus melangkahkan kakinya dan tanpa sadar ia menabrak seseorang hingga membuatnya kehilangan keseimbangan.


Dengan sigap pria yang ditabraknya itu menangkap tubuh Aruna, pria itu melingkarkan tangannya dipinggang Aruna hingga gadis itu tidak terjatuh.


"Pak Alvin... " ucap Aruna saat melihat ternyata Alvin yang berada didepannya dan menolongnya.


Alvin hanya terdiam dan terus memandangi wajah cantik Aruna. Ia benar-benar tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Aruna walaupun sekarang ia tau kalau gadis itu sudah menikah dan memiliki suami.


Alan datang dan menarik tangan Aruna dengan cepat hingga membuat Alvin kaget dan melepaskan tangannya dari pinggang Aruna. Kini giliran Alan yang cemburu melihat kedekatan Aruna dan Alvin.


Kedua pria itu kini saling menatap tajam didepan gadis yang mereka cintai. Aruna pun bisa merasakan ketegangan diantara mereka.


"Kali ini aku akan egois. Aku akan merebut Aruna dari sisimu" batin Alvin sambil melirik ke arah Aruna.


Alvin kembali menatap Alan sebentar sebelum akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran. Sementara Alan masih nampak terdiam dan termenung tanpa melepaskan tangan Aruna dari genggamannya. Alan bisa melihat jika Alvin juga mencintai Aruna.


"Aku ingin membuatmu untuk tetap berada disisiku. Tapi, apakah aku bisa melakukannya?" batin Alan sambil melihat ke arah Aruna yang berdiri disampingnya.

__ADS_1


💞💞💞


Silahkan masukan sebagai favorit dan jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan bintang 5 nya 🥰🙏


__ADS_2