Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 21 ~ Doddy Si Player


__ADS_3

Teja mengatur jadwalnya hari ini, yang masih bisa ditunda dan tidak darurat dia geser hari esok. Bukan tanpa sebab, ia ingin segera berada di rumah. Sakit Luna akibat ulahnya, membuatnya merasa bersalah dua kali lipat pada istrinya. Mengerjai motor dengan alasan ingin mengantar jemput agar hubungannya lebih baik, malah lupa dan mengurus orang lain.


“Luna di mana Bik?”


“Di kamar Pak, keluar sebentar waktu siang tapi masuk lagi. Katanya masih pusing.”


“Hm.”            


Jam tiga sore Teja sudah berada di rumah, ingin memastikan kondisi istrinya. Perlahan pria itu memasuki kamar gadis yang sedang terlelap. Teja duduk di tepi ranjang meraba dahi istrinya, sudah tidak demam. Ia mengambil tisu dan menyeka keringat di wajah itu.


Suara getar ponsel di atas nakas cukup mengganggu, Teja pun  mengambil benda itu untuk melihat siapa yang menghubungi istrinya.


“Kak Doddy,” gumamnya lirih membaca nama pemanggil lalu menatap wajah Luna yang damai dalam tidurnya.


Tidak lama panggilan berakhir, ponsel pun diletakan lagi. lagi-lagi bergetar karena panggilan dari Doddy membuat Teja mengumpat dalam hati. Untuk apa pria itu menghubungi istrinya, apalagi ada masa lalu kelam antara dirinya dan Doddy.


“Sepertinya Doddy menyukai Luna.”


“Atau mereka memang saling menyukai.”


“Ck, Doddy berurusan denganku jika main-main dengan Kaluna.”


Teja bergumam dengan kekesalan sendiri, membuat Luna menggeliat mendengar suara pria itu meracau tidak jelas.


“Apa yang kamu rasakan?”


“Pengen ketawa takut dosa.”


“Maksudnya?”


“Pak, jadi orang jangan kaku-kaku amat sih. Saya berasa lagi ditanya sama robot.”


Teja berdecak, ia mengakui tidak bisa berbasa-basi apalagi basa-basi busuk. Bahkan ia selalu serius dalam bersikap. Mungkin itulah yang membuatnya sulit menerima Luna, selain usia karakter mereka bertolak belakang.


“Bersiaplah, aku antar kamu ke dokter!”


“Nggak perlu Pak, saya udah mendingan. Cuma perlu istirahat aja biar tetap waras.”


“Maksudnya kamu tidak waras?”

__ADS_1


“Iya, gara-gara Bapak ‘kan?”


Teja hanya bisa menggelengkan kepala, kadang komunikasi mereka tidak nyambung atau memang benar kata Luna kalau ia terlalu kaku.


“Kamu ada hubungan dengan Doddy?”


“Kak Doddy?”


“Oh jadi kamu panggil dia kakak sedangkan aku kamu panggil Bapak. Padahal selisih umur kami hanya empat lima tahun.”


Luna beranjak duduk lalu bersandar pada headboard, mendengar keluhan panggilan yang ia sematkan untuk Teja dan Doddy. Padahal sebelumnya, Teja tidak pernah permasalahkan hal itu.


“Dari mana Bapak tahu kalau umur kalian hanya beda empat tahun. Memang bapak kenal dengan Kak Doddy?”


“Saya bisa tebak dari wajahnya. Jangan lagi panggil dia kakak,” titah Teja lalu berdiri dan siap meninggalkan Luna.


“Memang kenapa?”


“Karena kamu bukan adiknya, dan aku bukan bapakmu jadi jangan panggil aku bapak.”


Teja meninggalkan kamar Luna, tidak ingin membahas lagi masalah Doddy, yang kembali mengingatkan tentang duka di masa lalu. Mulai saat ini ia akan lebih hati-hati dengan Doddy, jangan sampai Luna akan berakhir seperti … Andin.


“Jangan naik motor,  kamu baru mendingan.”


“Terus naik apa? Diantar dan dijemput Pak Teja? Ogah, mending naik taksi ajalah.”


“Ya sudah naik taksi, pokoknya jangan naik motor.” Luna heran dengan Teja yang tidak biasanya, saat ini pria itu melarang keras dirinya menggunakan kendaraan roda dua. Padahal sebelumnya boleh-boleh saja.


Saat taksi online yang dipesan sudah datang, seperti biasa Luna mencium tangan suaminya. Tentu saja Teja senang Luna bersikap seperti itu.


“Hati-hati!”


Luna mengangguk lalu masuk ke dalam taksi.


Baru satu hari absen bekerja, Doddy sudah kelimpungan. Pria itu sangat memperlihatkan kekhawatirannya, membuat rekan kerja Luna yang lain berspekulasi kalau diantara mereka ada sesuatu.


“Padahal aku telpon kamu, tapi tidak ada jawaban.”


“Maaf Kak, saya istirahat total. Lagian mana boleh jawab telepon dari laki-laki.”

__ADS_1


“Ada yang melarang?”


“Ya ada Kak.”


“Siapa?”


“Hm, pokoknya adalah.”


Doddy hanya manggut-manggut percaya saja apa yang disampaikan oleh Luna. Mereka lanjut berbincang terkait project dengan PT X, yang akan mereka datangi siang ini. Luna serius menjelaskan draft desain yang dibuat, berbeda dengan Doddy yang malah menatap wajah gadis di hadapannya.


“Menurut kakak gimana? Apa perlu kita tanyakan juga pendapat Pak Arta?”


Luna mengalihkan pandangannya pada wajah Doddy, karena pria itu tidak bersuara. Padahal jelas-jelas ia bertanya pada pria yag sedang menatapnya.


“Kak,” tegur Luna.


“Eh, kamu bilang apa?”


“Sepertinya penjelasan aku nggak didengar ya, Kak Doddy melamun.”


“Dengar, tapi kurang fokus aja.”


Manalah fokus, matanya menatap aku kayak copet ngincer dompet. Dasar buaya, batin Luna.


“Jadi gimana, hasil design aku ada masukan nggak? Masih ada beberapa jam sebelum kita bertemu dengan pemilik perusahaannya.”


“Oke, ini sih sudah oke. Hasil desain kamu tidak ada cela.”


Luna hanya tersenyum mendengar pujian pria player di hadapannya. Jika Pak Arta mengatakan Doddy memiliki kemampuan desain yang bagus, hingga dijadikan senior. Berbeda paham dengan Luna yang menganggap Doddy terlalu asal menilai hasil karyanya.


Jelas okelah, kamu ‘kan tahunya komentar doang. Spek desainnya zero, batin Luna.


“Kta makan siang bareng ya!”


“Tidak usah pak, saya ….”


“Jangan menolak, lagipula setelah makan siang kita langsung ke PT. X.”


Luna tidak bisa menolak lagi, tidak ada alasan lain. Setelah ini keduangan akan keluar kantor sesuai perintah Arta.

__ADS_1


__ADS_2