Suami Perjaka Milik Aruna

Suami Perjaka Milik Aruna
Bab 38 : SPMA. Kejutan


__ADS_3

Reno datang ke rumah mommy Ros untuk menemui Alan. Mereka kini tengah duduk disofa.


"Aruna tidak tinggal disini Lan?" tanya Reno


"Tidak, aku mengantarkannya pulang semalam" jawab Alan.


"Kalian kan sudah baikan, kenapa tidak tinggal satu atap lagi saja? Biar bisa...." ucap Reno terputus.


"Tidak Ren. Masih ada hal yang harus aku lakukan dulu" ucap Alan.


Reno mendekatkan tubuhnya karena penasaran. "Apa itu?"


Alan menatap Reno. "Aku ingin kamu dan Tasya membantuku untuk ini"


"Oke siap" jawab Reno


Ting Tong


Terdengar suara bel, seorang pembantu langsung membukakan pintu rumah.


"Cari siapa ya?" tanya pembantu itu.


"Alannya ada bi?" tanya seorang wanita berparas cantik.


"Ada, sebentar bibi panggilkan"


Pembantu itu bergegas masuk menuju ruang tengah dimana Alan dan Reno sedang asyik mengobrol.


"Mas Alan ada yang nyariin didepan?"


"Siapa bi?" tanya Alan.


"Bibi kurang tau, belum pernah lihat soalnya"


"Ya sudah, terimakasih bi" ucap Alan kemudian menoleh ke arah Reno. "Aku tinggal kedepan dulu sebentar Ren". ucap Alan dijawab anggukan oleh Reno.


Alan bergegas bangun dan melangkahkan kakinya ke depan rumah. Ia melihat seorang wanita yang sedang berdiri memunggunginya.


"Fiona..." ucap Alan yang bisa langsung menebak melihat postur tubuh wanita itu.


Fiona membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Alan dengan senyuman manis diwajahnya.



"Kamu kok bisa ada disini?" tanya Alan


"Aku sengaja datang kemari untuk menemuimu. aku datang kerumah om Ardian tapi katanya kamu sudah pulang kemari. Aku khawatir karena kamu kemarin pergi secara tiba-tiba, aku telefon tapi kamu tidak mengangkatnya" ucap Fiona panjang lebar.


"Iya sorry Fio, karena papi sudah sembuh jadi aku memutuskan untuk pulang. Kamu tau alamat rumahku dari papiku?" jawab dan tanya Alan.


Fiona mengangguk pelan. "Iya, om Ardian yang memberi tauku"


Reno datang dari dalam dan menghampiri ke arah mereka.


"Lan?" ucap Reno membuat Alan dan Fiona menoleh ke arahnya.


"Eh Ren, Oya kenalin ini Fiona. Dia sekertarisnya papi aku" ucap Alan


Reno dan Fiona saling berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.


"Oya sepertinya aku harus balik ke kantor sekarang. Kasian sekertarisku sendirian disana" ucap Reno sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Alan tersenyum dan menggelengkan pelan kepalanya mendengar ucapan Reno.


"Jangan katakan padanya kalau kamu datang menemuiku" ucap Alan.


Reno menepuk pundak Alan dan berbisik ditelinganya. "Ingat, jangan coba-coba bermain api"


Alan hanya tersenyum menanggapi ucapan Reno, ia tau apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Tapi ia tidak akan tergoda oleh wanita cantik manapun, karena hatinya telah diisi oleh Aruna seorang.


Reno pun pamit dan kembali menaiki mobilnya meninggalkan area halaman rumah Alan. Sementara Alan mempersilahkan Fiona masuk dan mereka mulai mengobrol di ruang tamu.


🌺🌺🌺


Malamnya...

__ADS_1


Aruna melihat ke arah jam yang ada ditangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tadi sore tiba-tiba Reno memberikan pekerjaan tambahan untuknya jadi Aruna harus lembur. Sementara Alan seharian juga tidak menghubunginya. Aruna mencoba menelfon tapi juga tidak diangkat.


"Semalam kami sudah baikan, tapi kenapa dia masih saja cuek seperti ini" batin Aruna kesal.


Reno keluar dari dalam ruangannya dan menghampiri ke arah Aruna.


"Ayo Run kita pulang, saya antar kamu sekalian" ajak Reno


"Baik pak" jawab Aruna


Aruna bergegas bangun, ia tidak menolak ajakan Reno karena ini sudah malam dan Alan juga tidak ada kabar.


Reno melajukan mobilnya meninggalkan area kantor. Reno sengaja tidak langsung mengantarkan Aruna ke rumahnya, tapi ia membawanya ke sebuah taman.


"Kenapa kita berhenti disini pak?" tanya Aruna melihat sekelilingnya.


"Tasya ada didalam taman, kamu tolong panggilin ya Run? Saya tunggu disini" ucap Reno


Aruna nampak ragu dan berfikir sejenak, namun akhirnya ia menyetujui ucapan Reno. Aruna pun turun dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam taman itu. Namun taman itu nampak sepi dan tidak terlihat siapapun disana.


Jreng... Jreng.. Jreng...


Lampu-lampu mulai menyala dan terbentuklah sebuah tulisan "I love u Aruna" didepan sana. Alan juga sudah berdiri disana dengan membawa sebuket bunga ditangannya.



Aruna nampak tertegun dan tidak percaya dengan kejutan yang diberikan oleh Alan. Pantas saja Alan tidak menghubunginya seharian, ternyata ia telah menyiapkan semua ini untuknya.


Alan tersenyum dan berjalan ke arah Aruna tanpa melepaskan pandangannya dari gadis itu. kini ia sudah berdiri tepat dihadapan gadis yang sangat ia cintai itu.


"Jadi kamu sengaja tidak memberiku kabar seharian untuk menyiapkan semua ini?" tanya Aruna terharu.


Alan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tampan. "Iya..."


Mata Aruna pun mulai berkaca-kaca karena sangat bahagia.


Alan mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin dari balik jaketnya. kemudian ia berjongkok dengan satu kaki dan membuka kotak cincin itu didepan Aruna.


"Hari ini secara resmi aku ingin melamarmu untuk menjadi istriku, Aruna Putri Handoyo" ucap Alan membuat Aruna air mata Aruna menetes dipipinya karena terharu.


Aruna menganggukkan kepalanya cepat. "Iya aku mau, tuan Alandra Fernando"


Alan pun tersenyum senang mendengar jawaban dari Aruna, ia segera bangun dan memakaikan cincin itu dijari manis Aruna. Ia juga memberikan bunga yang ia bawa tadi untuk Aruna dan Aruna langsung menerimanya dengan senang.



Tasya, Reno dan mommy Ros yang ada disana pun bertepuk tangan melihat pasangan itu. Aruna yang baru menyadari kehadiran mereka pun menoleh ke arah mereka.


"Terimakasih" ucap Alan membuat Aruna kembali menatap ke arahnya.


Alan meraih tangan Aruna dan menggenggamnya erat.


"Aku akan menemui orang tuamu untuk membicarakan tentang pernikahan kita. Tapi kali ini tidak ada surat perjanjian kontrak" ucap Alan membuat Aruna tersenyum.


"Tidak, aku tetap akan membuat surat perjanjian untukmu" ucap Aruna membuat Alan mengernyitkan keningnya.


"Perjanjian apa?" tanya Alan.


"Perjanjian kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan aku lagi" ucap Aruna


Alan tersenyum dan membelai mesra wajah Aruna.


"Itu tidak akan terjadi, tidak akan pernah sayang.." ucap Alan mendekatkan wajahnya.


"Ehemmmm... Ehemmmm... Kita masih ada disini nih" ledek Reno membuat mereka tertawa mendengarnya.


Tasya, Reno dan mommy Ros pun berjalan mendekat ke arah mereka.


"Mommy senang kalian akhirnya bisa bersatu karena cinta" ucap mommy Ros sambil mengusap lembut wajah Aruna.


"Sepertinya sebentar lagi aku harus membuka lowongan untuk sekertaris baru nih" ledek Reno.


"Bagaimana kalau kita bertukar sekertaris saja?" balas Alan.


"Maksudmu Jessica menjadi sekertarisku?". Reno nampak berfikir sejenak. "Jessica juga cantik sih..."

__ADS_1


Tasya langsung menyikut lengan Reno dan membulatkan matanya. "Awas kamu macam-macam!"


"Becanda yang...." ucap Reno terkekeh.


"Ya sudah, kamu antar Aruna pulang dulu saja. Ini sudah malam. Nanti biar mommy pulang sama Reno dan Tasya" ucap mommy Ros.


Alan pun setuju dan mengangguk. Ia membawa Aruna ke arah mobilnya sementara Reno mengantar mommy Ros dulu sebelum mengantarkan Tasya.


Kini mereka tengah berdiri didepan mobil Alan.


"Kenapa kita tidak pulang ke apartement saja" ucap Aruna sambil mengerucutkan bibirnya.


Alan tersenyum dan mencubit lembut pipi Aruna.


"Tidak sekarang ya sayang" Alan menjeda ucapannya dan kembali melanjutkan. "Kenapa? Apa kamu sudah tidak sabar ingin cepat-cepat tidur denganku lagi?'' ledek Alan sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Plakkkkk


Aruna menabok lengan Alan dan memasang muka masam.


"Kenapa kamu memukulku?" ucap Alan sambil memegangi lengannya.


"Karena otakmu mulai mesum!Pasti pak Reno yang mengajarimu" kesal Aruna


"Memangnya kamu tidak mau tidur berdua denganku?" tanya Alan membuat wajah Aruna merona merah karena malu.


"Sudah jangan bahas itu lagi! Ayo kita pulang!" Aruna memalingkan wajahnya karena malu.


Alan tersenyum puas melihat wajah Aruna yang merona karena malu, ia pun kembali menggoda gadis itu.


"Bahkan kamu pernah menggodaku dengan memakai baju seksi" goda Alan.


"Alandra!!!"


Aruna membungkam mulut Alan dengan tangan kanannya. Tubuh mereka pun kini sangat dekat dan mata mereka saling bertemu. cukup lama mereka bertatapan dan saling memandang, hingga Alan menurunkan tangan Aruna dari wajahnya dan mendekatkan kepalanya untuk memberikan ciuman dibibir gadis itu. Aruna pun mulai memejamkan matanya saat bibir Alan mulai menyentuh bibirnya dengan lembut.


🎡Du.. Du.. Du...🎡


Mereka saling menjauhkan wajahnya saat ponsel Alan berbunyi. Alan merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Terdapat panggilan masuk dari Fiona.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Aruna karena Alan hanya memandangi layar ponselnya saja.


Aruna penasaran dan mengambil ponsel itu dari tangan Alan. Ia melihat nama seorang wanita di layar ponsel Alan.


"Fiona?" ucap Aruna sambil melirik ke arah Alan.


"Sudah, tidak perlu diangkat" ucap Alan


Aruna tidak menghiraukan ucapan Alan, ia penasaran dengan wanita yang berani menelfon suaminya itu. Aruna menggeser tombol hijau dan menaruh ponsel itu ditelinganya.


"Alan... Kamu bisa ke hotel sebentar gak? Aku ingin keluar untuk makan malam, temani aku ya?" ucap Fiona dari balik sambungan telefon.


Aruna menatap tajam ke arah Alan. Ia menurunkan ponsel itu dan mematikan sambungan telefon dari Fiona. Diraihnya tangan Alan dan ditaruhnya dengan kasar ponsel itu ditelapak tangannya.


"Kamu temui saja wanita itu! Aku bisa pulang sendiri!" kesal Aruna.


Aruna melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Alan namun Alan langsung mengejarnya dan meraih pergelangan tangannya hingga mereka kembali saling berhadapan. Alan menatap wajah Aruna, namun gadis itu masih tidak mau menatapnya.


"Kan aku sudah bilang untuk tidak usah diangkat" ucap Alan


Alan menangkup wajah Aruna hingga gadis itu kembali menatapnya.


"Aku hanya mencintaimu Aruna sayang. Jadi kamu tidak usah cemburu dengan Fiona atau siapapun" ucap Alan mencoba meyakinkan gadis itu.


Mata Aruna menjelajahi mata Alan. Ia bisa melihat kejujuran dan ketulusan dimata pria itu. Aruna langsung berhambur kepelukan Alan dan memeluknya dengan sangat erat.


"Jangan menemui wanita itu lagi" ucap Aruna dengan manja.


"Iya, tidak akan" jawab Alan sambil membelai lembut rambut Aruna.


Mereka tidak menyadari sejak tadi seseorang tengah memperhatikan mereka dari balik pohon disana sambil mengepalkan tangannya.


"Akan ku balas kalian karena telah menjebloskan aku kepenjara. aku tidak akan membiarkan kalian bahagia" ucap pria itu dengan sorot mata tajam.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž

__ADS_1


__ADS_2