Suami Perjaka Milik Aruna

Suami Perjaka Milik Aruna
Bab 27 : SPMA. Syarat jadi menantu Mommy Ros.


__ADS_3

Sudah 3 hari berlalu sejak hari dimana Alan dan Aruna tidak tinggal bersama lagi. Sejak saat itu juga Aruna tidak masuk kantor. Ia sempat menelfon Reno dan meminta ijin tidak masuk kerja dengan alasan sedang tidak enak badan.


Hari ini Reno sengaja berkunjung ke kantor Alan untuk menanyakan kondisi Aruna. Reno memang belum tau jika mereka sudah tidak tinggal satu atap lagi.


"Permisi pak, ada pak Reno didepan" ucap Jessica saat sudah membuka pintu ruangan bosnya itu.


"Biarkan dia masuk" ucap Alan lalu beranjak bangun dari kursinya untuk menyambut kedatangan Reno.


Reno pun masuk ke dalam dan pintu pun kembali ditutup oleh Jessica. Alan langsung mempersilahkan Reno untuk duduk. Mereka pun berjalan ke arah sofa dan duduk disana.


"Oya Lan, gimana keadaan Aruna? udah mendingan? Memangnya dia sakit apa?" tanya Reno langsung pada intinya.


"Apa? Aruna sakit???" Alan nampak kaget mendengar Aruna sedang sakit. Karena memang sejak malam itu ia tidak pernah menghubungi istrinya itu.


"Loh kamu gimana sih? Kamu kan suaminya" ucap Reno menatap heran ke arah Alan. Reno yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara Alan dan Aruna.


"Aku sudah tidak tinggal bersama Aruna lagi" ucap Alan tertunduk.


"Tidak tinggal bersama lagi?" Reno nampak kaget mendengar ucapan Alan. ia mendekatkan tubuhnya dan menatap Alan dengan seksama.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Reno


Alan masih diam tertunduk dan tidak menjawab pertanyaan Reno. Ia sendiri sebenarnya tidak fokus bekerja beberapa hari ini karena terus memikirkan Aruna.


Alan mengangkat wajahnya dan kembali menatap Reno. "aku dan Aruna akan bercerai"


Reno nampak kaget dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alan barusan.


"Bercerai? Tapi kenapa??" tanya Reno


"Wanita itu namanya Nadia, dia sedang mengandung anakku Ren. Dia datang kemari dan meminta pertanggung jawabanku" jawab Alan.


"Lalu kamu percaya kalau dia hamil anak kamu??" tanya Reno yang mulai kesal mendengar cerita Alan.


"Aku harus bagaimana? Aku pernah tidur dengannya. Dan sekarang dia meminta pertanggung jawabanku" ucap Alan.


"Lan..! bisa jadi anak yang dikandungnya itu bukan anak kamu! Harusnya kamu tidak mengambil keputusan gegabah dengan menceraikan Aruna dan berniat menikahi wanita itu!!" kesal Reno mulai meninggikan suaranya.


Alan hanya terdiam mendengar kekesalan sahabatnya itu. Ia memang benar-benar frustasi sehingga tidak tau harus berbuat apa lagi. Walaupun ia sendiri belum mendaftarkan gugatan cerainya. Ia masih berharap Arunalah yang akan menjadi istrinya satu-satunya.


"Lan, ayo kita cari tau kebenarannya. Sebelum kamu menyesal" ajak Reno mulai menurunkan nada suaranya.


Alan menatap ke arah Reno.


"Cari tau kemana? Mba Marjan lagi?" tanya Alan karena Reno biasanya menyarankan hal-hal seperti itu.


"Bukan Lan, kita ikuti wanita itu dan cari tau siapa dia. Apa benar dia wanita malam atau bukan" ucap Reno.


Alan pun nampak berfikir dan akhirnya menyetujui saran dari Reno


"Baiklah aku setuju. Tapi hari ini aku akan mengajak Nadia bertemu dengan mommy. Mommy bilang ingin menemuinya. Lagi pula Nadia setiap hari juga datang kemari dan memintaku untuk segera menikahinya" ujar Alan yang sebenarnya sudah malas karena Nadia terus menekannya untuk segera menikahinya.


"Ya sudah, kamu pertemukan saja mereka. Biasanya insting seorang ibu tidak pernah salah" ucap Reno

__ADS_1


Disela-sela obrolan mereka, seseorang membuka pintu dan menerobos masuk.


Kreekkkk


Alan dan Reno langsung menoleh ke arah pintu. Alan langsung berdiri melihat wanita yang sedang berjalan mendekat ke arahnya itu.


"Siapa yang menyuruhmu masuk tanpa ijin ke ruanganku?!" seru Alan dengan wajah kesal saat melihat Nadia yang datang.


"Aku datang untuk meminta kepastianmu" ucap Nadia menghentikan langkahnya.


"Kepastian apa? Aku ingin memastikan dulu bahwa anak yang kamu kandung itu adalah benar anakku atau bukan" tegas Alan


"Cih, kamu meragukanku?" tanya Nadia.


"Ya!!" jawab Alan.


Mereka pun nampak terdiam sejenak.


"Nanti sore aku akan menjemputmu, tinggalkan nomor telefon dan alamatmu pada sekertarisku didepan. Sekarang kamu bisa keluar dari ruanganku" ucap Alan.


Nadia terlihat kesal karena Alan secara tidak langsung telah mengusirnya. Ia menoleh ke arah Reno dengan sinis sebelum akhirnya keluar dari ruangan Alan.


Alan mengusap wajahnya dengan kasar setelah Nadia keluar. Ia akan mengikuti saran dari Reno untuk mencari tau dulu tentang siapa Nadia. Ia tidak mau menyesali keputusannya nanti jika ia sampai benar-benar menikahi wanita itu dan meninggalkan Aruna.


Menjelang petang, Alan menjemput Nadia di rumahnya. ia membawa wanita itu kerumahnya untuk bertemu dengan mommynya. Kini mereka sudah duduk disofa dan masih nampak terdiam. Mommy Ros menyuruh Alan untuk naik kekamarnya dan mandi. Ia ingin bicara berdua saja dengan Nadia. Alan menuruti dan meninggalkan mereka berdua diruang tamu.


"Jadi kamu wanita yang sedang mengandung anak dari putra saya?" tanya mommy Ros menatap tajam ke arah Nadia.


"Iya tante... saya sedang mengandung anak dari Alandra" ucap Nadia mencoba bersikap sopan dan ramah.


"Wanita seperti apa kamu yang suka nongkrong di club" sindir mommy Ros yang sudah mendengar cerita dari Alan tentang pertemuannya dengan Nadia di dalam club malam itu.


Deg!!


Nadia pun nampak gelagapan dan bingung untuk menjawab pertanyaan mommy Ros.


"Saya waktu itu juga tidak sengaja berada disana tante. Saya hanya sedang menemani teman saya saja disana" bohong Nadia


"Kamu sudah tau Alandra waktu itu sedang mabuk, lalu kenapa kamu sengaja menjebaknya dengan membawanya ke hotel dan tidur dengannya. Jika kamu wanita baik-baik, kamu pastinya tidak akan melakukan hal itu bukan?!" mommy Ros kembali menyerang Nadia dengan sindirannya.


"Tante! saya hanya membantu Alandra untuk pulang. Tapi saya tidak tau alamatnya jadi saya membawa Alandra ke hotel. Saat dikamar hotel, Alandra lah yang sudah memaksa saya untuk melayaninya" bela Nadia tak mau kalah.


"Cukup!!! saya tau wanita seperti apa kamu" ucap mommy Ros penuh penekanan.


"Sekarang kamu pergi ke dapur dan siapkan makanan untuk makan malam!" perintah mommy Ros


"Tapi tante...."


"Syarat jadi menantu saya harus bisa memasak. Kenapa? apa kamu tidak bisa memasak?" sindir mommy Ros.


Nadia menatap kesal ke arah mommy Ros.


"Baik tante, saya akan memasak..." jawab Nadia pasrah.

__ADS_1


"Kalau bukan demi mendapatkan Alandra, udah aku jambak nih rambut nenek lampir" batin Nadia kesal.


Mommy Ros memang sengaja memberi tantangan pada Nadia. Padahal ia tau jika Aruna pun sebenarnya tidak bisa memasak. Tapi ia sengaja ingin mengerjai Nadia. Ia tidak rela jika Nadia menggeser posisi Aruna sebagai istrinya Alan. walaupun wanita itu mengaku sedang hamil anaknya Alan.


Mommy Ros bangun dari duduknya dan mengantarkan Nadia ke arah dapur.


Dikediaman keluarga Handoyo...


Aruna sudah nampak bosan setelah 3 hari ini ia terus mengurung diri didalam kamarnya. Bahkan ia juga belum ingin bercerita pada kedua orangtuanya tentang masalahnya dengan Alan.


"Pak.. Bu.. Aruna mau ijin keluar untuk jalan-jalan sebentar ya?" ucap Aruna saat melihat kedua orangtuanya yang sedang duduk santai di ruang tengah.


Ratih bangun dan menghampiri putrinya itu. Ia berdiri disamping Aruna dan mengusap-usap bahunya.


"Ini sudah malam, kamu mau kemana?" tanya Ratih dengan nada lembut.


"Cuma mau cari angin kok Bu" jawab Aruna pelan


"Memangnya Alandra belum pulang dari luar kota Run?" tanya Ratih lagi


Aruna menoleh ke arah ibunya. "Kita jangan bahas masalah ini dulu ya Bu?"


Ratih terdiam, kemudian ia menoleh ke arah suaminya yang sedang duduk disofa. Pak Umar pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah tapi kamu diantar supir ya? Trus pulangnya juga jangan malam-malam" ucap Ratih


Aruna menganggukkan kepalanya, kemudian ia berjalan meninggalkan ruang tengah. Ratih menatapi kepergian putrinya itu, lalu ia kembali duduk disamping suaminya.


"Ibu semakin yakin kalau ada apa-apa pak" ucap Ratih merasa khawatir


Pak Umar hanya nampak terdiam dan tidak menjawab ucapan istrinya itu. Ia juga merasakan hal yang sama seperti istrinya. Pasti Aruna dan Alan sedang ada masalah.


Sementara itu Aruna dengan diantar oleh supirnya tengah mengelilingi kota malam itu. Aruna sendiri tidak punya tujuan mau pergi kemana. Ia hanya menyuruh supirnya untuk melajukan mobilnya tanpa tau kemana tujuannya.


Seeettttt...


Mobil itu tiba-tiba berhenti disuatu tempat.


"Kenapa pak?" tanya Aruna yang duduk di jok belakang.


"Sepertinya mobilnya mogok non, sebentar saya periksa dulu ya non" ucap supir itu kemudian bergegas turun dari dalam mobil.


Aruna kembali menyenderkan tubuhnya pada jok mobil. Ia melihat keluar dari kaca mobil. Ia pun tertegun melihat tempat ia berada sekarang. Itu adalah tempat pertemuan pertamanya dengan Alan malam itu.


Perlahan Aruna membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil. Mata Aruna terus menjelajahi setiap sudut tempat itu. Ia kembali teringat akan malam itu saat ia bertemu dengan Alan.


Aruna berjalan menyebrang ke arah sana, dimana malam itu taxi yang dinaiki oleh Alan hampir menabraknya. Aruna berdiri mematung, perlahan air matanya kembali menetes diwajah cantiknya. Ia kembali teringat akan suaminya itu dan sangat merindukannya.


"Apa kamu tidak merindukanku? hiks...hiks..." batin Aruna sambil menundukkan kepalanya merasakan sakit yang teramat sakit didalam hatinya.


Seseorang memegang pundaknya dari arah belakang. Aruna langsung mendongakkan kepalanya.


"Alandra...." lirih Aruna.

__ADS_1


💞💞💞


__ADS_2