Suami Perjaka Milik Aruna

Suami Perjaka Milik Aruna
Bab 37 : SPMA. Suami Perjaka Milik Aruna


__ADS_3


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Alan sudah berusaha mengejar mobil Reno namun tetap tidak terkejar. Tapi Alan tetap memutuskan untuk pulang ke kota A. Ia akan langsung menemui Aruna setibanya disana nanti.


Mobil Reno berhenti didepan pintu pagar rumah Aruna.


Aruna menoleh ke arah Reno. "Terimakasih karena sudah mengantar saya pulang, pak"


"Kamu yakin tidak apa-apa Run?" tanya Reno khawatir.


Aruna mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Saya baik-baik saja. Kalau begitu saya turun dulu"


Aruna membuka pintu mobil dan turun. Ia kembali menghadap ke arah mobil Reno untuk melihat kepergian mobil itu. Reno pun melajukan mobilnya kembali. Aruna memandangi kepergian mobil bosnya itu sampai mobil itu tidak terlihat lagi.


Aruna melangkah kakinya ke arah pintu pagar dan hendak membukanya ketika sebuah mobil datang ke arahnya. Seseorang turun dari dalam mobil itu dan berjalan menghampirinya. Pria itu langsung memeluk tubuh Aruna.


"Kamu kemana saja Run? Aku sangat mengkhawatirkanmu" ucap Alvin.


Selama Aruna mulai masuk kerja lagi, Alvin memang selalu mengantar jemputnya. Aruna sempat menolak namun Alvin tidak peduli dan tetap menjemputnya setiap hari. Hari ini Alvin datang ke kantor Reno untuk menjemput Aruna namun Aruna dan Reno tidak ada disana.


"Maaf pak, tadi saya ada kerjaan diluar bersama pak Reno" bohong Aruna.


Alvin melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aruna.


"Kamu habis nangis Run?" tanya Alvin saat melihat mata Aruna yang sedikit sembab.


"Oh ini.. tadi saya cuma kelilipan pak" bohong Aruna lagi, tapi Alvin tau kalau Aruna sedang berbohong padanya.


Alvin menatap dalam manik mata gadis itu. "Run... tolong beri aku kesempatan untuk mengisi hati kamu"


Aruna tertegun mendengar ucapan Alvin barusan. Alvin memang sangat baik, apalagi selama dirumah sakit sampai sekarang, Alvin selalu berusaha menjaganya. Tapi hati Aruna sampai saat ini masih diisi dan dipenuhi oleh Alan, walaupun Aruna sudah sangat kecewa dengannya.


"Pak, saya...."


Ucapan Aruna terpotong karena sebuah mobil datang dan berhenti tak jauh dari mereka berdiri. Alan turun dari dalam mobil itu dan berjalan menghampiri ke arah mereka.


Jantung Aruna langsung berdegup kencang saat melihat Alan, bagaimanapun juga ia sangat merindukan sosok pria itu.


Alan melihat ke arah Alvin dan Aruna secara bergantian, kemudian matanya fokus menatap pada Aruna.


"Aku ingin bicara denganmu" ucap Alan lembut.


Aruna mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Tapi aku tidak ingin bicara denganmu".


Alan tau Aruna pasti sangat marah dan kecewa padanya.


"Hanya sebentar saja, aku mohon" ucap Alan membuat Aruna kembali menatapnya.


"Dia bilang tidak mau, jadi jangan memaksanya" sela Alvin


Alan mengarahkan pandangannya pada Alvin. "Ini urusanku dengan Aruna, jadi kamu tidak perlu ikut campur"


Alvin menyunggingkan senyum miring diwajahnya. "Selama ini kamu kemana saja? Kamu pergi tanpa ada kabar dan sekarang kamu tiba-tiba kembali! Kamu pikir Aruna akan memaafkanmu hah?!"


Alvin mulai tersulut emosi, namun Alan masih menyikapinya dengan santai. Alan kembali menatap ke arah Aruna dan meraih pergelangan tangan gadis itu.

__ADS_1


"Ikut denganku sebentar saja" ucap Alan


Alvin yang melihatnya pun geram. Ia langsung meraih kerah kemeja Alan.


"Lepaskan tangannya!!" seru Alvin


Buugghhh!!!


Alvin mendaratkan pukulan diwajah Alan hingga Alan melepaskan tangan gadis itu dan memegangi pipinya yang terasa sakit akibat pukulan dari Alvin. Aruna pun terlihat khawatir melihatnya. Kedua pria itu kini saling menatap tajam.


"Pak Alvin sudah pak!!" teriak Aruna


Kedua pria itu tidak menghiraukan teriakan Aruna dan masih saling menatap tajam. Mereka saling mendekat dan mulai berkelahi.


Buugghhh... Buugghhh...


Mereka saling memukul dan tidak ada yang mau mengalah. Aruna terlihat sangat panik melihat perkelahian dua orang pria dihadapannya.


"Hentikannnnnn!!!" teriak Aruna membuat dua pria itu berhenti dan menatap ke arah gadis itu.


Aruna berjalan mendekat ke arah dua pria itu dan melihat ke arah Alvin.


"Pak Alvin, biarkan saya mengurus masalah saya dengan suami saya" ucap Aruna, kemudian ia menoleh ke arah Alan.


"Aku hanya memberimu waktu sebentar untuk berbicara" ucap Aruna dingin.


Aruna melangkahkan kakinya ke arah mobil Alan dan masuk kedalamnya. Alan melihat ke arah Alvin yang masih menatapnya dengan tajam, kemudian ia menyusul Aruna naik ke dalam mobil dan mejukan mobilnya pergi. Sementara Alvin hanya terdiam sambil memandangi kepergian mobil itu.


🌺🌺🌺


Kini mobil Alan sudah berhenti menghadap ke arah pantai. Suasana didalam mobil masih terlihat sunyi karena mereka masih saling terdiam. Alan menoleh ke arah Aruna, namun Aruna bergegas membuka pintu mobil dan berjalan ke arah pinggir pantai. Alan pun ikut keluar dan berjalan dibelakang gadis itu.


Alan berjalan melewati gadis itu dan berdiri tepat dihadapannya hingga mata mereka saling bertemu dan saling menatap.


"Aku tau aku salah... beribu kata maafpun tidak akan sanggup mengobati luka yang aku berikan dihati kamu" ucap Alan membuat mata Aruna berkaca-kaca.


"Tapi aku akan tetap meminta maaf, hari itu aku benar-benar sangat putus asa dan berfikir untuk meninggalkanmu" ucap Alan terhenti dan semakin menatap dalam mata gadis itu. "Tapi setelah berada jauh darimu, aku sadar jika aku tidak bisa hidup jauh darimu"


Air mata Aruna pun menetes diwajah cantiknya mendengar pengakuan pria itu.


"Apa kamu tau kalau aku sangat membencimu?" Isak Aruna


Alan menganggukkan kepalanya. "Aku tau... kamu bisa memukulku atau menamparku".


"Aku membencimu! hiks.. hiks..." Isak Aruna sambil memukul-mukul dada bidang Alan.


Alan membiarkannya dan tidak melawannya. Ia tau Aruna pasti sangat kesal dan kecewa padanya.


"Pukul saja aku jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik" ucap Alan


Aruna menghentikan pukulannya didada Alan. kedua tangannya masih memegang erat jas yang dipakai Alan sambil terus menangis tertunduk.


"hiks... hiks... kamu jahat... sangat jahat..." Isak Aruna


Alan tidak tahan lagi, ia meraih tangan Aruna dan membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Alan memeluknya dengan sangat erat dan menciumi rambut gadis itu.


"Maafkan aku, aku sangat merindukanmu" ucap Alan dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Aruna menangis dalam pelukan Alan, ia sangat merindukan sekaligus membenci pria itu. Hatinya tidak bisa berbohong, jika rasa cintanya mampu mengalahkan rasa bencinya.


Setelah cukup lama mereka berpelukan dan saling melepas rindu, Alan melonggarkan pelukannya dan menatap dalam manik mata gadis itu.


"Kenapa kamu pergi menghindariku? Kamu bahkan tidak pernah mengangkat telefonku" tanya Aruna


Alan menangkup wajah Aruna dan menyeka air matanya.


"Maaf, aku terlalu takut untuk menyakitimu saat itu. Aku benar-benar putus asa Run" jawab Alan.


"Ada hal yang ingin aku ceritakan tentang Nadia... Tapi kamu malah pergi tanpa mendengarnya lebih dulu" ucap Aruna.


"Apa itu?" tanya Alan


Aruna menatap Alan dan mulai menceritakan tentang apa yang ia dengar malam itu dari Nadia pada Alan.


"Jadi aku masih perjaka?" tanya Alan dengan senyum mengembang diwajahnya.


Aruna menganggukkan kepalanya cepat dan ikut tersenyum.


"Iya... Suami perjaka milik Aruna" jawab Aruna.


Mereka pun kembali berpelukan dan merasa sangat bahagia. tiba-tiba Aruna teringat wanita yang tadi bersama dengan Alan. Ia pun melepaskan pelukannya dari pria itu.


"Siapa wanita tadi?" tanya Aruna membuat Alan tersenyum melihat wajah cemburu Aruna.


"Itu tadi sekertarisnya papi aku" jawab Alan.


"Tapi kalian terlihat sangat akrab sekali" ucap Aruna sambil mengerucutkan bibirnya.


Alan tersenyum melihat ekspresi wajah gadis itu.


"Kebetulan dia teman sekolahku dulu, jadi kami bisa langsung akrab. Kamu tidak perlu cemburu padanya, karena di hatiku cuma ada kamu" ucap Alan sambil membelai wajah Aruna dengan lembut.


Aruna hanya terdiam dan tidak menjawab ucapan Alan lagi. Ia tau kalau Alan berkata jujur padanya. Dipandanginya terus wajah yang sangat ia rindukan itu.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Alan


"Aku merindukanmu" jawab Aruna


"Aku juga sangat merindukanmu" balas Alan


Alan mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya dibibir Aruna. Aruna mengalungkan tangannya dileher pria itu untuk menyambut dan membalas ciumannya. Mereka saling berciuman dan berpagutan dibawah sinar bulan dipinggiran pantai. suasana pun terlihat sangat romantis.



Aruna melepaskan ciumannya dan memegangi wajah Alan.


"Wajahmu terluka.." ucap Aruna khawatir saat melihat wajah Alan yang babak belur karena tadi berantem dengan Alvin.


"ini hanya luka kecil, tidak perlu khawatir" ucap Alan lalu kembali mencium bibir gadis itu.


Aruna pun membalas kembali ciuman Alan dan mereka terus berciuman dan berpagutan cukup lama.


Dari jauh Alvin tengah memperhatikan mereka dari dalam mobil sambil mengepalkan tangannya erat. Sejak tadi Alvin memang sengaja mengikuti mobil Alan karena ia sangat mengkhawatirkan Aruna.


"Kenapa kamu tidak bisa membuka hati kamu sedikit saja untukku Run" ucap Alvin dengan sorot mata berapi-api.

__ADS_1


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


__ADS_2