
Pagi-pagi sekali Alan sudah mengajak Aruna berjalan-jalan ke sebuah taman dekat hotel tempat mereka menginap.
"Ngapain kita pagi-pagi kesini?" tanya Aruna menoleh ke arah Alan.
"Nanti kamu juga tau" jawab Alan.
Mereka terus melangkahkan kakinya masuk kedalam taman hingga terlihatlah taman yang sudah dihiasi oleh bunga-bunga dan balon. Aruna nampak tertegun dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. ia benar-benar tidak percaya Alan telah mempersiapkan kejutan untuknya pagi-pagi begini.
"Kamu menyiapkan semua ini untukku?" tanya Aruna menatap ke arah suaminya.
Alan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum dan menggenggam tangan istrinya. "Iya, untuk istriku tercinta"
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu" ucap Aruna dengan mata berkaca-kaca karena sangat bahagia.
"Kalau begitu beri aku ciuman dulu" ucap Alan
Aruna tersenyum, ia sedikit berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke arah suaminya.
"Ehemm.. ehemmmm... Kak kami ada disini" ucap Adit yang berdiri tak jauh dari mereka sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya.
Aruna menoleh ke arah sumber suara itu dan langsung menjauhkan wajahnya dari Alan. wajah Aruna langsung merona merah karena malu.
Ara dan Adit berjalan menghampiri ke arah mereka.
"Kak kami harus pulang sekarang karena harus pergi ke sekolah" ucap Ara
"Baiklah, terimakasih untuk kerja sama kalian" ucap Alan sambil mengusap rambut Adit.
"Kak Aruna, kami tinggal dulu ya?" ucap Ara sambil melambaikan tangannya.
Aruna pun membalas lambaian tangan mereka. Adit dan Ara berjalan meninggalkan pasangan pengantin baru itu karena supir mereka sudah menunggu disana.
Alan mendekatkan tubuhnya dan memeluk istrinya itu dari arah belakang.
"Kamu menyukainya?" tanya Alan
Aruna melepaskan tangan Alan dan memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah suaminya. Ia melingkarkan tangannya dipinggang suaminya.
"Sangat... Aku sangat menyukainya" jawab Aruna dengan senyum manis diwajahnya.
Alan pun memegangi pinggang istrinya dan mengangkat tubuh istrinya. Mereka terlihat sangat bahagia.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu" ucap Aruna
Setelah hampir satu jam berada ditaman, Alan mengajak Aruna untuk kembali ke hotel karena mereka belum sarapan.
__ADS_1
π΅Du..Du..Du...π΅
Alan merogoh ponselnya dari balik saku celananya dan mengangkat telefonnya. Terdengar suara Ardian dari sambungan telefon dan menyuruh Alan untuk datang kekantornya. Setelah mengiyakan, Alan pun segera mematikan sambungan telefon itu kembali.
Alan menoleh ke arah Aruna yang sedang memandang ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Aruna
"Aku harus ke kantor papi sebentar, tidak apa-apa kan aku tinggal? Aku janji tidak akan lama" ucap Alan.
Aruna terlihat kecewa dan mengalihkan pandangannya ke arah lain tanpa menjawab pertanyaan suaminya itu. Alan tau Aruna pasti merasa cemburu karena ada Fiona disana, ia pun menangkup wajah istrinya itu hingga kembali menatapnya.
"Tenang saja, aku tidak akan macam-macam" ucap Alan.
"Tapi ingat! Jarak 2 meter dan jangan ngobrol dengan wanita itu!!" ucap Aruna memberi peringatan.
"Ta.. tapi Run.."
"Ya sudah kalau tidak mau, aku mau pergi saja!" Aruna menurunkan tangan Alan dari wajahnya dan berjalan menjauh.
Alan segera mengejar istrinya itu dan meraih pergelangan tangannya.
"Iya... Iya... Aku tidak akan mengobrol dengannya" ucap Alan membuat Aruna tersenyum senang.
Aruna langsung berhambur kepelukan suaminya itu. "Terimakasih sayang"
Mereka pun saling melepaskan pelukannya dan berjalan kembali ke arah hotel dengan bergandengan tangan.
πΊπΊπΊ
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam tapi Alan masih belum juga kembali ke hotel. Aruna pun merasa cemas dan ia juga sudah merasa bosan berada di hotel sendirian sejak pagi.
"Dia bilang hanya sebentar, tapi sampai sekarang belum juga kembali" gumam Aruna
Aruna melihat ke layar ponselnya dan tidak ada panggilan atau pesan dari Alan sejak tadi. Ia pun kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Sebaiknya aku keluar sebentar untuk cari angin" ucap Aruna
Aruna bergegas bangun dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel. Aruna pun turun ke lantai bawah dan memilih berjalan kaki disekitar hotel itu sambil menikmati pemandangan malam itu.
Hampir 15 menit Aruna melangkahkan kakinya dan semakin menjauh dari hotel, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang.
"Kenapa aku merasa seperti ada yang mengikutiku ya?" batin Aruna sambil mengusap lehernya karena merasa merinding.
Aruna pun kembali berbalik dan melangkahkan kakinya dengan cepat. Dibelakang sana seseorang kembali mengikutinya. Aruna yang menyadari dirinya sedang diikuti pun terlihat panik dan langsung berlari. Orang itu ikut berlari mengejarnya. Aruna terus berlari sesekali ia melihat ke arah belakang dan melihat seseorang dengan menggunakan pakaian serba hitam dan topi hitam terus mengejarnya. Tanpa sadar Aruna terus melangkahkan kakinya ke tempat yang lebih sepi.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia mengejarku?" batin Aruna sambil terus berlari.
Saat sudah jauh tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan memepetkan tubuhnya ke tembok.
Aruna pun melihat wajah pria itu yang ternyata adalah Alan. Alan mengintip dari balik tembok dan melihat pria misterius itu semakin mendekat ke arah mereka dengan membawa sebilah pisau.
"A..aku takut sekali.." ucap Aruna sedikit bergetar.
Alan menatap mata istrinya itu yang terlihat sangat ketakutan.
"Jangan takut, aku ada disini" ucap Alan mencoba menenangkan.
Tak berselang lama pria misterius itu melewati mereka dengan berjalan sangat pelan.
Dugghh!!!
Alan langsung menendangnya hingga pria itu jatuh tersungkur. Mereka pun bisa melihat wajah pria itu yang ternyata adalah Eza yang sedang menjadi buronan polisi.
Eza bangun dan berjalan mendekat ke arah Alan hingga terjadilah perkelahian diantara dua pria itu. Aruna yang melihatnya pun terlihat sangat panik karena Eza memegang senjata ditangannya.
Sreetttt
Eza menggorengkan pisau itu hingga mengenai lengan Alan. Lengan Alan pun terluka dan mengeluarkan darah. Aruna yang panik pun berlari ke arah mereka namun Eza langsung menghadangnya dan menarik tangannya. Eza berdiri dibelakang Aruna dan mengarahkan pisau itu dileher Aruna. Mata Aruna pun berkaca-kaca dan tubuhnya bergetar karena ketakutan.
"Jangan sakiti Aruna" ucap Alan sambil memegangi lengannya yang terus mengeluarkan darah.
"Jangan mendekat atau pisau ini akan menggores leher mulusnya" ancam Eza.
"Lepaskan dia! Aku akan memberikan apapun yang kamu mau" ucap Alan
Eza tersenyum smirk menanggapi ucapan Alan.
"Aku tidak butuh uang atau hartamu! Kamu bisa menukar wanita ini dengan nyawamu, hahahahaa" tawa Eza
"Tidak!! Jangan!!" Aruna menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Diam kamu Aruna!! Gara-gara kamu aku harus mendekam di penjara!" seru Eza dengan kesal. "Sepertinya pisau ini harus menggores lehermu yang mulus ini" tambahnya.
Eza menempelkan pisau itu dileher Aruna. Aruna pun bisa merasakan pisau itu sudah menempel dilehernya. ia pun semakin ketakutan dan memejamkan matanya.
"Hentikan Eza!! Baiklah, kamu bisa menukarnya dengan nyawaku! Tapi lepaskan Aruna sekarang!!" teriak Alan dengan penuh kekhawatiran.
Suasana pun semakin menegang. Eza tersenyum penuh kemenangan saat melihat Alan yang begitu lemah tidak berdaya melihat Aruna berada dalam genggamannya.
Sementara Aruna kembali membuka matanya dan melihat ke arah Alan dengan air mata yang terus bercucuran membasahi wajahnya.
__ADS_1
πππ