
Alan membuka pintu kamarnya ketika ia mendengar suara keributan dibawah sana. Dilangkahkannya kakinya menuju ke arah tangga dan ia melihat mommynya bersama Nadia berjalan pergi keluar rumah. Alan menghela nafas panjang kemudian hendak membalikkan badannya kembali. Namun ia kembali menoleh ke bawah karena mendengar suara keributan kecil dari arah dapur. Ia pun berjalan menuruni tangga.
Alan melangkahkan kakinya pelan. kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. Dari jauh ia melihat wanita yang sangat ia cintai sedang berupaya menyalakan kompor. Alan tersenyum manis dan Ia pun hanya memandanginya dari arah pintu.
"Siapa yang ingin kamu racuni?" tanya Alan sambil berjalan mendekat saat melihat Aruna hendak memasukkan garam ke dalam panci bubur.
Aruna tersentak kaget mendengar suara Alan. Perlahan ia membalikkan badannya dan melihat Alan sudah berdiri tak jauh darinya. Aruna hanya berdiri mematung melihat pria yang sangat ia rindukan itu.
Alan kembali tersenyum dan berjalan mendekati gadis itu. Kini ia berdiri tepat dihadapan gadis itu. Mata Aruna mulai berkaca-kaca. Ia merasa senang melihat pria itu baik-baik saja. Aruna berhambur kepelukan Alan dan langsung dibalas pelukannya oleh Alan.
"Aku sangat khawatir, aku pikir kamu kenapa-kenapa hiks..hiks..." Isak Aruna dalam pelukan Alan.
Alan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aruna. Dihapusnya air matanya diwajah cantiknya.
"Aku baik-baik saja" ucap Alan
Alan menoleh ke arah bubur yang sedang dimasak oleh Aruna. Ia membantu Aruna memasak bubur itu. Ia mengambil tempat garam dan memasukkan sedikit garam kesana lalu kembali mengaduk-aduk bubur itu.
"Apa kamu benar-benar ingin membunuhku dengan memasukkan semua garam itu?" ledek Alan sambil terus mengaduk buburnya.
"A.. aku tidak tau bagaimana caranya" jawab Aruna gugup
Alan segera mematikan kompor saat bubur itu sudah matang. Ia kembali menghadap ke arah Aruna yang berdiri tak jauh disampingnya.
"Bagaimana kamu bisa disini?" tanya Alan.
Aruna memegangi wajah Alan dan menatap matanya.
"Tadi pak Reno memberi tauku kalau kamu mengalami kecelakaan. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Aruna dengan tatapan khawatir.
Alan hanya terdiam sambil memandangi wajah gadis didepannya itu. Ia tidak ingin menceritakan kejadian semalam dan membuat Aruna semakin khawatir. Alanpun meraih kedua tangan Aruna dan menggenggamnya erat. ia menempelkan keningnya dikening gadis itu.
"Tidak apa-apa, aku yang sedikit ceroboh karena terlalu merindukanmu hingga mobilku menabrak pembatas jalan. percayalah, aku sungguh baik-baik saja" jawab Alan sambil mengusap lembut pipi Aruna.
Aruna langsung percaya karena ia juga tidak melihat ada luka serius diwajah atau tubuh Alan.
"Kalau begitu, kamu tunggu saja dikamar. Aku akan menyiapkan buburnya untukmu" ucap Aruna
"Baiklah" jawab Alan melepaskan tangan gadis itu, lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari dapur.
Aruna mengelus dadanya, setelah beberapa hari tidak bertemu kenapa sekarang ia menjadi gugup saat melihat pria itu. Aruna segera mengambil mangkuk dan mengisinya dengan bubur, kemudian ia membawanya kekamar Alan. Aruna membuka pintu kamar Alan yang memang sengaja tidak ditutup rapat oleh Alan.
"Ini makanlah" Aruna menyodorkan mangkuk berisi bubur pada Alan yang sedang duduk disofa.
"Aku tidak yakin dengan rasanya, siapa tau kamu menyampurkan racun kedalamnya" ucap Alan membuat wajah Aruna berubah kesal.
"Yang benar saja! Bagaimana mungkin kamu berfikir aku akan meracunimu Alandra!!" kesal Aruna.
Aruna duduk disamping Alan dan menaruh mangkuk itu dimeja. Ia menyendok sedikit untuk mencicipinya.
"Kalau kamu tidak percaya, aku akan mencobanya lebih dulu" Aruna membuka mulutnya dan memakan bubur itu.
Alan tersenyum melihat Aruna memakan bubur itu.
"Kalau begitu aku akan mencobanya juga, tapi dari mulutmu" ucap Alan
Alan mendekatkan wajahnya dan langsung menempelkan bibirnya di bibir Aruna. Ia menyapu lembut bibir Aruna sebentar. Aruna membulatkan matanya karena perlakuan Alan. Alan kembali menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Aruna yang terlihat kaget karena ia menciumnya barusan.
__ADS_1
"Rasanya manis" ucap Alan sambil mengusap bibirnya sendiri.
Plakkkk!!
Aruna menabok lengan Alan dan menatapnya kesal.
"Auww sakit" ucap Alan sambil memegangi lengannya.
"Bisa-bisanya kamu mengambil kesempatan dalam kesempatan" kesal Aruna
"Tapi kamu menikmatinya bukan?" goda Alan
"Alandra!!"
Cup...
Alan kembali mendaratkan bibirnya dibibir Aruna. Karena tidak ada penolakan dari Aruna, Alan pun semakin memperdalam ciumannya dibibir gadis itu.
"Hhhmmppppp" Aruna hanya bisa mendesah pelan.
Mereka pun saling gugup namun rasa rindu mengalahkan kegugupan dalam diri mereka. Alan melepaskan ciumannya sebentar untuk memberi nafas pada mereka. Kemudian ia kembali mencium bibir ranum Aruna. Aruna sangat menikmati perlakuan Alan dan mulai membalas ciumannya.
Setelah cukup lama berciuman bibir, perlahan Alan mulai menurunkan ciumannya ke leher Aruna dan meninggalkan tanda merah disana. Aruna hanya bisa memejamkan matanya dan mendesah lembut akibat ulah Alan.
"Aaahhhhh" desah Aruna.
Terdengar suara panggilan dari jauh.
"Om Alan... Om Alan..." Teriak Theo sambil berlari menaiki tangga.
"Om Alan kita main yuk" ajak Theo dari ambang pintu.
Aruna nampak gugup dan malu karena hampir saja kepergok oleh Theo.
"A.. aku akan turun ke bawah" ucap Aruna gugup.
Aruna bergegas bangun dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Alan. Ia berjalan melewati Theo tanpa menoleh pada anak itu karena merasa malu.
"Tante Aruna kenapa om?" tanya Theo karena Aruna langsung pergi keluar tanpa menoleh ke arahnya dan tidak menyapanya.
"Gak apa-apa, kita turun yuk" ajak Alan.
Alan segera bangun dan berjalan ke arah Theo. Sementara itu dilantai bawah, Mommy Ros dan Nadia baru saja pulang. Mereka berpapasan dengan Aruna yang baru saja menuruni tangga sambil merapikan kemeja dan rambutnya.
"Ehh.. mommy sudah pulang?" tanya Aruna yang masih nampak seperti orang linglung.
Mommy Ros langsung menduga pasti Aruna dari kamar Alan. Ditambah lagi ia melihat tanda merah dileher menantunya itu, mommy Ros langsung tersenyum puas.
"Tidak sia-sia aku meninggalkan mereka berdua dirumah" batin mommy Ros terkekeh.
Nadia yang juga melihat tanda merah dileher Aruna pun sangat kesal. Sementara Aruna sendiri belum menyadari tanda yang dibuat Alan tadi.
"Aruna! Ini kamu yang masak. Aku udah capek muter-muter belanja bahan makanan" perintah Nadia sambil menyodorkan tentengan plastik ditangannya.
"Loh ini kan tugas kamu Nadia. Aruna kan sudah memasakkan bubur untuk Alandra" bela mommy Ros.
"Tapi saya kan capek tante. Saya kan sedang hamil muda. Jadi biar Aruna saja yang masak, secara dia sedang tidak hamil ini" rengek Nadia.
__ADS_1
"Bagaimana mau hamil, disentuh saja nggak" batin mommy Ros.
"Sudah.. sudah.. Ayo kamu ikut saya ke dapur" mommy Ros menarik tangan Nadia agar tidak terus protes.
Nadia menoleh ke arah Aruna dengan kesal karena secara tidak langsung mommy Ros terus membela Aruna dari tadi. Sementara Aruna tersenyum saat mengingat kejadian didalam kamar Alan tadi.
Waktu terus berjalan, malam pun tiba. Aruna dan Nadia pamit untuk pulang. Alan berniat untuk mengantarkan Aruna pulang, namun Nadia juga minta diantar pulang oleh Alan. Akhirnya Aruna memutuskan Alan tidak akan mengantarkan siapapun. Aruna dan Nadia akan pulang naik taxi saja. Nadia sempat keberatan dan protes, namun Aruna beralasan jika Alan sedang sakit jadi harus banyak istirahat dan tidak boleh pergi keluar rumah. Akhirnya dengan terpaksa Nadia ikut naik taxi bersama dengan Aruna.
Kini Aruna dan Nadia sedang duduk didalam taxi dan saling diam.
π΅La..la...la....π΅
Ponsel Nadia berdering, Nadia segera mengambilnya dari dalam tas. Nadia melirik ke arah Aruna yang duduk disampingnya saat melihat siapa yang menelfonnya.
"Eza? Ngapain dia nelfon? Kalau aku angkat, Aruna bisa curiga. Sebaiknya aku abaikan saja" Nadia menggeser tombol merah dan segera menonaktifkan ponselnya.
Beberapa menit kemudian, taxi itu berhenti di depan rumah Nadia.
"Aku ingatkan kamu ya Run, sebaiknya kamu jangan menemui Alandra lagi. Agar Alandra secepatnya mengurus perceraian kalian" ucap Nadia.
Aruna hanya terdiam dan tidak menjawab ucapan Nadia, ia sedang malas berdebat untuk saat ini. Nadia pun bergegas turun dari dalam taxi. Kemudian taxi itu kembali melaju pergi untuk mengantarkan Aruna.
Nadia berjalan ke arah rumahnya dan hendak membuka pintu ketika sebuah mobil datang kehalaman rumahnya yang tidak terlalu luas itu. Nadia menoleh ke arah mobil dan melihat seorang pria turun dari mobil. Pria itu berjalan mendekat ke arah Nadia.
"Aku menelfonmu berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Malah ponselmu mati" ujar pria itu.
"Maaf tadi aku sedang bersama dengan Aruna jadi aku sengaja mematikan ponselku" jawab Nadia
"Aruna? Bagaimana bisa kamu pergi dengannya?" tanya pria itu yang ternyata adalah Eza
"Ceritanya panjang, sekarang ada apa kamu mencariku?" tanya Nadia balik.
"Aku sangat merindukanmu, beberapa hari ini kita belum bersenang-senang sayang" Eza meraih pinggang Nadia dan menariknya mendekat.
Eza hendak mencium bibir Nadia tapi Nadia menahan dada pria itu.
"Jangan disini, ayo kita masuk kedalam" ajak Nadia
Nadia segera membuka pintu dan mengajak Eza masuk. Kemudian pintu itu kembali tertutup.
Eza kembali memeluk Nadia dari arah belakang dan menciumi leher wanita itu.
"Aku penasaran, bagaimana bisa kamu pernah tidur dengan suaminya Aruna. Mengingat sepertinya pria itu sangat mencintai mantan kekasihku itu" tanya Eza disela-sela ciumannya dileher Nadia.
Nadia tersenyum, ia pun mulai menceritakan kejadian malam itu bersama Alan di dalam club hingga berakhir dikamar hotel.
Glutak!!
Terdengar suara benda jatuh dari depan pintu. Nadia langsung menoleh ke arah Eza yang masih memeluknya. Kini mereka saling berpandangan.
"Sepertinya ada orang diluar, ayo kita lihat" Eza melepaskan tangannya dari pinggang Nadia.
Nadia langsung berjalan ke arah pintu dengan diikuti Eza dibelakangnya. Pintu itu kembali dibuka namun mereka tidak melihat siapa-siapa disana.
πππ
Silahkan masukan sebagai favorit dan jangan lupa dukung author terus ya ππ₯°
__ADS_1