Suami Perjaka Milik Aruna

Suami Perjaka Milik Aruna
Bab 23 : SPMA. Lingerie


__ADS_3

Siang itu disebuah cafe...


Alan dan Reno tengah duduk berhadapan. Mereka nampak terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Alan sengaja menelfon Reno dan mengajaknya bertemu untuk menceritakan pertemuannya dengan wanita yang waktu itu tidur dengannya di kamar hotel.


"Jadi Aruna tidak tau?" tanya Reno akhirnya memecah keheningan setelah mendengar cerita Alan sebelumnya.


"Tidak..." jawab Alan.


"Kenapa kamu tidak memberi taunya saja agar masalahnya tidak panjang. Setelah itu kamu suruh Aruna untuk tidak bertemu wanita itu lagi" ujar Reno memberi saran.


"Yang benar saja Ren, hati Aruna pasti akan hancur jika melihat wajah wanita yang sudah pernah tidur denganku. Apalagi dia mengenalnya dan wanita itu pernah menolongnya. Tidak... tidak.... itu bukan saran yang bagus" ujar Alan tidak menyetujui saran dari Reno barusan.


Reno menatap Alan dengan sorot mata tajam.


"Kamu sudah pernah melakukannya dengan Aruna?" tanya Reno dengan tatapan menyelidik.


Alan nampak gelagapan dengan pertanyaan Reno barusan.


"Tidak.. aku belum pernah melakukannya dengan Aruna" jawab Alan.


"Apa?!!! belum pernah??? Kamu normal kan Lan? tidak impoten?" tanya Reno dengan nada dan tatapan tak percaya.


Alan membuang nafas kasar. Ia kesal karena lagi-lagi Reno mengiranya pria impoten.


"Jangan menatapku seperti itu! Apa kamu meragukan keperkasaanku? Aku masih normal! aku juga memiliki hasrat setiap kali didekat Aruna. tapi aku terus menahannya karena bayangan wanita itu terus muncul dipikiranku ini" jawab Alan lalu menyeruput minumannya.


Reno pun hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Alan.


"Apa kita perlu menemui Mbah Marjan lagi?" tanya Reno


"Tidak!! Jangan menyarankan hal-hal seperti itu lagi" jawab Alan cepat.


"Oke baiklah. Kalau begitu kita temui saja wanita itu dan beri dia uang yang cukup untuk tutup mulut kalau dia pernah tidur denganmu" saran Reno lagi.


Alan nampak terdiam dan tidak menjawab ucapan Reno. Ia hanya takut jika Aruna bertemu wanita itu lagi dan wanita itu mengatakan semuanya pada Aruna. Walaupun Aruna sudah tau jika ia pernah tidur dengan seorang wanita, tapi ia tidak yakin jika Aruna tidak akan sakit hati jika melihat wajah wanita yang pernah tidur dengannya itu secara langsung.


🎡Ddreettt🎡


Ponsel Alan bergetar, Alan meraihnya dari atas meja dan ada chat masuk dari Aruna.

__ADS_1


"Sayang... Mommymu menyuruhku untuk menginap. tidak apa-apa kan? Apa kamu akan menyusulku kemari?" Isi chat dari Aruna.


Alan tidak membalas chat itu dan menaruh kembali ponselnya di atas meja lalu mengusap wajahnya.


"Siapa?" tanya Reno


"Aruna..." jawab Alan.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Reno


"Mommy menyuruh Aruna menginap di rumah malam ini. Mungkin ini kesempatan bagus untuk menghindar dari Aruna dulu malam ini" ucap Alan membuat Reno menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah bertukar kata cukup lama, Alan pun kembali ke apartemennya. Ia menelfon Aruna dan berbohong jika ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sehingga ia tidak bisa menyusul Aruna ke rumah mommynya. Aruna yang sebenarnya percaya tidak percaya pun akhirnya mengiyakannya.


Alan membaringkan tubuhnya diatas ranjang, setidaknya malam ini ia bisa tidur karena tidak ada Aruna disampingnya. Walaupun ia sebenarnya sangat merindukan istrinya itu.


Ting Tong


"Siapa yang datang malam-malam begini?" gumam Alan.


Alan menarik selimutnya kembali dan turun dari atas ranjang. Dilangkahkan kakinya berjalan menuju ruang depan dan ia pun membuka pintu.


"Kenapa ekspresimu seperti itu? Tidak senang kalau aku pulang?" tanya Aruna saat melihat Alan berdiri mematung melihatnya.


Aruna berjalan masuk dan melewati Alan. Alan segera menutup pintu kembali.


"Kenapa tidak menelfon? Aku kan bisa menjemputmu kalau mau pulang" ujar Alan sambil berjalan mengikuti dibelakang Aruna.


Aruna menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Alan.


"Ckkk, aku sudah menelfon berkali-kali tapi ponselmu tidak aktif. Aku curiga jangan-jangan kamu menyembunyikan wanita lain saat aku tidak dirumah" ujar Aruna menatap tajam ke arah Alan, kemudian ia melihat sekelilingnya takut Alan membawa wanita lain masuk kedalam ruangan apartementnya.


Alan yang merasa sedang dicurigai mencoba untuk menjelaskan pada istrinya itu.


"Mungkin ponselku baterainya habis. Aku lupa belum mengecashnya" bohong Alan padahal ia sengaja mematikan ponselnya.


Aruna tidak langsung percaya dengan ucapan Alan. Ia masih menatap curiga pada suaminya itu.


"Ya sudah, aku mau ganti baju dulu" ucap Aruna lalu berbalik dan berjalan ke arah kamar.

__ADS_1


Alan menaruh dua tangannya di pinggang dan menghela nafas berat. Baru ingin menghindar dari Aruna semalam saja, rasanya susah sekali.


Setengah jam kemudian Alan menyusul masuk ke dalam kamar. Alan membuka pintu kamar, bersamaan dengan itu Aruna membuka pintu kamar mandi. Mata Alan membulat dan menelan salivanya saat melihat Aruna menggunakan lingerie berwarna merah yang sangat menerawang hingga memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya.


Tadi saat berada di dalam mall, Aruna terus melihat lingerie yang terpasang di manekin. Mommy Ros yang menyadarinya pun langsung membelikannya untuk Aruna. Aruna sempat menolak tapi mommy Ros terus memaksa dan menyuruh Aruna memakainya untuk menggoda Alan.


"Baju apa yang kamu pakai? cepat ganti atau nanti kamu akan masuk angin" seru Alan sambil berjalan kearah lemari dan mengambil selimut dari dalam lemari.


Alan menghampiri ke arah Aruna dan memakaikan selimut itu untuk menutupi tubuh Aruna yang terlihat sangat seksi.


Aruna mencoba melepaskan selimut itu dari tubuhnya tapi Alan menahannya.


"Aku hanya tidak mau kamu sakit lagi. Sekarang kamu tidurlah dulu, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu" bohong Alan yang sebenarnya merasa sangat gugup.


Alan membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya beberapa langkah.


"Sebenarnya kamu sungguh mencintaiku atau tidak?!" seru Aruna dengan mata berkaca-kaca.


Alan pun menghentikan langkahnya. ia bisa mengerti kekecewaan Aruna padanya.


Aruna sengaja berpenampilan seksi di depan Alan. tapi Alan masih saja tidak mau menyentuhnya dan malah menghindarinya terus.


Alan menelan salivanya dan membalikkan badannya. Ia kembali menghampiri ke arah istrinya itu.


"Jangan berfikir yang macam-macam. Tentu saja aku sangat mencintaimu. Aku hanya masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan lebih dulu" ucap Alan sambil mengusap lembut wajah Aruna.


Cup..


Alan mencium kening Aruna cukup lama, kemudian ia melepaskan ciumannya dan kembali menatap wajah istrinya itu sambil tersenyum manis dan mengusap pipi istrinya.


"Istirahatlah... Jangan berfikir yang macam-macam lagi" ucap Alan dengan lembut.


Alan kembali melangkahkan kakinya pergi keluar dari dalam kamar menuju ruang kerjanya. Sementara air mata Aruna pun menetes di wajah cantiknya karena merasa Alan tidak tergoda sama sekali dengan penampilannya yang terlihat seksi.


Sesampainya diruang kerjanya, Alan memegangi dadanya. Jantungnya terpompa sangat kencang sekali. Tubuhnya terasa menegang melihat penampilan Aruna tadi. Selain tubuhnya, Alan juga merasakan dibawah sana ada yang ikut menegang saat melihat lekuk tubuh Aruna tadi.


"Aruna... Aku benar-benar bisa gila. Maafkan aku Aruna... Aku belum bisa melakukannya. Bayangan wanita itu terus menghantuiku" ucap Alan sambil mengusap wajahnya. ia merasa sangat bersalah pada Aruna.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž

__ADS_1



__ADS_2