Suami Perjaka Milik Aruna

Suami Perjaka Milik Aruna
Bab 13 : SPMA. Cenayang.


__ADS_3

Alan tengah duduk termenung di kursi kerjanya. Ia kembali teringat saat-saat kemarin bersama Aruna di rumah mommy nya. Ia menyadari Kalau ia sudah jatuh cinta pada istrinya itu. Alan sangat menyesal karena waktu itu menerima ajakan Reno untuk ikut ke club hingga ia mabuk dan menghabiskan malamnya dengan seorang wanita yang ia tidak kenal.


Ceklekkk


Pintu ruangan kerja Alan terbuka. Disana Reno sudah berdiri dan melihat ke arah Alan yang belum menyadari ke datangannya. Reno menutup pintu itu kembali dan berjalan mendekat ke arah meja kerja Alan.


"Ehemmmm" Reno berdehem untuk membuyarkan lamunan Alan.


Alan yang terkejut pun menoleh ke arah Reno.


"Kapan kamu datang? Aku tak mendengarnya" ujar Alan saat melihat Reno sudah berdiri di depan meja kerjanya.


"Kamu asyik melamun, bagaimana bisa tau aku datang" ujar Reno menyindir Alan.


Alan mengusap wajahnya. "Maaf, aku hanya sedang memikirkan sesuatu"


"Aruna???" tebak Reno yang seakan tau apa yang sedang dipikirkan oleh temannya itu.


Reno berjalan ke arah sofa dan duduk disana. Alan bangun dari kursi kerjanya dan berjalan ke arah Reno lalu ikut duduk di sofa.


"Jadi masalahnya apa sekarang? Kamu mulai suka ya pada Aruna?" goda Reno sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Alan mengambil nafas panjang lalu menyenderkan tubuhnya di punggung sofa.


"Entahlah...." jawab Alan seperti tidak bersemangat.


"Hei bro... Kalau suka ya tinggal bilang aja. Lagi pula kalian kan suami istri. Masalah perjanjian kontrak itu kan kalian yang bikin. Tapi dimata hukum dan negara kalian tetap suami istri yang sah" ujar Reno panjang lebar.


"Tidak semudah itu... Aruna sudah mengecap aku sebagai pria yang sudah tidak perjaka. Dia tidak akan mau menerimaku semudah itu" ujar Alan nampak putus asa.


"Memangnya apa yang terjadi malam itu di hotel? Kamu beneran tidak mengingat apapun?" tanya Reno membuat Alan menoleh ke arahnya dan kembali mengingat kejadian malam itu.


Alan menggeleng pelan. "Tidak.. saat aku bangun, kepalaku masih terasa sedikit pusing dan wanita itu sudah tidur disampingku"


Mereka pun nampak terdiam dan mulai berfikir dengan pikiran mereka masing-masing.


"Kalau begitu ayo kita cari wanita itu untuk mengetahui apa yang sudah terjadi malam itu! Apa kalian benar-benar melakukannya atau tidak" ajak Reno bersemangat.


"Mau mencari kemana? Lagi pula aku tidak begitu mengingat wajahnya" jawab Alan.


Reno melihat wajah Alan yang nampak tidak begitu bersemangat dan putus asa. Lalu ia pun bangun dan menarik tangan Alan untuk ikut dengannya. Alan mencoba menanyakan perihal Reno akan membawanya kemana namun Reno tidak menjawabnya.


Sesampainya di parkiran mobil, Alan akhirnya ikut naik kedalam mobil Reno. Mobil itu pergi meninggalkan area kantor dan melaju menuju suatu tempat. Hampir satu jam mereka menempuh perjalanan, akhirnya mobil terhenti didepan sebuah rumah yang tidak begitu besar namun nampak asri.


Reno dan Alan turun dari dalam mobil. Kini mereka tengah berdiri bersebelahan sambil menatap ke arah rumah itu.

__ADS_1


"Ini adalah rumahnya... Namanya Mbah Marjan. Dia paranormal paling kondang di kota ini" ucap Reno membuat Alan menoleh ke arahnya.


"Mbah Marjan? Dia paranormal atau penjual sirup?" tanya Alan membuat Reno menyikut lengan Alan.


"Husss.. jangan bicara sembarangan. Nanti dia dengar" ujar Reno mengingatkan.


Pintu rumah itu terbuka, Alan dan Reno menatap lurus ke depan dan melihat seorang pria berusia sekitar 50 tahunan lebih keluar dari dalam rumah itu. Pria itu bertubuh tinggi namun badannya tidak terlalu berisi. Rambutnya gondrong dan diikat kebelakang. Ia menggunakan jubah serba hitam. Pria itu menatap ke arah Alan dan Reno.


"Silahkan masuk" ucap pria itu lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah kembali.


Alan dan Reno saling menoleh dan kemudian mengikuti masuk ke dalam drumah. Mereka kini sudah duduk di sofa, Alan dan Reno duduk bersebelahan menghadap ke arah pria bernama Mbah Marjan itu.


"Jadi apa maksud kedatangan kalian kemari?" tanya Mbah Marjan.


"Saya kemari mengantarkan teman saya ini mbah" ujar Reno menoleh ke arah Alan.


Mbah Marjan pun ikut melihat ke arah Alan. Dengan ragu-ragu Alan akhirnya mulai berbicara.


"Jadi begini Mbah... Saya ingin tau, saya ini masih perjaka atau tidak?" tanya Alan.


"Kamu sudah menikah?" tanya Mbah Marjan.


"Sudah Mbah" jawab Alan mengangguk.


"Kalau sudah menikah, kenapa kamu bertanya masih perjaka atau tidak?" ucap Mbah Marjan.


Reno pun meminta Mbah Marjan untuk membantu temannya itu menerawangkan kejadian malam itu didalam hotel.


Mbah Marjan mulai menutup matanya seolah sedang menerawang jauh pada kejadian malam itu. Reno dan Alan menatap fokus ke arah Mbah Marjan.


Tak berselang lama Mbah Marjan membuka kembali matanya, membuat Reno dan Alan tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh Mbah Marjan dengan hasil penerawangannya.


"Bagaimana Mbah?" tanya Reno yang sudah tidak sabar ingin mengetahui, sementara Alan nampak begitu gugup.


Mbah Marjan menatap ke arah Alan. "Saya tidak akan menjelaskan secara gamblang. Tapi kamu akan segera mengetahui sendiri jawabannya"


"Hanya itu saja Mbah?" tanya Reno yang seperti tidak puas dengan jawaban Mbah Marjan.


"Ya... Dan sekarang kalian bisa pulang" ujar Mbah Marjan.


Reno dan Alan akhirnya pamit pergi dari rumah Mbah Marjan walaupun Reno masih penasaran dengan jawaban lain dari Mbah Marjan. Sementara Alan hanya terdiam dan mulai takut untuk mengetahui kebenarannya.


Mobil pun melaju pergi kembali ke kantor Alan karena tadi Alan ikut mobil Reno dan tidak membawa mobil sendiri. Alan melihat ke arah jam tangannya dan sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Alan pun berfikir untuk menjemput Aruna saja sekalian ke kantor Reno. Alan menaiki mobilnya dan mengikuti mobil Reno dari belakang menuju ke arah kantor Reno.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Aruna keluar dari pintu utama dan melihat Alvin yang sudah menunggunya didepan sana.


"Maaf ya pak karena tempo hari saya tidak jadi pergi bersama bapak" ucap Aruna.


"Tidak apa-apa Aruna. Kita bisa pergi lain waktu. Ayo saya antar kamu pulang" ajak Reno dan Aruna pun menganggukkan kepalanya.


Mereka hendak melangkahkan kakinya ketika mobil Reno datang dan diikuti oleh mobil Alan dibelakangnya.


Reno turun dari dalam mobil dan berjalan ke arah Aruna dan Alvin.


"Pak Alvin? Tumben sekali datang kemari? Apa ada urusan pekerjaan yang harus kita bicarakan?" tanya Reno.


"Tidak pak Reno. Saya kemari bukan untuk membahas masalah pekerjaan, tapi untuk menjemput Aruna" jawab Alvin.


Bersamaan dengan itu Alan datang ke arah mereka. Aruna pun menatap ke arah Alan yang sedang menatap tajam ke arahnya. Alan yang mendengar pria itu datang untuk menjemput Aruna pun terlihat begitu kesal. Ia meraih pergelangan tangan Aruna.


"Ayo kita pulang" ajak Alan sambil menahan rasa kesalnya.


"Tidak mau! Aku sudah menyuruhmu untuk tidak datang menjemputku lagi. Kenapa kamu tetap datang?" Aruna mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Alan namun Alan tetap tidak melepaskannya.


"Lepaskan tangannya! Anda jangan kasar dengan wanita" ucap Alvin mencoba membantu Aruna.


Alan mengarahkan pandangannya ke arah Alvin dan menatapnya dengan tajam.


"Anda jangan ikut campur. Dia istri saya, jadi dia hanya akan pulang bersama saya" tegas Alan lalu menarik tangan Aruna dan membawanya ke arah mobilnya.


Alan membuka pintu mobil dan mendorong Aruna untuk masuk, lalu ia ikut masuk dan melajukan mobilnya pergi meninggalkan area kantor Reno.


Sementara Alvin masih berdiri disana bersama Reno sambil memandangi kepergian mobil Alan. Alvin masih tampak syok mendengar Alan tadi mengatakan jika Aruna adalah istrinya. Selama ini Aruna tidak pernah bercerita kalau dia sudah menikah dan memiliki seorang suami. Alvin pun memang tidak pernah menanyakannya juga.


Sesampainya di apartement, Aruna melihat ke arah Alan dengan tatapan kesal. Alan pun masih terlihat kesal karena tadi Aruna menemui pria lain dan hendak pulang dengan pria itu.


"Kita sudah buat kesepakatan untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Jadi kamu tidak bisa melarangku untuk pergi dengan siapapun!" ucap Aruna kesal.


Alan menarik nafas panjang, berusaha untuk mengontrol emosinya.


"Bagaimana kalau ada yang melihatmu? Orang tua mu atau mommy ku? Bagaimana kalau mereka melihatmu keluar dengan pria lain di luar sana? Apa yang akan mereka pikirkan?" ucap Alan membuat Aruna berfikir jika yang dikatakan Alan memang ada benarnya juga.


"Tapi terserah, jika kamu tetap ingin menemuinya dan pergi dengannya. Aku tidak akan melarangmu!" ujar Alan lalu berlalu pergi dan masuk ke dalam kamar.


Aruna menatap ke arah kepergian Alan dengan tatapan sendu. Ia hanya takut perasaannya semakin dalam pada Alan hingga ia ingin menghindarinya dengan pergi bersama Alvin. Sementara Aruna sendiri tidak tau bagaimana perasaan Alan terhadapnya. Apalagi jika mengingat Alan yang pernah tidur dengan wanita lain dan mungkin sekarang Alan juga sedang menjalin hubungan dengan sekertarisnya. Mengingat semua itu membuat hati Aruna terasa sakit dan ingin menghindar dari Alan untuk melupakan perasaannya.


Tak terasa air mata menetes di pipi mulus Aruna. Walaupun Alan adalah suaminya tapi kenapa ia seperti tidak bisa untuk memilikinya.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž

__ADS_1


Silahkan masukan sebagai favorit dan jangan lupa beri like, komen, vote, hadiah dan bintang 5 nya πŸ™πŸ€—


__ADS_2