
Beberapa hari kemudian..
Brakkk!!!
Nadia membuka pintu ruangan kerja Alan dengan kasar. Jessica sudah coba mencegahnya namun Nadia memaksa masuk. Alan yang tengah duduk dikursi kerjanya pun bergegas bangun dan berjalan menghampirinya.
"Maaf pak, saya sudah coba mencegahnya tapi dia..." ucap Jessica terpotong saat Alan mengangkat kelima jarinya dan menganggukkan kepalanya.
"Kamu bisa kembali ke meja kerjamu" ucap Alan pada Jessica.
"Baik pak, permisi" Jessica memundurkan langkahnya dan menutup pintu ruangan itu kembali.
Alan kembali melihat ke arah Nadia yang terlihat sangat kesal.
"Kapan kamu akan menceraikan Aruna dan segera menikahiku? Semakin lama perutku ini akan semakin membesar" seru Nadia kesal.
"Aku tidak bilang padamu kalau aku akan menceraikan Aruna. Kecuali jika kamu bisa membuktikan kalau anak itu adalah benar anakku" ucap Alan dingin.
"Alandra!!"
"Kenapa? Kamu tidak bisa memberikan buktinya bukan? Jadi jangan harap aku akan menceraikan Aruna. Sekarang kamu keluar dari ruanganku!!" ucap Alan mulai meninggikan suaranya.
Nadia hanya menatap kesal pada Alan. Sepertinya ia harus mencari cara untuk membuat Alan dan Aruna segera bercerai. Ia tidak mau menanggung malu sendirian karena kehamilannya itu. Ia bisa saja menggugurkannya, tapi ia tidak akan melakukannya demi mendapatkan Alan untuk menjadi suaminya.
Nadia berbalik dan pergi meninggalkan ruangan kerja Alan.
Alan menghela nafas panjang dan menyibakkan rambutnya kebelakang. Ia harus secepatnya mencari tau tentang latar belakang Nadia. Alan pun ikut keluar dari ruangan kerjanya, ia akan mengikuti Nadia untuk mencari tau.
Sementara itu dikantor Reno...
Reno membuka pintu ruangannya dan mendapati Aruna yang tengah duduk termenung dimeja kerjanya. Sejak masuk kerja lagi beberapa hari lalu, Aruna memang lebih banyak diam dan murung. Reno paham, pastinya berat untuk Aruna saat ada wanita lain yang mengaku sedang mengandung anak dari suaminya.
Reno berjalan menghampiri meja kerja Aruna.
"Kamu belum pulang Run?" tanya Reno membuyarkan lamunan gadis itu.
"Eh pak Reno, iya ini saya sudah mau pulang kok pak" jawab Aruna kemudian merapikan beberapa berkas dimejanya.
"Kamu mau saya antar pulang sekalian?" ajak Reno
Aruna bangun dari duduknya dan meraih tasnya diatas meja kerjanya.
"Terimakasih pak, saya pulang sendiri saja naik taxi" tolak Aruna.
__ADS_1
Reno hanya manggut-manggut dan tidak memaksanya.
"Ya sudah ayo kita turun ke bawah" ajak Reno.
Mereka berjalan ke arah lift untuk turun ke lantai bawah. Sesampainya dilantai bawah, Reno kembali menawarkan untuk mengantarkan Aruna pulang.
"Sepertinya akan turun hujan Run, kamu yakin tidak mau saya antar sekalian?" tawar Reno lagi
Aruna menggelengkan kepalanya pelan dan mencoba untuk tersenyum.
"Tidak, terimakasih pak. Saya pulang naik taxi saja. Kalau begitu saya permisi pak" ucap Aruna
"Ya sudah, kamu hati-hati ya Run" ucap Reno
Aruna menganggukkan kepalanya, kemudian ia berjalan pergi meninggalkan area gedung itu untuk mencari taxi. Saat sampai didepan sana Aruna langsung menyetop taxi yang datang ke arahnya. Taxi itu berhenti tepat didepan Aruna, ia segera membuka pintu taxi itu dan hendak masuk ketika seseorang memanggilnya.
"Aruna..." panggil seseorang yang berdiri dibelakang Aruna.
Aruna menoleh ke arah sumber suara itu dan melihat seorang yang ia kenal berdiri melihat ke arahnya.
"Nadia..." lirih Aruna sambil membalikkan badannya menghadap ke arah Nadia.
"Aku ingin bicara berdua denganmu" ucap Nadia.
"Bicara apa? Aku tidak punya banyak waktu" jawab Aruna dingin.
"Aruna, kamu pasti tau kan kalau aku pernah tidur dengan suamimu? Dan sekarang aku sedang mengandung anaknya. Aku ingin kamu meninggalkan Alandra dan menceraikannya. Aku mohon Aruna, sebelum kandunganku ini semakin membesar" Isak Nadia dengan air mata yang sengaja dibuat-buat.
Aruna hanya terdiam dan tidak menjawab permintaan Nadia. Walaupun sekarang Nadia sedang mengandung anak Alan, tapi masih sulit untuk Aruna mengikhlaskan Alan bersama dengan Nadia.
"Itu urusan kamu dengan Alandra. Kamu minta saja Alandra untuk meninggalkan aku. Itu juga kalau dia mau" Aruna kembali membalikkan badannya namun Nadia segera menahan lengannya hingga Aruna kembali menatap ke arah Nadia.
"Apa kamu tidak punya hati sebagai sesama wanita Run? Kamu tega membiarkan anak ini lahir tanpa seorang ayah?" seru Nadia kesal.
Mungkin Nadia tidak sepenuhnya salah. Karena kejadian itu juga terjadi sebelum Aruna bertemu dengan Alan. Tapi tetap saja semua itu membuat hati Aruna terasa sakit.
Aruna mencoba bersikap tegar dan mengambil nafas panjang. "Hatiku sudah hancur saat kamu datang dalam hubungan kami. Jadi kamu tidak perlu membicarakan soal hati disini"
Aruna bergegas masuk ke dalam taxi dan taxi itu pun melaju pergi meninggalkan Nadia yang masih berdiri mematung dengan wajah kesal.
"Awas kamu Aruna! Sebaiknya kamu lenyap saja agar tidak jadi penghalangku untuk mendapatkan Alandra" ucap Nadia dengan sorot mata tajam memandang ke arah taxi yang dinaiki oleh Aruna.
Setelah taxi yang dinaiki oleh Aruna pergi menjauh, sebuah mobil berhenti didepan Nadia. Nadia bergegas membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Mobil itu pun melaju pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya pria yang duduk dikursi pengemudi.
"Aruna juga tidak mau menceraikan Alandra. Sebaiknya kita singkirkan saja Aruna agar tidak jadi penghalangku" ucap Nadia menatap tajam kedepan.
Pria disampingnya menoleh ke arah Nadia dan tersenyum simpul.
"Kalau begitu, Aruna biar aku saja yang urus. Aku masih ada sedikit urusan dengan mantan pacarku itu" ucap pria itu yang ternyata adalah Eza.
Hari semakin gelap dan hujan mulai mengguyur jalanan malam itu. Dibelakang sana mobil Alan terus mengikuti mobil yang sedang dinaiki oleh Nadia dan Eza. Eza melihat ke arah spion kaca mobilnya dan mulai menyadari mobil yang dibelakangnya terus mengikuti mobilnya sejak tadi.
"Mobil dibelakang seperti mengikuti kita dari tadi" ujar Eza membuat Nadia menoleh ke arah belakang.
Nadia mengamati mobil yang berada tak jauh dibelakang mobil mereka.
"Itu sepertinya mobil Alandra. Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia sampai memergoki kita berdua?" ucap Nadia panik.
Eza pun ikut panik, ia langsung melajukan mobilnya dengan kencang untuk menghindari kejaran mobil Alan.
Sementara itu Alan terus mengikuti mobil didepannya. Ia ingin tau siapa yang berada didalam mobil itu bersama dengan Nadia. Sebenarnya Alan juga melihat saat tadi Nadia menemui Aruna. Alan ingin sekali mengejar taxi yang dinaiki oleh Aruna tadi karena ia sangat merindukan istrinya itu. Tapi untuk saat ini mengetahui tentang Nadia jauh lebih penting.
Guyuran air hujan membuat Alan kesulitan untuk mengejar mobil yang dinaiki Nadia. Mobil itu pun semakin menjauh dari kejarannya. Alan berusaha menyalip mobil didepannya untuk mengejar mobil yang dinaiki Nadia, namun dari arah berlawanan sebuah mobil datang ke arahnya. Alan langsung membanting setir kekiri dan mobil yang disalip Alan mengerem mendadak.
Bruuukkk!!!
Mobil Alan menabrak pembatas jalan. Sementara didepan sana, Eza juga melihat dari spion mobilnya ketika mobil Alan menabrak pembatas jalan. Ia segera menghentikan mobilnya sebentar dan menoleh ke arah belakang. ia tersenyum smirk melihat mobil Alan sudah tidak bisa mengejarnya lagi. Kemudian ia kembali melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.
Tok..tok..tok..
Seorang pria tua dengan menggunakan payung mengetuk kaca mobil Alan.
Alan masih tidak bergeming. Perlahan ia mengangkat wajahnya dari tumpukan tangannya diatas setir mobilnya. Ia menoleh ke arah pria tua yang berdiri disamping mobilnya itu. Alan membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
"Kamu tidak apa-apa nak?" tanya bapak itu khawatir.
"Saya tidak apa-apa pak, maaf karena tadi saya menyalip mobil bapak" ucap Alan yang mulai basah karena guyuran air hujan.
"Iya tidak apa-apa. Apa perlu bapak antar kamu kerumah sakit?" tawar bapak itu.
"Tidak perlu pak, saya benar-benar tidak apa-apa" tolak Alan dengan halus.
"Ya sudah, bapak tinggal dulu ya?" pamit bapak itu yang dijawab anggukan oleh Alan.
Bapak itu berjalan kembali ke arah mobilnya dan masuk kedalamnya. Sementara Alan menatap jauh ke depan sana dan sudah tidak mendapati mobil yang ia ikuti tadi. Alan menghantamkan pukulan ke udara.
__ADS_1
"Aargghh sial!! Aku hampir saja memergokinya tadi" ucap Alan frustasi.
💞💞💞