
Pagi ini sangat cerah. Secerah suasana hati Aruna tentunya. Aruna terlihat lebih fresh setelah semalam ia istirahat dengan cukup, bahkan ia tidur lebih awal. Ia sampai tidak tau kapan Alan masuk dan ikut tidur disampingnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka dan Alan sudah berdiri disana. Aruna yang sedang duduk didepan cermin segera bangun dan berbalik menghadap ke arah Alan.
"Ayo kita sarapan dulu" ajak Alan.
Aruna tersenyum dan mengangguk. Ia berjalan ke arah Alan. Alan meraih pergelangan tangannya dan membawanya melangkah menuju meja makan. Mereka pun menikmati sarapan pagi mereka.
"Kenapa dengan wajahmu? Apa kamu kurang tidur?" tanya Aruna saat melihat wajah Alan yang seperti nampak lelah, padahal semalam ia tak mengganggunya. Harusnya Alan bisa istirahat dengan cukup, sama seperti dirinya.
"Tidak, mungkin aku hanya lelah karena perjalanan kemarin" bohong Alan. Padahal semalam ia memang tidak bisa tidur, entah mengapa sejak menyatakan perasaannya pada Aruna ia jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia merasa begitu tegang saat berada satu ranjang dengan Aruna.
Mereka menghabiskan sarapan mereka dan setelah itu turun ke lantai basement. Kini mereka sudah berada didalam mobil dan mobil pun melaju ke arah kantor Reno. Seperti biasa, Alan mengantarkan Aruna terlebih dahulu.
Mobil sudah terparkir dihalaman kantor Reno sejak 5 menit yang lalu. Namun baik Aruna maupun Alan tidak ada yang bergeming dari tempat duduknya.
"Kenapa tidak turun? Apa mau aku mengantarkanmu sampai ke atas?" tanya Alan yang melihat Aruna diam saja dan masih belum turun dari dalam mobil.
Aruna melirik ke arah Alan yang duduk di kursi pengemudi.
"Dasar tidak peka! Apa dia tidak akan menciumku atau hanya sekedar mencium keningku? Tidak romantis sekali!" batin Aruna kesal.
"Baiklah aku akan turun!"
Aruna membuka pintu mobil dan hendak turun. Namun ia terhenti dan kembali menoleh ke arah Alan.
"Ingat! Tidak ada kontak mata dengan sekertarismu itu dan jarak minimal 2 meter!" tegas Aruna memberi peringatan
"Itu tidak mungkin Run, kami kan satu kantor. tidak mungkin aku tidak melihatnya..." ujar Alan.
"Kalau begitu beri jarak 2 meter!" sergah Aruna
"Itu juga tidak mungkin...." ucapan Alan terhenti karena Aruna bergegas turun dan tidak ingin mendengar penolakan dari Alan.
Brakkk!!
Aruna menutup pintu mobil dan melangkahkan kakinya.
"Tunggu Run...." Alan bergegas turun dan menghampiri ke arah Aruna yang sudah berdiri didepan mobil Alan.
"Ada apa lagi?!" seru Aruna.
Cup...
Alan langsung mencium pipi Aruna saat sudah berdiri didepan Aruna. Aruna membelalakkan matanya karena perlakuan Alan. Alan pun menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Aruna kembali.
"Tunggu aku, nanti aku akan menjemputmu" ucap Alan.
"A...aku akan masuk" ucap Aruna dengan wajah menegang dan gugup.
Aruna berjalan dengan cepat menuju pintu utama. Alan tersenyum melihat tingkah istrinya itu dan ia pun kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya pergi menuju kantornya.
πΊπΊπΊ
Siang itu di kantor Alan...
Tok.. tok.. tok...
__ADS_1
Jessica membuka pintu ruangan kerja Alan dan melangkahkan kakinya masuk. Alan yang sedang fokus pada laptopnya pun kembali teringat akan ucapan Aruna tadi pagi di dalam mobil.
"Stop!! berhenti disitu!!" seru Alan membuat langkah Jessica terhenti.
Alan bergegas bangun dari duduknya dan berdiri disamping meja kerjanya.
"Ada apa?" tanya Alan.
"Ini ada dokumen yang harus bapak tanda tangani" jawab Jessica.
"Ya sudah kamu lemparkan saja kemari dokumennya" perintah Alan
"Apa pak??" tanya Jessica nampak tak percaya dengan yang dikatakan bosnya tadi.
"Ayo lempar..."
Alan berjongkok dan menyuruh Jessica melempar map berisi dokumen itu di atas lantai. Jessica yang masih terlihat bingung pun akhirnya menuruti perintah bosnya itu. Ia ikut berjongkok dan melemparkan map itu diatas lantai. Alan menerima map itu dan bergegas bangun lalu menaruh map itu di atas meja dan meraih pulpennya untuk tanda tangan.
Selesai ditanda tangani, Alan kembali berjongkok dan melempar map itu pada Jessica. Jessica menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan kembali membungkukkan badannya untuk mengambil map itu dari lantai. kemudian ia berbalik dan berjalan keluar dari dalam ruangan Alan masih dengan wajah bingung.
Setelah pintu kembali tertutup, Alan mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
"Ya Tuhan.. aku benar-benar bisa gila gara-gara Aruna" gumam Alan sambil menyibakkan rambutnya kebelakang.
Alan melihat jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang. Ia pun bergegas keluar dari ruangan kerjanya dan hendak pergi ke kantor Reno untuk menjemput Aruna makan siang.
Sementara itu, Aruna tengah fokus dengan pekerjaannya. Reno keluar dari dalam ruangan kerjanya dan berjalan menghampirinya.
"Run, saya mau keluar untuk jemput Tasya sekalian makan siang. Kamu mau ikut sekalian?" ajak Reno.
"Tidak pak, terimakasih. Nanti saya makan siang sendiri saja. Lagi pula saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan" tolak Aruna.
"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu ya Run" ucap Reno
Reno berjalan pergi meninggalkan Aruna. Sesampainya di lantai bawah, Reno berpapasan dengan Alan yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Loh Aruna mana?" tanya Alan sambil melihat sekelilingnya dan tidak melihat Aruna.
"Aruna masih diatas. Kamu samperin aja, tadi aku udah ajak dia tapi dia tidak mau" ucap Reno.
Alan langsung berjalan melewati Reno tanpa mengatakan apapun lagi. Ia menekan tombol lift dan masuk ke dalam lift.
Sesampainya di lantai atas, Alan berjalan ke arah meja kerja Aruna. Aruna yang sedang fokus dengan pekerjaannya pun mengangkat wajahnya saat menyadari kehadiran seseorang. Ia melihat Alan yang sedang berjalan ke arahnya dan sekarang berdiri tepat dihadapannya.
"Tinggalkan pekerjaanmu dan ayo kita makan siang" ajak Alan.
"Harusnya kamu tidak perlu jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengajakku makan siang. Lagi pula aku kan bisa makan siang di kantin" ujar Aruna lalu menurunkan pandangannya dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Alan menghela nafas panjang dan berjalan ke samping meja Aruna. Ditariknya tangan Aruna dan dibawanya melangkah untuk turun ke lantai bawah. Aruna hanya tersenyum dan tidak memberontak dengan perlakuan Alan padanya. Karena sebenarnya ia senang Alan datang untuk mengajaknya makan siang.
Kini mereka sudah berada disebuah restoran dan tengah menikmati makan siang mereka. Aruna melirik ke arah Alan yang tengah fokus dengan makanannya.
"Dia ini tidak ada romantis-romantisnya. Bisa-bisanya aku menyukai pria seperti ini" batin Aruna.
Alan yang merasa sedang diperhatikan pun melihat ke arah Aruna.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Alan.
"Kenapa? Memangnya tidak boleh menatap suamiku sendiri?" ujar Aruna membuat senyum simpul dibibir Alan.
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu mengakui aku sebagai suamimu?" ledek Alan membuat wajah Aruna merona malu.
"Kalau kamu meledekku terus aku akan pergi saja!" Aruna mendorong kursi kebelakang dan beranjak bangun.
Aruna melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Alan yang masih duduk.
"Run.. tunggu Run..." panggil Alan namun Aruna tidak menghiraukannya.
"Kenapa wanita gampang sekali marah" gumam Alan sambil bergegas bangun dan berjalan cepat mengejar Aruna.
Sesampainya didepan restoran, Alan meraih pergelangan tangan Aruna hingga gadis itu kini menghadap ke arahnya.
"Kenapa kamu gampang sekali marah?" tanya Alan dengan nafas terengah-engah.
"Aku tidak marah, hanya saja aku masih banyak pekerjaan. Cepat antarkan aku kembali ke kantor atau nanti pak Reno akan memarahiku" jawab Aruna
Seseorang berjalan melewati mereka dan kini berdiri dibelakang Alan sambil menelfon. Aruna yang merasa mengenalnya pun memanggilnya.
"Hei, kamu Nad.. Nadia kan???" panggil Aruna membuat gadis itu menoleh ke arah Aruna yang berdiri didepan Alan.
Nadia menurunkan ponselnya dan mencoba mengingat-ingat.
"Kamu? Aruna ya?" sapa wanita itu balik menunjuk ke arah Aruna.
Aruna mengangguk dan kembali menatap wajah Alan.
"Sayang kenalin, dia wanita yang waktu itu menolongku dan membawaku ke rumah sakit" ucap Aruna
Alan membalikkan badannya dan mensejajarkan dirinya dengan Aruna. Ia melihat wanita yang kini berdiri dihadapannya. Alan nampak kaget dan seketika tubuhnya menegang melihat wanita itu.
Nadia juga terlihat kaget saat melihat Alan. ia masih mengingat wajah Alan sebagai pria yang ia ajak bermalam di dalam hotel malam itu.
"Dia...." batin Alan mengingat kejadian didalam hotel malam itu.
"Nadia, dia ini suamiku. Namanya Alandra" ucap Aruna memperkenalkan Alan pada Nadia.
Nadia melirik ke arah Alan dan tersenyum manis.
"Tidak menyangka ya Run kita bisa bertemu lagi. Sepertinya kita berjodoh" ucap Nadia pada Aruna tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Alan.
Alan mencoba bersikap tenang dan meraih tangan Aruna. Ia menggenggamnya dengan sangat erat. Ia pun menoleh ke arah Aruna.
"Bukankah kamu bilang masih banyak pekerjaan? Ayo aku antar kamu sekarang" ucap Alan.
Alan menoleh ke arah Nadia sebentar lalu menarik tangan Aruna untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Ta...tapi...."
Alan tak menghiraukan dan terus menarik tangan Aruna. Aruna beberapa kali menoleh ke arah belakang dan melihat Nadia yang masih berdiri memandangi ke arah kepergian mereka.
Nadia tersenyum simpul tanpa melepaskan pandangannya dari Aruna dan Alan yang sudah berjalan semakin jauh darinya.
"Alandra... semoga ada malam-malam lain untuk kita..." gumam Nadia.
πππ
Aruna Putri Handoyo
__ADS_1
Alandra Fernando