
Pagi ini Alvin berniat untuk menjemput Aruna sekalian ingin meminta maaf untuk kejadian malam itu karena ia telah mencium gadis itu. Alvin hendak menekan bel, namun tangannya terhenti saat mendengar pertengkaran kecil antara Aruna dan pak Umar didalam sana.
"Bapak jangan paksa Aruna terus untuk bercerai dengan Alandra! Aruna tidak mau!" seru Aruna kesal.
"Apa yang kamu pertahanan Run? Alandra harus bertanggung jawab dan menikahi wanita itu karena wanita itu sedang hamil. Lalu kamu? Kamu mau dimadu? Ujung-ujungnya kamu yang akan sakit hati Run" ucap pak Umar merasa sedih akan nasib putri semata wayangnya.
"Pak, biarin Aruna dan Alandra menyelesaikan masalah ini berdua saja. Aruna mohon..." pinta Aruna menatap sayu pada pak Umar.
"Sekarang Aruna harus berangkat kerja dulu" ucap Aruna lagi
Pak Umar tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia juga tidak ingin terus menekan putrinya itu. Karena ia tau kalau Aruna sudah sangat mencintai Alan.
"Baiklah, hati-hati dijalan" ucap pak Umar saat Aruna menyalami tangannya.
Aruna berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu. Aruna nampak kaget saat melihat Alvin yang tengah berdiri mematung dihadapannya.
"Pak Alvin..." ucap Aruna membuat Alvin tersadar dari lamunannya.
"Eh Run.. aku kesini untuk jemput kamu. Aku anterin kamu ya?" ucap Alvin sedikit gugup karena takut Aruna tau kalau ia sempat mendengar pembicaraan Aruna dan bapaknya tadi.
Aruna nampak berfikir sejenak, namun akhirnya ia mengiyakan ajakan Alvin.
"Baik pak..." jawab Aruna.
Mereka melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah Aruna dan menuju ke arah mobil Alvin yang terparkir didepan gerbang rumah itu. Sepanjang perjalanan Aruna hanya terdiam dan fokus menatap kedepan. Sementara Alvin terus menoleh ke arah gadis itu, ia sebenarnya ingin tau tentang apa yang ia dengar tadi dari bibir gadis itu. Bukannya ia senang melihat gadis yang ia sukai itu menderita dengan masalah rumah tangganya, tapi entah mengapa Alvin jadi merasa punya kesempatan untuk mendapatkan Aruna.
Kini mobil Alvin sudah berhenti dihalaman kantor tempat Aruna bekerja.
"Terimakasih pak karena sudah mengantarkan saya, tapi lain kali bapak tidak usah repot-repot datang untuk menjemput saya" ucap Aruna tanpa menoleh ke arah Alvin.
"Run, maaf sebelumnya. Tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu dengan bapak kamu" ucap Alvin membuat Aruna menoleh ke arahnya dan menatapnya.
"Run, maaf kalau aku ikut campur. Tapi apa yang dikatakan bapak kamu benar Run. Sebaiknya kamu dan suami kamu segera bercerai. Kamu satu-satunya orang yang akan terluka dalam hubungan ini Run" lanjut Alvin.
"Maaf pak, bapak tidak tau masalahnya. Jadi sebaiknya bapak tidak usah ikut campur urusan saya dan suami saya. Saya tau apa yang harus saya lakukan. Permisi!!" Aruna bergegas membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil Alvin.
"Run tunggu Run..." Alvin ikut keluar dan mengejar gadis itu. Diraihnya pergelangan tangan gadis itu.
"Ada apa lagi pak?" tanya Aruna dingin.
__ADS_1
"Aku sangat mencintai kamu Run. Tolong beri aku satu kesempatan untuk bersama kamu. Aku janji akan membuat kamu bahagia" ucap Alvin bersungguh-sungguh.
Aruna nampak terdiam. ia bisa melihat ketulusan dari Alvin untuknya. lagi pula cepat atau lambat ia juga akan bercerai dengan Alan. Alan harus segera menikahi Nadia sebelum kandungannya semakin membesar. Tapi, ia juga tidak bisa langsung membuka hati untuk Alvin semudah itu. Disaat dalam hatinya sudah terukir nama Alan disana.
"Pak Alvin, saya masih belum bercerai dari suami saya pak. Untuk saat ini, maaf... saya belum bisa menerima perasaan bapak terhadap saya. Permisi pak" Aruna melepaskan tangannya dari tangan Alvin dan berjalan pergi menuju pintu masuk.
Alvin hanya bisa menatap nanar ke arah kepergian gadis itu. Hatinya terasa sakit melihat wajah gadis itu yang selalu tampak murung dan tidak ceria lagi. Rasanya ingin sekali ia melindungi dan menjaganya.
πΊπΊπΊ
Siangnya, Reno kembali kekantornya. Ia baru saja selesai makan siang bersama Tasya. Saat dijalan tadi, ia sempat mampir ke kantor Alan namun Alan tidak ada dikantornya.
Reno berjalan menghampiri ke arah meja kerja Aruna.
"Run.. kamu sudah tau kalau Alan semalam kecelakaan?" tanya Reno
Deg!
Aruna nampak kaget dan langsung bangun dari duduknya sambil menatap Reno.
"Apa? kecelakaan??" tanya Aruna dengan nada khawatir.
"Iya tadi aku mampir ke kantor Alan tapi Alan tidak masuk kerja hari ini. Aku telefon dia katanya semalam dia mengalami kecelakaan. Dia juga sedikit demam karena semalam hujan-hujanan" cerita Reno
"Saya boleh minta ijin gak pak? Saya ingin menemuinya" pinta Aruna dengan wajah cemas
"Oke, tapi kamu diantar supir ya kesananya. Nanti kalau ada apa-apa dijalan, Alan nyalahin saya lagi" ujar Reno yang dijawab anggukan oleh Aruna.
Reno memberi tau kalau Alan sedang berada dirumah mommynya. Aruna bergegas pergi kesana untuk melihat keadaan suaminya itu. Setengah jam kemudian mobil itu pun berhenti dihalaman rumah mommy Ros. Bersamaan dengan itu sebuah taxi datang dan turunlah seorang wanita dari dalam taxi itu. Wanita itu berjalan ke arah Aruna yang juga baru turun dari dalam mobil.
"Aruna! Kamu ngapain datang kemari? Kalau kamu deketin Alandra terus, kapan dia akan menceraikan kamu dan menikahiku!" ucap wanita itu yang ternyata adalah Nadia.
"Sampai saat ini dia masih suamiku. jadi aku bebas menemuinya kapan saja" jawab Aruna dingin, lalu ia melangkahkan kakinya ke arah pintu dan menekan bel.
Nadia melihat kesal ke arah Aruna. Nadia ikut berjalan ke arah Aruna dan berdiri disampingnya. Tak berselang lama pintu rumah itu terbuka. Mommy Ros yang membukakan pintu terlihat kaget dan membulatkan matanya melihat menantu dan calon menantunya ada dihadapannya sekarang.
Aruna hendak berbicara namun Nadia memotong lebih dulu.
"Saya ingin menemui Alandra tante" ucap Nadia dengan senyum manis diwajahnya.
__ADS_1
"Saya juga ingin menemui Alandra mom" ucap Aruna dengan wajah datar dan sedikit kecewa karena sekarang ada saingannya yaitu Nadia.
Mommy Ros memandang bergantian pada dua orang wanita muda didepannya itu.
"Alandra sedang sakit, jadi kalau kalian ingin menemuinya kalian harus memasakkan makanan dulu untuknya. Karena Alandra sejak semalam tidak mau makan" ucap mommy Ros secara tidak langsung memberi tantangan pada dua wanita muda itu.
Aruna membulatkan matanya dan menelan salivanya karena dia tidak bisa masak. Sementara Nadia terlihat sangat bersemangat.
Mommy Ros mengajak Aruna dan Nadia masuk kedalam rumahnya dan langsung membawanya melangkah ke arah dapur.
"Kalian berdua harus masak. Nanti yang masakannya paling enak saya ijinin bertemu dengan putra saya" ucap mommy Ros.
"Tapi..." ucap Aruna terpotong.
"Tidak ada tapi-tapian. Kebetulan pembantu saya sedang ijin tidak masuk kerja hari ini. Jadi tidak ada yang membantu saya memasak dan menyiapkan makanan" ucap mommy Ros.
Mommy Ros berjalan ke arah kulkas dan membuka kulkas itu. Ternyata stok bahan makanan didalam kulkas sudah habis. Kemudian ia menoleh ke arah Nadia.
"Nadia, kamu ikut saya belanja dulu ya?" ajak mommy Ros sambil berjalan ke arah mereka.
"Dan kamu Aruna, kamu masakin bubur dulu saja untuk Alandra. Nanti kalau sudah jadi kamu anterin kekamarnya" ucap mommy Ros.
Nadia nampak tidak senang dan ingin protes dengan keputusan mommy Ros.
"Gak adil dong tante, kenapa bukan saya saja yang buatin bubur untuk Alandra dan Aruna yang ikut pergi belanja" protes Nadia.
"Nadia, kamu ini kan sedang hamil. Jadi harus banyak gerak. Sudah jangan malas, ayo cepat ikut saya belanja" ajak mommy Ros lalu berjalan keluar dari dapur.
Nadia menatap kesal pada Aruna yang berdiri disampingnya, sementara Aruna tersenyum manis karena ia tau sebenarnya ibu mertuanya itu sengaja ingin meninggalkan ia berdua dengan Alan.
Kini hanya tinggal Aruna sendirian didapur. Aruna celingak-celinguk melihat sekelilingnya. Ia juga sebenarnya tidak tau bagaimana caranya memasak bubur. Ia berjalan ke arah kompor. Ternyata tadi mommy Ros baru mau membuatkan bubur untuk Alan, namun keburu Aruna dan Nadia datang. Aruna pun mencoba menyalakan kompor itu. Beberapa kali mencoba akhirnya kompor itu menyala. Aruna mulai mengaduk-aduknya dan setelah beberapa saat ia pun mencicipi bubur itu.
"Kenapa tidak ada rasanya? Oh iya aku lupa tidak memasukkan garam" ucap Aruna pada dirinya sendiri.
Aruna pun mencari tempat garam dan mengambilnya. Ia hendak memasukkan garam itu kedalam panci bubur namun sebuah suara mengagetkannya.
"siapa yang ingin kamu racuni?" tanya seseorang dari arah belakang.
Deg!
__ADS_1
Aruna mendongakkan wajahnya dan membulatkan matanya mendengar suara itu.
πππ