
Aruna membuka pintu kamar mandi dan mendapati Alan yang tengah duduk termenung di atas ranjang. Aruna berjalan menghampiri dan ikut naik ke atas ranjang.
"Sejak bertemu dengan Nadia, aku lihat kamu terus merenung. Ada apa? Apa kamu mengenalnya" tanya Aruna penasaran.
Alan menoleh ke arah Aruna dan menatap manik mata gadis itu. Ia tidak sanggup untuk bercerita jika wanita yang pernah menolong Aruna adalah wanita yang pernah tidur dengannya di dalam hotel malam itu.
"Tidak ada apa-apa, aku tidak mengenalnya. Sebaiknya kamu tidur, ini sudah malam" ucap Alan sambil mencoba untuk tersenyum.
Aruna mendengus kesal mendengar Alan menyuruhnya untuk tidur.
"Kenapa dia malah menyuruhku tidur? Memangnya dia ini tidak punya hasrat padaku apa hah?!! Atau tubuhku ini tidak seksi dan menarik?" batin Aruna kesal.
Alan mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Aruna.
"Hei, kenapa kamu malah bengong? Ayo tidurlah" ucap Alan.
"Aku belum mengantuk! Lagi pula besok weekend, jadi aku ingin begadang sampai pagi" ketus Aruna karena Alan masih tidak peka juga.
"Ya sudah, aku tidur dulu. Aku sudah ngantuk" ucap Alan yang memang sudah mengantuk karena semalam ia hampir tidak tidur.
Alan membaringkan tubuhnya dan tidur memunggungi Aruna. Aruna semakin kesal karena Alan benar-benar tidur dan tidak menghiraukannya.
Aruna pun ikut membaringkan tubuhnya. Setelah beberapa saat, Aruna tetap tidak bisa tidur. ia kembali menoleh ke arah Alan dan bergegas bangun. ia duduk sambil menghadap ke arah suaminya itu.
"Apa kamu benar-benar tidur?" tanya Aruna namun Alan sudah tidak merespon.
"Menyebalkan sekali!" Aruna bergegas bangun dan turun dari ranjang. Ia berjalan keluar dari dalam kamar.
Alan membuka matanya kembali dan menghela nafas panjang. Sebenarnya ia juga tidak bisa tidur, apalagi setiap berada didekat Aruna. Rasanya ia ingin sekali mencium dan menyentuh istrinya itu, namun ia merasa belum siap. Apalagi setelah tadi siang ia bertemu kembali dengan wanita yang pernah tidur dengannya. Ia jadi merasa bersalah pada Aruna.
Aruna duduk di atas sofa dan meraih remote tv dari atas meja. Ia pun menyalakan tv sambil mulutnya terus mengumpat kesal.
"Bisa-bisanya dia benar-benar tidur! tidak ada romantis-romantisnya sama sekali!!!" kesal Aruna
Hampir 2 jam Aruna menonton tv, matanya mulai terasa berat dan mengantuk. Tak terasa mata Aruna mulai terpejam, ia pun tertidur sambil duduk di sofa.
Didalam kamar, Alan pun nampak gelisah karena Aruna tidak kunjung kembali kekamar. Akhirnya Alan memutuskan untuk beranjak bangun dan menyusul Aruna ke depan. Alan melihat Aruna yang sudah tertidur sambil duduk di sofa. Ia pun melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah sofa. Alan duduk disamping Aruna dan menatap wajah istrinya itu. Ia pun membelainya dengan lembut.
"Kenapa wanita itu harus muncul sekarang.. disaat Aruna sudah bisa menerimaku" batin Alan tanpa melepaskan pandangannya dari wajah istrinya.
Alan mematikan tv dan mengangkat tubuh Aruna. Ia membawanya ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Kemudian Alan ikut membaringkan tubuhnya disamping Aruna. Mata Alan masih terbuka dan pikirannya melayang jauh pada kejadian malam itu. Ia kembali teringat saat wanita itu naik diatasnya dan mencium bibirnya. Alan yang dalam pengaruh alkohol pun membalas ciuman wanita itu. Tangan wanita itu mulai membuka kancing kemeja Alan satu persatu.
__ADS_1
"Aarrrggghhh" Alan nampak frustasi.
Alan bergegas bangun dan duduk, ia mengusap wajahnya kasar. Kemudian Ia menoleh ke arah Aruna yang sudah tertidur lelap disampingnya. Alan menyesali kenapa malam itu ia harus ikut pergi ke club bersama dengan Reno hingga berakhir di atas ranjang bersama dengan wanita itu.
πΊπΊπΊ
Pagi menyapa, Aruna bangun lebih dulu dan tengah memandangi wajah Alan yang masih tidur terlelap disampingnya. Alan sendiri baru memejamkan matanya sekitar 3 jam yang lalu. Semalaman ia tidak bisa tidur dan terus teringat pertemuannya dengan Nadia kemarin dan kejadian didalam hotel malam itu.
Aruna mendekatkan wajahnya ke wajah Alan.
"Apa aku harus memakai baju yang seksi seperti di film-film agar suamiku tergoda melihatku?" batin Aruna.
"Ahh tidak.. tidak... Apa yang aku pikirkan! Kenapa aku jadi berharap sekali dia akan menyentuhku!" Aruna kembali membatin
"Apa kamu ingin menggodaku pagi-pagi" ucap Alan dengan mata terpejam.
Seketika Aruna membulatkan matanya dan menjauhkan wajahnya.
"Apa kamu sudah bangun sejak tadi?" tanya Aruna yang nampak gugup.
Alan membuka matanya dan menoleh ke arah Aruna.
"Tidak, hanya saja nafasmu sangat terasa sekali diwajahku hingga mengganggu tidurku" ujar Alan.
"Benarkah?" ucap Alan tak percaya
Alan bergegas bangun dan membalikkan tubuhnya. Kini ia sudah berada di atas tubuh Aruna dan tengah memandang wajahnya.
"A.. apa yang kamu lakukan!" Aruna mencoba mendorong tubuh Alan namun Alan menahan tubuhnya.
Alan tidak bergeming, mata Alan menatap dalam manik mata Aruna. Aruna pun kini terdiam dan tidak memberontak lagi. Bukan hanya Aruna, Alan pun nampak gugup karena pose mereka sekarang terlihat sangat intim.
"Sebaiknya kamu pergilah mandi, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita" ucap Alan dengan nada gugup
Alan hendak bangun namun Aruna mengalungkan tangannya dileher Alan dan menarik tengkuk kepala Alan hingga bibir mereka kini saling bertemu. Aruna mencium bibir Alan dengan lembut. Alan membulatkan matanya karena perlakuan Aruna, namun perlahan ia membalas ciuman Aruna. Aruna yang sudah terbawa suasana pun memejamkan matanya dan terus menyapu bibir Alan.
Ting... Tong....
Terdengar suara bel. Mereka saling melepaskan ciumannya dan saling bertatapan karena kaget. Aruna pun merasa malu dengan apa yang sudah ia lakukan.
"A...anggap saja tadi itu ciuman selamat pagi" ujar Aruna gugup
Aruna mendorong tubuh Alan hingga Alan terjungkal ke samping. Aruna bergegas bangun dan berlari ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Braakkk!!
Aruna menyenderkan dirinya di pintu saat pintu sudah tertutup rapat.
"Bisa-bisanya aku menciumnya lebih dulu.. aishhh memalukan sekali..." umpat Aruna pada dirinya sendiri.
Sementara Alan masih duduk terdiam di atas ranjang. Ia memegangi bibirnya dan tersenyum manis karena ciuman dari Aruna tadi.
Ting... Tong...
Bel kembali berbunyi, Alan bergegas turun dari atas ranjangnya dan berjalan keluar dari dalam kamar untuk membuka pintu.
Pintu pun terbuka, ternyata Mommy Ros dan Theo yang datang untuk berkunjung.
"Morning Alandra ku sayang... Mommy datang kemari untuk menjemput Aruna dan mengajaknya jalan-jalan bersama dengan Theo" ucap mommy Ros.
"Aruna sedang mandi mom, sebentar biar Alan panggil dulu" ucap Alan sambil mengajak mommy Ros dan Theo masuk.
Alan melangkahkan kakinya kembali ke dalam kamar untuk memanggil Aruna.
πΊπΊπΊ
Disebuah rumah berukuran sedang nampak seorang wanita muda sedang berdiri didepan wastafel kamar mandi.
"Hooeekkk... Hooeekkk...."
Wanita itu memuntahkan semua isi di dalam perutnya.
"Beberapa hari ini, setiap pagi perutku selalu terasa mual" ucap wanita itu.
Wanita itu berjalan keluar dari dalam kamar mandi dan mengambil suatu benda dari dalam laci yang sempat ia beli dari apotek beberapa hari lalu.
"Untung aku sempat membelinya di apotek waktu itu. Sebaiknya aku coba saja" wanita itu kemudian masuk kembali kedalam kamar mandi.
Setelah beberapa saat, wanita itu kembali keluar dari dalam kamar mandi sambil memegang sebuah tespack ditangannya. Ia nampak syok dan tak percaya dengan apa yang tergambar di benda itu.
"Ini tidak mungkin! Aku tidak mungkin hamil... Aagghhhh!!! bodoh sekali kamu Nadia!!" ucap wanita bernama Nadia itu nampak frustasi dan menjambak rambutnya sendiri.
Nadia nampak terdiam dan pikirannya menerawang jauh, kemudian ia teringat akan pertemuannya kemarin dengan Aruna dan Alandra di depan restoran.
"Alandra.... Kamulah yang harus bertanggung jawab atas kehamilanku ini" ucap Nadia dengan sorot mata tajam.
πππ
__ADS_1