
Aruna dan Alan tengah duduk dijok belakang mobil Alan sambil berpelukan. Tidak ada kata yang keluar dari bibir mereka. Mereka tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing dan saling melepas rindu setelah beberapa hari ini tidak bertemu.
"Masuklah kedalam, ini sudah jam 11 malam" ucap Alan memecahkan keheningan.
Aruna menggelengkan kepalanya didalam pelukan suaminya itu dan semakin mempererat pelukannya seakan tidak mau lepas.
"Kamu terlihat pucat dan sedikit kurus. Apa kamu tidak makan dengan baik?" tanya Alan.
"Aku merindukan masakanmu" jawab Aruna yang memang sudah beberapa hari ini jarang makan karena terus memikirkan Alan.
Alan melonggarkan pelukannya dan menatap ke arah Aruna. Aruna pun mendongakkan kepalanya dan menatap wajah suaminya itu.
"Aku tidak ingin menyakiti hatimu, tapi aku juga tidak ingin melihatmu bersama pria lain. Maafkan atas keegoisanku ini. Sikapku ini pasti sangat menyakiti hatimu" ucap Alan menatap dalam mata istrinya itu.
Aruna mengusap lembut wajah suaminya. Ia bisa memahami situasi yang sedang dialami suaminya itu.
"Kita seperti ini... seperti sedang menjalani hubungan terlarang. Bolehkah aku berharap untuk selalu bersamamu dan berada disisimu?" ucap Aruna dengan mata berkaca-kaca.
Alan meraih tangan Aruna diwajahnya dan menggenggamnya erat. Diciumnya tangan istrinya itu dengan lembut. Kemudian ia kembali menatap wajah istrinya itu.
"Aku juga berharap demikian" ucap Alan.
Mereka saling berpandangan cukup lama, sampai akhirnya wajah mereka saling mendekat dan bibir mereka bertemu. Alan mendaratkan bibirnya dibibir Aruna, ia memberikan sentuhan lembut di bibir istrinya itu.
Aruna memejamkan matanya dan tangannya meremas baju Alan. Ia menikmati ciuman yang diberikan oleh suaminya. Mereka pun kini saling berpagutan, untuk sejenak mereka lupa dengan masalah diantara mereka.
Setelah cukup lama, Alan melepaskan ciumannya saat ia mulai merasa menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Ia menempelkan keningnya di kening Aruna. Perlahan Aruna membuka matanya kembali dan mata mereka kembali bertemu.
"Aku antar kamu masuk ke dalam ya?" ajak Alan dengan nafas memburu akibat ciuman mereka barusan.
Aruna tidak langsung menjawab dan malah kembali memeluk tubuh Alan. ia bisa mendengar detakan jantung Alan yang terpompa sangat kencang akibat ciuman mereka tadi.
"Aku ingin tidur bersamamu" ucap Aruna dengan nada manja.
Alan menarik nafas panjang, ia juga sebenarnya ingin kembali ke apartement agar bisa berduaan dengan Aruna disana. Tapi untuk saat ini ia tidak bisa melakukannya.
Aruna pun seolah tau apa yang dipikirkan Alan. ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah suaminya dengan sedikit kecewa.
"Kamu tidak perlu menjawabnya, aku akan masuk sekarang" ucap Aruna membalikkan badannya.
__ADS_1
Alan meraih tangan Aruna saat Aruna hendak membuka pintu mobil hingga membuat Aruna kembali menatapnya.
"Aku tidak ingin menjanjikan apapun. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku hanya mencintaimu Aruna" ucap Alan penuh keyakinan.
Mata Aruna kembali berkaca-kaca mendengar pengakuan suaminya barusan.
"Aku tau..." ucap Aruna mencoba untuk tersenyum.
"Kamu tidak perlu mengantarku kedalam, aku belum menceritakan masalah kita pada bapak dan ibu. Aku hanya bilang kamu sedang pergi keluar kota, jadi aku menginap disini dulu sampai kamu pulang. Tidak apa-apa kan?" jelas Aruna yang memang sebenarnya masih ingin menyangkal kehadiran Nadia diantara mereka.
Alan mencoba memahami perasaan gadis itu. Ia tau semua ini pasti sangat sulit untuk Aruna. Karena ia sendiri juga bingung harus bersikap bagaimana sekarang. Secepatnya ia akan mencari tau tentang Nadia. Kalau perlu ia akan menemui Mbah Marjan lagi seperti yang biasa disarankan oleh Reno.
"Kamu tidak perlu masuk kerja dulu, aku akan menelfon Reno nanti" ucap Alan.
Aruna menggelengkan kepalanya. "Tidak... besok aku akan berangkat. Aku bosan berada dirumah terus. Lagi pula aku sudah merasa lebih baik setelah bertemu denganmu".
Alan mengusap lembut wajah Aruna.
"Baiklah, aku akan tetap mengantarmu kedalam. Aku tidak ingin menjadi seorang pengecut, aku akan menceritakan semuanya pada orang tuamu. Aku sudah siap jika mungkin bapakmu akan memukulku dan ibumu akan memakiku" ucap Alan yang tidak ingin terus menutupi semua ini dari orang tua Aruna.
"Tapi...."
"Kita turun sekarang" ajak Alan.
Alan bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuk Aruna. Dengan ragu-ragu Aruna pun turun dari dalam mobil. Alan menggenggam erat tangan Aruna, ia tau Aruna masih belum siap jika orang tuanya sampai tau kebenarannya. Tapi bagaimana pun orang tua Aruna harus tau semuanya.
Mereka pun melangkahkan kakinya masuk kedalam halaman rumah itu. Kemudian Alan menekan bel rumah itu. Tak lama Ratih yang sedang menunggu kepulangan Aruna pun membukakan pintu.
"Lho ada nak Alandra juga, ibu sampai khawatir karena Aruna gak pulang-pulang. Ya sudah ayo masuk" ajak Ratih
Mereka melangkah masuk. pak Umar yang juga belum tidur pun menghampiri mereka yang baru masuk di ruang tamu.
Alan tidak melewatkan kesempatan itu. Ia mengajak mertuanya itu untuk duduk dan meminta waktu mereka sebentar. Mereka kini duduk saling berhadapan, Alan duduk disamping Aruna sambil terus menggenggam erat tangan istrinya itu. Sementara pak Umar dan Ratih juga duduk bersebelahan menghadap ke arah anak menantunya itu. Alan mencoba bersikap tenang dan mulai menceritakan tentang pernikahan kontrak antara dia dan Aruna sampai kehadiran Nadia yang sedang mengandung anaknya.
Pak Umar pun nampak marah setelah mendengar pengakuan dari Alan.
"Bapak benar-benar kecewa dengan kalian berdua! Kalian tega membohongi kami?" ucap pak Umar menatap kecewa pada Aruna dan Alan.
Sementara Ratih hanya bisa menangis mendengar cerita dari Alan barusan.
__ADS_1
"Pak, tapi sekarang kami saling mencintai" ujar Aruna.
"Mencintai? Tapi dia sudah menghamili wanita lain Run! Kamu masih mau mempertahankan rumah tangga kamu? Bapak tidak setuju!! Secepatnya kalian berdua harus bercerai!!" tegas pak Umar.
Aruna hendak berbicara kembali tapi Alan mengeratkan genggamannya dan menatap wajahnya. Ia menganggukkan kepalanya agar Aruna tidak membantah lagi ucapan bapaknya. Alan kembali melihat ke arah pak Umar yang duduk dihadapannya dengan tatapan marah dan penuh kekecewaan. Pak Umar berdiri dan menatap kepada putri dan menantunya itu.
"Aruna, masuk kamu ke dalam kamar sekarang! Dan kamu, pergi dari sini dan jangan temui Aruna lagi!!" seru pak Umar.
Alan dan Aruna bangun bersamaan mendengar perintah dari pak Umar tadi.
"Saya tau saya salah. Sekali lagi saya minta maaf pada bapak dan ibu" Alan terdiam sejenak. "Kalau begitu saya permisi dulu" ucap Alan.
Aruna menahan lengan Alan dengan kuat. Alan menatap wajah Aruna dan melihat Aruna menggelengkan kepalanya. Aruna meminta agar Alan tidak pergi meninggalkannya.
Alan mencoba untuk tersenyum dan mengusap lembut pipi Aruna. Kemudian ia melepaskan genggaman tangannya dan melepaskan tangan Aruna yang satu lagi dari lengannya. Dengan berat hati ia meninggalkan istrinya itu dan berjalan pergi keluar dari rumah itu.
"Alandra jangan pergi!! Alandra!!!!.... hiks... hiks...." tangis Aruna pun pecah melihat kepergian Alan.
Ratih berjalan mendekatinya dan memegangi pundaknya dari arah belakang untuk menenangkannya.
"Bapak tidak mau kamu menemui dia lagi. Bapak kecewa sama kamu Aruna!" ujar pak Umar lalu bergegas pergi ke arah kamarnya.
Aruna yang masih menangis sesenggukan pun berlari ke arah kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam. Ia berhambur ke arah ranjangnya dan tengkurap disana. Dibenamkannya wajahnya diatas bantal.
🎵Du..Du..Du...🎵
Aruna mengangkat wajahnya mendengar ponselnya berbunyi. Ia meraihnya dari atas meja samping ranjangnya. Terdapat panggilan masuk dari Alan disana, ia pun bergegas bangun dan duduk untuk mengangkatnya.
Dari sambungan telefon, Alan bisa mendengar suara Aruna yang sedang menangis sesenggukan.
"Kamu bilang ingin memukulku, bahkan membunuhku. Tapi melihat bapakmu memarahiku saja kamu sudah menangis seperti itu" ucap Alan mencoba menghibur Aruna. Padahal ia sendiri sedang menangis didalam mobilnya yang masih terparkir tidak jauh dari rumah Aruna.
Aruna tidak menjawab dan masih terus menangis.
"Jangan menangis lagi ya Aruna sayang... Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu..."
Tut...Tut...Tut...
Alan mematikan sambungan telefonnya. Ia tidak sanggup lagi mendengar suara tangis Aruna. Disenderkannya kepalanya pada jok mobilnya. Ia memejamkan matanya hingga air matanya pun kembali menetes di wajah tampannya.
__ADS_1
💞💞💞