
“Pak Teja, orang tadi siapa? Kayaknya penting banget deh.”
Teja tidak ingin membuat istrinya khawatir, kalau dia mengatakan kemungkinan Herman adalah kerabat atau keluarga dari Doddy.
“Tidak tahu, mungkin menawarkan rekanan.”
“Masa bawa pengacara segala.”
“Sudah malam sayang, tidur atau kita main lagi?”
“Ish, nggak lihat ini perut udah melendung begini. Janganlah dibuat capek, tadi ‘kan udah.”
Teja terkekeh lalu memeluk istrinya. Biasanya dia dan Luna akan melakukan pillow talk untuk menambah kehangatan hubungan mereka, tapi kali ini Teja ingin Luna segera tidur karena ada hal yang harus segera dipastikan dan dilakukan.
“Kita kapan pindah?”
“Kalau aku pastikan sudah rapi dan aman untuk keamanan dan kenyamanan kamu, baru kita pindah.”
Akhirnya Luna terlelap setelah dibujuk dan Teja mengusap pelan punggungnya. Segera Teja menjauh dari ranjang menuju balkon kamar. Menghubungi orang kepercayaannya, untuk mencari tahu siapa Herman pemilik rumah di mana Doddy membawa Luna.
“Pastikan aku dapat informasinya besok,” titah Teja sebelum mengakhiri panggilan.
Pria itu bergegas kembali ke kamar karena mendengar rintihan istrinya.
“Sayang, ada apa?” Luna sudah duduk sambil mencengkram selimut yang dia kenakan. “Mimpir buruk kah?”
“Sepertinya mimpi, tapi terasa sangat nyata.”
“Mimpi apa?” tanya Teja sambil mengusap dahi Luna yang berkeringat.
“Doddy bebas dari penjara dan dia cari aku.”
__ADS_1
***
“Kamu yakin?” tanya Teja setelah membaca berkas yang diberikan orang kepercayaannya lalu melempar ke atas meja.
“Sangat yakin. Pak Teja ingin kami lakukan apa?”
Teja sudah berdiri dari kursi kebesarannya dan menatap keluar jendela, memikirkan langkah apa yang harus dilakukan. Baru saja dia mendapatkan informasi kalau Herman pemilik rumah itu adalah pria yang sama menemuinya kemarin.
Bukan hal itu yang menjadi beban pikirannya, akhir-akhir ini dia tidak mengikuti kasus persidangan Doddy ternyata ada beberapa korban yang mundur dari kesaksikan dan memberikan kesaksian berbeda dengan kesaksian awal.
“Pastikan ada yang terus mengawasi istriku kalau dia berada di luar rumah. Ingat, keselamatan anak-anak dan istriku yang paling utama.”
“Baik, Pak.”
Teja menghubungi pengacara dan mengajak bertemu, sangat kebetulan karena tim kuasanya memang hendak menemui Teja dan Amar.
“Hah.” Teja menghela nafasnya kasar dan bersandar sambil memijat dahinya. Telpon di mejanya berdering ternyata informasi bahwa ada yang ingin bertemu tapi tidak ada dalam janji temu dan orang itu bernama Herman.
Dua orang pria memasuki ruang kerja Teja, salah satunya bernama Herman. Tentu saja Teja bersikap seakan belum mengenal pria itu.
“Apa yang bisa saya bantu Pak Herman, sampai anda harus menemui saja di tempat acara dan sekarang ada di sini?” tanya Teja padahal dia ingin sekali mengumpat pada pria itu.
Herman sempat tersenyum sinis dan akhirnya membuka suara menjelaskan siapa dirinya. Wajah Teja langsung berubah sangar mendengar penjelasan Herman. Apalagi dengan tujuannya untuk menyelesaikan masalah Doddy dengan jalan kekeluargaan.
“Saya tahu Doddy bersalah pada istri anda, tapi saya yakin dia menyesal dan akan berubah. Jadi tolong Pak Teja dan istri ….”
“Pak Herman, Luna istri saya dan dia mendapatkan kekerasan serta pelecehan dari Doddy sekarang anda dengan seenaknya minta berdamai. Bagaimana kalau hal yang sama terjadi pada istri anda atau putri anda? Menurut anda Doddy bisa berubah, jadi apa? Setan?”
“Pak Teja, hati-hati dengan ucapan anda,” tegur Beni pengacara Herman.
“Saya bicara fakta. Istri saya mendengar pengakuan dari Doddy kalau dia memang menjebak Andin keponakan Anda bahkan sampai wanita itu bunuh diri karena depresi atas penghinaan Doddy lalu tanpa rasa bersalah merencanakan hal buruk pada istri orang. Apa namanya kalau bukan setan?”
__ADS_1
Herman dan Beni menghela nafasnya. Ingin menawarkan hal lain agar Teja mau berdamai, tapi melihat pria itu sudah diliputi emosi urung dilakukan.
“Sebaiknya kalian keluar dari ruangan ini dan jangan pernah menyampaikan tawaran gil4 itu lagi.” Dua orang itu hanya bisa saling tatap kemudian berdiri dan pamit undur diri.
Tanpa Teja tahu, kalau Herman menemui Luna, sudah mendapatkan pergerakan aktivitas wanita itu. Luna yang pagi menjelang siang ini berjalan di taman kota tidak jauh dari tempat tinggal Amar, hal itu sering dia lakukan semenjak kehamilannya sudah lumayan besar.
Ada beberapa balita ditemani Ibu juga pengasuh sedang bermain dan berteriak membuat Luna tersenyum. Ia akan merasakan hal yang sama, bermain bersama anak-anaknya.
“Mbak Luna,” panggil seseorang membuat Luna menoleh.
Senyum di wajah wanita itu lenyap manakala mendapati dua orang pria menghampirinya.
“Kalian siapa?”
“Mari duduk dulu Mbak,” ujar salah satu orang menunjuk kursi taman.
Luna pun duduk dengan wajah masih menatap kedua pria paruh baya itu. Keduanya memperkenalkan diri, menyebut nama Herman dan Beni.
“Ada urusan apa ya?”
“Begi Mbak Luna, kita perlu bicara masalah … Doddy.”
Luna memberikan tatapan tajam pada Herman yang mengucapkan nama pria brengs3k itu, kalau diingat dia belum tahu apa hasil keputusan sidang.
“Maaf saya tidak mau bicarakan apapun yang berurusan dengan Doddy.”
“Sebentar Mbak,” ujar Herman menahan Luna yang sudah berdiri. “Anda sebentar lagi menjadi orangtua, akan merasakan apa yang saya rasakan. Doddy itu putra saya dan tidak sanggup rasanya melihat dia harus dipenjara. Mari duduk dan bicarakan semuanya baik-baik.”
“Apa?”
__ADS_1