Suami Perjaka Milik Aruna

Suami Perjaka Milik Aruna
Bab 8 : SPMA. Mulai khawatir.


__ADS_3

Sudah hampir 2 Minggu Aruna dan Alan tinggal bersama di apartement. Sampai sekarang mereka masih tetap meributkan hal-hal kecil seperti biasanya.


Siang itu Aruna tengah menemani Reno menemui seorang klien di sebuah restoran.


"Kamu bukannya gadis yang waktu itu bukan?" tanya Alvin yang langsung mengenali wajah Aruna.


Aruna hanya tersenyum manis dan mengangguk pelan. Ia tidak ingin menunjukkan sifat galaknya didepan klien bosnya.


"Dia sekertaris saya, namanya Aruna. Apa anda mengenalnya?" tanya Reno.


"Tidak.. kami hanya pernah bertemu sekali. Itu pun tidak sengaja" jawab Alvin yang sebenarnya sudah mulai tertarik pada Aruna sejak pertama kali bertemu.


Mereka duduk dan mulai membicarakan urusan pekerjaan. Sesekali Alvin mencuri pandang pada Aruna. Jantungnya langsung terpompa kencang saat melihat gadis itu. Sepertinya Alvin sudah jatuh cinta pada Aruna. Gadis itu terlihat lebih ramah, berbeda dari pertemuan mereka sebelumnya.


"Ahh Aruna.. nama yang cantik, secantik orangnya" batin Alvin tanpa berkedip memandangi wajah Aruna.


Reno mengikuti arah pandangan Alvin yang terus menatap sekertarisnya itu. Sebenarnya tidak masalah jika Alvin suka pada Aruna. Masalahnya Aruna sekarang sudah menjadi istri sahabatnya.


Hampir satu jam mereka saling berbincang dan bertukar kata, akhirnya mereka mengakhiri pertemuan itu.


"Terimakasih untuk waktu anda. Lain kali saya akan menyempatkan untuk berkunjung ke kantor anda" ucap Alvin sambil menyalami Reno dan sedikit melirik ke arah Aruna yang berdiri disamping Reno.


Reno pamit bersama dengan Aruna. Alvin terus memandangi kepergian mereka dari arah belakang.


"Ya Tuhan, Aruna... kamu membuat jantungku tidak aman" ucap Alvin sambil mengelus dagunya.


🌺🌺🌺


Pukul 6 petang...


Reno keluar dari pintu utama dan mendapati Aruna masih berdiri disana.


"Lho Run, kamu belum pulang? Alan belum jemput kamu?" tanya Reno sambil matanya mencari-cari mobil Alan.


"Belum pak, mungkin dia masih ada pekerjaan" jawab Aruna berusaha nampak biasa saja. Sebenarnya ia kesal karena sudah menunggu hampir 1 jam disana.


"Apa kamu pulang sama saya saja? Biar saya antar kamu?" ajak Reno.


"Tidak usah pak, terimakasih. sebentar lagi juga dia datang" tolak Aruna.


Reno coba membujuk Aruna lagi tapi Aruna tetap tidak mau dan akan menunggu Alan saja. Dengan berat hati Reno meninggalkan Aruna sendiri didepan kantornya.


Aruna melihat lagi ke arah jam ditangannya, sudah hampir pukul 7 tapi Alan belum juga datang. Akhirnya Aruna memutuskan untuk berjalan kaki saja sembari menunggu Alan. Nanti Alan pasti akan menghentikan mobilnya saat melihat Aruna sedang berjalan kaki.


Hampir 20 menit Aruna berjalan kaki tapi mobil Alan tak kunjung terlihat. Aruna jadi merasa sedikit khawatir apalagi Alan tak mengabarinya seharian ini. Aruna sudah mencoba menghubungi ke ponsel Alan namun ponsel Alan susah dihubungi.


Tiiiinnnnnnnn


Aruna terlihat senang dan menoleh ke arah belakang saat mendengar suara klakson mobil. Ia pikir itu mobil Alan.


Seseorang turun dari dalam mobil dan ternyata itu bukan mobil Alan yang berhenti dibelakangnya. Entah mengapa Aruna merasa sedikit kecewa.


"Aruna?" sapa Alvin yang sudah berdiri didepan Aruna sambil melihat sekelilingnya.

__ADS_1


"Kamu kok jalan kaki? Apa tidak ada yang jemput? Kenapa tidak naik taxi saja?" Alvin langsung memberikan pertanyaan menyerbu Aruna.


"Oh pak Alvin, saya pikir siapa tadi" ujar Aruna sedikit kecewa.


"Kamu kira pacar kamu ya?" tanya Alvin yang melihat kekecewaan di wajah Aruna.


"Bukan begitu pak... " jawab Aruna merasa tak enak hati.


"Bagaimana kalau saya antar kamu pulang? Ini sudah malam. Tidak baik seorang gadis jalan sendiri malam-malam begini" ujar Alvin.


"mmmm.. tapi saya..." Aruna melihat sekelilingnya berharap mobil Alan datang.


"Saya tidak merasa direpotkan kok, ayo..." Alvin meraih pergelangan tangan Aruna.


Aruna melihat ke arah tangannya yang dipegang oleh Alvin. Alvin yang menyadarinya pun langsung melepaskan tangan Aruna.


"Oh maaf.. saya tidak bermaksud..." ucap Alvin terpotong


"Tidak apa-apa pak.." jawab Aruna.


Aruna akhirnya menerima tawaran Alvin dan ikut masuk kedalam mobil Alvin. Sepanjang jalan Aruna terus terdiam, dalam hatinya ia mulai memikirkan Alan yang tidak memberinya kabar seharian ini. Tidak biasanya Alan seperti ini. Biasanya jika sudah keluar dari kantor, Alan akan menelfonnya dan bilang akan menjemputnya.


Alvin mencoba bertanya tentang beberapa hal dan menanyakan alamat rumah Aruna, tapi Aruna hanya menjawab seperlunya saja dan tidak begitu menghiraukan ucapan Alvin.


Mobil terhenti didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi.


"Kamu tinggal di apartement ini?" tanya Alvin heran karena Aruna hanya seorang sekertaris tapi bisa tinggal di apartement mewah.


"Iya pak. Terimakasih sudah mengantar saya pulang. Kalau begitu saya permisi dulu" pamit Aruna yang langsung bergegas turun dari dalam mobil dan menutup pintu mobil itu kembali.


Sementara Alvin masih terus memandangi Aruna yang sedang berjalan masuk.


"Aruna... Aku pasti akan mendapatkanmu" gumam Alvin.


Aruna menaiki lift, ia masih mengkhawatirkan tentang Alan. Tak berapa lama pintu lift terbuka, Aruna kaget saat melihat Alan sudah berdiri didepan lift. Alanpun tak kalah kaget sekaligus merasa lega melihat Aruna ada didalam lift.


Aruna menatap Alan dengan kesal karena Alan tidak mengabarinya dan tidak menjemputnya. Walaupun dalam hatinya ia merasa lega karena Alan baik-baik saja.


Aruna melepaskan pandangannya dari pandangan Alan dan berjalan melewati Alan. Namun Alan segera menangkap pergelangan tangan Aruna dan berbalik melihat ke arah gadis itu.


Aruna masih tidak mau menatap Alan dan wajahnya masih terlihat kesal.


"Maaf aku tadi terlambat menjemputmu, tiba-tiba aku ada rapat penting. Aku datang kesana tapi kamu sudah tidak ada, jadi aku pikir kamu sudah pulang naik taxi" ucap Alan mencoba memberi penjelasan.


Aruna menoleh ke arah Alan dan menatapnya.


"Setidaknya kamu bisa menelfonku dan memberikan kabar! Tapi kamu tidak melakukannya. Aku pikir kamu kenapa-kenapa dijalan" ucap Aruna membuat Alan tersenyum senang.


"Kamu mengkhawatirkanku?" tanya Alan membuat wajah Aruna merona merah karena ia kepergok mengkhawatirkan pria itu.


"Tidak!! Aku hanya kesal karena kamu telah membuatku berjalan kaki tadi" elak Aruna mencoba menutupi perasaannya.


"Kamu jalan kaki? Tapi tadi aku tidak melihatmu di sepanjang jalan? Aku sampai di apartement, kamu juga tidak ada. Aku baru saja hendak mencarimu karena khawatir kamu kenapa-kenapa di jalan" terang Alan yang juga ternyata mengkhawatirkan Aruna.

__ADS_1


"Aku tadi diantar seorang teman" jawab Aruna membuat Alan mengernyitkan keningnya.


"Teman? Teman pria atau wanita?" tanya Alan.


Aruna menarik tangannya dari genggaman Alan. "Bukan urusanmu!"


Aruna membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya. Aruna sedikit tersenyum mendengar tadi Alan bilang jika Alan mengkhawatirkan dirinya.


Alan tersenyum karena melihat Aruna baik-baik saja, ia ikut melangkah kakinya berjalan dibelakang Aruna.


Sesampainya diruangan apartment.


"Kamu mandi dan bersihkan dirimu dulu sana! Aku akan memasakan makanan untukmu" perintah Alan.


"hhmmm.. baiklah" Aruna membalikkan badannya dan berjalan menuju ke arah kamar.


Alan merogoh ponselnya dan meletakkannya di atas meja makan. Ia membuka jas nya dan menyampirkannya disalah satu kursi. Kemudian ia menggulung bagian tangan kemejanya sampai ke bawah siku.


Alan berjalan ke arah dapur dan memakai apron ditubuhnya. Ia mulai menyiapkan bahan makanan untuk dimasak.


Setengah jam kemudian Aruna sudah selesai mandi dan sudah mengganti bajunya. Ia berjalan ke arah meja makan dan melihat Alan yang sudah selesai menyiapkan makanan.


Alan melepaskan apronnya dan menggantungkannya. Ia berjalan ke arah Aruna dan berdiri didepannya.


"Jika kamu lapar kamu makanlah lebih dulu. Aku akan pergi mandi dulu" ucap Alan sembari mengambil jasnya yang ia sampirkan dikursi tadi.


"Tidak.. aku akan menunggumu" jawab Aruna lembut.


Alan tersenyum dan mengusap kepala Aruna. Baru kali ini Aruna terlihat begitu lembut padanya.


Alan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Aruna yang masih berdiri mematung. Aruna langsung memegangi dadanya saat Alan sudah pergi.


"Bisa-bisanya jantungku berdebar-debar karena perlakuannya tadi" gumam Aruna sambil menoleh ke arah belakang, takut Alan mendengar ucapannya. Namun Alan sudah keburu masuk ke dalam kamar.


🎵 drrrttt🎵


Ponsel Alan yang berada di atas meja bergetar, Aruna berjalan mendekat dan meraih ponsel itu.


"Jessica..." ucap Aruna saat melihat ada pesan masuk dari kontak yang diberi nama Jessica.


Aruna merasa penasaran dan mengusap layar ponsel itu. Ia pun langsung membuka pesan itu.


"Selamat malam pak Alan... Sekali lagi saya mau mengucapkan terimakasih karena tadi bapak sudah mengantarkan saya pulang" Isi pesan itu.


Aruna menurunkan ponsel itu. Entah kenapa ia merasa tidak senang melihat isi pesan itu.


"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa seperti ini? Apa aku sudah tidak normal? Tidak.. aku tidak boleh memiliki perasaan seperti ini! kami hanya menikah kontrak!" ucap Aruna pada dirinya sendiri.


Namun hati dan pikiran Aruna tidak sejalan. Ia tetap masih bertanya-tanya tentang wanita yang bernama Jessica tadi. Otaknya mulai dipenuhi dengan seribu pertanyaan disana.


💞💞💞


__ADS_1


💞Silahkan masukan favorit dan jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan bintang 5 nya 🤭🥰


__ADS_2