
Aruna meminta supir taxi untuk memutar balik mobilnya saat melihat ponsel Nadia berada disampingnya. Mungkin Nadia tadi tidak sengaja menjatuhkannya. Saat sudah hampir mendekati rumah Nadia, dari jauh ia melihat mobil yang cukup familiar masuk kedalam halaman rumah itu. Aruna segera menyuruh supir taxi untuk menghentikan mobilnya.
"Itu kan mobil Eza? Atau hanya mobilnya saja yang sama?" gumam Aruna.
Aruna meminta supir taxi untuk menunggunya sebentar dan ia pun bergegas turun dari dalam taxi. Aruna melangkahkan kakinya pelan menuju rumah Nadia, ia penasaran siapa yang datang menemui Nadia malam-malam seperti ini. Dari balik semak-semak Aruna melihat Nadia sedang dipeluk seorang pria. Mata Aruna langsung membulat saat melihat pria itu adalah benar mantan kekasihnya.
"Mereka berdua memiliki hubungan? Bagaimana bisa?" batin Aruna.
Saat melihat Nadia dan Eza masuk kedalam rumah, Aruna berjalan ke arah pintu rumah itu untuk meletakkan ponsel Nadia disana. Namun tidak sengaja ia mendengar pembicaraan Nadia dan Eza.
"Jadi malam itu...." batin Aruna
Aruna langsung membulatkan matanya mendengar cerita Nadia didalam sana. Tanpa sadar ia menjatuhkan ponsel Nadia ditangannya.
Glutak!!
Aruna kembali tersadar saat mendengar suara ponsel yang ia jatuhkan dari tangannya. Ia langsung merasa panik dan berjalan mundur beberapa langkah. Aruna berlari menuju taxi yang sedang menunggunya disana.
Pintu rumah itu kembali terbuka. Nadia dan Eza berdiri disana dan tidak melihat siapa-siapa. Pandangan Nadia turun kebawah dan melihat ponselnya tergeletak disana. Ia segera mengambil ponsel itu.
"Ini kan ponselku" ucap Nadia sambil kembali mengingat-ingat sesuatu.
"Jangan-jangan tadi Aruna??" Nadia menoleh ke arah Eza dan mereka saling memandang dengan panik.
Eza langsung berlari kedepan sana diikuti Nadia dibelakangnya. Mereka melihat Aruna membuka pintu belakang taxi dan buru-buru masuk kedalamnya.
"Ayo kita kejar dia!!" seru Eza
Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan menyusul taxi yang dinaiki Aruna. Aruna merasa sangat panik dan ketakutan saat melihat ke arah belakang dan melihat mobil Eza mengikuti taxi yang ia naiki.
"Pak cepat sedikit pak..." panik Aruna
Sementara itu didepan rumah Aruna, dua mobil berhenti berhadapan disana. Dua orang pria turun dari mobil mereka masing-masing dan saling berdiri menatap tajam. Mereka berjalan saling mendekat dan sekarang berdiri saling berhadapan.
"Sebaiknya kamu lepaskan Aruna dan menjauh dari hidupnya" ucap Alvin
"Siapa kamu menyuruhku untuk menjauhi Aruna? Aruna masih istriku!" jawab Alan
Alvin tersenyum sinis. "Istri hah?? Sedangkan kamu sendiri sudah pernah tidur dengan wanita lain dan wanita itu sedang hamil anakmu" sindir Alvin
"Dia tau semuanya, apa Aruna yang memberi taunya? Sedekat itu kah hubungan mereka sekarang?" batin Alan merasa cemburu.
Alvin menarik kerah baju Alan. "Aku tidak akan membiarkan kamu terus-terusan menyakiti hati Aruna! Jadi ceraikan dan lepaskan dia! Karena aku yang akan menjaganya mulai sekarang!"
"Bagaimana kalau aku tidak mau??!" tantang Alan
Buugghhh!!
Alvin memberikan satu pukulan diwajah tampan Alan. Alan memegangi pipinya dan kembali menatap tajam ke arah Alvin.
Buugghhh!!
__ADS_1
Satu pukulan balasan mendarat dipipi Alvin. Alvin yang tidak terima pun kembali mendekati Alan dan hendak memukul Alan kembali.
"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku! Aku tau apa yang harus aku lakukan" ucap Alan sambil menahan tangan Alvin.
"Aku tidak akan berhenti sampai kamu melepaskan Aruna!!" seru Alvin dengan tatapan marah.
Kreekkkk
Pintu rumah Aruna dibuka. Karena mendengar suara keributan, pak Umar dan istrinya pun melihat keluar.
"Ada apa ini?" tanya pak Umar dari depan pintu.
Alan dan Alvin saling melepaskan tangan mereka dan menoleh kearah orang tua Aruna yang berdiri disana. Alan berjalan kearah pagar dan membuka pintu pagar rumah itu. Ia berjalan masuk kedalam halaman rumah itu diikuti oleh Alvin dibelakangnya.
Pak Umar dan Ratih menatap ke arah dua orang pria dihadapannya secara bergantian.
"Ada apa ini?" tanya pak Umar
Alan dan Alvin pun saling menoleh, kemudian kembali menatap ke arah pak Umar.
"Perkenalkan nama saya Alvin om. Saya kemari untuk menemui Aruna" ucap Alvin memperkenalkan diri.
"Tapi Aruna belum pulang, ini kami juga lagi nungguin. tumben sekali Aruna jam segini belum pulang dari kantor" jawab Ratih dengan wajah cemas
"Apa?? Aruna belum pulang??" tanya Alan kaget.
"Iya nak Alandra. Ibu sudah telfonin dari tadi tapi tidak diangkat-angkat. Ibu jadi khawatir" ucap Ratih
"Bapak... Ibu.. saya pamit dulu, saya akan mencari Aruna" Alan menundukkan sedikit kepalanya kemudian segera berbalik dan berjalan ke arah mobilnya kembali.
Alvin juga ikut pamit untuk mencari Aruna dan menyusul Alan. Pak Umar pun tidak bisa melarang dua pria itu untuk mencari keberadaan putrinya. Untuk saat ini yang penting Aruna bisa pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Mobil Alan melaju ke arah rumah Nadia dengan diikuti mobil Alvin dibelakangnya. Kali ini Alan tidak ingin egois dan membiarkan Alvin mengikutinya untuk mencari keberadaan Aruna. Alan mencoba menelfon Aruna tapi tidak ada jawaban.
"Kamu dimana Run? Jangan membuatku khawatir" gumam Alan sambil terus mencoba menghubungi Aruna sembari menyetir.
Kini mobil Alan berhenti didepan rumah Nadia. Alan bergegas turun dan mengetuk pintu rumah itu namun tidak ada jawaban. Sementara dibelakang sana mobil Alvin datang dan Alvin pun bergegas turun dan berlari ke arah Alan.
"Bagaimana? Apa kamu yakin Aruna ada disini" tanya Alvin yang hanya mengikuti arahan dari Alan.
"Sepertinya tidak ada orang didalam" ucap Alan.
Alan memegang gagang pintu dan pintu itu terbuka.
"Tidak dikunci? Bagaimana bisa?" Alan melebarkan pintu rumah itu dan berjalan masuk kedalam.
Alvin ikut masuk dan mencari keberadaan pemilik rumah itu namun mereka tidak menemukan siapapun disana. Alan melihat tas yang tadi dipakai Nadia saat pergi kerumahnya diatas sofa. Ia pun mendekati dan meraih tas itu. Sebelum membuka pintu, Nadia memang sempat melempar tasnya ke arah sofa.
"Tas ini...? Berarti Nadia sudah sempat pulang dan pergi lagi. Tapi kenapa Nadia pergi terburu-buru sampai lupa mengunci pintu rumahnya?" pikir Alan.
Alan kembali meletakkan tas itu dan menoleh ke arah Alvin disana.
__ADS_1
"Ayo kita cari Aruna, aku khawatir terjadi sesuatu dengannya" ucap Alan yang dijawab anggukan oleh Alvin.
Kedua pria tampan itu bergegas keluar dari dalam rumah itu dan kembali menaiki mobil mereka masing-masing.
πΊπΊπΊ
Seeeeettttttt
Taxi itu mengerem mendadak saat sebuah mobil berhenti didepannya. Dua orang turun dari dalam mobil itu. Eza langsung berjalan ke arah taxi dan membuka pintu belakang taxi itu. Ia menarik tangan Aruna dan membawanya keluar. Sementara Nadia menunggu disamping mobil Eza.
"Eza lepaskan....." Aruna mencoba melepaskan tangannya tapi Eza memegangnya dengan erat dan terus mencoba menarik tangan gadis itu untuk membawanya ke arah mobilnya.
Supir taxi itu ikut turun. "Hei lepaskan gadis itu!"
Supir taxi itu berlari ke arah Eza dan Aruna. Ia mencoba membantu Aruna lepas dari genggaman Eza.
Dugghh!!!
Eza menendang perut supir taxi itu hingga jatuh terpental ke belakang. Supir taxi itu mencoba bangun sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena tendangan dari Eza tadi. Supir taxi itu kembali berjalan mendekat.
Buugghhh!!!
Nadia memukul punggung supir taxi itu dengan kayu yang ia ambil dipinggir jalan. Supir taxi itu jatuh tersungkur ke aspal dan pingsan.
"Tidak!! Pak bangun pak!!" teriak Aruna dengan tetesan air mata yang mulai berjatuhan.
"Diam kamu Run!! Ayo cepat ikut aku!" Eza kembali menarik tangan Aruna.
Aruna mencoba memberontak dan menggigit tangan Eza hingga Eza melepaskannya.
"Auuuwww sial!!" Eza meringis kesakitan karena gigitan dari Aruna ditangannya.
Aruna tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk lari meninggalkan tempat itu.
"Sial!! Ayo kejar dia!!" seru Eza
Eza berlari mengejar Aruna dengan diikuti Nadia dibelakangnya.
Tak... Tak... Tak...
Aruna terus melangkahkan kakinya cepat sebelum dua orang dibelakangnya bisa mengejar dan menangkapnya lagi.
"Ya Tuhan... siapapun tolong aku.... aku takut sekali" batin Aruna sambil terus berlari
Langkah Aruna terhenti saat ia menemui jalan buntu, sekarang ia berdiri dipinggir tebing yang cukup dalam. Aruna membalikkan badannya dan melihat Eza sudah berada disana disusul dengan Nadia.
"Kamu tidak bisa lari kemana-mana lagi Run" ucap Eza dengan nafas ngos-ngosan.
Eza tersenyum smirk dan melangkahkan kakinya pelan ke arah Aruna.
"Berhenti disitu!! Atau aku akan lompat kebawah!!" seru Aruna sambil melihat ke arah Eza dan berganti melihat kebawah tebing sana yang cukup dalam.
__ADS_1
πππ