
1 minggu kemudian
Hari ini untuk pertama kalinya Alandra menyebut nama Aruna dengan lengkap dan lantang. Di depan keluarganya dan keluarga Aruna, ia mengucap janji suci pernikahan.
Awalnya mommy Ros merasa keberatan jika pernikahan putra kesayangannya hanya dilaksanakan secara sederhana. Namun Alan mencoba memberikan pengertian dan penjelasan hingga mommy mau tak mau menuruti kemauan putranya.
Acara hanya dihadiri oleh pihak keluarga dan beberapa orang saksi. Berhubung bapak Aruna adalah ketua RT setempat, maka warganya pun ikut nimbrung hanya untuk sekedar ikut makan-makan dan memberi sedikit hiburan.
"Akhirnya putri bapak menikah juga" ucap pak Umar sembari melihat ke arah Aruna yang terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin.
"Iya, Alhamdulillah ada yang mau nikahin anak kita ya pak" ujar Ratih.
"Ikkhhh ibu, dikirain Aruna gak laku apa!" timpal Aruna yang diiringi gelak tawa oleh kedua orang tuanya. Sementara Alan hanya mesam-mesem mendengar perkataan ibu Aruna tadi.
Menjelang petang acara pun di akhiri. sebenarnya tidak ada jamuan khusus, hanya ramai oleh kedatangan warga dan ada juga yang ikut meramaikan dengan menyumbangkan lagu dangdut.
Reno selaku bos Aruna dan teman Alan juga tadi datang bersama pacarnya, Tasya.
Aruna lebih dulu masuk kedalam kamar dan membersihkan diri didalam kamar mandi karena tadi bapaknya memanggil Alan untuk di ajak bicara terlebih dahulu. Aruna terlihat lebih segar setelah mandi. Dengan menggunakan baju tidur lengan pendek dan celana panjang, Aruna keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Alan sudah merebahkan diri di atas ranjangnya.
"Hei!! Siapa yang menyuruhmu untuk menaiki ranjangku??" seru Aruna sambil berjalan mendekat.
"Sekarang ini juga ranjangku, dan kita akan tidur satu ranjang" ujar Alan.
"Cih, aku tidak sudi tidur satu ranjang denganmu! Cepat turun!" perintah Aruna namun Alan tetap tidak bergeming diatas sana.
"Kalau kamu tidak turun, maka aku yang akan naik dan memaksamu turun!" seru Aruna lagi.
"Ya sudah naik saja" ujar Alan yang masih nampak santai tiduran diatas ranjang Aruna.
Aruna berjalan naik ke atas ranjang dan menarik tangan Alan dengan sekuat tenaga. Namun tubuh kecilnya tidak cukup kuat untuk menarik tubuh kekar Alan. Namun bukan Aruna namanya kalau menyerah begitu saja. Kali ini ia mencoba mendorong tubuh Alan agar berguling dari atas ranjangnya.
Terdengar suara gaduh dari dalam kamar Aruna, hingga membuat Ratih yang tengah duduk bersama suaminya di ruang tengah pun merasa khawatir.
"Itu kok ramai sekali dikamar Aruna ya pak?" ucap Ratih merasa cemas.
"Biarin aja bu, namanya juga pengantin baru" ujar pak Umar yang nampak biasa saja.
__ADS_1
"Iya sih pak, tapi masa serame itu. Kayak lagi lomba maraton saja. Apa kita coba tengok saja pak ke kamar Aruna?" ucap Ratih.
"Jangan dong bu, nanti malah ganggu mereka. Sudah biarin saja. Mending kita ikut maraton sendiri saja" goda pak Umar.
"Ikkhh bapak ini, sudah tua juga. Gak malu apa, sudah punya mantu juga" jawab Ratih membuat pak Umar terkekeh.
Sementara itu didalam kamar, Alan dan Aruna masih terus bergulat dan saling menendang di atas ranjang. Alan mendorong tubuh Aruna hingga kini ia menumpuk diatas tubuh gadis itu. Nafas mereka terdengar memburu karena saking lelahnya. Mereka pun kini saling menatap dan berpandangan hingga suasana terdengar sunyi.
Dugghh!!
Aruna membenturkan keningnya ke kening Alan.
"Aaauuuuwwww... " Alan memegangi keningnya yang terasa sakit dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Aruna.
"Rasakan itu! Jangan berani menggodaku, aku tidak akan tergoda oleh pria sepertimu!" ucap Aruna yang masih terbaring dibawah Alan.
"Oh benarkah?? Kita lihat saja nanti!" Alan membuka kemejanya didepan Aruna dan melemparnya.
Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Dasar bodoh! Berani sekali kamu membuka baju didepanku!" ucap Aruna yang merasa gugup karena tadi sempat melihat tubuh sixpack Alan.
Alan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Sementara Aruna menurunkan tangannya dari wajahnya saat mendengar pintu kamar mandi tertutup.
"Awas saja kalau berani macam-macam denganku" gumam Aruna.
Besok paginya Alan dan Aruna bangun kesiangan karena semalam kembali bergulat dan berebut tidur diatas ranjang. Hingga mereka lelah dan tak terasa terlelap berdua di atas ranjang.
Suara gaduh kembali terdengar dari dalam kamar Aruna hingga pak Umar dan istrinya yang sudah duduk dimeja makan pun saling berpandangan.
"Ya ampun Aruna.. pagi-pagi kok sudah berisik saja ya pak..." ujar Ratih.
"Semalam masih kurang kali Bu, hehehehe" jawab pak Umar.
Setengah jam kemudian Aruna dan Alan saling berlari menuju ke meja makan setelah mereka tadi dikamar saling berebut kamar mandi.
"Lho, ini kalian mau kemana?" tanya pak Umar yang melihat anak dan mantunya sudah berpakaian kerja rapi.
Aruna dan Alan saling menoleh sebentar.
__ADS_1
"Kami mau berangkat kerja, bapak" jawab Aruna.
"Kalian baru menikah kok sudah masuk kerja saja. Memangnya kalian tidak mau pergi bulan madu dulu?" tanya pak Umar
"Tidak!!" Jawab Aruna dan Alan bersamaan.
"Wah... Kalian benar-benar pasangan yang kompak" puji pak Umar. "Ya sudah kalian ayo sarapan dulu".
"Kami langsung berangkat saja soalnya sudah terlambat" ujar Alan.
"Aruna, kamu tidak perlu diantar supir kan? Soalnya ibu mau pergi ke swalayan. Kamu berangkat dan pulang kerja sama suami kamu kan?" tanya Ratih.
"Nggak bu, Aruna naik taxi saja, nanti pulangnya juga naik taxi seperti biasa" tolak Aruna.
Ratih hendak mengatakan sesuatu tapi Alan keburu merangkul Aruna dan tersenyum ke arahnya.
"Bapak dan ibu tenang saja, Aruna akan berangkat dan pulang bersama saya" ujar Alan membuat Aruna melotot ke arahnya.
Pak Umar dan istrinya merasa lega karena sekarang sudah ada yang menjaga putrinya.
Aruna terpaksa ikut bersama Alan menaiki mobil pria itu. Kalau bukan harus bersandiwara didepan orang tuanya, Aruna malas sekali harus berangkat kerja dangan pria yang sekarang berstatus sebagai suaminya itu.
"Cepat turun! Aku sudah terlambat" ujar Alan dengan wajah dinginnya sesampainya didepan kantor kerja Aruna.
"Heh! Siapa juga yang mau satu mobil denganmu. Nanti tidak perlu menjemputku, aku bisa pulang sendiri" ucap Aruna sembari membuka pintu mobil.
"Kalau bukan karena harus bersandiwara didepan orang tuamu. Aku juga malas harus satu mobil denganmu. Tunggu didepan, nanti sore aku jemput! Dan besok kita akan pindah ke apartemenku. Besok aku akan memintakan ijin pada Reno" ucap Alan.
Aruna hanya diam dan tidak banyak protes. Bagaimana pun sekarang Alan adalah suaminya, jadi dia harus ikut kemanapun Alan pergi. Aruna turun dari dalam mobil dan menutup pintu mobil kembali. Ia berjalan masuk kedalam kantor tanpa menoleh kembali ke arah belakang.
Sementara Alan masih memandangi sampai Aruna masuk ke dalam kantor Reno.
"Huh.. dasar gadis aneh..." gumam Alan kemudian melajukan mobilnya pergi meninggalkan halaman kantor Reno.
💞💞💞
Jangan lupa subscribe, like, komen, vote dan hadiahnya. terimakasih 🙏
__ADS_1