
Sore ini Aruna dan Alan berpamitan hendak pindah ke apartemen Alan. Ratih memeluk putri semata wayangnya itu dengan erat. Selama ini ia belum pernah hidup berjauhan dengan putrinya itu.
"Ibu nitip Aruna ya? Jaga dia baik-baik" ucap Ratih melihat ke arah Alan yang berdiri dibelakang Aruna.
"Saya pasti akan menjaga Aruna dengan baik Bu" jawab Alan yakin.
Ratih melepaskan pelukannya dan menatap wajah putrinya itu lalu mengusap-usap wajahnya dengan lembut.
"Ibu pasti akan merindukan putri ibu ini" ucap Ratih
"Aruna juga Bu" jawab Aruna mencoba tersenyum pada ibunya.
Aruna dan Alan menyalami kedua orang tua Aruna sebelum mereka menaiki mobil. Sepanjang perjalanan didalam mobil, Aruna hanya terdiam. Alan sesekali menoleh ke arah Aruna yang duduk disampingnya. Kali ini Alan tidak mengajak Aruna berdebat, ia memahami mungkin berat bagi Aruna harus hidup berjauhan dengan kedua orang tuanya.
Alan memakirkan mobilnya di basement dan menurunkan koper Aruna dari dalam bagasi mobil.
"Bawa sendiri kopermu!" ucap Alan sambil melepaskan gagang koper Aruna.
"Ikkhh.. nyebelin banget sih jadi cowok, siapa juga yang butuh bantuan kamu!" Kesal Aruna sambil meraih gagang kopernya.
Alan berjalan menuju pintu lift dengan diikuti oleh Aruna dibelakangnya. Sebenarnya Aruna malas sekali datang ke gedung apartemen itu karena mengingatkannya akan Eza. Selama ini Aruna sudah sering bolak-balik ke gedung apartemen itu tapi tidak pernah melihat Alan disana sebelumnya, sampai hari dimana Aruna memergoki Eza selingkuh hari itu.
Pintu lift terbuka, Alan berjalan lebih cepat didepan Aruna. Sementara Aruna tengah sibuk dengan koper dan tas yang ia pakai.
"Hei.. berjalanlah pelan sedikit!" seru Aruna namun tidak dihiraukan oleh Alan.
Didepan sana nampak dua orang yang sedang berjalan ke arah mereka, membuat Alan menghentikan langkahnya. Alan cukup mengenal wajah pria didepan sana walaupun ia baru sekali bertemu dengannya.
Eza adalah pria yang sedang berjalan didepan sana bersama seorang wanita. Eza menghentikan langkahnya saat melihat Alan dan Aruna yang sudah berdiri tidak jauh darinya.
Alan memutar badan dan melihat ke arah Aruna yang sedang repot dengan kopernya hingga tidak menyadari kehadiran Eza. Alan berjalan mendekati Aruna dan meraih gagang koper Aruna dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya ia pakai untuk meraih tangan Aruna dan menggenggamnya.
Aruna hendak protes, namun Alan menoleh ke arah samping hingga Aruna mengikuti arah pandangan Alan dan melihat Eza sudah berdiri disana dengan wanita yang waktu itu keluar dari kantor Eza bersama Eza.
Alan melangkahkan kakinya dengan menuntun tangan Aruna. Mereka menghentikan langkahnya kembali tepat dihadapan Eza dan pacar barunya.
"Dasar cewek munafik.. dulu disentuh saja tidak mau, sekarang terang-terangan tinggal satu apartement dengan seorang pria" sindir Eza.
__ADS_1
Aruna hendak berbicara namun Alan menahannya dengan semakin menggenggam erat tangannya.
"Setidaknya kami bukan pasangan diatas ranjang tanpa ada ikatan. Sekarang Aruna adalah istriku, jadi sudah seharusnya dia tinggal denganku. Aku harap kamu tidak menunjukan wajahmu lagi didepan istriku dan jangan berani mengganggunya atau kamu akan berurusan denganku" tegas Alan
"Apa? Istri?" ucap Eza masih tidak percaya dengan apa yang Alan katakan.
Alan menoleh ke arah Aruna yang terlihat seperti orang bingung. "Ayo sayang, kita pergi dari sini. Tidak perlu menghiraukan dia lagi"
Alan kembali menatap ke arah Eza sebelum membawa Aruna melangkah pergi.
Eza memutar badan dan melihat ke arah Aruna dan Alan yang sudah berjalan melewati mereka dengan tatapan kesal menahan amarah.
Sesampainya didepan kamar apartemennya, Alan membuka password apartemennya dan membawa Aruna masuk ke dalam. ia pun menutup pintunya kembali lalu menoleh ke arah Aruna dan melepaskan tangan gadis itu.
"Apa kamu tidak akan berterima kasih padaku karena telah menolongmu dari mantan pacarmu itu??" ujar Alan saat melihat Aruna masih nampak murung.
Aruna mendengus kesal. "Aku tidak menyuruhmu untuk menolongku! Lagi pula aku bisa mengatasinya sendiri"
Alan menatap kesal ke arah Aruna karena tidak tau terimakasih. Padahal ia sudah menolongnya agar mantannya tidak menghina dan mengganggunya lagi.
"Katakan dimana kamarmu? Aku sangat lelah dan ingin beristirahat" ucap Aruna sambil meregangkan kedua tangannya.
"Tidak mau! kalau kamu tidak mau menunjuknya, aku akan mencarinya sendiri" Aruna berjalan cepat ke arah pintu yang ia duga sebagai kamar Alan.
Alan berjalan cepat mengejar Aruna saat Aruna membuka pintu kamarnya.
"Hei! Jangan masuk!" seru Alan, namun Aruna sudah keburu masuk kedalam.
Aruna mengagumi kamar Alan yang tampak bersih dan rapi tidak seperti kamar pria kebanyakan yang nampak berantakan. Aruna berlari ke arah ranjang dan berhambur merebahkan diri disana.
"Cepat turun dari atas sana!" ucap Alan saat melihat Aruna tidur diatas ranjangnya.
Aruna bangun dan duduk. Ia menatap ke arah Alan.
"Aku akan tetap tidur disini" Aruna mengambil bantal guling dan menaruhnya ditengah-tengah ranjang.
"Ini adalah batas untuk kita. Kalau kamu tidak mau, kamu bisa tidur ditempat lain" tambah Aruna.
__ADS_1
"Ini kamarku, kenapa jadi kamu yang mengatur aku harus tidur dimana" ujar Alan kesal.
"Dan satu lagi.." Aruna mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Aruna bangun dan berjalan mendekat ke arah Alan. Ia menyodorkan selembar kertas pada Alan.
"Ini adalah surat perjanjian kontrak pernikahan yang sudah aku buat. Kita hanya akan menikah selama 6 bulan saja, dan selama 6 bulan itu kita tidak akan mencampuri urusan pribadi kita masing-masing" ucap Aruna.
Alan melihat ke arah kertas yang ada ditangan Aruna dan mengambilnya.
"Baiklah..." ucap Alan.
Alan mengambil pulpen dari dalam laci dan menandatangani surat pernikahan kontrak itu, lalu ia menyerahkannya kembali pada Aruna setelah menandatanganinya.
Aruna tersenyum senang karena Alan telah menandatangani surat kontrak pernikahan itu.
"Aku lapar, sekarang buatkan aku makanan untuk dimakan" perintah Alan.
"Apa? Aku tidak mau!" tolak Aruna.
"Kamu kan istriku. Jadi kamu harus melayaniku. Atau jangan-jangan kamu tidak bisa masak??" tebak Alan yang membuat Aruna gelagapan untuk menjawab.
Aruna memang tidak pernah menyentuh dapur karena selama ini ibunya yang mengurus urusan makanan.
Alan bisa menebak dari ekspresi wajah Aruna kalau gadis itu memang tidak bisa memasak. Alan menarik tangan Aruna keluar dari dalam kamar menuju meja makan. Ia menarik satu kursi dan menyuruh Aruna untuk duduk. Ia membuka jaketnya dan kini hanya menggunakan kaos, lalu Alan berjalan ke arah dapur dan memakai Apron ditubuhnya. Ia pun mulai mengambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas untuk dimasak.
Aruna melihat ke arah Alan yang terlihat begitu mahir dengan urusan dapur. Padahal ia pikir Alan adalah anak mami yang tidak bisa apa-apa, ternyata pikiran Aruna salah tentang Alan.
"Dia terlihat begitu tampan saat sedang memasak" batin Aruna yang mulai mengagumi Alan.
"Ah.. tidak.. tidak... Aku tidak boleh mengaguminya. Nanti dia bisa besar kepala" batin Aruna lagi.
💞💞💞
__ADS_1
Silahkan masukan favorit kalian dan jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan bintang 5 nya 🥰🙏