Suami Perjaka Milik Aruna

Suami Perjaka Milik Aruna
Bab 35 : SPMA. Menjauh dari Aruna


__ADS_3

Wiuw... Wiuw... Wiuw...


Mobil polisi datang bersama dengan mobil Reno. Eza yang mendengar suara sirine itu pun langsung panik dan mendorong tubuh Alvin yang sedang memeganginya tadi. Alvin sendiri tidak melawan Eza lagi, kali ini badannya terasa lemas melihat wanita yang ia cintai sudah tidak berdiri disana.


"Arunaa....." lirih Alvin dengan air mata yang menetes diwajahnya.


Para polisi itu langsung turun, Eza yang melihatnya bergegas lari untuk menghindari para polisi itu. Namun salah satu dari polisi itu pergi mengejarnya untuk membekuknya.


Reno segera turun dari dalam mobil bersama dengan Tasya, mereka menghampiri ke arah Alan yang sedang menangis histeris di pinggir tebing. Reno berjongkok dan memegangi kedua bahu Alan dari belakang. Alan hendak ikut turun kebawah untuk menolong Aruna namun Reno mencegahnya.


"Aruna!! kamu harus bertahan Aruna!! aku tidak bisa hidup tanpamu!!!.. hiks.. hiks..." teriak Alan.


Setelah memakan waktu hampir 1 jam lebih, akhirnya tubuh Aruna dan Nadia berhasil dibawa naik dan dimasukkan ke dalam mobil ambulance. Alan ikut naik kedalam mobil ambulance untuk menunggui Aruna sementara mobilnya dibawa oleh Reno.


"Aruna bertahanlah sayang.. hiks..hiks.." Isak Alan sambil terus memegangi tangan Aruna


🌺🌺🌺


Dirumah sakit...


Alan mondar-mandir tidak tenang didepan ruang UGD. Reno bangun dari duduknya dan menghampiri Alan, ditepuknya pundak pria itu.


"Kita berdoa saja Lan, semoga Aruna baik-baik saja" ucap Reno


Tak...tak.. tak...


Dengan langkah cepat, pak Umar dan istrinya berjalan menghampiri ke arah empat orang yang sedang menunggu didepan ruangan UGD itu.


"Apa yang terjadi?? Bagaimana keadaan putri bapak?" tanya pak Umar pada empat orang itu


Alan berjalan mendekati ke arah mertuanya itu dan menceritakan semuanya. Ratih menangis histeris mendengar cerita dari Alan. Pak Umar yang juga tampak syok mencoba menenangkan istrinya itu. Tak berselang lama seorang dokter keluar dan langsung diserbu oleh mereka.


"Dokter bagaimana keadaan mereka?" tanya Alan.


"Kami mohon maaf... Salah satu dari dua pasien itu tidak terselamatkan" ucap dokter itu


Deg!!!


Seketika tubuh mereka terasa lemas dan jantung mereka seakan berhenti.


"Kami tidak bisa menyelamatkan pasien bernama Nadia, dia sudah meninggal dunia akibat benturan yang cukup parah dikepalanya hingga menyebabkan pendarahan hebat" ucap dokter itu.


"Lalu bagaimana dengan Aruna putri saya dok?" tanya pak Umar khawatir.


"Untuk pasien bernama Aruna sudah berhasil melewati masa kritisnya. Tapi dia masih belum sadar. Berdoa saja semoga pasien cepat kembali sadar" ucap dokter itu.


Mereka pun merasa lega karena Aruna baik-baik saja. Namun Alan masih tampak murung karena mendengar Nadia meninggal. Alan berjalan mundur dan dengan pelan meninggalkan tempat itu. ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari mereka. Reno yang melihatnya langsung mengejarnya dan menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Lan, ada apa? Harusnya kamu senang Aruna selamat" ucap Reno saat melihat wajah sedih Alan.


"Tapi Nadia tidak terselamatkan Ren... Bagaimana pun juga dia sedang mengandung anakku" ucap Alan.


"Lan, kita belum tau pasti apakah benar itu anak kamu atau bukan" ucap Reno


Alan menoleh ke arah Alvin yang juga sedang berdiri disana bersama dengan Tasya dan kedua orang tua Aruna.


"Aruna berhak bahagia, tapi bukan denganku Ren" ucap Alan kembali menatap ke arah Reno.


"Apa maksud kamu Lan?" tanya Reno


"Pria itu sangat mencintai Aruna. Aku yakin dia bisa membahagiakan Aruna" ucap Alan membuka Reno yang mendengarnya jadi ikut emosi.


"Jangan konyol Lan! Aruna hanya mencintai kamu!" Kesal Reno


"Gara-gara aku nyawa seseorang hilang Ren! Dan Aruna juga hampir kehilangan nyawanya. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika itu sampai terjadi" ucap Alan dengan air mata diwajahnya.


"Aku akan pergi dari hidup Aruna. Secepatnya aku akan mengurus perceraian kami" tambah Alan


Alan hendak melangkah pergi namun Reno menahan lengannya.


Buugghhh!!


Reno memukul wajah Alan karena ia sangat kesal dengan keputusan yang Alan ambil.


Alan tidak melawan, ia bisa mengerti kekesalan Reno padanya. Namun untuk saat ini, Alan belum bisa merubah keputusannya.


"Maaf Ren, ini yang terbaik untuk kami. Tolong bantu aku untuk mengurus pemakaman Nadia hari ini" ucap Alan, lalu ia melangkahkan kakinya pergi dengan gontai meninggalkan tempat itu.


Reno hanya mendengus kesal sambil mengacak rambutnya kasar. ia benar-benar sangat kecewa dengan keputusan sahabatnya itu.


Pagi ini juga, Reno langsung mengurus proses pemakaman Nadia. Hanya tampak Reno dan Tasya yang berada disana dan beberapa orang yang datang untuk membantu proses pemakaman.


Sementara Alan sendiri tengah berada di apartementnya. Sejak pulang dari rumah sakit, Alan memilih pulang ke apartemennya untuk menenangkan diri. Alan tidak tidur dan hanya duduk dilantai sambil menyenderkan tubuhnya di dipan. Diraihnya foto pernikahannya dari atas meja di samping ranjangnya.


"Maafkan aku ya Run. Aku akan pergi dari hidupmu.. aku terlalu takut untuk menyakitimu..." ucap Alan sambil mengusap lembut foto itu.


Dirumah sakit...


Siangnya, perlahan Aruna membuka matanya. Pak Umar dan Ratih yang sedang menungguinya langsung berhambur ke arahnya.


Aruna mengerjip-ngerjipkan matanya pelan. Samar-samar ia mulai melihat wajah orang tuanya.


"Aruna sayang.... syukurlah kamu sudah sadar nak" ucap Ratih sambil memegangi tangan putrinya.


"B..u...." lirih Aruna

__ADS_1


"Iya sayang, ibu sama bapak ada disini. Kamu jangan banyak bicara dulu nak, kamu harus banyak istirahat" ucap Ratih


"A..landra..." ucap Aruna lagi dengan suara parau


Ratih dan pak Umar saling menatap. Sejak pagi tadi mereka memang sudah tidak melihat Alan lagi di rumah sakit.


"Di.. mana.. A..landra.. Bu..?" tanya Aruna


"Nak Alandra sedang ada urusan sebentar, nanti juga dia kembali lagi" bohong Ratih karena tidak ingin putrinya terlalu banyak pikiran dulu.


Ratih menyuruh Aruna untuk istirahat lagi karena kondisinya masih lemah. Tak berselang lama Alvin masuk dan menyuruh Pak Umar dan Ratih untuk pulang dulu untuk beristirahat.


"Terimakasih ya nak karena sudah mau ikut menjaga Aruna" ucap Ratih


"Iya sama-sama tante" balas Alvin


Pak Umar dan Ratih pun meninggalkan Aruna bersama dengan Alvin. Mereka bisa pulang dulu sebentar karena Alvin yang akan menggantikan untuk menjaga Aruna.


Alvin melihat ke arah Aruna yang sedang terbaring diatas ranjang rumah sakit dan berjalan mendekatinya.


"Maaf Run karena aku tidak datang lebih awal dan menolongmu hingga kamu harus mengalami hal seperti ini" ucap Alvin sambil memandangi wajah Aruna yang sedang terlelap.


🌺🌺🌺


Hari ini berganti hari. Hari ini Aruna sudah diperbolehkan untuk pulang. Selama Aruna berada dirumah sakit hampir dua minggu ini, Alvin selalu menjaga dan merawatnya dengan baik. Sementara Alan tidak pernah datang untuk sekedar menjenguknya.


Alvin mendorong kursi roda yang dinaiki oleh Aruna menuju ke arah mobilnya yang ia parkirkan didepan rumah sakit.


"Alandra kamu dimana? Kenapa kamu tidak pernah datang menjengukku?" batin Aruna sedih


Alvin menghentikan langkahnya saat sudah sampai di depan rumah sakit. Ia berdiri didepan Aruna dan mulai membungkukkan badannya untuk membantu Aruna bangun dari kursi roda.


"Pak Alvin, saya bisa jalan sendiri pak..." ucap Aruna menolak perlakuan Alvin padanya.


"Biarkan aku membantumu Run" pinta Alvin yang ingin membantu dengan tulus.


Aruna pun menurut dan dengan ragu-ragu ia mengalungkan tangannya dileher pria itu. Mata mereka saling bertemu dan saling menatap dalam.


"Aku berharap kamu bisa membuka hatimu untukku Aruna" batin Alvin.


"Kenapa bukan Alandra yang sekarang berada dihadapanku? Kamu kemana? Kenapa tidak ada kabar? Apa kamu sedang menjauhiku?" batin Aruna penuh dengan banyak pertanyaan tentang Alan.


Dari arah jauh seseorang tengah memperhatikan mereka dari dalam mobilnya. Matanya pun mulai berkaca-kaca.


"Maafkan aku Run, aku sangat merindukanmu. Tapi aku harus pergi dari hidupmu. Semoga kamu bahagia dengan pria itu" batin Alan.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž

__ADS_1



__ADS_2